Home / Opini / Sudahkah Kita Semua Menikmati Pelayanan Kesehatan?

Sudahkah Kita Semua Menikmati Pelayanan Kesehatan?

(Foto: https://goo.gl/images/BDe8Rz)

 

(Catatan Memperingati Hari Kesehatan Sedunia Tahun 2018)

 

Oleh: Saverinus Suhardin, S.Kep., Ns*

Menjelang perayaan Hari Kesehatan Sedunia (HKS), 7 April 2018, Direktur Umum WHO – Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus – menyerukan sebuah pesan yang sangat baik bagi arah pelayanan kesehatan kita,

“Health is a human right. No one should get sick and die just because they are poor, or because they cannot access the health services they need.” [1] (Kesehatan merupakan hak asasi. Tidak boleh seorang pun sakit dan meninggal hanya gara-gara mereka miskin, atau karena mereka tidak bisa mengekses pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan).

Bila kita membaca penyataan ini dengan saksama, tentunya sangat ideal bagi sistem pelayanan kesehatan. Bisa dikatakan, itulah tujuan utama pembangun bidang kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang baik bagi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali. Semua warga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan tetap berkualitas, tanpa diskriminasi, dan bisa dinikmati kapan saja, di mana saja.
Tapi, bagaimana kenyataan yang kita rasakan selama ini? Atau pertanyaan kita ubah sesuai dengan judul tulisan ini, “Sudahkah kita semua menikmati pelayanan kesehatan yang baik selama ini?”

Jawaban atas pertanyaan itu bisa bermacam-macam. Sebagian besar mungkin telah mendapatkan pelayanan yang baik. Tapi tidak bisa dimungkiri juga, setiap hari kita mendengar atau membaca berita tentang pasien yang ditelantarkan [2]; pasien yang meninggal gara-gara tidak mendapat perawatan di pusat pelayanan kesehatan lantaran tidak mampu membayar [3]; pasien yang meninggal karena terlambat dilayani hanya karena belum memiliki surat rujukan [4]; dan persoalan lainnya.
Berbagai kabar tidak menyenangkan di atas rupanya bukan hanya keluhan bangsa kita. WHO sebagai organisasi kesehatan dunia, telah mengidentifikasi permasalahan yang sama, -berkaitan dengan cakupan pelayanan kesehatan umum (untuk semua) yang disebut Universal Health Coverage (UHC) – juga terjadi di negara lain. Inilah beberapa fakta yang berkaitan dengan UHC saat ini: hampir setengah dari warga dunia tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dasar; hampir 100 juta orang masuk dalam kategori kemiskinan yang ekstrim, terpaksa bertahan hidup dengan pendapatan yang minim, karena meraka harus membayar layanan kesehatan yang mahal; lebih dari 800 juta orang (hampir 12% populasi dunia) membelanjakan setidaknya 10% dari anggaran rumah tangga mereka untuk biaya kesehatan bagi mereka sendiri, anak yang sakit atau anggota keluarga lainnya.[5]

Tanggung Jawab Pemerintah

Hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan bagi semua masyarakat sudah tentu menjadi tanggung jawab utama pemerintah. Ini tidak bisa dimungkiri lagi!

Misalnya kita di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila, terutama sila ke-5, secara implisit mengamanatkan tentang tugas negara/pemerintah dalam mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Lebih lanjut, dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.

Wujudnya terlihat dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang berlaku saat ini. Setiap penduduk wajib terdaftar dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselanggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan[6]. Lewat program ini, harapan semua lapisan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai semakin mungkin diwujudkan. Memang dalam periode awal penerapannya ada begitu banyak ketimpangan atau masalah yang terjadi, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. Namun, kita mesti sama-sama optimis mewujudkan salah satu mimpi bersama bangsa Indonesia ini.

Sebagaimana kita, negara-negara lain dalam koordinasi WHO tentunya menjalankan tugas yang sama. Itulah sebabnya pada momen HKS tahun 2018 ini, WHO menggaungkan tema yang berkaitan dengan hak mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut, yaitu: “Universal Health Coverage: Everyone, Everywhere.” [7]

Lebih lanjut, terdapat pesan-pesan khusus yang berkaitan dengan tema UHC tersebut, di antaranya: (1) UHC dimaksudkan untuk memastikan semua orang bisa mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, di mana pun dan kapan pun mereka membutuhkannya, tanpa kesulitan keuangan; (2) UHC adalah kunci bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia dan bangsa; (3) UHC sangat bisa diterapkan, beberapa negara telah membuat kemajuan besar; (4) Setiap negara melaksanakan UHC dengan cara berbeda, disesuaikan kondisi masing-masing; (5) Setiap orang dapat berperan dalam melaksanakan UHC, dengan mengambil bagian dalam pembicaraan UHC.[8]

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sudah disampaikan di atas, kita semua bisa berperan dalam menerapkan UHC ini. Pemerintah kita (Kementerian Kesehatan RI) sudah membuat kebijakan/peraturan yang baik, sesuai dengan arahan WHO. Lalu, kita bisa lakukan apa?

Pertama, kita mesti ikuti atau turuti anjuran pemerintah. Ada banyak ajuran, misalnya mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan; mengikuti posyandu; menjalankan program Germas; serta program lainnya. Kadang kita mengabaikan program tersebut. Tapi begitu ada masalah, kita lebih gampang menyalahkan pemerintah.

Kedua, bila kita mendapati ada pelayanan kesehatan yang kurang baik, suarakan agar menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah sebagai penanggung jawab utama. Kasus gizi buruk di Asmat yang terjadi baru-baru ini bisa menjadi pelajaran yang baik. Begitu suatu masalah ramai dibicarakan banyak orang, pemerintah akan segera bertindak cepat mengatasi masalah tersebut.

Ketiga, antara masyarakat dan pemerintah mesti saling bersinergi. Program pemerintah menjadi sia-sia bila tidak dilaksanakan oleh masyarakat. Begitu pula sebaliknya, masalah yang terjadi di masyarakat sulit teridentifikasi dan dipecahkan oleh pemerintah.

Kiranya melalui momen HKS ini, kita semua disadarkan akan pentingnya suatu pelayanan kesehatan yang bisa diakses oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun, tanpa terkendala masalah uang.

Selama Hari Kesehatan Sedunia!

 

[1] WHO. (2018). Campaign essentials for World Health Day 2018. Diakses pada tanggal 5 Maret 2018 dari http://www.who.int/campaigns/world-health-day/2018/campaign-essentials/en/.

[2]  KabarJombang.com. (2017). Petugas Plesir ke Bali, Pasien Miskin Terlantar di Puskesmas. Diakses tanggal 5 April 2018 dari: https://kabarjombang.com/petugas-plesir-ke-bali-pasien-miskin-terlantar-di-puskesmas/.

[3] Detik.com (2015). Ditelantarkan RS Hingga Meninggal, Keluarga Pasien BPJS Mengamuk di Siantar. Diakses tanggal 5 April 2018 dari: https://news.detik.com/berita/d-2834754/ditelantarkan-rs-hingga-meninggal-keluarga-pasien-bpjs-mengamuk-di-siantar.

[4]  “Demi Selembar Surat Rujukan Dua Nyawa Melayang,” Victory News, 29 Januari 2018, hlm. 1 dan 5.

[5]  WHO. (2018). Key messages for World Health Day 2018. Diakses tanggal 5 April 2018 dari: http://www.who.int/campaigns/world-health-day/2018/key-messages/en/.

[6]  Kementerian Kesehatan RI. (2015). Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Diakses tanggal 5 April 2018 dari: http://www.depkes.go.id/resources/download/jkn/buku-pegangan-sosialisasi-jkn.pdf.

[7]  WHO. (2018). Campaign essentials for World Health Day 2018. Diakses pada tanggal 5 Maret 2018 dari http://www.who.int/campaigns/world-health-day/2018/campaign-essentials/en/.

[8] WHO. (2018). Key messages for World Health Day 2018. Diakses tanggal 5 April 2018 dari: http://www.who.int/campaigns/world-health-day/2018/key-messages/en/.

 

*) Penulis adalah Perawat, staff pengajar di Akper Maranatha Kupang

 

Check Also

Layakkah Seorang Penjual Ikan Marah?

(Sumber gambar: Floresa.co) Oleh: Rio Nanto* Kunjungan Calon Wakil Presiden 02, Sandiaga Uno, di Flores, …

Cuma Desas-Desus*

(Sumber gambar: Beritagar) (Tanggapan untuk Amandus Klau) . Oleh: Emilianus Yakob Sese Tolo* Dalam Bentara …

One comment

  1. Ricky Marthin Ly

    Sepakat…. Sedikit bertukar pendapat, tentang amanat keadilan sosial yang merupakan tugas negara. Peran dan fungsi dari Tenaga kesehatan juga perlu dikorbankan berdasarkan sila “Kemanusiaan yang ADIL dan beradab”
    Semoga menjadi salah satu motivasi kita yang mengabdi bagi pembangunan kesehatan negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *