Home / Perspektif Analisis / Terima Kasih, id.nametest.com dan Kawan-kawan

Terima Kasih, id.nametest.com dan Kawan-kawan

User Rating: 5 ( 1 votes)

(Foto: korokodjophotography/ER)

 

Tiap-tiap hari, di media-media daring, saya selalu menemukan sejumlah manusia kontemporer yang mengajukan pertanyaan untuk dijawab oleh aplikasi. Tepatnya, mencobai diri mereka sendiri lewat pertanyaan yang disediakan oleh aplikasi. Macam-macam pertanyaan. Mulai dari ‘Hewan Apa yang Diam dalam Dirimu?’ sampai ‘Apa Kelebihan Orang dengan Zodiak Sagitarius?’, mulai dari ‘Apa Pesan Ibu Susi Buatmu?’ sampai ‘Apakah Saya Masuk Surga?’, mulai dari ‘Apa Kenakalanmu di Masa SMP?’ sampai ‘Bagaimana Wajah Anakmu Kelak?’. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Syukur, saya belum menemukan pertanyaan semisal: ‘Apakah Tulang Rusuk Saya Tersusun Sejajar atau Saling Membelakangi karena Punya Dendam Pribadi?’ atau ‘Bagaimana Saya Mengobati Luka-luka Past Tense Tanpa Ciptakan Luka Baru di Present Tense dan Future Tense ?’

Yah, tiap-tiap hari saya dapati itu! Hmmm…

Sebetulnya, saya tidak pernah punya ide untuk menulis ihwal ini. Sampai pada suatu malam, di penghujung tahun lalu, saya menemukan seorang Teman fesbuk yang membagikan jawaban atas ‘Apakah Kamu Akan Bahagia atau Sedih di Tahun 2018?’ oleh id.nametests.com di fesbuknya. Saya yang dalam keadaan polos, mungkin juga setengah sadar, akhirnya ikut-ikutan mencoba. Betul-betul di luar dugaan, tiba-tiba, dan tanpa pikir panjang. Dan, inilah jawabannya: ‘Reinard, 2018 akan menjadi tahun penuh cinta bagimu. Kamu beruntung, kamu akan menemukan pasangan jiwa yang akan mewujudkan mimpi-mimpimu.’ Sebagai anak muda baik-baik yang rajin berdoa, baca Kitab Suci secara berkala, dan menyukai kata-kata motivasi selain dari Mario T***h dan Tere L***, saya tiba-tiba jatuh dalam hening. Ingin rasanya memeluk, membelai, mencium, dan membelikan coklat sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada id.nametests.com. Andaikata dia manusia. Andaikata!

Namun bagaimana pun juga, saya tidak boleh gegabah. Bagaimana pun juga, masih ada id.vonvon.me, id.quizzstar.com, dkk., yang juga selalu setia setiap saat meladeni generasi mileneal sekarang. Saya tidak boleh memantik kecemburuan di antara mereka.

Sampai di titik ini, saya masih selalu merasa bahwa mereka ini (dan sekarang saya juga, hmmm….. semoga ke depan tidak lagi) adalah orang-orang aneh dengan tingkat kepercayaan yang begitu tinggi terhadap sesuatu yang tidak nyata, tetapi menghibur, kadang bikin kesal, dan kebanyakan buat makin bersemangat. Andaikata agama-agama juga tampil dengan pesona yang sama. Saya terdiam. Bertanya kepada diri. Merenung. Dalam, dalam sekali.

Maka teringatlah saya akan salah satu mata kuliah pilihan semasa kuliah dulu: Cyberteologi. Yah, Cyberteologi, berteologi dalam dunia cyber. Aneka topik dibahas, di antaranya: ‘Iman dan Tekhnologi’, ‘Apakah Seorang yang Sedang Sakit Dapat Mengikuti Ibadah atau Perayaan Keagamaan Lewat Televisi?’ atau ‘Apakah Doa yang Ditulis di Media Daring Didengar oleh Tuhan?’. Sampai pada satu topik yang menarik bagi saya: ‘Kepemimpinan Gereja Gaya Google’. Dosen meminta kami untuk membuat refleksi atas topik ini. Dan saya, waktu itu, mengerucutkan refleksi saya dalam judul: ‘Ihwal Gereja yang Mesti Berbenah’.

Dalam refleksi itu, saya berpikir, segala hasil eksplorasi manusia, termasuk internet dan media-medianya, in se, baik. Internet dan media-medianya baru buruk kesannya, tergantung pada bagaimana dan untuk apa ia digunakan. Romo Mangun dalam Kata Pengantar sebuah buku yang dieditnya (Teknologi dan Dampak Kebudayaan. Volume I), menulis, “Kumpulan gagasan-gagasan para ahli dari bermacam-macam spesialisasi, baik dari Indonesia sendiri maupun dari luar negeri dalam bunga rampai ini, semoga dapat menyumbangkan kepada publik masyarakat kita yang serius, untuk lebih memahami cara-cara kerja serta dampak pengaruh teknologi itu bagi kehidupan kita.” Lebih lanjut, ia menambahkan serentak menggarisbawahi satu hal fundamental, “Namun tak ketinggalan pula, buku ini ingin merenungkan lebih jauh dan lebih dalam lagi mengenai hakikat teknologi itu sendiri, jiwa dan ideologi maupun filsafat apa yang sebenarnya telah mengejawantah dalam benda-benda hasil teknologi maupun proses mental sosialnya yang sangat perlu kita perhatikan. Demikianlah semoga lebih bertanggung jawablah kita dalam pengolahan serta penataan seluruh kompleks teknologi, baik bagi yang menerima maupun yang menolaknya; atau lebih tepat, mana yang harus kita terima dan kita asimilasi ke dalam tubuh kebudayaan kita, dan mana yang wajib kita tolak.”

Berdasarkan ini, bagi saya, internet telah menjadi semacam home, google telah menjadi rumah, tempat segala ingin terpenuhi, segala suka terjawab. Setelah melakukan auto-kritik, sebagai anggota Gereja, saya bertanya kepada Gereja: bisakah Gereja meniru google sebagai home? Bisakah para pemimpin Gereja hadir dengan tangan terbuka, tempat segala harap didapat, iman diteguhkan, dan kasih dirajut? Bisakah, Sayang?

Bisakah agama-agama dewasa ini lewat citra baiknya, menjadi candu bagi para pemeluknya untuk makin teguh dan membawa damai? Bisakah agama-agama menjadi hangat seperti internet yang bikin betah berjam-jam, meskipun wifi-nya dicuri dari tetangga? Bisakah para pemimpin agama-agama menjadi animator kebaikan, menjadi teladan, menjadi jawaban lewat laku tingkah dan tuturnya, sebagaimana id.nametests.com? Apakah aksi-aksi separatis, macam 212, juga aksi-aksi minor lainnya dari sekelompok fundamentalis buta di seluruh Endonesa, dapat disudahi dan sebaliknya meniru pesona aplikasi yang bisa bikin semangat, ngakak, sarkas, juga menghibur? Bisa, kah?

Atau, kita akan tiba pada masa mana kala nilai-nilai universal tentang hidup yang tersurat dalam Kitab-kitab Suci, tidak lagi diburu, sebaliknya segala pertanyaan telah disediakan dan dijawab oleh aplikasi, dan lebih dipercayai? Apakah pamor baik pemimpin-pemimpin agama kita akan jatuh dan kalah dibandingkan id.nametests.com yang lebih mampu bikin puas dan bahagia?

Saya sudah mencoba id.nametests.com. Bagaimana pun juga, saya gembira, dengan membaca apa yang dijawab oleh aplikasi ini, untuk 2018 mendatang.

So, overall, terima kasih id.nametests.com. Kau membuat saya makin bergairah! Sekarang, jawab pertanyaan lanjutan saya ini, id.nametests.com.

‘Apakah pasangan jiwa saya di 2018 itu akan mewujudkan mimpi saya membangun rumah tangga di Mars dan hidup jauh dari propaganda politik dan tipu muslihat dunia yang fana ini?’

Jawab, id.nametests.com… jawabbbbbb!

***

 

 

 

 

 

Reinard L. Meo

: pengamat pesta yang menyepi di l.meo.reinard@gmail.com, sambil mengembangkan korokodjophotography.

Check Also

Mengapa Publik NTT Perlu Menolak Keputusan Lomba Blog #ExoticNTT (2018) yang Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTT?

(Gambar: Panitia Lomba)     Oleh: Tim Investigasi HORIZON DIPANTARA   Beberapa waktu lalu, di …

Berbahasa

(Foto: https://goo.gl/images/VP3VWH)   Halo, Sahabat HD di mana pun Kalian berada. Apa kabar? Semoga semuanya dalam …

2 comments

  1. Mantap jiwa aji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *