Home / Opini / Selamat Tidak Berpuasa!

Selamat Tidak Berpuasa!

(Foto: https://goo.gl/images/gM258f)

 

(Sebuah Catatan Selfie)

 

Oleh: Heti Palestina Yunani*

 

Mau makan selagi aku berpuasa? Silakan! Tak perlu pasang gorden warungmu. Tak perlu sungkan mulutmu berkecipak mengunyah di depanku. Tak perlu. Ini waktunya aku yang berpuasa Ramadan, bukan kamu, kan?

Urusan puasa, Tuhan-ku bilang itu adalah ibadah yang hanya untuk-Nya dan hanya Ia yang akan memberikan ganjaran langsung pada makhluk-Nya. Private bussiness begitulah antara Khalik dan ciptaan-Nya.

Jadi, kalau mengikuti hadis riwayat Bukhari itu, tak perlu orang lain yang tidak berpuasa sibuk meladeni muslim yang mayoritas ini, ketika Ramadan. Biarkan itu jadi urusanku untuk meladeni Tuhan-ku sendiri. Asumsikan saja umat muslim itu tidak manja, tidak rewel, tidak ribet. Buatlah mereka yang tidak berpuasa gampang karena yang berkewajiban mempersiapkannya adalah yang berpuasa. Berani naik gunung, tanggung sendiri ngos-ngosannya dong. Masa tetangga?

Apalagi – jika memang ada pahalanya -, agar berlipat yang didapat, godaan selama berpuasa bisa jadi salah satu cara cepat untuk mendulang banyak keberkahan. Logika sederhananya, makin banyak godaan dan menang, hadiahnya kan makin besar. Iya tidak? Lalu siapa yang ikut andil memberikan tambahan berkah pada puasaku itu? Adalah mereka yang tidak wajib berpuasa Ramadan.

Bukan saja yang terhalang berpuasa karena kondisi tertentu seperti anak kecil, orang yang tidak berakal, orang dalam perjalanan, perempuan berhaid dan nifas setelah melahirkan, lho. Bagiku, mereka yang tidak wajib berpuasa di antaranya adalah non-muslim. Ketidakpuasaan mereka ikut diperhitungkan menyumbang nilai puasa kita. Tapi, sering mereka dilupakan untuk dihormati. Mentang-mentang yang non-muslim minoritas, merekalah yang harus menghormati umat muslim yang sedang berpuasa.

Apa ini tidak keliru? Ya, tidak, memang. Umat muslim punya hak asasi mendapatkan kenyamanan dalam berpuasa. Sebulan saja. Cuma, tidak elok. Kalau mau mendapatkan lebih pahala Ramadan, mengapa tidak berani untuk memulai penghormatan pada yang tidak berpuasa? Itu pikirku biar elok. Bagaimana Islam memberikan tuntunan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa?

Aku punya dasar tiga hal.

Pertama, mengembangkan sikap dan prasangka positif (husnudzon) terhadap perbedaan. Tidak sekadar menerima perbedaan sosiologis, tetapi memahami sumber-sumber perbedaan dan menerima mereka yang berbeda sebagai bagian integral masyarakat. Sumber perbedaan paling dalam  ya, agama.

Alquran menegaskan: “Tiada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Jadi, secara alamiah, manusia diciptakan dalam perbedaan. Yang tidak berpuasa, ya, hormati karena husnudzon pada perbedaan itu.

Kedua, memfasilitasi dan mengakomodir mereka yang berbeda untuk menjalankan agama sesuai keyakinannya. Dalam piagam Madinah, Nabi Muhahmad SAW mengikat bangsa Arab kaum Muhajirin, Anshar, Yahudi dan Nasrani untuk bersatu. Bahkan sebagai penghormatan pada mereka, Nabi mengizinkan kaum Nasrani Najran yang menghadap ke timur untuk menggelar kebaktian di masjid tempat penandatangan piagam tersebut.

Terkait ini Alquran menegaskan: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisa: 86).

Apalagi puasa bukan kultur umat muslim saja lho. Puasa adalah kebiasaan umum dalam banyak agama dunia, ya, Nasrani, Buddha, Hindu, Jainisme, dan Yudaisme, sampai Darmo Gandul.

Sekadar mengingatkan, umat Katolik sudah lebih dulu memulai gerakan doa puasa massal 50 hari sejak 1 April 2018 hingga 20 Mei. Mereka khusyuk menjalankan tanpa menuntut privilige.

Karena itu, ketiga, ingat jika ada kewajiban membangun tanggung jawab sosial bersama. Dalam Islam, keimanan seseorang tidak akan sempurna jika tidak diimbangi amal saleh; yakni berbuat kebajikan yang memberikan manfaat untuk sesama termasuk kepada non-muslim. Kalau muslim dan umat Katolik sekarang sedang berpuasa bersama, saling menghormati kan indah?

Alquran menegaskan: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al Maidah 5:2).

Cie kaya Mamah Dedeh.

Tiga dasar ini aku favoritkan untuk mendorong diriku sendiri berusaha bisa menghormati orang yang tidak berpuasa. Tentang keimanan dengan perimbangan amal saleh ini Paus Fransiskus juga berpikir serupa. Saat menyapa umat Katolik yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan dari jendela Istana Kepausan awal tahun 2017, Paus mengatakan tak ada gunanya jika seseorang rajin beribadah, tapi tak berbuat baik dalam hidup sehari-hari.

Pemimpin Gereja Katolik sedunia itu menyebut mereka yang demikian sebagai burung beo. “Jika saya katakan bahwa saya seorang Katolik dan rajin ke gereja, tetapi kemudian tak mau bicara dengan orangtua, tak mau membantu orang miskin, menengok orang sakit, itu tak menunjukkan iman saya, jadi percuma,” kata Paus kepada para pemuda di Desa Guidonia, tak jauh dari Roma.

“Mereka yang tak berbuat baik bukan apa-apa selain burung beo, hanya kata-kata,” tambah Paus.

Simpulannya, mari menghormati orang yang tidak berpuasa sebagai tanda kita – umat muslim- sedang berpuasa. Amalnya makin saleh. Begitu Ramadan tiba, penghormatan pada non-muslim meningkat, seperti alarm yang membungakan umat dunia. Sebulan saja terasa kok. Tidak sebaliknya; memaksa orang lain menghormati puasa kita. Biarkan mereka menjadi penguji iman selama berpuasa. Sebab itu lebih baik daripada puasa kita hanya lapar karena terus memerangi orang lain yang tidak berpuasa.

Lalu, tak perlu marah ketika melihat orang lain makan seenaknya di depan kita tanpa sungkan begitu? Lalu, tak perlu menggondok ada orang tetap memancing syahwat di tempat umum begitu? Lalu tak perlu mengamuk saat hiburan malam tetap asyik berlangsung begitu? Lalu tak perlu juga sweeping rumah makan, kafe dan warung-warung sambil mengacung-acungkan golok begitu? Silakan berpikir bagaimana baiknya. Negara saja masih bingung bagaimana mengatur itu semua selama Ramadan. Jangan kita linglung.

Paling mudah, ya, aku berpikir begini: mau pahala lebih ya tahanlah diri sendiri. Jangan malah menyuruh, bahkan memerintahkan, justru menuntut orang lain yang tidak berpuasa untuk menahan diri tidak menggodamu ketika berpuasa. Yang beribadah siapa sih? Terbalik ah.

Sekali lagi, selamat tidak berpuasa ya!

 

Tertanda, kami tiga negara:
Palestina, Afghanistan, Vatikan

 

 

*) Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi, jurnalis, pegiat budaya. Tinggal di Surabaya.

Check Also

Pancasila dan Kita

(Sumber gambar: steemit.com) Oleh: Bonefasius Zanda* Salah satu alasan paling mendasar bagi tetap berdiri kokohnya …

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *