Home / Perspektif Analisis / Kaji Ulang Dinamika Pendidikan Kita*

Kaji Ulang Dinamika Pendidikan Kita*

(Sumber gambar: seputerilmu.com)

.

.

Pendidikan merupakan suatu dunia yang kompleks-rumit juga urgen-fundamental. Kompleks-rumit karena banyak unsur saling pengaruh di dalamnya. Urgen-fundamental karena merupakan kunci kemajuan peradaban.

Setelah sekian lama tensi politik menjelang Pilpres 2019 menyedot habis-habisan konsentrasi kita, viralnya video yang memperlihatkan aksi tak terpuji seorang siswa di SMP PGRI Wringinanom Gresik pada gurunya, Nur Kalim, beberapa waktu lalu, kembali buat kita terkejut. Kasus-kasus serupa ini, sudah banyak kali terjadi. Guru menghukum bahkan memukul muridnya hingga berdarah, murid balas memukuli guru, guru dipolisikan oleh orang tua murid, atau pelecehan seksual oleh guru pada siswinya, semuanya sudah tak asing lagi di telinga kita. Paling baru dan sempat viral di NTT, yang sepintas konyol itu, rambut seorang guru balas digunting oleh orang tua karena tak terima rambut anaknya digunting guru tersebut, di sebuah Sekolah Dasar di Maumere, Flores.

Miris? Tentu! Marah? Ya!

Namun, kesan-kesan ini tak lantas menyelesaikan masalah. Ada yang perlu lebih serius kita usahakan. Sebuah kaji ulang atas dinamika pendidikan kita.

Baru-baru ini, beredar sebuah ‘Potret Pendidikan’ yang isinya ialah perbandingan antara pendidikan di Eropa dan Indonesia. Di Eropa, manajemen diri terjadi pada tingkat TK, eksplorasi lingkungan pada tingkat SD, menemukan dan mengembangkan passion atau bakat pada tingkat SMP, merancang karier masa depan pada tingkat SMA, serta membangun dan mematangkan core skill diri pada tingkat Universitas. Sedangkan di Indonesia, dari tingkat TK sampai Universitas, yang terjadi hanyalah belajar dan ujian.

(Sumber gambar: myidbc.net)

.

Terhadap perbandingan ini, saya pribadi tak langsung merasa inferior. Kebanggaan saya sebagai warga Negara Republik Indonesia jauh lebih kuat dari segala macam analisis yang selalu menempatkan Indonesia pada posisi rendah dalam hal yang positif, sebaliknya tinggi dalam perkara yang negatif. Namun, rasa cinta tanah air tak boleh membutakan hati dan akal sehat. Realistis itu harus.

Terhadap dinamika pendidikan, kita perlu kaji ulang secara serius. Beberapa pertanyaan bisa diajukan.

Apakah kurikulum kita sudah tepat? Apakah keterlibatan semua elemen sudah proporsional? Apakah guru-guru kita sudah sejahtera? Apakah guru-guru kita punya basis pedagogis yang mantap? Apakah peran orang tua sudah maksimal? Apakah fungsi pemimpin-pemimpin agama sudah berjalan semestinya? Apakah pemimpin masyarakat dan masyarakat itu sendiri sudah bantu menciptakan iklim yang kondusif? Apakah anak-anak kita sudah cukup dibekali nilai dan moralitas dari keluarga?

Pertanyaan-pertanyaan ini pelik, tentunya. Namun, mau tak mau harus dijawab, karena pendidikan bukan melulu tugas pemerintah. Pendidikan adalah tugas kita bersama.

Dalam upaya kaji ulang itu, proyek yang pernah dikerjakan oleh John Holt (1923-1985) di Amerika dan refleksi Aristoteles dapat jadi bahan pertimbangan. Holt kecewa, reformasi dan perbaikan tak mampu ia bawa ke dalam sekolah-sekolah umum. Baginya, sistem pendidikan waktu itu mendesak anak-anak belajar karena ketakutan. Anak-anak tak boleh dipaksakan, melainkan dibiarkan mempelajari apa yang mereka butuh dan sukai. Holt menawarkan Home Education, pendidikan rumah. Tempat terbaik yang memungkinkan proses belajar adalah tempat tinggal atau rumah anak itu sendiri.

Jauh sebelum Holt, Aristoteles sudah membedakan tiga macam sains. Dalam suratnya yang dikirim kepada saya, seorang senior yang juga Pastor Katolik, Sil Ule, SVD yang kini berkarya di Afrika menjelaskan cukup lengkap, refleksi Aristoteles ini. Pertama, sains produktif berhubungan dengan memproduksi barang atau menghasilkan sesuatu, mengembangkan atau memperbaiki dunia material, atau memajukan peradaban. Sains ini berhubungan dengan teknologi (techne). Kedua, sains praktis berhubungan dengan tindakan konkret, yang mana orang mesti mempraktikkan ideal tertentu dalam tindakan konkret. Ekonomi, politik, dan retorika, adalah beberapa contoh yang Aristoteles maksudkan dengan sains model ini. Ketiga, sains teoritis. Sains ini tidak dimaksudkan sebagai teori dalam pengertian modern, tapi sebagai aktivitas kontempletif untuk mencari kebenaran. Pengaruh praktisnya tentu ada, tapi lebih sebagai pedoman hidup, bukan sebagai teknik. Filsafat, teologi, psikologi, dan matematika masuk di dalamnya. Pada akhir suratnya, senior saya itu mengimpikan sistem pendidikan kita mampu membentuk kita menjadi manusia yang holistik. Kita bisa saja sibuk dengan tugas teknis, tapi jangan sampai kehilangan makna hidup. Kita bisa saja memikirkan dan memperjuangkan kebenaran, tapi tidak lupa mewujudkannya secara konkret dalam keseharian.

Pada siswa yang melawan, membuang buku pelajaran, memegang kepala, mendorong, dan mencengkeram kerah baju Nur Kalim, kita dapat menguji sejauh mana efektivitas home education dalam keluarga si siswa. Apakah orang tua lepas tangan karena percaya bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas tunggal Negara lewat peran para pendidik yang digaji? Pada Nur Kalim kita dapat memeriksa, apakah sistem pendidikan yang nyata lewat kurikulum kita gagal membentuk anak-anak kita menjadi manusia holistik? Pada tanggapan Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita terkait video itu, yang menegaskan bahwa sanksi pada anak tak boleh merampas masa depan mereka dan bahwa guru harus introspeksi, kita dapat mencermati, apakah tanggung jawab Negara hanya sebatas itu saja?

Pendidikan di Eropa barangkali terlalu ideal untuk kita tiru. Orang Eropa pun tak lantas jadi sempurna karenanya. Untuk itu, pesan Ki Hadjar Dewantara kiranya dapat menjadi cemeti yang memacu semangat kita dalam kaji ulang dan pembenahan dinamika pendidikan kita: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidikan hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” dan “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Mari berbenah bersama! ***

.

.

*) Tulisan ini pernah diterbitkan dalam Opini VICTORY NEWS, Kamis (25 Juli 2019). Berhubung sampai sekarang saya belum mendapat versi online-nya, maka penerbitan ulang tulisan ini di Horizon Dipantara sebenar-benarnya untuk tujuan agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca, pelaku pendidikan, dan pengambil kebijakan.

.

-Reinard L. Meo

Check Also

Berbahasa

(Foto: https://goo.gl/images/VP3VWH)   Halo, Sahabat HD di mana pun Kalian berada. Apa kabar? Semoga semuanya dalam …

Situasi Batas

(Foto: istimewa)   (Catatan Kecil Pada Hari Filsafat Sedunia, Kamis Ketiga Tiap November*)     …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *