Home / Opini / Merajut Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Merajut Persaudaraan di Tengah Perbedaan

(Sumber gambar: abdulmukmin.com)

Oleh: Yeri Lando*

Di tengah gaduhnya politik Indonesia, seruan bersejarah yang dikumandangkan Imam Besar Al-Azhar dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi, Senin (4/2/2019) lalu, telah membawa pesan perdamaian untuk umat manusia yang wajib kita gelorakan. Dua pemimpin besar tersebut mewakili dua agama berbeda. Ahmed al-Tayeb ialah Imam Besar Al-Azhar Kairo yang selama ini berada di garda terdepan dalam mempromosikan Islam Moderat. Adapun Paus Fransiskus memimpin kurang-lebih 1,2 miliar umat Katolik yang tiada henti menebarkan kasih.

Pesan perdamaian dengan menebar cinta kasih dan persaudaraan itu relevan digelorakan saat bangsa kita kini tengah berada dalam tahun politik Pemilihan Presiden, Pemilihan Legislatif, juga DPD 2019.

Pesan itu juga penting manakala dunia kian diancam kekerasan, perpecahan, dan terorisme yang tumbuh subur, salah satunya dipicu oleh persoalan politik.

Perbedaan calon dan kandidat dapat dan terbukti sukses membawa perpecahan bukan hanya dalam masyarakat, tetapi bahkan juga dalam keluarga.

Sejak dahulu hingga sekarang, agama masih digunakan sebagai komoditas politik yang dapat menjadi sarana destruktif dan menakutkan untuk mengobarkan pertikaian hingga berkembang menjadi perang saudara seperti terjadi di Suriah, Irak, India, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Afrika juga Eropa. Bahkan masih segar dalam ingatan kita ketika terjadi perang saudara di Poso dan Ambon yang juga mengatasnamakan agama.

Pilkada DKI tahun 2018 lalu itu juga, telah sedikit banyak merenggangkan tali persaudaraan yang sudah lama dirajut oleh nenek moyang kita. Persaudaraan yang telah lama dibangun, dikoyak begitu saja oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka seperti ingin melihat Negeri ini hancur lebur seperti beberapa Negara di Timur Tengah. Akan tetapi, bukan suatu yang mustahil untuk kembali merajut tali persaudaraan yang kusut itu. Toh, selama ini kita telah menciptakan suasana penuh persaudaraan tanpa melihat latar belakang seseorang.

Memang bukan suatu pekerjaan mudah menyatukan semua perbedaan yang ada, tetapi semua itu sudah pernah dilakukan oleh nenek moyang dan para pendiri Bangsa kita. Mereka mampu hidup berdampingan secara damai tanpa yang satu merasa terganggu akan kehadiran kelompok yang lain.

Ketika agama dipolitisasi demi mencapai kekuasaan, kita telah melakukan kesalahan kepada nenek moyang dan para pejuang Negeri ini. Mereka, ketika berjuang melawan penjajah, tak bertanya kepada orang di sampingnya, apa agamamu? Mereka selalu menampilkan wajah Indonesia yang sebenarnya, yakni menghargai perbedaan dan mencintai perdamaian.

Kembali ke Semangat Pancasila

Para pendiri Bangsa juga mewariskan hal yang sama kepada kita, yakni menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa dengan menghargai perbedaan yang ada. Memilih Pancasila sebagai dasar Negara dan bukan Syariat Islam adalah bukti nyata betapa para pendiri bangsa menghargai perbedaan masyarakat Indonesia. Semua perbedaan ini dirangkul dengan satu kata, Pancasila!

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu jua) adalah modal dasar kita untuk terus menciptakan perdamaian di bumi Nusantara ini. Hal itu dikarenakan semua orang yang merasa diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, wajib menciptakan perdamaian di bumi Indonesia. Menciptakan perdamaian dan kerukunan sesama anak Bangsa adalah keharusan bagi semua warga Negara Indonesia.

Mengupayakan persatuan masyarakat plural seperti Indonesia bukanlah perkara mudah. Sejak awal berdirinya Republik ini, para pendiri Bangsa menyadari sepenuhnya bahwa proses nation building merupakan agenda penting yang harus terus dibina dan ditumbuhkan. Tegas Soekarno, sebagaimana disampaikan Yudi Latif, membangun rasa kebangsaan dan membangkitkan sentimen nasionalisme yang menggerakkan “suatu itikad, suatu keinsafan rakyat, bahwa rakyat itu adalah suatu golongan satu bangsa”. Rakyat adalah unsur yang harus dimiliki suatu Bangsa dan menjadi penggerak Bangsa itu, karena tidak mungkin mendirikan suatu Bangsa tanpa ada rakyat di dalamnya.

Indonesia yang sangat plural harusnya menjadi berkah untuk kita semua. Berkah karena kita bisa hidup di tengah segala perbedaan yang ada baik itu suku, agama, ras, maupun golongan. Ketika kita mampu menerima semua perbedaan yang ada, perdamaian akan tercapai. Setidaknya nenek moyang kita selalu menawarkan musyawarah ketika menghadapi suatu persoalan. Musyawarah inilah yang akhir-akhir ini mulai pudar dan diganti dengan anarkisme satu terhadap yang lain. Kita bukan lagi menjadi homo homini socius (manusia menjadi sesama bagi yang lain) melainkan kembali menjadi homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi yang lain).

Orang-orang beragama diharapkan mampu mewujudkan diri dalam sikap hidup kebangsaan yang tidak lagi melihat kesenjangan antara keagamaan dan keindonesiaan.

Bahkan lebih mendasar lagi, umat beragama di Indonesia diharapkan menyongsong masa depan Bangsa dan Negara dalam semangat tiada lagi kesenjangan antara etika universal agama-agama dan Pancasila.

Sebagai pendukung dan sumber utama nilai-nilai keindonesiaan, komunitas agama diharapkan untuk tampil dengan tawaran-tawaran kultural yang produktif khususnya pengisian nilai-nilai keindonesiaan dalam kerangka penguatan persatuan Indonesia.

K. H. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah menulis buku kontemplatif bertajuk Saleh Sosial Saleh Ritual. Dalam buku tersebut, Gus Mus dengan sangat halus menyindir dan menusuk perilaku beragama kita yang sering kali masih sangat kekanak-kanakan. Kita masih primitif dalam beragama. Melihat orang yang berbeda seperti melihat musuh yang harus diperangi, dilawan, diringkus, dan dibinasakan-dimusnahkan. Kita tidak sadar bahwa Indonesia menjadi indah karena kita mampu menerima semua perbedaan yang ada.

Kita mestinya sadar, Pancasila merupakan ruang dan jaminan bagi semua orang untuk terlibat penuh dan aktif dalam membangun Bangsa dan Negara. Bagi kelompok-kelompok minoritas, Pancasila adalah amanah karateristik yang berisikan kesediaan untuk tidak menutup diri. Akan tetapi, selalu berupaya mencari komunikasi dan dialog dengan kelompok mayoritas dalam kepekaan yang tinggi untuk mempertimbangkan perasaan dan daya serap kelompok tersebut.

Oleh sebab itu, kembali ke semangat awal Pancasila dan tetap menghidupkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah keharusan bagi semua mayarakat Indonesia.

Melakukan dialog dengan semua orang yang berbeda baik ras, agama, maupun golongan adalah keharusan untuk terus menjaga persatuan dan keutuhan Bangsa. Mengapa? Pada era sekarang di Indonesia ini, pertentangan antargolongan atau antaragama sudah menjadi fenomena umum yang terus terjadi dan seolah tak berhenti. Pada titik ini, Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan menjaga persatuan Indonesia perlu digaungkan lagi. Persatuan dan kesatuan yang telah dibentuk dalam berbagai kesempatan dan berpuncak pada kemerdekaan Indonesia, harus terus dipelihara.

Menyatukan semua perbedaan di Indonesia dengan satu ideologi yang diterima oleh semua orang bukan suatu pekerjaan enteng. Oleh karena itu, generasi sekarang yang tidak perlu berjuang mengangkat senjata untuk berperang melawan Bangsa asing, sudah seharusnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Menghilangkan ego kelompok adalah langkah pertama yang harus diambil. Setelah semua ego disingkirkan, mari bangun kembali Bangsa ini atas dasar kasih kepada sesama. Kita menghargai semua orang bukan karena dari mana dia berasal, melainkan karena dia adalah manusia yang kodrat, harkat, hak dan martabatnya sama seperti kita.

Semoga pesan dari Abu Dhabi membawa perdamaian ke dalam hati kita masing-masing. ***

.


*) Penulis adalah mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta.

Check Also

Hoaks Menjelang Pemilu

(Sumber gambar: gadis.co.id) Oleh: Venan Pea Mole* “Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elite …

Manifestasi “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”

(Sumber gambar: kendedesurbanart.blogspot.com) Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Hingga detik ini, implikasi politik tak terlepas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *