Home / Opini / Peringatan Hari Wanita Internasional

Peringatan Hari Wanita Internasional

User Rating: Be the first one !
(Foto : midnightpoutine.ca)

Oleh: John Sinartha Wolo*

 

Hari Wanita Internasional Wanita dalam Sejarah

Pada tanggal 8 Maret, seluruh dunia memperingati Hari Wanita Internasional atau International Women’s Day. Atas dasar kesadaran kolektif bahwa dalam peredaran sejarah yang panjang kaum wanita diberikan stereotipe mengenaskan, mereka (baca:kaum wanita) akhirnya angkat bicara. Dan, 8 Maret menjadi saksi sejarah bahwa kaum wanita telah mencapai titik kesadaran maksimal untuk mengakhiri kisah kelam ini. Momen ini membangkitkan konsentrasi dunia akan pengakuan eksistensi kaum hawa.

Tanggal 8 Maret sebagai Hari Peringatan Wanita Internasional, adalah puncak dari deretan panjang cerita tentang perjuangan wanita yang terjadi di berbagai belahan dunia. Perjuangan itu di antaranya melawan aneka penyempitan terhadap aktualisasi hak-hak mereka. Sikap respek ini berangkat dari pengalaman hampir 3000-an tahun, satu rentetan kisah tentang wanita yang terpojokkan dengan peran yang terbatas.

Tepatnya 8 Maret 1857, kelompok buruh perempuan di kota New York melancarkan aksi demonstrasi dengan intensi membangkitakan perhatian publik terhadap hak-hak mereka, terutama soal perbaikan kesejahteraan. Aksi ini akhirnya menjadi stimulus bagi munculnya keprihatinan serupa di negara-negara Eropa. Bahwa wanita tidak identik dengan dapur, atau wanita tidak berarti kaum terbuang dan tidak diperhitungkan. Usaha ini merupakan perjuangan menerobos subordinasi wanita yang bahkan telah dibangun sejak zaman Yunani Kuno.

Demonstrasi yang digalakkan kaum wanita ini kian gayung bersambut hampir di seluruh tatanan dunia. Hasil dari perjuangan ini, pada tahun 1920 dilaksanakan konferensi Internasional di kota Copenhagen yang berakhir dengan kesepatakan membangun sikap respek dan penghormatan terhadap martabat kaum wanita. 8 (delapan) Maret menjadi gugatan wanita terhadap pembakuan tafsir tradisi yang telah ‘menelantarkan’ mereka dalam ruang yang tidak menguntungkan. Sementara pemberlakuan secara resmi Hari Peringatan Wanita Internasional baru terjadi pada periode awal Perang Dunia Pertama. Di mana tanggal 8 Maret 1913, hampir seluruh organisasi wanita di negara Eropa melangsungkan aksi protes demi terwujudnya perdamaian.

Aneka gerakan yang dinahkodai wanita umumnya, tak terkecuali kaum pria yang punya kepeduliaan moral, membangkitkan semangat pembaruan agar dalam bidang apa pun, baik pria maupun wanita mesti diperlakukan sebagai sama-sama sebagai makhluk bermartabat.

 

Budaya Kebapakan Masih Mendominasi

Manusia tidak lahir dari ruang kosong. Meski mempunyai otonomi diri, hidup manusia sedikit banyak merupakan sedimentasi dari interaksinya terhadap pandangan dan budaya yang ada. Gaung gerakan feminisme memang telah menerobos hingga pelosok-pelosok daerah terpencil, tetapi itu bukan berarti bahwa kesadaran kaum wanita dan pemahaman perlakuan terhadap wanita sudah menyentuh cita-citanya. Praktek budaya patriarkat yang telah berurat akar, apalagi menjadi warisan yang berumur 3000-an tahun, adalah satu fenomen yang masih menjadi kendala utama di tengah bertumpuknya kebijakan/regulasi yang berupaya membantu wanita mementaskan kiprahnya di tengah pubik. Juga ada ketakutan yang menganggap haram mengkritisi warisan tradisi. Padahal patriarkat tidak selaras dengan semangat zaman ini karena menempatkan wanita ibarat pelengkap, pekerja domestik. Semangat patriarkat menciptakan imajinasi bahwa sudah secara kodrat wanita tercipta sebagi pemegang kunci pintu belakang (dapur). Pemandangan yang mengharukan, tentu, kalau ini dibaca dari perspektif emansipasi wanita, sebuah wacana yang berkembang saat ini.

Mengingat peran wanita yang terbatas merupakan manifestasi dari tradisi praktik patriarkat, maka perlu mengkonstruksi budaya baru yang mesti diproduksi terus-menerus, diperbarui dan disosialisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Perjuangan ini tentu tidak mesti dituduh sebagai maling yang mengobrak-abrik kemapanan warisan budaya kebapakan.

Pertama, pembentukan imajinasi yang seimbang dalam diri pelajar tentang persamaan hak pria dan wanita. Pendidikan formal harus menjadi agen dan berada di garda terdepan untuk membentuk pemahaman kesetaraan martabat pria dan wanita. Peserta didik dibekali sikap kritis untuk berani mengoreksi tataran budaya yang dihidupi dengan pisau bedah HAM. Dunia bergerak dinamis dan begitu cepat dengan segala perkembangan paradigmanya. Karena itu tradisi harus membuka diri untuk dibaca secara baru agar selaras zaman. Sistem pendidikan yang berbasis kompetensi, kiranya membuka ruang inovasi institusi pendidikan untuk menerjemahkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri anak didik secara tepat sehingga anak didik memiliki pandangan dan cara hidup sesuai paradigma yang berkembang.

Kedua, praktik patriarkat sebagai warisan tua dalam rentang 3000-an tahun membentuknya menjadi budaya yang nyaris permanen. Hal ini mengakibatkan kesulitan dalam menyosialisasikan pola menafsir yang tidak bias gender. Oleh karena itu, perjuangan mengusahakan penyetaraan ini adalah perjuangan bersama. Menangkis peradaban yang tidak lagi kontekstual untuk zaman ini, kita butuh kerja yang melibatkan pelbagai komponen seperti pemerintah, agama, lembaga pendidikan, lembaga-lembaga sosial, media dan semua pihak. Sekalipun pendekatan ini tidak langsung ‘mentahirkan’ para penganut patriarkat, tetapi menjadi cerita baru untuk sebuah habitus baru bagi anak cucu berikutnya. Harapan kita, bersama perputaran waktu, pendekatan ini menunjukkan khasiatnya dalam membenamkan praktik subordinasi wanita.

Ketiga, tradisi belis (mahar) dibangun di atas filosofi yang kaya nilai. Namun, ada pergeseran semangat yang menempatkan belis sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Belis hanyalah sarana yang mengikat dua keluarga dalam sebuah perhelatan perkawinan agar tidak putus. Tujuannya untuk memastikan dua keluarga bisa saling membangun kehidupan bersama yang baik dan harmonis. Penekanan yang berlebihan pada belis (trend sekarang) melahirkan pergeseran dari menghormati tradisi leluhur ke kuda tunggangan meraup keuntungan ekonomis. Lantas, praktek ini dibarengi satu sirkulasi kerumitan yang semakin melar, di antaranya lahir kekerasan dalam rumah tangga, praktek kawin-cerai, perselingkuhan, dll.

Keempat, dunia bisnis, perusahaan-perusahaan multinasional hingga yang amat tradisional sekalipun, dengan sadar telah menempatkan wanita sebagai ‘komoditi’, perangsang minat konsumen untuk membeli. Wanita sering digunakan sebagai label produksi dan iklan barang dagangan. Pola seperti ini membawa serta penegaskan wanita sebagai “alat”. Desain yang tidak lagi sehat dan malah sebuah kemunduran peradaban.

Kelima, tradisi ‘adu otot’ alias kekerasan yang diperlihatkan Bapak kepada anak-anak dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di rumah tangga. Karakter anak laki-laki yang maskulin kian diperkuat karena dibekali dengan pengalaman kekerasan yang diperagakan sang Bapak. Ketika anak itu menjadi besar, imajinasi kekerasan tersebut akan bangkit dan memungkinkan pelampiasan terhadap istri. Begitulah seterusnya, terjadi satu siklus kekerasan yang tidak berujung.

 

Penutup

Alangkah baiknya bila spirit heroik wanita-wanita di New York dan di daratan Eropa menyusup hingga ke level kita. Bentuk yang paling sederhana adalah membalikkan praduga-praduga tak seimbang mengenai posisi wanita dalam ruang yang paling kecil di lingkungan kita dengan bertindak. Belas kasihan bukanlah alasan utama perjuangan menempatkan wanita secara adil dalam kiprahnya di tengah dunia. Standar kemanusiaan adalah landasan perjuangan ini. Untuk semua orang yang masih mempunyai kepeduliaan moral, dan bagi semua orang yang sempati dan empatinya tidak mengalami penyempitan medan sensitivitas, kepeduliaan dan perjuangan terhadap kesetaraan martabat pria dan wanita adalah tanggung jawab bersama.

*) Penulis adalah Dosen Pendidikan Karakter – Humaniora
Universitas Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dan Universitas Ciputra.

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *