Home / Wawancara / “Ca Nai Pande Manik Budaya Manggarai” – Wawancara Bersama Musikus Manggarai, Felix Edon

“Ca Nai Pande Manik Budaya Manggarai” – Wawancara Bersama Musikus Manggarai, Felix Edon

 

Oleh: Reinard L. Meo*

 

Perawakannya yang semampai, tak terlalu tinggi, juga kulitnya yang putih sedikit kuning, tetap tak berubah sejak pertama kali saya bertemu dengannya, pada Desember 2011 lalu. Namanya, Felix Edon (FE), putra Cibal kelahiran Elar, Manggarai Timur, Flores, 31 Mei 1959. Pensiunan PNS yang terakhir mengabdi sebagai Kepala Bidang Kebudayaan, Kesenian, dan Tradisi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur selama 2016-2017 ini menerima saya dalam keakraban khas seorang seniman. Setelah melalui kontak yang sama sekali tak rumit, suami dari Ibu Beatriks Yosefina Djuita yang adalah guru di SDK Ruteng V ini bersedia untuk saya wawancarai. Pak Felix merupakan musikus keempat yang masuk dalam barisan sebagaimana komitmen kami di Horizon Dipantara yakni membuat pendokumentasian musisi pilihan se-Flores berdasarkan tempat tinggal, tempat paling lama berproses kreatif, dan tepat paling memungkinkan produktivitas dalam berkarya.

 

(Foto: Felix Edon saat mengiringi kor di gereja – dok. Keluarga)

 

[Baca juga: Nus Betu: Dihantam Pembajakan, Melawan dengan Optimis]

 

Di rumahnya, di Kampung Maumere, Jl. Ulumbu, 69B, Ruteng, Selasa, 13 November 2018, kami santai berbagi cerita selama kurang-lebih 2 jam, dengan sejumlah pertanyaan yang telah saya siapkan sebagai panduan. Tentunya, ditemani kopi, karena di kota ini, kata seorang sahabat, cerpenis, dan senior saya, kopi selalu benar. Ditambah kretek, lengkaplah sudah.

Berikut ini rangkuman obrolan kami.

 

* * *

 

Pak Felix, siapa saja musisi lokal Ruteng, Manggarai Tengah yang Anda kenal sejak kecil hingga kini Anda sendiri telah menjadi musikus yang cukup terkenal di Ruteng khususnya dan Manggarai Raya umumnya?

FE – Ada beberapa. Ada Makarius Arus yang terkenal dengan alat musik ‘Juk’, yakni gitar yang terbuat dari kayu. Saya kenal beliau di era 70-an. Ada juga Daniel Anduk. Saat saya sudah jadi guru di Ruteng, tahun 1984, saya kenal Jhon Gajeng. Ada juga Sil Adil. Lalu dua nama yang usianya di bawah saya, ada Ivan Man dan Rensy Ambang.

Apakah saat masih kecil, Anda pernah membayangkan bahwa Anda nantinya akan punya grup musik, menciptakan lagu, memiliki album, dan jadi musikus?

FE -– Tidak terbayangkan. Namun, proses kreatif saya dimulai pada 1979. Saat itu saya baru tamat dari SPG St. Aloisius Ruteng dan jadi guru muda di SDK Reho Linur, Manggarai Timur. Di kampung, waktu itu, sudah ada grup musik bernama ‘Senada Pas’ yang anggotanya Orang-orang Muda setempat. Saya ikut masuk dan ditunjuk jadi ketua, lalu kami ubah nama grup jadi ‘Rayuan Nada’. Kami bereksperimen dengan gitar rongga. Awal tahun 80, saya mulai membuat gitar listrik dan kolintang. Alat pembesar bunyi dan suara kala itu masih pakai tape JVC (portable). Tahun 84, saya pindah tinggal di Ruteng. Grup musik kami itu masih ada, tapi lama-kelamaan hilang.

Rupanya Anda musikus serba bisa yah? Lalu, siapa yang paling berperan bagi Anda dalam proses kreatif yang panjang ini?

FE – Pak Jhon Gajeng, Makarius Arus, dan Daniel Anduk beri banyak motivasi pada saya untuk menciptakan lagu. Sedangkan bermusik, yang paling berperan ialah ayah saya, Martinus Beo. Dengan mendengar dan melihat mereka semua, tumbuh niat kuat dalam hati dan diri saya untuk berkembang dalam dunia yang di masa kami, kurang diminati ini.

Kapan pertama kali Anda menciptakan lagu sendiri? Apa saja nama album yang telah Anda hasilkan? Kapan pertama kali Anda dan anggota grup Anda tampil live?

FE –- Tahun 86, saya pertama kali menulis syair lagu yang saya beri judul ‘Kakor Lalong’, yang dalam bahasa Manggarai artinya ‘kokokan ayam jantan’. Album pertama kami judulnya ‘Nampar Nos’ (Gunung Berapi). Kisahnya panjang. Awalnya, kami rekam lagu kami menggunakan kaset tape di SD Ruteng V, untuk dijadikan modal cari sponsor. Sekitar Agustus 87, saya disarankan oleh seorang Om, namanya Mikhael yang kini tinggal di Kumba, Ruteng, untuk bertemu tuan Toko Matahari, Baba Tehing. Toko itu baru buka studio. Setelah lobi berhasil, kami memulai proses latihan bersama para penyanyi, di antaranya Richard Djeheot dan Opy Raga. Rekaman menggunakan tapedek dengan kaset pita. Bersama Matahari Group, kami hasilkan 9 album.

 

(Foto: dok. Pribadi RLM)

 

[Baca juga: Alfonsus ‘Papa Rasta’: Kita Bisa Hidup dari Musik]

 

2008, saat menjadi Kabid Kesenian, Tradisi, dan Perfilman pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, saya mendirikan studio sendiri dengan nama Wela Rana (Bunga Pertama, Perdana, Utama). Bekerja sama dengan Wejang Asi Studio, kami keluarkan album pertama dalam bentuk VCD berjudul ‘Congka Sae Manggarai’. Tahun 2009, Wela Rana meluncurkan album sendiri dalam bentuk VCD dengan judul ‘Rame Raes’, bergembira bersama, yang mana anak-anak saya, Ade, Nano, dan Eby turut berperan sebagai pemusik. Sampai sekarang, Wela Rana sudah hasilkan 3 album VCD, 2 di antaranya ‘Dere Natal’ (Lagu Natal). Dalam 2 album ini, istri saya ikut ambil bagian sebagai penyanyi. Putri bungsu saya, El, kini juga saya libatkan sebagai penyanyi dalam macam-macam momen.

Jauh sebelumnya, pada 2001, saya dan Teman-teman sebetulnya sudah bentuk Wela Rana Band. Kami sudah mulai live saat itu, dengan penyanyi awal, Yance Andur, melayani beragam permintaan dan acara semisal nikah, tahbisan Imam Katolik, dan syukuran lainnya. Saat itu, ada 3 band yang cukup familiar, Wela Rana Band, Rajawali Band yang dipimpin Simon da Costa, dan Flamingo Band pimpinan Ino Teren. Dalam seminggu, kami bisa layani 2 sampai 3 permintaan untuk live. Lambat-laun, band-band baru mulai muncul, hingga sekarang ini. Prinsip saya, para penyanyi saya bina. Setelah mereka sudah jadi, sudah mandiri, saya beri kebebasan untuk berkembang. Kebanyakan penyanyi dalam band-band sekarang ini pernah belajar bersama saya. Ada Yance Andur yang sekarang di Borong, ada Desy Karola, dan lain-lain.

Berapa jumlah lagu yang telah Anda ciptakan, sampai sekarang? Selain disatukan dalam album, keperluan lain apa saja yang Anda maksudkan dari kreasi-kreasi Anda?

FE –- Jumlah lagu, mendekati 100. Lagu paling pertama itu ‘Kakor Lalong’. Saya tidak hanya menciptakan lagu, tapi juga bantu menciptakan dan mengaransemen mars, semisal untuk SD Karot, keperluan Gereja, masyarakat, dan organisasi-organisasi di Ruteng.

Ini sangat luar biasa. Lalu, dalam pada semuanya itu, apa sebetulnya yang ingin Anda perjuangkan lewat jalan menjadi musikus, sejak tahun 79 itu?

FE -– Ini pertanyaan penting. Ada 2 alasan yang mau saya terangkan. Pertama, saya seorang guru. Saya sangat yakin, musik dan lagu dapat menjadi sarana edukasi alternatif bagi masyarakat. Sejarah telah banyak mencatat fakta ini. Misalnya, lewat lagu ‘Dere Ngkiong’, saya kampanyekan pelestarian hutan, mengajak masyarakat untuk peduli pada alam lingkungan. Lalu, lagu ‘Anak Diong’ berkisah tentang kehidupan sosial, di dalamnya saya menentang praktik aborsi yang sejak dahulu hingga dewasa ini masih saja terjadi di banyak tempat. Juga ada lagu ‘Tenang Ema’ yang saya refleksikan dari kasus pembunuhan oleh sebab pertengkaran tentang tapal batas tanah di Kampung Beokina. Jadi, musik dan lagu saya pakai juga untuk tujuan pendidikan, bukan hanya sebatas menyalurkan bakat atau untuk hiburan semata-mata.

Kedua, secara lebih reflektif, jalan yang saya tekuni ini tak lain sebuah penerusan karya Tuhan. Pernah dalam sebuah situasi, saya merenung, Tuhan berkarya dalam diri saya, diri Anda, diri kita semua. Dia adalah Seniman Sejati dan saya hanyalah alat yang Dia pakai untuk mewartakan kebaikan-Nya.

Dua alasan ini tentu sangat menginspirasi banyak orang. Sangat mulia. Nah, sebagai hasil dari kerja keras Anda, apa dan dari mana saja penghargaan yang telah Anda terima?

FE –- Saya ingin memberi jawaban yang berbeda dari pertanyaan ini. Adalah baik bila saya menyebutkan hal apa saja yang telah saya buat, sebagai wujud keaktifan saya dalam berkarya. Sejak tahun 86 sampai sekarang, saya menciptakan banyak lagu daerah Manggarai. Tahun 2010, saya turut berinisiatif menyelenggarakan workshop pembentukan sanggar-sanggar seni budaya. Komitmen saya mendorong saya untuk aktif dalam Kegiatan Seni Budaya Daerah Flores – Lembata, Jambore Pariwisata NTT, Festival Seni Budaya Tingkat Provinsi dan Nasional, serta Kegiatan Kepramukaan Tingkat Daerah dan Nasional. Tahun 2013, saya membuat alat musik dari bambu, namanya ‘Caka Tinding’, yang kini tersedia di studio di rumah. Pelan-pelan akan saya sosialisasikan ke tengah masyarakat.

Selain menciptakan karya-karya pribadi, saya juga aktif berkesenian bersama masyarakat luas, lintas usia dan golongan. Saya dan keluarga berpartisipasi dalam Konser SLB Karya Murni pada tahun 2013, Konser Panti Kusta Cacat St. Damian Cancar pada tahun 2016, juga Konser Para Bruder BBK Ende dan Para Frater-Bruder Novisiat Sang Sabda Kuwu Ruteng pada tahun 2017. Selain itu, saya juga turut mencetuskan ide dan menjadi pelatih pada ajang Musik Kolaborasi Tingkat SD Se-Kota Ruteng pada tahun 2004, Tarian 1000 Doku di Ruteng tahun 2014, Tarian Massal Ndundundake sebanyak 1500 orang pada acara penyambutan rombongan Tour de Flores pada tahun 2016, Tarian Massal Ndundundake pada HUT ke-72 Republik Indonesia pada tahun 2017, dan Gebyar Tunas pada HUT Pramuka tahun 2017 dan 2018.

Saya juga pernah menjadi ketua Ikatan Penggiat Seni (IPSEN) Par Leso Manggarai, yang dikukuhkan tahun 2010.

 

(Foto: dok. Pribadi RLM)

 

[Baca juga: Ne’o dan Format Masa Depan di Jalur Musik Hip-Hop]

 

Semuanya ini menjadi mungkin berkat komitmen saya pada pelestarian Budaya Manggarai. Tanpa itu, sulit membayangkan segala apa yang telah dengan penuh kesungguhan saya kerjakan sampai saat ini.

Jawaban Anda ini menarik. Alih-alih menyebutkan penghargaan yang diterima, Anda lebih suka menceritakan apa yang telah Anda beri. Selanjutnya, bagaimana Anda melihat perkembangan dunia musik tradisional dan lokal Manggarai sekarang ini?

FE –- Bagi saya pribadi, ada banyak kemunduran. Saya sebutkan 4 saja. Pertama, minat masyarakat terhadap musik daerah semakin menurun. Terutama di kalangan generasi milenial, musik tradisional yang khas Manggarai perlahan ditinggalkan. Orang-orang muda lebih suka musik dj atau reggae. Kedua, dahulu, menciptakan lagu itu tak semudah sekarang. Prosesnya panjang. Sebelum rekaman, lagu-lagu harus disensor dulu oleh Departemen Kebudayaan dan harus mendapat surat rekomendasi. Sekarang ini, kita tahu, tak serumit itu. Hal ini dikarenakan, ketiga, lagu-lagu daerah itu sebetulnya punya batasan. Misalnya, luasan nadanya pentatonik, syairnya harus berakar pada Go’et atau sastra lokal atau ungkapan-ungkapan bernuansa budaya. Saat ini, gaya pop atau gaya barat sangat kental, syairnya pun dibuat bebas dan sering tanpa makna. Keempat, alat-alat musik tradisional macam gong, gendang, suling, juk, biola, cakatonda (bilah-bilah kayu), dan caka tinding pelan-pelan mulai hilang dan tidak dilestarikan dengan baik oleh masyarakat. Zaman saya, orkes suling masih bagus sekali. Tahun 2006, kontingen Manggarai meraih juara 3 lomba musik tradisional tingkat provinsi.

Turut prihatin, atas fakta-fakta ini. Menyadari semuanya ini, terakhir, apa pesan Anda bagi musisi pemula, musisi yang masih aktif berkarya, dan masyarakat Manggarai seluruhnya?

FE -– Ini bukan pesan, sebetulnya, tapi lebih ke ajakan. Bagi sesama musikus, kita jangan pernah menyerah. Harus tetap berakar, tetap menjadi orang Manggarai di tengah badai digitalisasi yang kian deras ini. Salah pasang kuda-kuda, kita, para pelaku aktif ini, bisa ikut tergerus. Lalu bagi masyarakat Manggarai umumnya, jangan biarkan budaya Manggarai, budaya yang kaya ini, termakan zaman. Harus tetap jaga warisan, lestarikan, dan aktif mempromosikan kekayaan kita ini kepada generasi selanjutnya, kepada NTT, kepada Indonesia, dan akhirnya, kepada dunia.

Saya selalu giat kampanyekan semuanya ini dengan satu kalimat ajakan, ‘Ca Nai Pande Manik Budaya Manggarai’, satu hati membangun budaya Manggarai. Budaya kita!

Pak Felix, terima kasih atas waktu, cerita, pengalaman, kerja kreatif, pengabdian, dan ajakan Anda. Sehat selalu, dan sekiranya wawancara ini dapat berguna bagi khalayak luas. Sekali lagi, terima kasih!

* * *

 

 

*) Pewawancara adalah pemuda baik-baik, alumnus STFK Ledalero, yang tertarik pada kerja kebudayaan yang dilakukan oleh para musisi lokal.

 

 

Catatan: hasil wawancara ini yang dikemas dalam bentuk feature pernah dimuat dalam Koran EKORA NTT, Edisi Akhir Pekan, 10 – 16 Desember 2018, hlm. 12-13.

 

 

Check Also

Nus Betu: Dihantam Pembajakan, Melawan dengan Optimis

  Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage* Apakah Anda mengenal 2 album etnografi di bawah lebel Smithsonian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *