Home / Sosok / Betapa Logika Begitu Tunduk di Hadapan Cinta

Betapa Logika Begitu Tunduk di Hadapan Cinta

(Foto: istimewa/ER)

 

 

26 April yang lalu, saya pertama kali mendapat kabar ini dari Sahabat saya yang Frater (calon imam/pastor), Ariz Goncalves.

“Nanti ikut nikah ee, di Ruteng, Anak Damian menikah..!”

Saya tentu saja antusias. Sangat antusias. Sudah sejak 2012, apalagi sejak Ariz menjalani praktik pastoral (TOP) di Panti Rehabilitasi St. Damian, Cancar, Ruteng, Flores, saya memiliki semacam ikatan batin dengan para penghuni Panti ini, yang didirikan dan sampai detik ini dikelola dengan penuh kasih oleh Suster-suster SSpS. Damian selalu ada dalam list karya-kerja dan perjalanan-kunjungan saya. Merasa menjadi bagian dari mereka.

Hari ini, di gereja Redong, Ruteng, Flores, Febhy dan saya menyaksikan Cinta bekerja. Menyaksikan Cinta menerobos segala sekat ketidakmungkinan, ketika Charles, penyandang cacat asal Lewur, Ndoso, Manggarai Barat, yang adalah juga guru bahasa Inggris di SLB Labuan Bajo, mengungkapkan cinta dan kesungguhannya menjadi suami, bagi Vony, Perempuan bisu dan tuli asal Redong. Hari ini, 17 Mei 2018, Vony dan Charles menyatakan keseriusan menjalani hidup sebagai pasutri Katolik di hadapan 6 Pastor, sejumlah Suster, dan hampir 300-an umat. Sungguh, sesuatu yang jarang ditemukan, bahkan dalam pernikahan-pernikahan pasutri normal sekali pun. Terutama di hadapan Dia: Cinta dari segala cinta.

Hari ini, Cinta bekerja (lagi).

“Kami yang koor e, Kaka. Kami senang sekali, karena kami punya Saudari sudah nikah ee…”, ungkap Gyan, seorang difabel cum anggota koor hari ini, kepada saya. Dengan senyum yang enggan disembunyikan.

Jika baru-baru ini bom menghancurkan daging dan kenyamanan beragama lalu menyisakan duka dan kutuk, hari ini, Cinta menghancurkan segala ketakmasukakalan, lalu meninggalkan decak kagum. Dan barangkali iman yang makin. Kepada kemungkinan. Kepada semesta. Kepada Sang Cinta itu sendiri.

Hari ini, Cinta memangkas segala prasangka. Memotong segala yang tak dipahami budi. Memenggal segala ketakutan dan pesimisme.

“Saya sampai sekarang sama sekali belum mengerti…”, ungkap Ariz. “Keputusan Pak Charles menikahi Vony adalah keputusan yang sangat berani, menurut saya!”

Ariz lanjut berkisah. Kendati bisu dan tuli, Vony, sebagaimana Perempuan pada umumnya, sebagaimana Febhy, adalah Perempuan yang cemburu.

“Pak Charles jangan memang dekat-dekat Perempuan lain. Itu dia marah besar, lewat SMS!”

“Hahaha…..”, kami tertawa.

Dari Ariz, kami akhirnya tahu bahwa para penghuni Panti yang saling falling in love harus tinggal terpisah. Pak Charles lalu ke Binongko, Labuan Bajo. Dan Vony tetap di Damian.

Dinginnya Ruteng tak mampu membekukan kasih Vony pada Charles. Panasnya Flores Barat tak kuasa melelehkan sayang Charles pada Vony. Bagi mereka, jarak hanyalah kotoran di kuku, jarak hanyalah telor kutu di kepala Sesuatu yang ditangisi sejadi-jadinya oleh pasangan muda dewasa ini, yang melihat LDR bagaikan kutukan.

“Pak Charles ada bikin rumah di Labuan. Mereka akan tinggal di sana…”

Hari ini, kami menyaksikan Cinta bekerja. Menyaksikan beda dengan melihat. Melihat bisa dari jauh, dan pasif. Menyaksikan tentu saja dari dekat. Terlibat. Dan sewaktu-waktu dapat menjadi saksi. Membawa warta.

Hari ini, Vony dan Charles membenarkan Nietzsche, filsuf dan penyair yang dituduh ateis itu. “Es ist immer etwas Wahnsinn in der Liebe. Es ist aber auch immer etwas Vernunft im Wahnsinn!” Pasutri 17 Mei ini membenarkan bahwa, “Selalu ada kegilaan dalam cinta. Tapi juga selalu ada alasan dalam kegilaan!”

Alasan itulah yang tidak, baik Febhy maupun saya, pahami. Bahkan semua yang hadir. Saya mengikuti ekaristi hari ini dan menulis kembali ihwal ini dengan berusaha mengerahkan kemampuan analisis terbaik sebagaimana dulu saya lakukan terhadap soal UN Matematika SMP. Dengan refleksi filosofis terbaik sebagaimana mempelajari Metafisika Antropologi di kampus dulu. Dengan eksegese terbaik sebagaimana pernah saya lakukan atas teks Kitab Suci Perjanjian Baru, tapi tetap gagal. Maka, benarlah: betapa logika begitu tunduk di hadapan Cinta.

Hari ini, Cinta bekerja (lagi). Dan logika, logika masih semacam hamba yang tidak bisa bikin apa-apa di hadapan tuan bernama Cinta.

PATRISIA OKTAVIANI HARMAN & CHARLES KARYANTO, selamat berbahagia. Terima kasih telah membantu kami menyaksikan Cinta bekerja. Bekerja dalam artinya yang sebenar-benarnya. Dalam artinya yang paling autentik!***

 

Galeri pernikahan:

(Foto: istimewa/ER) 

 

(Foto: istimewa/ER)

 

(Foto: istimewa/ER)

 

(Foto: istimewa/ER)

 

 

Ruteng, 17 Mei 2018 

– Reinard L. Meo

Check Also

Fenomena Kylian “Pele” Mbappé

(Foto: Okezone.com)   Oleh: Manuel Kaisiepo*   Ketika Perancis menaklukan Brazil 3-0 pada final Piala …

Von ‘Biasa Saja’ zu ‘Kecewa Berat’ (Antologi Narasi Ucapan buat Pater Budi Kleden, SVD – Bagian II)

  Pengantar Redaksi Pada 4 Juli 2018 yang baru lalu, Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *