Home / Opini / Suara Rakyat adalah Suara Medsos

Suara Rakyat adalah Suara Medsos

User Rating: 5 ( 1 votes)
(Foto : merdeka.com)

(antara suara yang beradab dan suara yang tidak beradab)

 

Oleh: Venan Pea Mole*

 

“Suara rakyat adalah suara Twitter.”
(Sukmo – dalam film Republik Twitter – 2012)

 

Suara rakyat adalah suara tuhan mungkin harus ditinggalkan karena suara rakyat tidak pernah sama dengan suara tuhan. Di era milenial dan digital, suara rakyat adalah suara media sosial (medsos). Dan sebagai makhluk yang menggunakan medsos, mengendalikan medsos dan juga dikendalikan oleh medsos, kita telah menjelma menjadi manusia era digital atau meminjam istilah F. Budi Hardiman sebagai homo digitalis.

Setuju tidak setuju, sepakat tidak sepakat, penggunaan medsos dianggap sebagai kehadiran sebuah era baru yang menghadirkan suara rakyat secara lebih luas. Dalam laporan Tetra Pak Index 2017 mencatat sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia, 40% penggila medsos. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, dimana di 2016 pengguna internet berkisar 51 % atau sekitar 45 juta pengguna, diikuti dengan pertumbuhan sebesar 34 % pengguna aktif medsos (detik.com/29/9/2017).

Harus diakui bahwa di era teknologi informasi seperti saat ini, penyaluran aspirasi rakyat tidak perlu ribet dengan melakukan aksi/demo di jalanan yang berujung pada bentrok dengan aparat keamanan, tetapi dapat melalui medsos (Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain). Sebagai contoh penggunaan medsos sejak kemunculan kasus ‘Koin untuk Prita’ atau ‘Cicak vs Buaya’, telah membuktikan bahwa penggunaan medsos cukup efektif dalam penggalangan suara masyarakat, atau penyebarluasan simpati kepada yang tidak didengar tanpa perlu turun berteriak-teriak di jalanan sambil membakar ban.

Sadar atau tidak, suara rakyat melalui media sosial telah menjadi sebuah kekuatan baru dalam peradaban manusia saat ini. Dalam konteks politik misalnya, penggunaan medsos untuk kampanye politik telah menjadi hal lumrah dan tidak bisa dihindarkan. Para aktor politik tentu sudah menyadari bahwa medsos sudah menjadi arus utama informasi generasi milenial. Dan melalui medsos, para aktor politik menggalang kekuatannya.

Suara yang Beradab dan Tidak Beradab

Medsos membuka keran akses yang begitu luas bagi penggunanya. Siapapun bisa menjadi content writer di medsos sehingga medsos bebas diisi konten positif maupun negatif. Tidak ada batasan terhadap akses media sosial. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penggunanya untuk mengisinya dengan hal-hal yang bermutu atau tidak.

Dalam ruang medsos yang penuh kebebasan, tanpa status sosial, tanpa ada pembatasan antara yang publik dan privat, setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya baik yang rasional sampai dengan yang sekedar mencari sensasi bahkan irasional. Dan akibat tanpa ada batasan, suara rakyat di medsos dapat menjadi suara yang beradab dan suara yang tidak beradab.

Kehadiran media sosial memang membawa perubahan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang jarang memiliki ruang untuk menyuarakan pendapatnya. Suara rakyat di medsos mewakili suara masyarakat dari berbagai jenis golongan seperti buruh, petani dan masih banyak lagi. Suara rakyat di medsos selain mewakili golongan-golongan masyarakatnya, sekaligus mewakili kepentingan dari golongan-golongan tersebut.

Kita tentu belum lupa tentang aksi “koin keadilan” dalam kasus Prita Mulyasari di medsos . Atau saat Bibit-Chandra ditahan polisi pada Oktober 2009 silam, yang kemudian direspon publik dengan menggalang 1,3 juta dukungan melalui Facebook. Aksi dan dukungan di atas menunjukkan bahwa medsos telah menjadi kanal bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya.

Secara bersamaan, kehadiran medsos membawa dampak negatif seperti memunculkan sindikat penebar hoax dan ujaran kebencian seperti Saracen atau Muslim Cyber Army (MCA). Kita tentu masih ingat dengan berita penganiayaan terhadap Ulama atau Kyai yang jumlahnya mencapai 40 kasus. Isu ini diviralkan di medsos oleh kelompok MCA sepanjang Februari 2018. Contoh lainnya adalah berita bohong tentang kebangkitan PKI. Dalam kasus tersebut, Polda Jabar berhasil menangkap seorang pelaku yang menyebarkan berita bohong mengenai PKI sebagai pelaku penganiayaan seorang ulama setempat.

Suara rakyat di medsos bisa saja ‘suara pesanan’. Dalam film “Republik Twitter” misalnya diceritakan tentang Sukmo cs yang direkrut oleh seorang pebisnis untuk melakukan pencitraan terhadap seseorang dengan menjadikannya sebagai trending topic di Twitter. Sukmo cs kemudian membuat tweet-tweet palsu guna mendongkrak popularitas kliennya. Alhasil, kliennya menjadi trending topic di Twitter. Film “Republik Twitter” sedikit menceritakan bahwa suara rakyat di medsos bisa saja menjadi ‘suara pesanan’. Tentu kisah “Republik Twitter” hanya fiksi belaka, namun pada kenyataannya tidak sedikit penggunaan medsos bertujuan sebagaimana diceritakan dalam film tersebut.

Penggunaan medsos bisa membuat seseorang lebih beradab ataupun menghambat peradaban itu sendiri. Melalui medsos kini orang mudah menyampaikan aspirasinya dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah seperti melalui petisi change.org dan tanpa harus melakukan aksi yang dapat merugikan diri sendiri atau kepentingan umum.

Melalui medsos juga, kini orang dengan mudah membaca dan menulis kata-kata agresif, makian kasar, dan kalimat benci yang brutal di medsos. Menurut F. Budi Hardiman, sebagai homo digitalis, bisa mendapati diri dalam dunia baru tanpa negara, digital state of nature. Dalam keadaan itu, adil dan tidak adil, tidak dapat dikenali. Seseorang menjadi hakim atau tuhan atas yang lain. Kecanggihan gawai membuat penggunanya tidak cepat menyadari telah ikut menghasilkan brutalitas melalui pesan-pesannya. Homo digitalis menjelma menjadi homo brutalis.

Oleh karena penggunaan medsos yang bebas dan tanpa batas, maka menegakan adab di medsos merupakan ikhtiar penting dalam mewujudkan perdamaian, serta melakukan pengawasan mengenai batasan yang perlu dalam komunikasi di medsos melalui peraturan perundang-undangan. Selain itu, perlu adanya moralisasi di ruang medsos agar dalam menggunakan medsos hendaknya kita tetap memperhatikan dan menerapkan asas-asas etika seperti kebenaran, keadilan, kehendak baik, hormat-menghormati dan sebagainya, sehingga suara-suara yang ‘bertaburan’ di medsos sungguh suara yang beradab dari makhluk yang beradab pula.

Pada akhirnya, sebagai mahluk yang beradab kita harus bijak dalam menggunakan medsos. Penggunaan medsos yang beradab adalah penggunaan medsos yang memperhatikan etika. Suara pengguna medsos yang beradab adalah suara pengguna medsos beretika/baik. Penggunaan medsos yang tidak beradab adalah penggunaan medsos yang membuat penggunanya tidak baik. Dan suara pengguna medsos yang tidak menggunakan medsos berdasarkan ketentuan dari keadabannya adalah suara pengguna yang tidak baik, tidak beradab/kehilangan keadabannya.

*) Penulis adalah Pegiat Media Sosial. Tinggal di Ngada.

Check Also

Haruskah Kita Menonton Debat Pilpres?

(Sumber gambar: inilahkoran.com) Oleh: Doni Koli* Beberapa jam lagi kita sekalian akan menyongsong dan menyaksikan debat …

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

(Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id) Oleh: Filio Duan* Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh …

3 comments

  1. Pencerahan yg luar biasa..intinya skrg gk usa pk cara2 konvensional dg trun k jln demo dll ..mending nyuarakan lewat medsos..intix beretika

  2. Mantap Dhoa Jao

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *