Home / Perspektif Analisis / Situasi Batas

Situasi Batas

(Foto: istimewa)

 

(Catatan Kecil Pada Hari Filsafat Sedunia, Kamis Ketiga Tiap November*)

 

 

Kematian, penderitaan, perjuangan, dan kesalahan merupakan kenyataan-kenyataan yang melekat pada setiap manusia.

Pada 1932, eksistensialis Jerman yang di kemudian hari memengaruhi Heidegger, Sartre, Camus, Gadamer, Arendt, dll, juga saya, KARL JASPERS, menyebut 4 kenyataan di atas sebagai Situasi Batas. Manusia akan sampai pada 4 situasi ini, manakala ia akan menjadi lebih sadar akan eksistensinya. Hanya dalam 4 situasi ini manusia semakin dalam menemukan dirinya.

Situasi Batas bersifat ganda. Ia dapat menyebabkan seseorang menjadi semakin kuat, maju. Juga pada sisi yang lain, lemah, mundur. Sifat ini tergantung cara seseorang mengolah atau meresponsnya.

Saudari/a kita yang gagal dalam tes CPNS, misalnya, sebagai akhir dari perjuangannya, akan alami dua hal: atau kecewa berat, atau makin semangat mencari lowongan kerja lain. Keluarga duka, lain misal, akan sama: atau kehilangan dan rapuh, atau kian kuat dan tegar. Sekali lagi, tergantung cara atau seni merespons dan mengolahnya.

Melalui Situasi Batas ini, Jaspers mau tegaskan bahwa hidup ini sementara saja. Ada ‘transendensi’ atau ‘keilahian’ atau ‘sesuatu yang di seberang sana’. Dalam Filsafat Ketuhanan, Situasi Batas ini dipakai untuk membentangkan ihwal iman, meski Jaspers tak mau menyebut ‘transendensi’ itu sebagai ‘Allah’ atau ‘Tuhan’.

Hanya dalam Situasi Batas ini, sabda Mama-mama Santa Ana atau gosip-gosip tetangga dalam film-film di Indosiar memperoleh pemenuhannya:

“Ingat dengan Doa Rosario juga, ingat belajar juga. Jangan nanti susah atau mau ujian, baru doa sampai lutut luka!”

“Istigfar, Neng Tari, istigfar. Karma selalu datang pada hamba yang berbalik dari Allah…”

“Apa, istigfar? Hahahahaha…..”

Itulah kita, manusia. Itulah saya, Anda, dia, mereka.

 

Happy Philosophy Day, Nona dan Nyong!

* * *

 

* Ditetapkan oleh UNESCO, meski saya pribadi berpikir, dalam artinya yang paling fundamental, setiap hari adalah Hari Filsafat itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

Reinard L. Meo

: pengamat pesta, sepanjang hayat mahasiswa Filsafat, pengangguran terakreditasi B.

 

 

Check Also

Mengapa Publik NTT Perlu Menolak Keputusan Lomba Blog #ExoticNTT (2018) yang Diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTT?

(Gambar: Panitia Lomba)     Oleh: Tim Investigasi HORIZON DIPANTARA   Beberapa waktu lalu, di …

Berbahasa

(Foto: https://goo.gl/images/VP3VWH)   Halo, Sahabat HD di mana pun Kalian berada. Apa kabar? Semoga semuanya dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *