Home / Opini / Toleransi Berbasis Budaya Lamaholot

Toleransi Berbasis Budaya Lamaholot

User Rating: 5 ( 1 votes)
(Foto: IndonesiaTimur.co)

 

Oleh: Aris Mada, SVD*

 

 

I

 

Kemajemukan menjadi salah satu fakta tak terbantahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berbeda suku, agama, budaya, dan ras. Karena itu, ketika para pendiri bangsa ini merumuskan dasar negara, pancasila dilihat sebagai fondasi yang mampu menampung segala kebhinekaan, baik kebhinekaan budaya, agama, suku, dan ras. Hal ini terungkap dalam semboyan “Bhineka tunggal Ika” yang diharapkan dapat menjadi semboyan bersama demi terciptanya persatuan dan kerukunan dalam hidup bersama. Apapun budayanya, suku, dan ras, setiap orang tinggal dalam satu “Rumah Bersama” yaitu bangsa Indonesia.

 

Melihat Pancasila yang dihasilkan dari sebuah permenungan panjang agar bisa merampung kebhinekaan, maka pancasila yang dirumuskan bertitik tolak dari kebudayaan Indonesia sekaligus memancarkan jati diri bangsa yang mengarah pada tercapainya Indonesia sebagai sebuah cita-cita bersama. Apabila Indonesia adalah sebuah cita-cita bersama maka badan, hati dan jiwa masyarakat Indonesia tertuju pada persatuan dan kesejahteraan bersama.

 

Persoalan yang terjadi hingga saat ini, menurut Ben Anderson, Indonesia belum dipahami sebagai sebuah cita-cita bersama tetapi sebagai warisan yang diperebutkan satu sama lain sehingga menimbulkan konflik dan kekerasan atas nama suku, agama, budaya, dan ras. Pancasila sebagai dasar negara juga masih terlihat sebagai sebuah konsep yang baru menyentuh rasio dan belum merasuk sampai pada pelibatan total seluruh masyarakat untuk mewujudkan mimpi bersama itu. Karena itu berbicara tentang pancasila berarti berbicara tentang identitas kebudayaaan yang sungguh melekat erat dalam diri sebuah masyarakat.

 

Berbicara tentang identitas kebudayaan, maka berhubungan erat dengan nilai-nilai yang ada dalam suatu masyarakat. Sampai di sini, orang boleh bertanya, “Apa jati diri budaya Indonesia?” Indonesia terdiri dari jamak budaya dan adat-istiadatnya dari Sabang sampai Merauke sehingga memang sulit untuk menentukan jati diri sebuah bangsa yang sangat heterogen. Maka, jati diri budaya Indonesia dapat juga ditemukan dalam budaya-budaya lokal yang menyumbangkan nilai-nilai universal sebagai kekuatan yang mendukung cita-cita Indonesia sebagai “Rumah Bersama”.

 

II

 

Salah satu budaya lokal yang ada dalam Bangsa Indonesia adalah budaya Lamaholot yang mengakar kuat dalam diri manusia Lamaholot yang sangat membentuk cara berpikir dan cara berada sebuah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Tiga hal yang bisa diulas dalam bagian ini pertama adalah kepercayaan aslinya, kedua adalah kekeluargaan dan persaudaraan, ketiga adalah kepemimpinan masyarakat adat.

 

Pertama, Orang Lamahalot percaya pada “Lera Wulan Tana Ekan” sebagai wujud tertinggi yang menciptakan segala sesuatu. Dalam bukunya “Agama Asli di Kepulauan Solor” Pater Paul Arndt, SVD melukiskan arti Lera Wulan Tana Ekan demikian,

 

Rera Wulan tou

Rera wulan né ama laké

Ata tularo hala

 

Hang anan ta

Nae tula kelen noon tana

ékan, atadiken, ewang

menawung

Manuk utang nepa nolang

Noon a-a wahan kaé

 

Rera wulan né mataya noi hala

Naé raga pereta kelen

Noon tana ékan noon a wahang kaé.

 

Rera Wulan hanya satu

Rera Wulan adalah laki-laki

Dia tidak diciptakan oleh siapa pun

 

Tidak mempunyai anak isteri

Dialah yang menciptakan langit

Dan bumi, manusia, aneka

Binatang

Ayam hutan, tumbuh-tumbuhan

Serta segala sesuatu.

 

Rera Wulan takkan pernah mati

Dialah yang menjaga dan menguasai langit

Dan bumi (tana ekan) serta segala sesuatu.

 

 

Selanjutnya, kepercayaan terhadap wujud tertinggi ini menimbulkan suatu ketakutan kalau-kalau orang berbuat salah di dunia yang bisa mendatangkan malapetaka.

 

Naé kewasa alapeng

Rera Wulan né oneng hola noi ro

Kalu tité atadiken taan ahé si

Tana Ĕkan daten nalan

 

Temakayet, openg aka ata

Iker aneka

Ewa ata, peletung peléa ata

 

Tekang ata belaya tangen

 

Naé oneng hola noon tite

Naé néin tite beraraket

Matayet

Dialah yang maha kuasa

Rera Wulan dapat menjadi murka

Bila kita manusia melakukan

sesuatu di bumi ini salah dan nista

 

Mencuri, menculaskan milik

orang lain

menyumpah dan mengutuk orang

 

makan riba berlebihan yang

merugikan orang lain

ia memurkai kita

ia menjadikan kita sakit dan

bahkan mati.

 

 

Salah satu aspek penting dalam agama yaitu rekonsiliasi. Setelah orang berbuat salah yang mengakibatkan rasa sakit, orang perlu membuat rekonsiliasi. Ungkapan rekonsiliasi itu nampak dalam syair berikut,

 

Aké beraraket matayet

Tité mésé balik ata aneka né

 

Kalu tité peletung peléa ata

kaé

Tité mésé haput nuhuket noon

belegang

Maring kodahang nenepi: “O

Rera Wulan

goé haput nuhuk kaé ni

aké néing go berarak muri,

noon aké néing goé matayek muri

Agar tak jatuh sakit dan mati

Kita harus mengembalikan milik orang lain itu

Jika kita telah menyumpahi dan mengutuk orang lain

Kita harus memurnikan mulut dalam satu pemulihan

Mengucapkan kata-kata berikut ini: O

Rera Wulan

Saya telah memurnikan mulutku

Jangan lagi menimpakan penyakit pada saya

Jangan pula membawa saya pada kematian

 

 

 

Kedua adalah rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang terbentuk dalam sistem suku di dalam kampung yang disatukan oleh Korké Balé. Korke” adalah sebuah rumah persembahan yang didirikan di atas tiang-tiang dan sama sekali tidak mempunyai dinding. Yang membedakan korke dengan rumah kediaman adalah rumah-rumah diam lain terletak di atas tanah. Di samping korké ada balé: rumah pertemuan untuk para pemuka. Untuk membangun korké, semua suku di dalam kampung dan dari wilayah sekitar harus menymbangkan babi, kambing dan beras untuk pesta korké. Dengan demikian, setiap orang merasa memiliki sebuah rumah bersama yang mempersatukan mereka sebagai satu kampung.Di bagian depan Korké, ada Nubanara berupa satu onggokan batu-batu kecil sebesar kepalan tangan, yang bundar dan licin, di tengah-tengah pelataran, tempat orang menari dan membawakan persembahan. Nubara dilihat sebagai leluhur yang melahirkan dan mengadakan manusia. Selain itu beberapa ungkapan yang menggambarkan kekeluargaan dan persaudaraan dalam budaya Lamaholot yaitu “Lango Uma-Pita Matan” “One Tou-Maket Ehan”,  “Kakang-Arin”.

 

Ketiga adalah kepemimpinan untuk mengatur jalannya suatu sistem pemerintahan adat demi terciptanya suatu masyarakat yang sejahtera dengan Gelekat Lewo – Gewayan Tana. Di dalam ungkapan ini termaktub nilai kerja sama dan gotong-royong yang menggerakan orang untuk memajukan dan mensejahterakan kampung.

 

Inilah ketiga hal yang bisa diamati dan dikaji lebih jauh lagi tentang budaya Lamaholot sebagai warisan budaya yang memancarkan nilai toleransi atau penghargaan terhadap yang lain. Nilai-nilai ini bisa menjadi kekuatan apabila dihayati kembali bagi sebuah masyarakat di tengah tantangan sikap-sikap intoleransi yang mengancam persatuan.

 

 

Daftar Pustaka:

Paul Arndt, SVD, Agama Asli di Kepulauan Solor, Maumere: Puslit Candraditya, 2003.

 

*) Penulis adalah pengelola “Taman Baca dan Bermain Onek Mara”. Tinggal di Kolilanang, Adonara.

Check Also

Haruskah Kita Menonton Debat Pilpres?

(Sumber gambar: inilahkoran.com) Oleh: Doni Koli* Beberapa jam lagi kita sekalian akan menyongsong dan menyaksikan debat …

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

(Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id) Oleh: Filio Duan* Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *