Home / Sosok / Von ‘Biasa Saja’ zu ‘Kecewa Berat’ (Antologi Narasi Ucapan buat Pater Budi Kleden, SVD – Bagian I)

Von ‘Biasa Saja’ zu ‘Kecewa Berat’ (Antologi Narasi Ucapan buat Pater Budi Kleden, SVD – Bagian I)

 

Pengantar Redaksi

Pada 4 Juli 2018 yang baru lalu, Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, pastor Katolik asal Waibalun, Flores Timur, NTT, terpilih menjadi Superior General SVD Sejagat. Berita ini, dalam sekejap jadi buah bibir di media-media massa. Atas ini, HorizonDipantara.com tidak tinggal diam. Sejumlah narasi ucapan dihimpun. Berikut ini, beberapa narasi pilihan Tim Redaksi. Meski Tim Redaksi yakin, ucapan terbaik itu adalah doa pendek seorang Mama Santa Ana di sebuah Paroki terpencil, narasi-narasi ini tetap disajikan. Sekali niat, harus jadi: demikian spirit Menggores Sampai Jauh.

Kepada para kontributores, terima kasih dialamatkan.

Selamat membaca!

* * *

 

I

SAYA DAN P. PAULUS BUDI KLEDEN

 

(Tulisan Persembahan untuk Terpilihnya Pater Budi Sebagai Superior General SVD Sejagat)

 

(Foto: https://goo.gl/images/b677Xb)

 

Oleh: Emilianus Yakob Sese Tolo*

 

Sekitar tahun 2004, saya masuk STFK Ledalero. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Ledalero, perasaan gugup membuncah dalam diri saya. Sebab, yang saya kenal sejauh ini, STFK Ledalero adalah salah satu sekolah tinggi terbaik di Flores. Apalagi, mayoritas pendidik dan mahasiswa adalah jebolan dari seminari-seminari di NTT dan Bali. Sudah menjadi rahasia umum bahwa jebolan dari seminari memiliki kemampuan intektual di atas rata-rata. Saya bukan dari jebolan seminari dan, karena itu, wajar jika saya gugup memulai karir intelektual saya di STFK Ledalero.

Sejatinya, banyak pengalaman positif yang saya alami di STFK Ledalero. Saya menyadari bahwa semua pengalaman itu membentuk siapa saya hari ini. Namun, dari sekian pengalaman, saya ingin menyeringkan pengalaman perjumpaan saya dengan Pater Paulus Budi Kleden (Pater Budi). Entah dipercaya atau pun tidak, perjumpaan saya dengan Pater Budi di Ledalero menentukan arah hidup saya hingga hari ini.

Perjumpaan pertama dengan pater Budi adalah ketika beliau mengajarkan salah satu mata kuliah di Ledalero. Ketika itu, sebelum memulai kuliah hari pertama, Pater Budi bercakap-cakap dengan mahasiswa di koridor STFK Ledalero. Saya melihat Pater Budi orangnya sederhana dan pandai melayani guyon-goyon dari mahasiswanya. Beliau berpenampilan biasa saja. Berbaju kaus atau kameja dan bersandal tali seperti para turis yang pernah saya lihat. Jika sedang di perpustakaan, beliau pasti sedang membaca koran lokal. Itulah pemandangan yang jamak saya lihat dari seorang Pater Budi.

Di ruang kuliah, Pater Budi adalah seorang dosen yang gampang menarik perhatian mahasiswanya. Kemampuannya mengajar tidak bisa dianggap remeh. Dilihat dari cara Pater Budi mengajar, dia adalah seorang pengajar yang sungguh-sungguh mempersiapkan diri sebelum mengajarkan mahasiswanya. Diksinya terukur dan indah. Terkesan, pater Budi tidak pernah mengeluarkan kata-kata sebelum dipikirkan matang-matang di kepalanya. Dia selalu berusaha menjelaskan yang sulit menjadi lebih mudah dimengerti dan, menurut saya, dia kadang mengulang-ngulang konsep yang sama dengan beberapa versi penjelasan yang berbeda agar lebih mudah dicerna. Mungkin karena hal ini, pernah seorang teman saya berujar, Pater Budi cenderung merumitkan hal yang mudah dengan penjelasan yang panjang. Tentu pernyataan teman saya ini subjektif dan saya tidak sependapat dengan hal itu.

Soal publikasi, tulisan-tulisan Pater Budi sudah saya kenal sejak sebelum saya masuk STFK Ledalero. Pater Budi adalah seorang penulis yang produktif. Hampir setiap minggu selalu ada tulisannya di koran lokal dan segelitir di koran nasional. Bukan karena Pater Budi tak mampu menulis di koran nasional. Dari kata pengantar dalam buku perdananya sendiri (buku kumpulan opini di surat kabar), terbitan penerbit Ledalero (saya lupa judulnya), Romo Max Regus, yang kini sedang menempuh studi doktor di Belanda, menulis bahwa guru menulisnya adalah Pater Budi, yang memilih fokus menulis di koran lokal karena masyarakat lokal di NTT juga membutuhkan pencerahan intelektual yang berkualitas, sebagaimana masyarakat nasional. Setiap tahun hampir selalu ada buku atau artikel jurnal ilmiah yang dia tulis. Sebagai dosen favorit, Pater Budi menjadi idola di kalangan mahasiswa untuk menjadi dosen pembimbing skripsi. Dan Pater Budi membimbing skripsi sangat serius dan saya pernah melihat hasil koreksi-koreksinya di draft skripsi teman saya. Namun, Pater Budi juga sering mengisi waktu sore harinya bermain takraw.

Dengan produktivitas yang tinggi dan fleksibilitas hidup seperti ini, banyak mahasiswa, termasuk saya, penasaran dengan cara dan proses produktif yang dilakukan oleh Pater Budi. Bagaimana bisa Pater Budi yang kelihatannya menjalani hidup yang fleksibel dengan ritme hidup seperti kebanyakan orang di komunitas SVD bisa sangat produktif dalam menulis? Saya hingga kini belum tahu bagaimana rahasia beliau berproduksi. Mungkin perlu suatu ketika ada yang menulis biografinya yang menguraikan cara dia berkreasi dan berproduksi.

Dengan melihat dan mengalami apa yang dilakukan oleh Pater Budi, saya menjadi terdorong untuk menjadi seperti beliau. Apa yang saya lakukan adalah menghadiri kuliahnya secara sungguh-sungguh, membaca dengan sungguh-sungguh dan mulai belajar menulis.

Ketika di Ledalero, hampir semua matakuliah yang ditawarkan oleh Pater Budi pasti saya mendaftarnya. Ketika mengikuti kuliah Pater Budi, sepanjang sejak Pater Budi mengeluarkan suara, sejak saat itu saya mulai mencatat. Saya mencatat secara verbatim. Artinya, saya mencatat semua kata-kata yang keluar dari pita suara Pater Budi, jika ingin hiperbolis, termasuk titik dan komanya. Dan hal ini, mencatat secara verbatim, saya lakukan hampir untuk semua matakuliah di Ledalero, bukan hanya di matakuliah Pater Budi. Dengan melakukan ini, saya mungkin salah satu mahasiswa yang paling rajin di ruang kelas di zaman saya di Ledalero.

Biasanya Pater Budi berbicara sangat lancar di kelas dan jarang membuku. Karena itu, berlembar-lembar catatan dalam sejam atau dua jam kuliahnya Pater Budi. Karena saya rajin mencatat di kelas, hampir jarang saya membeli diktat kuliah selama di Ledalero, termasuk diktat-diktat yang dibuat oleh Pater Budi. Ketika ujian, saya hanya membaca catatan-catatan saya. Tentu lebih mudah memahami catatan sendiri dan apalagi ketika mencatat saya perlu mendengar secara serius. Jadi  belajar hanyalah proses mengingat apa yang telah saya tulis. Karena itu, saya tidak terlalu merasa berkesulitan ketika ujian walau saya tidak memiliki diktat kuliah seperti kawan-kawan yang lain. Apalagi, di kala itu, bagi saya, membeli diktat adalah sebuah kemewahan jika ditimang dengan kiriman duit dari orangtua saya. Saya juga mungkin menjadi salah satu mahasiswa yang rajin mengumpulkan kertas-kertas HVS yang sudah terpakai pada satu sisi halamannya untuk dijilid di seorang Bapak (lupa namanya) di samping perpustakaan Ledalero untuk dijadikan buku catatan ringkasan kuliah.

Pernah suatu ketika, setelah masa ujian, saya datang telat ke kelas. Ketika saya duduk, seorang teman berkata kepada saya bahwa tadi Pater Budi bertanya tentang siapa yang memiliki nama yang saya miliki berkaitan dengan nilai ujian. Tentu pernyataan seperti ini meninggalkan rasa bangga pada diri saya. Siapa saya hingga dicari seorang Pater Budi? Hehe.

Tentu saya menilai saya sebagai orang yang berhasil di setiap mata kuliah yang diampu oleh Pater Budi. Namun  untuk bisa seperti itu, prosesnya mungkin tidak selalu mudah. Proses yang saya lalui adalah menulis secara verbatim apa yang diucapkannya di kelas. Saya akui bahwa walau mungkin metode ini tidak tepat untuk semua orang, dia cukup efektif untuk saya. Sayangnya, semua catatan-catatan kuliah saya di Ledalero dipinjamkan ke Adik-adik dan tidak tahu nasibnya sekarang entah di mana. Mereka tidak tahu bahwa catatan-catatan itu adalah darah dan keringat saya melawan ngantuk, malas dan rasa bosan berjam-jam.

Soal membaca buku, saya bukanlah orang yang suka buku. Namun, saya belajar dan berusaha keras untuk mencintai apa yang tidak saya sukai. Untuk hal ini, saya pernah ke kamar Pater Budi untuk meminjam buku-bukunya. Biasanya, ketika ke kamar, Pater Budi sedang duduk di komputernya dan membiarkan yang datang meminjam buku untuk mencari sendiri di rak bukunya dan mencatat buku apa yang dipinjam.

Dan saya akui, semua buku yang saya pinjam dari Pater Budi tidak semua saya baca sampai tuntas. Ketika itu, saya merasa amat susah menghabiskan satu buku. Mungkin karena saya tidak paham ketika membaca buku-buku filsafat; juga saya bukanlah seorang pembaca yang cepat. Seingat saya, ketika di Ledalero, tidak banyak buku yang saya baca sampai tuntas. Kerja keras saya di ruang kelas tidak sebanding dengan di luar kelas. Itu karena saya tidak banyak membaca. Saya baru belajar membaca buku hingga tuntas waktu ke Yogya, beberapa tahun kemudian. Namun, pengalaman perjumpaan dengan Pater Budi dan melihat caranya berproduksi, semuanya memengaruhi saya di kemudian hari setelah meninggalkan Ledalero.

Soal menulis, saya belajar menulis secara autodidak, seperti kebanyakan kawan-kawan yang lain di Ledalero. Pater Budi adalah salah satu inspirator saya. Ketika melihat motivasi awal saya menulis, saya sejatinya ingin menjadi penulis di koran-koran lokal seperti Pater Budi. Hampir semua tulisan Pater Budi di koran saya baca ketika masih di Ledalero. Saya berusaha keras agar bisa menulis di koran lokal seperti Pater Budi. Karena itu, ketika di Ledalero, saya mengirim puluhan tulisan opini ke Pos Kupang dan Flores Pos. Tetapi, tak satu pun tulisan-tulisan saya diterbitkan. Seingat saya tulisan-tulisan opini saya hanya sekali muncul di papan publikasi Ledalero dan satu tulisan artikel di Jurnal Akademia Ledalero. Namun, tulisan-tulisan ini muncul mungkin karena saya sebagai staf redaksi Jurnal Akademia Ledalero. Pater Alex Dancar, sebagai Ketua, rupanya perlu mengedit cukup keras tulisan saya.

Hingga tamat dari Ledalero, saya tidak berhasil menulis satu pun artikel di media massa lokal. Padahal, kawan-kawan yang lain tulisannya sudah berulang kali muncul di Pos Kupang dan Flores Pos. Lian Jemali, senior di Ledalero kala itu, dosen STKIP Ruteng yang sedang belajar doktor di UGM kini, seingat saya, adalah salah seorang yang ketika bertemu saya selalu meminta saya untuk terus menulis. Padahal, belum satu pun tulisan saya diterbitkan di koran lokal. Betapa besar kepercayaan orang-orang ini, terutama Ka’e Lian Jemali kepada saya. Namun, mimpi saya di Ledalero terus saya bawa sampai ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, saya terus bermimpi. Dan tulisan saya akhirnya terbit untuk pertama kalinya di Pos Kupang pada tanggal 2 Agustus 2011. Namun, tulisan pertama ini bukan artikel Opini melainkan sebuah cerpen yang berjudul “Malam Itu.” Sejak 2011, tulisan saya mulai diterbitkan hampir setiap bulan di Pos Kupang dan Flores Pos. Dan beberapa cerpen saya juga diterbitkan di Majalah Hidup. Beberapa Opini di koran Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Satu tulisan di Majalah Basis dan satu tulisan lain lagi di Jakarta Globe. Tahun ini, saya baru mulai menulis di Jakarta Post.

Namun, pada tahun 2014, saya sudah mulai jarang menulis di media massa lokal di NTT. Saya mulai belajar menulis hal-hal yang lebih serius. Dan keseriusan belajar menulis ini baru sampai pada menulis essay online dan artikel di jurnal-jurnal nasional. Tentu ini bukan sebuah keberhasilan besar seperti yang saya harapkan ketika mengidolakan Pater Budi. Tetapi, apa yang bisa saya lakukan saat ini adalah sebuah langkah maju jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Saya masih punya mimpi yang sudah saya pupuk sejak di Ledalero dan mimpi itu masih belum menjadi kenyataan dalam bentuk yang utuh dan final. Perjuangan masih terus dilakukan sampai di garis penghabisan.

Demikianlah Pater Budi memengaruhi sepak terjang hidup saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, sebelum menutup tulisan ini, saya mungkin perlu menceritkan satu kesempatan ketika akan menyelesaikan kuliah di Ledalero. Saya berjumpa dengan Pater Budi. Perjumpaan itu menjadi titik awal perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang lain yang akhirnya menentukan hidup saya hingga hari ini.

Suatu ketika saya dipanggil oleh Pater Budi ke kamarnya. Ketika itu, kalau saya tidak salah ingat, Inyo Soro, “kurirnya” Pater Budi, menginformasikan hal itu kepada saya. Mendengar bahwa Pater Budi meminta saya menemuinya, saya merasa agak takut. Sebab, saya belum mengembalikan beberapa bukunya yang saya pinjam dalam waktu yang cukup lama.

Tidak menunggu lama, saya bertemu Pater Budi, membawa serta semua buku yang saya pinjam dari beliau. Setelah meletakan buku-buku pada tempatnya, Pater Budi mulai bicara dengan saya. Pembicaraan itu tak lama. Tidak sampai dua menit. Pater Budi menanyakan kesibukan saya, lalu meminta saya untuk menemui Pater Rektor, Philipus Tule. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa saya diminta bertemu Pater Rektor? Pater Budi juga tidak membicarakan alasan mengapa saya harus bertemu Pater Rektor.

Saya akhirnya bertemu Pater Philipus Tule atas permintaan Pater Budi. Ketika bertemu Pater Philipus Tule, beliau bertanya soal kesibukan saya. Setelah itu, beliau bertanya soal kemampuan Bahasa Inggris saya. Saya mengaku bahwa saya bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, tetapi tidak begitu baik Bahasa Inggris saya. Setelah bertanya sana-sini soal kesibukan dan studi saya, Pater Philipus Tule meminta saya untuk menjadi penerjemah lima mahasiswa dari Universitas Agder Norwegia yang melakukan penelitian untuk skripsinya di Flores selama sebulan. Walau agak ragu, saya menyanggupi untuk melakukan tugas ini. Apalagi, dengan menjadi penerjemah, saya dibayar cukup tinggi untuk seorang yang belum lulus sarjana.

Saya pun akhirnya menjadi penerjemah mahasiswa Norwegia di Flores selama sebulan. Inilah pengalaman yang menantang dan menyenangkan. Melalui tugas dan pengalaman ini, saya bertemu dengan seorang Profesor dari Universitas Agder Norwegia bernama Stein Kristiansen, yang tentunya mengubah hidup saya selanjutnya. Setelah selesai tugas sebagai penerjemah, saya kembali ke Ledalero dan menyelesaikan studi yang tinggal beberapa bulan saja. Selepas dari Ledalero, Profesor Stein Kristiansen mengundang saya ke Yogyakarta dan menjadi penerjemahnya untuk penelitian-penelitan di Jawa, Sumbawa, Flores, Maluku, dan Papua. Bekerja cukup lama sebagai peneliti membuat saya semakin tertarik dengan dunia ilmu. Saya akhirnya terus belajar dan bermimpi mengejar apa yang ingin saya capai, seperti yang saya lihat pada diri seorang Pater Budi. Tentu saya tidak bisa menjadi seorang Superior General SVD seperti Pater Budi. Namun, saya yakin bahwa saya bisa bermanfaat bagi orang lain di masa depan.

Ketika bertemu terakhir kali dengan Pater Budi di Ledalero, ketika saya datang dengan 20-an Mahasiswa dari Universitas Agder Norwegia, saya mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah memilih saya dari sekian ratus mahasiswa Ledalero untuk menjadi penerjemah mahasiswa Norwegia kala itu. Pater Budi menjawab tidak panjang dengan nada guyon: “Saya memilih kamu, karena saya tau kamu bisa.”

Akhirnya, semoga saya tidak menyia-nyiakan kepercayaan banyak orang ke depan, termasuk kepercayaan Pater Budi. Beberapa hari yang lalu, saya mendengar kabar gembira dari media sosial dan surat kabar lokal bahwa Pater Budi dipilih menjadi Superior General SVD sejagat di Vatikan Roma, Italia enam tahun ke depan. Saya ingin mengucapkan selamat bertugas menjadi Superior General SVD sejagat Pater Budi. Hidupmu sudah menginspirasi banyak orang dan, saya yakin, akan terus begitu selamanya ke depan.

 

 

*) Penulis adalah peneliti dan alumnus STFK Ledalero

 

 

Check Also

Dirgahayu Sang Petualang, Che Guevara!*

  (Foto: haber.sol.org.tr)   Oleh: Hancel Goru Dolu**   Che Guevara adalah seorang pembangkang termashyur. …

Hemat Air dan Eksotis? Itu Hidroponik!

(Foto: brnrdlzr)   Oleh: Herman Yosep Ferdy*   Matahari sudah condong ke ufuk barat ketika Bernard …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *