Home / Opini / Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id)

.

Oleh: Kris Ibu*

Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri ini. Sebagaimana diberitakan INDOSIAR, beberapa waktu lalu polisi menangkap puluhan tersangka tindak pidana terorisme dan mengungkap rencana aksi peledakan bom. Keterangan yang diketahui, para teroris hendak melancarkan aksi terorisme mereka pada hari pengumuman hasil rekapitulasi Pemilu 2019, pada 22 Mei kemarin.

Irjen Mohammad Iqbal, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri dalam keterangan persnya menegaskan hal ini. Beliau mengatakan, kelompok ini merencanakan aksi teror dengan menyerang kerumunan massa pada tanggal 22 Mei menggunakan bom. Kelompok ini, lanjut beliau, memanfaatkan momentum pesta demokrasi.

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak ingin membahas politik, dalam hal ini pesta demokrasi yang sudah usai, tapi embel-embelnya belum berakhir itu. Saya lebih tertarik untuk membahas soal terorisme.

Terorisme: Selayang Pandang

Dalam bukunya “Terorisme Global. Tinjauan, Kritik dan Relevansi Pandangan Jean Baudrillard”, Silvester Ule memberikan ulasan mengenai terorisme.

Secara harfiah, ‘terorisme’ berasal dari kata dasar ‘teror’ yang berasal dari bahasa Latin, “terrer” yang artinya rasa takut yang luar biasa, menakutkan, mengerikan. Kata kerjanya adalah “terrere” yang berarti membuat takut atau menakut-nakuti.

Penggunaan kata terorisme berasal dari bahasa Prancis, terrorisme. Kata dasarnya, terror, mulai digunakan di Prancis pasca revolusi yang mana kekuasaan masa itu dinamakan sebagai Reign of Terror (antara tahun 1793-1794), menggunakan kekuasaan atau memerintah dengan intimidasi demi mencapai tujuan-tujuannya.

Pada tahun 1798, arti ini digunakan juga di Inggris yang sekaligus mengawali penggunaan kata ini di seluruh dunia. Akhirnya, istilah terorisme sangat terkenal atau menjadi populer kembali sejak peristiwa serangan terhadap menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat, pada 11 September 2001 (Ule, 2011, 4-5).

Medium untuk melakukan tindakan menakut-nakuti ada berbagai macam. Contoh yang paling santer akhir-akhir ini adalah media sosial (daring). Orang menggunakan media sosial untuk melancarkan aksi teror ini.

Ujung atau objek sasaran dari semua ini adalah manusia. Manusia menjadi korban teror yang tak terhindarkan. Di sinilah, titik manakala cinta kasih menjadi pudar di tengah hidup sosial kemasyarakatan.

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

Seperti yang ditegaskan di atas, manusia adalah objek dari teror. Manusia dijungkirbalikkan dari martabat kemanusiaannya yang luhur. Akhirnya, yang ada hanyalah suasanan ketakutan yang melingkupi subjek. Subjek dalam pusaran kemanusiaan menjadi luntur akibat pengalaman di luar dirinya.

Untuk mencegah hal itu (teror) terjadi, antisipasi kemanusiaan menjadi penting. Setiap orang mesti dibekali pengetahuan yang cukup tentang arti kemanusiaan yang utuh. Selain itu, lembaga pemerintahan mesti kuat. Salah satu lembaga pemerintahan yang dapat mengantisipasi teror kemanusiaan adalah Kepolisian.

Kita patut berterima kasih kepada pihak Kepolisian karena telah mengantisipasi aksi teror yang rencananya akan dilaksanakan pada 22 Mei kemarin. Meski demikian, Kepolisian mesti bekerja lebih ekstra lagi untuk menangani persoalan teror yang menimpa masyarakat kita. Dalam menjalankan tugasnya, pihak Kepolisian mesti mengadakan kerja sama lintas lembaga dan kelompok-kelompok masyarakat. Di antaranya, RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, dan seterusnya. Juga lembaga-lembaga keagamaan. Kerja sama ini akan membuahkan hasil apabila setiap gerak-gerik kelompok tertentu yang mengancam kehidupan bersama, apalagi mengarah ke terorisme, dilaporkan ke pihak Kepolisian.

Antisipasi ini menjadi penting, sebab yang diperjuangkan adalah kemanusiaan manusia. Dan, kemanusiaan manusia selalu bersifat universal, dalamnya terdapat kompleksitas hidup manusia.

Oleh karena itu, kita patut mencurigai kelompok tertentu yang mengancam kemanusiaan manusia. Mari menjunjung tinggi kemanusiaan. ***

.

*) Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores. Suka menikmati mentari pagi di samping Wisma St. Agustinus, Ledalero.

(Foto: dok. pribadi penulis)

Check Also

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

“Gara-gara” Guru

(Sumber gambar: sixhatsdz.forumalgerie.net) . Oleh: Viktor Juru* Sewaktu SD, saya pernah adukan guru saya ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *