Home / Opini / Pancasila dan Kita

Pancasila dan Kita

(Sumber gambar: steemit.com)

Oleh: Bonefasius Zanda*

Salah satu alasan paling mendasar bagi tetap berdiri kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga usia ke-74 tahun ini ialah karena memiliki dasar, ideologi, dan falsafah yang kuat yakni Pancasila. Oleh karena itu, memperingati serta merayakan hari lahirnya pada tanggal 1 Juni setiap tahun adalah sebuah keharusan. Bahkan, harus menjadi sebuah kebutuhan dasar yang mesti dipenuhi oleh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Pancasila — sebagai ideologi Bangsa — bersifat terbuka, fleksibel, dan universal, bukan kaku, feodal, tertutup, dan eksklusif. Hal itu sangat jelas ditemukan dalam kelima sila Pancasila itu sendiri. Dari kelima sila itu, secara khusus dapat kita temukan dua aspek sebagai roh utama, yakni aspek ketuhanan (religius) dan aspek kemanusiaan, sebagaimana termaktub dalam sila kedua sampai kelima. Kedua aspek ini mau melegitimasi kekhasan Pancasila itu sendiri sebagai yang bersifat terbuka dan universal.

Pertanyaannya, mengapa Pancasila tetap awet dan selalu dirawat oleh semua rakyat RI hingga kini?

Ya, kerena kelahiran Pancasila itu sendiri bukanlah segampang membolak-balik telapak tangan, melainkan membutuhkan waktu dan perjuangan yang amat panjang. Dalam perjuangan panjang itu, ada refleksi, airmata, darah, bahkan nyawa. Dalam situasi sulit dan pengasingannya, Bung Karno tidak putus asa, justru sebaliknya dengan penuh kesabaran dan keyakinan yang teguh pada Sang Kuasa, merenung.

Dalam permenungannya itu, Bung Karno menemukan butir-butir Pancasila. Kota Ende, Flores – NTT dan Pohon Sukun yang tetap bertumbuh subur hingga kini, menjadi saksi sejarah yang tetap hidup, bahwa di tempat itulah Bung Karno memiliki daya untuk merakit dan membingkai Pancasila. Dan bingkaian nilai-nilai Pancasila itu pun tetap awet dan kuat hingga kini.

Di pihak lain, saat ini kita hidup dalam globalisasi. Kemajuan global kian deras dan telah menimbulkan berbagai perubahan hampir dalam semua aspek kehidupan manusia. Ada yang positif tapi tak sedikit pula yang negatif. Salah satu yang positif dan patut kita rawat dan syukuri ialah hingga detik ini, Pancasila tetap menjadi ideologi Bangsa Indonesia. Walaupun pada kenyataannya, nilai-nilai Pancasila sedang (dan selalu) terluka.

Mengapa terluka? Pertanyaan ini selain menggugat nurani kemanusiaan kita sebagai warga NKRI, juga menjadi salah satu pengakuan bahwa kemajuan globalisasi telah berdampak buruk bagi perilaku dan cara pandang sebagian manusia. Darinya, perilaku-perilaku buruk itu telah merong-rong kesaktian nilai Pancasila itu sendiri. Itulah sebabnya, nilai persaudaraan, persatuan, keadilan, serta perdamaian selalu dihantui perpecahan, percekcokan, permusuhan, peperangan, perbedaan pendapat, dan perbedaan lainnya. Terhadap fenomena ini, seluruh masyarakat Indonesia harus dengan penuh sportivitas mengakui bahwa nilai-nilai Pancasila sedang terluka.

Lebih parah lagi, rahim Pancasila itu terluka bukan karena mempertahankan hal-hal positif, tetapi justru sebaliknya karena kerakusan akan jabatan juga uang. Untuk ini, kita patut melihat kembali Pemilihan Presiden dan Wapres 2019 ini, juga Pemilu-pemilu yang sudah berlalu. Politik sebagai seni menjelma seperti ular kobra yang memagut serta meracuni semua tatanan nilai sosial. Agama sekalipun, tunduk pada kepentingan politik itu sendiri. Sungguh sebuah ironi yang memilukan hati. Otak dan hati para generasi muda yang seharusnya ditaburi dengan nilai-nilai yang baik, justru sebaliknya diracuni oleh tingkah laku tak bermoral yang tak pernah henti dipertontonkan oleh para pejabat Negara dan politisi-politisi tanah air kita.

Alhasil, nilai-nilai Pancasila pun terus mengalami degradasi. Nilai ketuhanan dan kemanusiaan pun menjadi semakin jauh dari tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dampaknya, NKRI yang religius dan berkemanusiaan itu, hanya sebatas slogan tanpa roh.

Siapa yang salah? Ya, saya, Anda, dan kita semua patut berefleksi dan mengintrospeksi diri.

Pancasila adalah Rumah Kita

Kehidupan manusia dalam suatu Bangsa tidak akan pernah terlepas dari dinamika dan dialektika. Ini adalah keniscayaan. Begitu pun dengan kehidupan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Bahwa dalam kehidupan berbangsa, kita sering bertentangan satu sama lain, itu wajar. Namun, harus digarisbawahi bahwa perbedaan atau pertentangan itu mestinya untuk mempertahankan atau memperjuangkan kepentingan umum atau Negara itu sendiri. Sehingga, harapan bahwa di balik perbedaan kita mengalami sebuah integrasi sosial untuk melahirkan solusi-solusi humanis, haruslah semakin sering terjadi. Ini bukan berarti bahwa untuk melahirkan solusi humanis, harus berbeda atau berkonflik terlebih dahulu.

Sebaliknya, untuk mencapai kemakmuran bersama atau untuk merawat nilai-nilai Pancasila itu sendiri, hindari sejauh mungkin cara-cara yang destruktif yang berpeluang melahirkan permusuhan dalam waktu yang lama atau berkelanjutan. Sebab pada saat yang sama, selalu ada opsi baik untuk menyelesaikan persoal tanpa menyisakan luka.

Untuk itu, sudah selayaknya kita banyak dan terus belajar dari Bung Karno, bahwa dalam pengasingan dan situasi yang sulit saja, ia dapat menemukan butir-butir Pancasila. Menjadi benarkan, bahwa dalam situasi sesulit apapun selalu ada peluang baik yang ada di sana?

Nah, itu berarti untuk menjadi warga Negara yang tahan banting, hindari selalu sikap cengeng, dendam, pasrah, adu domba, apalagi sikap-sikap yang mau menghancurkan nilai-nilai Pancasila demi kepentingan sempit. Itu tak pernah boleh dirawat, sebaliknya harus segera dihancurkan!

Hemat saya, agar semua harapan dan cita-cita baik sebagaimana sudah saya paparkan di atas dapat terwujud secara berkelanjutan dalam tataran perkataan maupun praktik, budayakan sikap dan cara pandang yang menjadikan Pancasila sebagai Rumah Kita. Jika pemahaman ini terus dibudayakan, tak seorang pun warga Indonesia akan merasa asing atau benci dengan rumahnya sendiri.

Rumah selalu identik dengan kedamaian. Kedamaian dalam artian, ada percekcokan, tapi percekcokan itu akan selalu dikalahkan oleh kedamaian. Roh dasar rumah adalah kedamaian.

Agar Pancasila tetap menjadi Rumah Kita dan menjadi sumber kedamaian, segeralah kita berefleksi diri. Jadikan momen perayaan Hari Lahir Pancasila setiap tahun itu, untuk berbenah diri. Jika ada kesalahan, beranilah untuk meminta maaf terlebih dahulu. Jika ada hal atau sesama yang melukai hati, lekaslah memberi maaf dengan tulus. Revolusi Mental!

Dalam Pancasila, kita akan mengalami Revolusi Mental menuju kebaikan bersama baik bagi diri sendiri, sesama, Negara, dan Tuhan sendiri yang adalah sumber kebaikan yang kekal. Pancasila adalah kita dan kita adalah Pancasila. Pancasila adalah Rumah Kita. Tentang kita. Bukan tentang saya, Anda, dan mereka saja.

Selamat merayakan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2019. Kita Pancasila!

.

.

*) Penulis adalah pendidik pada SMA Katolik Regina Pacis Bajawa, Flores – NTT.

(Sketsa: Emanuel ID)

Check Also

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

“Gara-gara” Guru

(Sumber gambar: sixhatsdz.forumalgerie.net) . Oleh: Viktor Juru* Sewaktu SD, saya pernah adukan guru saya ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *