Home / Opini / Manifestasi “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”

Manifestasi “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”

(Sumber gambar: kendedesurbanart.blogspot.com)

Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara*

Hingga detik ini, implikasi politik tak terlepas dari kekuasaan. Karena itu, keduanya sangat dikagumi oleh para pemburu “palu kebijakan”. Jikalau ada seseorang yang ingin mengejar kekuasaan, jalur yang dilewatinya pastilah political street (jalur politik). Jalur ini merupakan salah satu jalan yang paling efektif untuk mencapai tujuan. Dan jika dikaitkan dengan partai politik, kendaraan institusional (partai politik) itulah yang akan digunakan untuk meraih kekuasaan tersebut. Sebagaimana ditegaskan Komarudin Hidayat (mantan Rektor UIN Jakarta), “Partai politik hanyalah sekadar kendaraan atau pintu masuk ke medan juang yang lebih luas dan lebih mulia, yaitu mewujudkan cita-cita mengapa NKRI ini didirikan”.

Dengan demikian, siapapun yang dipercayakan oleh rakyat untuk menahkodai pemerintahan negara, mesti memegang erat komitmen untuk mewujudkan janji sejarah, yaitu melindungi, mencerdaskan, dan mensejahterakan seluruh warga negara.

Ini merupakan janji sekaligus utang yang harus dipenuhi karena merupakan panggilan sejarah yang amat mulia.

Duc in Altum: Memilih Pemimpin Atau Peguasa?

Di antara 200-an juta rakyat Indonesia, ternyata masih sangat sulit memilih seorang pemimpin bangsa. Atau sesungguhnya kita sudah sedemikian skeptisnya terhadap karakter individual anak bangsa sendiri, sehingga belakangan ini, menjelang pesta demokrasi 17 April mendatang, muncul gejala reaktif dan apatis? Bahwa karakter pemimpin dari dulu hingga kini, akan terus begitu-begitu saja, yang mana, pola pembangunannya terfokus hanya pada satu sektor sehingga tidak tampak perubahan yang signifikan? Semuanya terbukti hingga hari ini, banyak sekali ketimpangan yang belum bisa diatasi oleh para pemimpin.

Berikut ini beberap di antaranya.

Korupsi

Korupsi sangat merugikan negara. Koruptor adalah pencuri uang negara yang tak lain adalah hasil pajak rakyat. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, bisa jutaan hingga milyaran sekali korupsi. Kurangnya efek jera, hemat saya, menjadi penyebab utama korupsi. Negara lain sudah menerapkan hukuman berat bagi pelaku korupsi, seperti di Arab Saudi (dihukum potong tangan) atau Tiongkok (hukuman mati). Namun di Indonesia?

Lemahnya Penegakan Hukum

Negara Indonesia adalah negara hukum, tapi kenapa hanya rakyat kecil yang dihukum? Penyebabnya, hukum di Indonesia masih bisa dipermainkan. Orang kaya masih bisa bebas dari jeratan hukum. Jangankan kasus-kasus besar, di sekitar kita masih ada banyak persoalan. Misalkan saat ditilang polantas. Apa yang biasanya dilakukan? Tentu saja menyuap polisi tersebut. Kalau terus saja dibiarkan begini, hancurlah Indonesia.

Rendahnya Kualitas Pendidikan

Kualitas pendidikan kita bisa dikatakan sangat buruk. Biaya sekolah yang semakin mahal tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Memang siswi/a selalu lulus dengan nilai sangat baik, tetapi angka tersebut hanya di kertas. Buktinya, kualitas penduduk Indonesia masih sangat rendah dibanding negara lain. Tak heran, kita selalu mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri sementara kita selalu mengirim tenaga kerja ke luar negeri sebagai buruh atau pembantu.

Buruknya Pengelolaan Sumber Daya Alam

Sampai sekarang, kita tidak bisa mencapai swasembada beras, padahal Indonesia adalah negara agraris yang sangat luas. Alasannya? Kesejahteraan petani tidak pernah diperhatikan, banyak dari mereka yang menjual lahan pertaniannya dan dialihfungsikan menjadi perumahan. Kita juga tidak pernah menikmati hasil bumi kita yang melimpah secara utuh. Justru pihak asing yang mengelola dan mengambil hasil pertambangan kita, sedangkan kita hanya mendapatkan pemasukan dari pajak dan upah buruh.

Merajalelanya Kasus SARA

Indonesia adalah negara dengan suku bangsa dan agama yang beragam. Di sekitar kita, mungkin kehidupan antarumat beragama sangat rukun. Namun di beberapa tempat lain, masih saja ada kasus menyangkut SARA, seperti meminta seorang pemimpin untuk turun hanya karena agamanya tidak sama dengan agama mayoritas, pengrusakan tempat ibadah, terorisme, pertikaian antarsuku, dan saling ejek antaragama di dunia maya. Jika masalah ini dibiarkan terjadi, akan terjadi disintegrasi yang sangat berbahaya bagi kedaulatan bangsa.

Belakangan, bangsa ini seolah-olah tercerabut dari cita-cita para founding fathers (para pendiri) negara yang berdaulat ini. Untuk kepentingan yang lebih besar, kala itu, para Pemuda Jawa, Sumatera, Kalimantan, Ambon, dan lain-lain rela melepas atribut kesukuannya untuk keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Di sana, para tokoh pemuda mampu memimpin barisannya dan mampu mereduksi kepentingan individu, kelompok, maupun kekuasaanya, demi meraih cita-cita bersama. Tak penting dari mana asalnya, apa agama, dan kepercayaannya, dari kaum bangsawan maupun rakyat jelata.

Namun, lain dulu lain sekarang. Ketika para pemimpin mulai menebar janji palsu, rakyat pun terluka. Luka yang digores, kian hari, kian minggu, makin namkak (menganga), meninggalkan bau yang sulit untuk untuk disembuhkan. Pada akhirnya, rakyat menilai, nyaris semua pemimpin negeri ini, mulai dari desa sampai ke ibukota negara, tak ubahnya para aktor/aktris film yang memerankan sosok vampir. Lantas, ke depan ini kita makin kesulitan untuk memilih pemimpin yang mirip malaikat.

Nah, dengan menengok beberapa problematika di atas, tentu masyarakat tidak ingin memilih pemimpin yang hanya mengejar kekuasaan semata.

Karakter buruk penguasa dapat dicermati lewat sikap-sikap yang arogan, otoriter, mementingkan individu juga kelompoknya, serta membutakan seluruh panca inderanya. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau penguasa adalah pilihan cerdas kita bersama.

Cermin Penghayatan

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Penguasa terpilih lewat Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai wahana keterwakilan atas suara rakyat yang kemudian mesti ditinggikan derajatnya. Perlu diketahui bahwa, penguasa adalah orang yang diberih amanah dan diharapkan menjadi orang yang mulia dalam hidupnya. Mereka diberi kewenangan yang besar untuk mengatur dan mengurus kekayaan negara, agar bisa dikelola demi kepentingan kemakmuran rakyat, serta dipercayakan untuk menyelesaikan problematika yang sedang menimpa masyarakat saat ini.

Saat ini kita tengah berada dalam kondisi politik yang “galau”, dan kita diharapkan untuk harus menyelamatkan jantung demokrasi yang tengah sekarat ini. Harapan terbesarnya ialah, pertama, ada pada rakyat sebagai manifestasi “suara Tuhan” untuk tidak terjebak dalam permainan aktor politik. Kedua, juga terselip dalam kebesaran jiwa para pelaku politik untuk tidak “membengkokan” yang sudah lurus. Ketiga, kehadiran kekuatan civil society yang tak pernah lelah mengawal demokrasi. Sebab sesungguhnya, politik itu adalah mulia. Baik politik sebagai ilmu, seni, aktivitas, maupun institusi.

Karena awalnya, politik dimaksudkan untuk mengatur dan mengendalikan kekuasaan sebuah pemerintahan demi melindungi dan menyejahterakan warganya.

Pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh tingginya jabatan atau melimpahnya harta, melainkan oleh kualitas akhlaknya.

Pemilu serentak 17 April sudah di depan mata. Mari kita menimbang untuk memilih pemimpin yang mampu mengemban kemuliaan dirinya dan juga kemuliaan rakyatnya.

.

*) Penulis adalah anggota Kelompok Menulis di Koran (KMK) PMKRI Cabang Kupang. Saat ini tinggal di Kupang, NTT. Menyukai diskusi sambil ngopi.

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *