Home / Opini / “Legowo” dan Bangkit dari Kekalahan

“Legowo” dan Bangkit dari Kekalahan

(Sumber gambar: versodio.com)
.

Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara*

Akhir dari tiap ajang kompetisi, tentu saja kemenangan juga sebaliknya kekalahan. Inilah konsekuensi dari sebuah pertandingan, keniscayaan dalam sebuah kompetisi. Pemilihan Umum sebagai ajang kompetisi memperebutkan jabatan politik, tentu saja tak akan lepas dari yang namanya kalah atau menang.

Di setiap daerah pemilihan, kursi yang tersedia tentu terbatas, sementara jumlah peserta yang memperebutkannya, terbilang sangat banyak. Pemilu menjadi ajang bagi rakyat untuk menyeleksi kandidat yang akan diberih amanah untuk duduk dalam lingkaran roda pemerintahan atau parlemen. Cara ini dianggap paling beradab di era demokrasi ini, dikarenakan berbagai kepentingan diakomodasi dan dikonsolidasikan lewat Pemilu yang (seharusnya) jujur dan adil. Memang tak mudah menjaga kesadaran politik dalam kancah kordon demokrasi. Kekalahan akan menyisakan kekecewaan. Kemenangan akan membawa sukacita.

Proses Pemilu hanya sebagai elemen dasar dari bergeraknya roda demokrasi. Justru yang harus sesungguhnya dikawal adalah momentum pasca-Pemilu, yang mana kandidat yang menang hendaknya tidak melupakan janji-janji yang tertuang dalam visi, misi, dan program yang diusungnya untuk segera direalisasikan, yang di kemudian hari dapat dinikmati oleh seluruh elemen masyarakat.

Pentingnya Melegowokan Diri

Legowo berasal dari kata bahasa Jawa yang artinya ikhlas menerima apapun keadaan yang dialami, tidak ada kebencian, tidak ada dendam.

Dengan kata lain, apapun yang terjadi pada diri, entah baik atau buruk, semua harus diterima dengan baik (Kaskus.com).

Namun, melihat fenomena yang banyak terjadi pasca-Pemilu 2019, legowo menjadi barang langka yang membuat suasana malah berakhir ricuh, panas, dan anarkis. Tidak mau mengakui kekalahan. Tidak mau berbesar hati menerima bahwa ada yang lebih baik, apapun alasannya. Malah yang terjadi adalah mencari alasan, mencari pembenaran yang sebenarnya makin menguatkan sikap tidak terima atas hasil yang sudah ada. Jika digeneralisasi, sikap legowo harus dimiliki oleh siapapun yang mengalami kekalahan, dalam hal apapun. Pemilu salah satunya. Kualitas-kualitas semacam ikhlas dan legowo bukanlah sesuatu yang memalukan untuk dimililiki. Malah akan menjadikan kita dihormati dan dihargai baik oleh lawan maupun kawan. Terimalah bahwa ada yang lebih baik. Apapun alasannya, sikap tidak terima yang dibarengi dengan pembenaran dengan berbagai macam alasan hanya akan makin menunjukkan kekalahan yang sudah kita terima. Sungguh kurang indah rasanya.

Cara terbaik untuk membuat orang mengakui bahwa kita pemenang sebenarnya adalah, dengan benar-benar menjadi pemenang. Jangan jadi katak dalam tempurung karena sesungguhnya masih ada langit di atas langit. Jangan pula menyebutkan statement bahwa kita sudah bersikap ikhlas, biarkan orang yang menilai.

Karena sesaat setelah kita merasa telah bersikap ikhlas lalu menyebutkannya, saat itu pula kita mengakui bahwa kita sedang tidak ikhlas.

Harus berpikir besar jika kalah. Sesungguhnya tidak ada yang menyoraki kekalahan itu. Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Penyorak terbesar adalah diri sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu menyalahkan orang lain atas kekalahan. Anggaplah kekalahan dan kemunduran sebagai bagian dari pelajaran. Lebih baik mengamati dan meneliti penyebab kekalahan tersebut.

Mengalah untuk Bangkit

Kalah dalam ajang kompetisi adalah hal yang lumrah. Justru kekalahan semestinya menjadi pemantik untuk bangkit, bahwa kekalahan bukan akhir dari perjuangan. Kita harus belajar dari seorang Jimmy Carter, yang kerap dikecam dalam masa pemerintahan pertamanya sebagai presiden Amerika Serikat. Jimmy dianggap tidak berhasil dalam menjalankan roda pemerintahan, sehingga dikalahkan oleh seorang Ronald Reagen dalam pemillihan presiden untuk periode berikutnya. Selanjutnya, saat dia tak lagi menjabat di pemerintahan, dunia mengakuinya sebagai seorang negarawan yang hebat. Jimmy berhasil meraih hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002, untuk jasa-jasanya mencari solusi damai atas berbagai konflik internasional melalui Yayasan The Carter Center yang dipimpinnya (CNN.com).

Jimmy Carter menjadi salah satu inspirasi dunia, ketika kekalahan tak menyebabkan dirinya ambruk. Ia justru bangkit dengan perannya sebagai negarawan yang punya visi global dan misi kemanusiaan yang telah menjadikan dirinya lebih berharga ketimbang menjadi seorang Presiden.

Sehingga, perannya di dunia internasional tidak terputus atau terbengkelai begitu saja, meskipun ia tak lagi menjabat sebagai seorang Presiden maupun Wakil Rakyat.

Maka dari itu, gunakanlah kekalahan sebagai bahan yang mendorong kita untuk bangkit dari situasi tersebut. Selamatkanlah sesuatu dari setiap kekalahan dengan menggabungkan ketekunan dan eksperimen. Berpikirlah besar untuk melihat bahwa kekalahan hanyalah kondisi dalam pikiran kita sendiri. Sebenarnya kita belum kalah dan masih ada kesempatan untuk menggapai keberhasilan, jika kita mampu berpikir besar pada setiap kondisi pikiran kita.

Pemilu mestinya melahirkan sebuah proses keadaban dalam setiap kompetisi politik. Sementara hukum menjadi dasar tegaknya demokrasi. Kalah dan menang adalah sebuah keniscayaan yang dengan sadar harus ditempuh dan diperjuangkan dengan jujur dan adil.

Semoga masih ada yang tersisa dalam jalan menuju kemuliaan ini.

.

*) Penulis adalah anggota PMKRI Cabang Kupang & Mahasiswa Peternakan, UNDANA.

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *