Home / Opini / Ketika Nakes Jadi ‘Tukang Ganda Obat’

Ketika Nakes Jadi ‘Tukang Ganda Obat’

(Foto: https://goo.gl/images/yfcJs6)

 

Oleh: Saverinus Suhardin

 

Dahulu, para propaganda obat (selanjutnya akan ditulis dengan mengikuti kebiasaan orang Manggarai, Flores yang menyebut kelompok ini sebagai: Tukang Ganda Obat) sering membuka layanannya di tempat umum, khususnya pasar tradisional. Modus operandi-nya sudah familiar bagi kita. Mereka awali dengan pertunjukkan sulap yang sangat atraktif. Jelas ini menjadi magnet bagi masyarakat sehingga berkerumun melingkari kelompok Tukang Ganda Obat tersebut.
Saat itulah, mereka mulai memperkenalkan obat-obat yang tersedia dalam berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna. Mereka mengklaim obat-obatan itu bisa menyembuhkan penyakit A, mengurangi gejala B, meningkatkan atau memperbaiki C, dan seterusnya. Bahkan, ada yang berani berkoar-koar, satu jenis obat bisa menyembuhkan segala jenis penyakit.

Saat ini, Tukang Ganda Obat itu berpindah tempat. Mereka juga mengalami disrupsi, yaitu perubahan besar akibat perkembangan teknologi yang begitu pesat. Karenanya, saat ini mereka tidak perlu lagi berpanas-panasan di pasar. Mereka memanfaatkan teknologi informasi, sehingga lebih mudah menyebarkan berbagai propaganda tersebut. Kini mereka menampilkan foto, video, dan kalimat iklan yang sangat memabukkan.

Namun, metode penyampaiannya saja yang berbeda, sedangkan ciri propagandanya tetap sama, yaitu mengklaim suatu produk secara berlebihan.

Masyarakat yang melihat hal tersebut biasa langsung kagum. Apalagi sedang mengalami sakit tertentu, biasanya lebih senang mendengar Tukang Ganda Obat yang begitu mudahnya menjanjikan kesembuhan yang instan.

Bagaimana kenyataan? Sangat jauh dari harapan. Telah banyak bukti yang menujukkan kalau sebagian besar pelanggan yang tidak puas dengan layanan Tukang Ganda Obat karena janji-janji surganya tidak terbukti (Kristiana, dkk., 2014).

Ini membuktikan kalau Tukang Ganda Obat tersebut merupakan pembual ulung. Kementerian Kesehatan RI juga telah mengingatkan masyarakat tentang ciri-ciri propaganda obat yang sesat, alias hoaks. Mirip sekali dengan kebiasaan Tukang Ganda Obat, yaitu menyampaikan informasi secara berlebih (misalnya, “Sekali pengobatan, langsung sembuh”). Ada testimoni pengguna dan hadirnya dokter atau tenaga kesehatan lain sebagai endorser (orang yang menjadi bintang iklan atau pemberi testimoni), suatu produk diklaim bisa mengobati segala macam penyakit, biasanya dilengkapi dengan gambar/video/grafis anatomi tubuh yang memberi kesan ilmiah, yang bisa menimbulkan kesan khawatir bagi masyarakat. Rasa khawatir itulah yang akan mendorong masyarakat terpaksa membeli produk hoaks tersebut (Kemenkes RI, 2017).

Bicara soal hoaks di bidang kesehatan, angkanya termasuk salah satu yang paling tinggi. Hasil survei MASTEL menunjukkan informasi tentang kesehatan mencapai 41,2 %, berada pada posisi kedua setelah hoaks di bidang politik (Setiawan, dkk., 2017).

Dengan demikian, kita harusnya hati-hati dalam membuat keputusan. Setiap ada informasi, minimal kita menelisik dengan beberapa pertanyaan mendasar, apa isi informasinya? – siapa yang menyebarkan informasinya? – apa pekerjaan/profesi dari penyebar informasi? – bagaimana rekam jejak si penyebar informasi? – bagaimana pendapat ahli atau lembaga yang berwenang terkait informasi tersebut? – dan masih banyak hal yang perlu ditelurusi lebih jauh.

Masyarakat perlu membiasakan diri bersikap skeptis alias tidak mudah percaya pada kabar-kabar yang berciri hoaks seperti dipaparkan di atas.

Mudahnya, bila kita ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang terpecaya, datangi saja pusat layanan kesehatan resmi (terakreditasi).

Dilema, Nakes Ikut Jualan Obat

Ketika masyarakat sudah menaruh kepercayaan kepada tenaga kesehatan (Nakes) di fasilitas kesehatan (faskes), pada saat yang sama, ada beberapa oknum Nakes yang nakal, ikut berjualan obat. Penggunaan kata ‘obat’ ini adalah istilah umumnya. Mereka kadang menyebutkan banyak istilah lain yang lebih menarik, misalnya, “Ini bukan obat, tapi suplemen atau vitamin saja. Terbuat dari bahan herbal, sehingga tidak ada efek samping!”

Saat ini sudah banyak masyarakat yang mengeluhkan perilaku Nakes yang mengalami disrupsi menjadi Tukang Ganda Obat. Ada kasus manakal seorang ibu hamil menjalani pemeriksaan rutin di puskesmas, Nakes yang melayani menawari obat-obatan yang dijual dengan sistem MLM (Muliti Level Marketing). Tentu saja dengan embel-embel khasiat yang super hebat dan mengatasi banyak, bahkan semua, persoalan kesehatan.

Pada situasi seperti itu, masyarakat (pasien/klien) biasanya pasrah dan akhirnya membeli produk tersebut yang relatif mahal. Padahal, di setiap faskes telah tersedia obat-obatan yang terpercaya (hasil riset yang ketat) dari pemerintah, bisa diperoleh gratis bila kita memiliki kartu BPJS.

Apapun alasannya, Nakes tidak dibenarkan menjadi Tukang Ganda Obat. Oknum yang melakukan hal tersebut telah melanggar etika profesi dan peraturan perundang-udangan yang berlaku di Indonesia.

Sebagai contoh, ada beberapa oknum dokter yang ikut berjualan produk MLM yang diklaim memiliki manfaat kesehatan dan kecantikan. Terjadilah konflik kepentingan, dokter memanfaat kepercayaan pasien untuk kepentingn pribadi. Tentu saja hal itu melanggar nilai-nilai etika kedokteran (Prawiroharjo, dkk., 2018). Hal yang sama juga bisa terjadi pada Nakes lainnya.

Selain itu, dalam Permenkes RI, No. 1787/MENKES/PER/XII/2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan, pada pasal 8 menentukan bahwa (Janitri & Salain, 2016): “Tenaga kesehatan dilarang mengiklankan atau menjadi model iklan obat, alat kesehatan, perbekalan kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan kecuali dalam iklan layanan masyarakat.”

Masyarakat Harus Bagaimana?

Hingga saat ini, pemerintah yang bertanggung jawab penuh dalam melindungi masyarakat, lebih banyak memberi imbauan-imbauan saja. Tindakan tegas biasanya dilakukan bila masyarakat menganggap ini sebagai persoalan dan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Karena itu, masyarakat perlu membentengi dirinya sendiri agar kebal terhadap gempuran informasi hoaks tersebut. Caranya sangat sederhana.

Pelayanan kesehatan yang dianjurkan pemerintah, selalu memprioritaskan tindakan pencegahan (promotif dan preventif), tanpa mengesamping tindakan pengobatan (kuratif dan rehabilitatif).

Bicara soal pencegahan, salah satu metode yang sangat baik untuk dipraktikkan adalah dengan menjalankan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Kebetulan, saat ini masih dalam kegembiraan merayakan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-54, yang dirakayakan 12 November 2018 lalu dengan tema, “Ayo Hidup Sehat, Mulai dari Kita.”

Dalam HKN kali ini, penekanan utamanya masih mengingatkan lagi agar seluruh masyarakat menjadikan GERMAS sebagai gaya hidup baru.
GERMAS dilakukan melalui cara-cara sederhana tapi berdampak besar, seperti, melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, mengonsumsi sayur dan buah, memeriksa kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban (Kemeskes RI, 2018).

Bila GERMAS dijalankan dengan benar, kondisi kesehatan pastinya selalu terjaga stabil. Andaikata mengalami masalah kesehatan, datangi faskes yang dilayani Nakes terpercaya. Cirinya mudah dikenal. Mereka jarang sekali menjanjikan hasil yang muluk-muluk. Kalimat andalan mereka adalah, “Kami akan berusaha semaksimal mungkin, biarlah Tuhan yang menyempurnakan.”

Mulai dari kita, mulai jalankan GERMAS! Selamat merayakan HKN. Sehat selalu Saudari/i se-Bangsaku.

 

Sumber Bacaan

Janitri, Ni Putu; Suksma Prijandhini Devi Salain, Made. “Larangan Penggunaan Tenaga Profesional Kesehatan Sebagai Model Iklan.” Kertha Semaya, [S.l.], apr. 2016. Bisa diakses di: https://ojs.unud.ac.id/index.php/kerthasemaya/article/view/19912.

Kristiana, Lusi, dkk. “Studi Kualitatif Kesesuaian Pendapat Pasien Tentang Iklan Dengan Pelayanan Yang Diterima Dari Sarana Pengobatan Tradisional.” Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol. 17 No. 2 April 2014: 115–123. Bisa diakses di: http://oaji.net/articles/2015/820-1432778399.pdf.

“Kemenkes Serius Perangi Hoax Kesehatan.” Portal berita online Kemenkes RI, edisi Selasa, 19 Desember 2017. Diakses pada tanggal 5 November, dari: http://www.depkes.go.id/article/view/17121900003/kemenkes-serius-perangi-hoax-kesehatan.html.

Kemenkes RI. (2018). Panduan Hari Kesehatan Nasional Ke-54 Tahun 2018. Diakses tanggal 10 November 2018, dari: http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/PANDUAN%20HKN%20ke-54%20tahun%202018.pdf?opwvc=1.

Prawiroharjo P, Baharuddin M, Permana MY. “Dokter Aktif di Multi Level Marketing (MLM) dengan Produk yang Mengklaim Manfaat Kesehatan atau Penyembuhan, Bolehkah?” Jurnal Etika Kedokteran Indonesia. Vol 2 No. 2 Jun 2018, DOI: 10.26880/jeki. v2i2.14.

Setiawan, E. Iwan, dkk. (2017). Pedoman Penggunaan Media Sosial untuk Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental. Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia.

 

*) Penulis adalah perawat dan pengajar di Akper Maranatha Kupang, NTT. Bukunya “Pada Jalan Pagi yang Sehat, Terdapat Inspirasi yang Kuat (Simpulan Pemikiran Seorang Perawat)” akan segera terbit dan beredar dalam waktu dekat.

 

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *