Home / Opini / Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)


(Gambar: istimewa)

.

Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara*

Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) Santo Thomas Aquinas kini telah terkategorikan dalam usia “lansia”. Tepat tanggal 25 Mei hari ini, PMKRI genap berusia 72 tahun. Usia yang sangat tua, bukan?

Organisasi kemahasiswaan yang didirikan sejak 1947, dengan 72 cabang yang tersebar di seantero Nusantara ini, nyatanya masih berdiri kokoh hingga detik ini di tengah perkembangan zaman yang begitu menggelegar. Berbalutkan visi terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati, dengan misi utamanya berjuang dan terlibat dengan kaum tertindas, rupanya bangsa ini tak bisa mengabaikan begitu saja jejak sejarah yang pernah ditorehkan oleh kader-kader PMKRI di masa Orde Lama hingga masa Orde Baru berakhir. Sejak awal berdirinya PMKRI, seluruh anggota perhimpunan sudah dituntut memiliki jiwa yang militan dan inteletualitas yang mapan guna menghadapi situasi zaman dengan menjiwai 6 identitas kader PMKRI yakni Sensus Chatolicus, Semangat Man for Others, Sensus Hominis, Pribadi yang Menjadi Teladan, Universalitas, dan Magis Semper.

Tak hanya itu saja, dalam ajaran PMKRI pun terselib 3 nilai perhimpunan atau yang sering disebut “Tiga Benang Merah PMKRI” yakni, Fraternitas, Kristianitas dan Intelektualitas.

Enam identitas kader dan tiga benang merah yang telah dijabarkan tersebut, diperuntukkan pada segenap anggota dalam mencapai kemapanan anggota yang berintegritas, militan, dan berintelektual. Semuanya ini terkemas dalam semboyan PMKRI yakni, “Religio Omnium Scientiarum Anima: agama adalah jiwa segalah ilmu pengetahuan” (semboyan religius) dan “Pro Ecclesia et Patria: manunggal dengan umat terlibat dengan rakyat” (semboyan misioner).

Oleh karena itu, sebagai anggota PMKRI, sudah sepatutnya kita menjiwai, menerapkan, dan menjalankan amanah dari tubuh perhimpunan, dalam tugas dan tanggung jawab kita sebagai seorang aktivis maupun mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara.

Di samping itu pula, sebagai warga negara Indonesia dan umat Kristiani, sudah selayaknya kita memaknai dan mengeksekusi sepercik kalimat yang pernah dilontarkan oleh seorang imam Katolik, salah satu tokoh nasionalis, Mgr. Albertus Soegijapranata: “100% katolik, 100% Indonesia”. Yang Mulia mengajak, sebagai umat Katolik Indonesia, kita dipanggil kita diutus untuk terlibat aktif dalam membangun bangsa dan negara menuju kesejahteraan demi kebaikan bersama (bonum commune).

Jika kita membandingkan atmosfer pergerakan mahasiswa yang bergelut dalam roda organisasi pada era Orde Lama dan Orde Baru, sangatlah jauh berbeda dengan situasi zaman sekarang, apalagi di tahun-tahun yang akan datang. Tekanan batin maupun psikologi yang dihadapi oleh seluruh mahasiswa era 90-an tatkala mengharuskan mereka untuk bergelut dan menjalankan roda organisasi kepemudaan demi menghadapi ketimpangan politik bangsa kala itu tentu berat. Beranjak dari era itu pun, arah pergerakan organisasi ini mengharuskan seluruh anggotanya memainkan peran sebagai moral force (kekuatan moral) dengan tujuan untuk membenahi perkembangan politik, ekonomi, dan pelbagai aspek pembangunan yang dalam kaca mata mereka masih tak seleras dengan cita-cita bangsa.

Pola pengkaderan moral force itulah yang kemudian menguatkan militansi mereka dalam “menumbangkan” rezim penguasa tempo silam. Alhasil, pola pengkaderan maupun pembinaan yang dilakukan oleh para pendahulu kita nyatanya terus menular hingga detik ini. Dengan demikian, apa yang terjadi dalam internal organisasi? Banyak anggota mengalami kejenuhan dikarenakan arah organisasi sudah tak relevan lagi dengan tuntutan kondisi saat ini. Akhirnya, banyak anggota yang dulunya aktif dalam setiap momen kegiatan kini harus berlarian mencari jalan dengan membentuk komunitas-komunitas yang mampu membangkitkan kembali gairah produktivitasnya sebagai seorang mahasiswa.

Dengan melihat fenomena tersebut, apakah anggota PMKRI hari ini akan terus mempertahankan pola pembinaan maupun pengkaderan seperti yang dipaparkan di atas dengan alasan bahwa pola tersebut sudah menjadi tradisi secara turun-temurun dan semua itu demi kemapanan kader PMKRI agar bisa berbicara di depan umum, memiliki mental baja kala turut serta dalam demonstrasi, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan mentalitas atau militansi seorang kader? Saat ini tampaknya kita selalu berpikir bagaimana bisa memimpin rapat, berorasi, menangani kegiatan, dan sejenisnya. Memang tepat karena ini bagian dari kewajiban kita sebagai seorang aktivis dalam membekali diri ketika kelak sudah berada dalam dunia kerja. Akan tetapi, jika hal serupa terus diulang saat euforia zaman semakin memperketat persaingan dalam dunia kerja, akan ke manakah anggota PMKRI yang tak pernah dibekali oleh praktik berinovasi dalam menghadapi bonus demografi dan revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang gencar dan jadi trending topik?

Dari sekian banyak anggota PMKRI yang tersebar di seluruh Indonesia, ada berapa banyak anggota yang telah menggagas inovasi jangka panjang dan telah dieksekusi? Misalkan, di bidang riset dan teknologi, enterpreunership, pertanian, agraria, pariwisata, ilmu politik, hukum, dan sebagainya?

Oleh karena itu hemat penulis, kader PMKRI perlu mengembalikan lagi situasi yang mana kader-kader tersebut tidak hanya memiliki peran sebagai seorang aktivis tetapi juga memiliki latar belakang sebagai mahasiswa, yang mengharuskan kader-kader PMKRI perlu dibina menjadi aktor intelektual di balik perubahan zaman, bukan hanya sebagai penikmat peradaban melainkan sebagai dalang di balik peruban tersebut.

Jadi, jelas bahwa tuntutan yang dapat diberikan bagi kader PMKRI di era milenial bukan saja soal berapa banyak demonstrasi yang kita lakukan melainkan juga result oriented, karya apa yang akan kita berikan bagi Gereja dan Tanah Air.

Dalam artian lain, tantangan kita saat ini adalah bagaimana menggagas sebuah inovasi yang berguna bagi bangsa dan diri kita sendiri. Sikap kritis yang saat ini dimiliki oleh segenap kader perhimpunan jangan hanya dimaknai pada saat menghadapi sebuah problem. Kritisisme kader PMKRI harus diselaraskan dengan “problem solver” bagi masyarakat di tengah kehidupan yang penuh dengan kepesatan teknologi ini. Jika kita cenderung hedonis dan masih berada dalam pusaran stagnasi, bersiaplah untuk menerima kekacauan.

Oleh karena itu, di momen Dies Natalis yang ke-72 ini, seluruh anggota PMKRI patut berbenah dan merefleksikan perjalan roda organisasi tercinta ini, kemarin, hari ini, yang akan datang, dan lekas membawa baret merah bol kuning menuju habitus baru, tempat ada kebahagiaan dan kemakmuran yang hakiki.

PRO ECCLESIA ET PATRIA!

.

*) Penulis adalah anggota PMKRI Cabang Kupang & Mahasiswa Peternakan, UNDANA.


(Foto: dok. pribadi penulis)

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

“Gara-gara” Guru

(Sumber gambar: sixhatsdz.forumalgerie.net) . Oleh: Viktor Juru* Sewaktu SD, saya pernah adukan guru saya ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *