Home / Sosok / “OM GURU”

“OM GURU”

(Foto: istimewa)
.
.


~ Hanya sedikit dari yang terlalu banyak, mengenang 40 hari berpulangnya Bapak Rinu Romanus ~

Baik. Baiklah kalau saya mulai dengan sesuatu yang barangkali kita lupa. Bapak Romanus Rinu — atau akrab saya sapa: Om Guru — adalah tukang olok yang baik. Sebagai umat Paroki St. Yosef Bajawa, jadi pembawa persembahan adalah sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak saya. Namun pagi itu, Sabtu (20 Juli 2019), pada pertemuan bersama para guru dan pegawai, saya ditugaskan membawa persembahan karena esoknya, Minggu (21 Juli 2019), Regina Pacis tanggung liturgi misa kedua.

“Yang bawa persembahan, kamu-kamu yang muda-muda ini…!”, beliau membagi peran.

Saya menerima tugas dari “Bos” dengan siap — meski menolak yang sebetulnya ada dalam hati kecil saya. Tapi, karena yang muda-muda ada banyak, saya jadinya makin siap, dan mulai lebih yakin bahwa ini tugas. Yah: tugas!

Faktanya?

“Bapa tadi saya lihat, macam tegang sekali ee bawa botol persembahan tu….”

“Bapa saya tugaskan bawa persembahan karena saya tahu kalau bapa terlibat dalam kor, maka kor ancor…!”

Saya berpikir bahwa itu tugas. Tapi Om Guru buat jadi bahan lelucon. Sialnya, saya suka diolok oleh beliau. Romanus Rinu adalah satu dari tidak terlalu banyak orang dengan selera humor yang baik. Dan kita tahu: humor (yang tidak norak, yang etis) hanya milik orang cerdas.

[Baca juga: Aldo, Kedahsyatan Ekskul, dan Lembaga Pendidikan]

Undur sedikit ke belakang, Om Guru saya kenal sebagai pimpinan yang sama sekali tak ada perasaan gengsi dalam dirinya. Wibawa — bila kita renungkan dengan baik — umumnya menciptakan jarak. Kita menjadi segan bahkan takut pada orang yang terlalu berwibawa. Tapi, Om Guru mementaskan sebaliknya: wibawa tapi menarik. Rinu Romanus adalah satu dari tidak terlalu banyak orang yang berwibawa, tapi cair. Wibawa beliau adalah wibawa yang memangkas jarak: enak, dekat, santai.

Saya ingin menulis tentang Om Guru sejak malam pertama beliau meninggal. Tapi saya malu. Sepanjang satu tahun terakhir — April 2018 saya sebulan di SMAS Katolik Regina Pacis Bajawa — Om Guru selalu mencari saya: via telepon, via Mama saya.

“Kau kapan ke sekolah? Kau mau jadi guru atau tidak? Jangan sia-siakan kesempatan, anak muda. Om Guru tunggu sampai Juli. Kalau tidak muncul, bapa akan ke Recis sebagai tamu saja!”

Rinu Romanus adalah pemimpin yang selalu mencari: apa pun yang dia inginkan, dia cita-citakan. Dalam teologi Kristen, “selalu mencari” itu salah satu karakter visioner Yesus: mencari domba yang hilang, mencari damai, mencari Kerajaan Allah.

Dalam beberapa pertemuan terakhir, Om Guru bicara lebih serius soal ekonomi. Bisa saya katakan: beliau mengakhiri hidupnya dengan sebuah visi ekonomi yang kuat. Apa dan bagaimana itu, akan saya kisahkan pada kesempatan lain. Kita tahu, persoalan paling penting di dunia ini adalah persoalan perut. Yah: ekonomi. Orang bisa baku tikam karena politik. Orang bisa baku hantam karena agama. Orang bisa baku gigit karena etnis. Tapi — kalau kita lebih peka — sebab semuanya itu sebetulnya perut: ekonomi. Dan Rinu Romanus menegaskan itu pada masa-masa akhir hidupnya.

“Om Guru lihat, bapa guru muda ini perlu sepatu yang lebih keren. Minggu depan kiriman datang, bapa ke rumah ambil sepatu keren itu!”

Bukan sepatu keren, tapi minggu depan yang saya terima adalah berita wafatnya. Saya dan kita semua jelas berduka. Kehilangan. Kehilangan: pemimpin, motivator, inspirator, tukang olok, pencari sejati.

Saya jadinya makin bingung: “sepatu keren” itu apa sebenarnya – “minggu depan” itu kapan sebetulnya. Anda mungkin akan membaca ini sambil mulai mencari tahu: apa maksud dari apa yang terakhir disampaikan baik serius maupun dalam canda oleh Bapak/Ayah/Kepsek/Teman/Ketua Sangosay/Bapa Guru/Om Guru/Opa/Saudara Rinu Romanus pada Anda?

Demikianlah, seseorang yang meninggal — apalagi tiba-tiba — selalu menyisakan teka-teki. Dan tugas kita yang masih hidup: memecahkannya.

Selamat jalan, Om Guru.
Terima kasih banyak.
Maaf belum sempat bantu banyak hal.

Salam Sampoerna Putih ~ SALAM SATU HATI! 

.

Reinard L. Meo

Check Also

Von ‘Biasa Saja’ zu ‘Kecewa Berat’ (Antologi Narasi Ucapan buat Pater Budi Kleden, SVD – Bagian I)

  Pengantar Redaksi Pada 4 Juli 2018 yang baru lalu, Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, …

Dirgahayu Sang Petualang, Che Guevara!*

  (Foto: haber.sol.org.tr)   Oleh: Hancel Goru Dolu**   Che Guevara adalah seorang pembangkang termashyur. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *