Home / Opini / Humanisme dalam Spiritualitas Jawa dan Bektashi

Humanisme dalam Spiritualitas Jawa dan Bektashi

(Foto: https://goo.gl/images/M49bCM)

 

In memoriam, Satrio Koentjoro, 16 November 1947 – 6 Juli 2018, one of our benefactors

 

 

Oleh: RA Gayatri Wedotami Muthari*

 

Tarekat Bektashi berkembang di tenggara Anatolia, sebuah wilayah yang mana terdapat beberapa tempat penting dalam peradaban spiritualitas dunia. Haran, kota tempat Abraham atau Nabi Ibrahim meninggalkan Mesopotamia di Irak, terletak di tenggara Anatolia. Begitu juga dengan dua situs tertua di dunia, yaitu dua Pusat Agama Modern tertua di dunia, Gobekli Tepe dan Nevali Tepe, yang berusia 12500 dan sekitar 9500 tahun – lebih tua daripada situs-situs di Mesopotamia, Babilonia dan Mesir. Kekristenan perdana, di antara beberapa dari tujuh gereja (baca: komunitas atau umat) Kristen yang disebut dalam Kitab Wahyu, berarti sebelum 7 M, juga terdapat di Anatolia.

Sementara itu, bangsa Jawa, meskipun telah berevolusi dalam hibrida dengan berbagai ras manusia, merupakan bangsa yang berumur cukup tua dengan penemuan berbagai fosil purba di Jawa. Secara DNA, orang-orang Jawa walaupun bercampur dengan banyak ras, memiliki jenis grup dari masa paleolitik, sedangkan ras-ras lain dari masa neolitik.

Aksara Jawa memberikan penanda yang sangat penting mengenai spiritualitas bangsa Jawa. Ia disusun dengan suatu pesan yang sangat perlu kita renungkan. “Dua orang manusia yang sama-sama perkasa, berkelahi, dan keduanya sama-sama mati.”

Ada pun pesan penting Haji Bektash Wali, patron dari tarekat Bektashi semuanya mengandung pesan-pesan kemanusiaan dibandingkan pesan-pesan liturgi dan ritual.

Seperti Kejawen, orang-orang Bektashi tidak medoktrinkan salat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat maupun naik haji (ke Mekkah). Seperti Kejawen juga, orang-orang Bektashi menekankan komunitas kecil kekeluargaan dalam berkumpul dan berdoa bersama, hari-hari perayaan yang berkenaan dengan leluhur/nenek moyang serta fenomena alam, “kemampuan-kemampuan supranatural”, serta setiap individu memiliki disiplin spiritualnya masing-masing, entah salat individual, meditasi, puasa dan sebagainya.

Dalam Bektashi, maqam spiritual tertinggi seorang manusia, ialah apabila ia mampu melihat Allah dalam diri manusia lain. Kemampuan ini, dengan kata lain berarti juga mensyaratkan seseorang mampu mengendalikan egonya, dan mampu menginternalisasi Allah yang dikenal dan dicernanya dalam kehidupannya sehari-hari.

Bagi saya, banyak orang Muslim maupun Kristen dan Yahudi keliru memahami tauhid.

Ibrahim ialah seorang imigran yaitu seseorang yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dari semua manusia dan fenomena alam yang ia jumpai, ia menemukan hanya Satu Realitas. Itulah yang berusaha Khrisna ajarkan kepada Arjuna dalam Bhagawad Gita. Mitos Ibrahim menghancurkan berhala, bukan karena paganisme itu agama yang salah karena menyembah patung dan benda-benda. Ini adalah pemahaman yang teramat dangkal.

Begitu pula kalau kita mau teliti dan cermat memahami pergumulan Yakub yang digelari Israel dalam keluarga intinya, dan yang dilakukan Yusuf tidak lain merupakan suatu tindakan kemanusiaan dan bukan yang lainnya.

Maka, apa yang disampaikan Musa sebenarnya tidak lain dan tidak bukan ialah mengenai satu kemanusiaan, yang kemudian kita sebut sebagai tauhid. Mencoba memahami Tuhan, mengklasifikasikannnya kepada tauhid ini dan itu, mengonsepkannya sebagai cinta, eksistensi, esensi, substansi, materi, ruh, waktu, ruang, atau apa pun, semuanya adalah spekulasi manusia belaka, yang sesungguhnya mustahil untuk menjangkau-Nya.

Apa yang terjadi di Gunung Sinai ketika Musa harus naik ke puncak menulis dua batu loh Dekalog, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Bani Israil merasa putus asa karena tidak mampu memahami siapa Dia. Allah mengatakan kepada Musa maupun mereka, “Aku adalah Aku” atau “Aku menjadi apa Aku seharusnya menjadi.” (Ehyeh eser ehyeh). Jadi, di sini, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Sementara itu, dalam Hinduisme, para nabi dan orang kudus justru mengatakan “Tat twam asi”, yaitu menggunakan suara orang kedua untuk mendefinisikan-Nya, “Engkau adalah itu,” atau “Itulah Engkau”, atau “Itu adalah Engkau.”

Oleh sebab itu, dikomandoi Samiri yang diduga tidak lain ialah Mikhal, seorang pengrajin bani Israil yang pandai membuat patung, atau pun salah satu dari tukang sihir Firaun yang telah bertaubat dan ikut bersama Musa, mereka menginginkan suatu bentuk Tuhan yang secara lahiriah dapat mereka indrai. (Samiri adalah suatu nama/julukan yang dipilih Muhammad untuk memberi nubuat tentang pengikutnya kelak yang akan membuat berhala sapi emas sepeninggalnya – dan itu sudah mulai terjadi sejak sebelum jenazah Muhammad dimakamkan tiga hari sesudah kematiannya)

Harun berusaha mencegah Bani Israil melakukannya. Tetapi, karena takut dibunuh (yang akan semakin membuat mereka kehilangan bimbingan ilahi) dan takut Bani Israil terpecah-belah, ia kemudian berinisitiaf mengubah fokus mereka bukan kepada “mematerialisasi Tuhan kepada satu konsep yang lahiriah”, melainkan meminta mereka memberikan persembahan untuk Allah berupa perhiasan mereka untuk dijadikan patung. Meskipun Musa kemudian marah kepada Harun, Allah tidak menghukum Harun sebagaimana kepada bani Israil yang lain karena mengetahui upaya Harun ialah untuk mengalihkan fokus Bani Israil.

Mengapa Musa begitu murka? Mengapa Allah menghukum mereka? Ini bukan semata-mata tauhid tentang menyembah Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana kepada kita kerap diajarkan, yang berakibat kita akan mengawang-awang tentang siapa Tuhan? Siapa Allah?

Tujuh dari hukum dalam Dekalog (yang ditegaskan oleh Yesus, misalnya dalam Matius 5, dan oleh Muhammad, misalnya dalam Albaqarah 53) ialah mengenai kemanusiaan. Ini menunjukkan betapa pentingnya tiga hukum dalam Dekalog mengenai Realitas Absolut Yang Tunggal, tidak lain ialah ada dalam kemanusiaan.

Ketika Bani Israil mengalihkan fokusnya pada persembahan perhiasan untuk membuat patung, pusat pemujaannya akan beralih kepada memberikan sedekah membuat patung-patung, dan benda-benda bagi Allah.

Itulah yang terjadi pada keagamaan kita hari ini. Milyaran umat Kristen dan Islam berlomba-lomba bersedekah membangun rumah-rumah ibadah megah. Katedral dan mesjid begitu indah dan megah, sedangkan jutaan orang tidak memiliki kediaman. Entah mereka mati kedinginan maupun mati kepanasan.

Itu sebabnya, meski hukuman yang paling ringan di antara 12 suku, tetap ada hukuman kepada Harun dan Bani Lewi yaitu sebagai orang-orang yang harus mengabdi kepada manusia, melayani mereka, tidak boleh memiliki tanah, dan hanya menerima upah dari pekerjaan mereka melayani di kuil.

Pesan Khrisna kepada Arjuna pun jelas, meski Khrisna meminta Arjuna untuk bertaklid kepadanya sebagai Jalan Kebenaran – sebagaimana Yesus Kristus menyampaikannya kepada para pengikutnya, tetapi pesannya ialah mengenai kemanusiaan.

Pada dasarnya, manusia akan kesulitan mencapai maqam spiritualitas puncak sebagaimana menurut Bektashi. Spiritualitas Jawa telah menjelaskan bahwa jika sesama manusia yang setara tidak dapat saling melindungi dan saling mengasihi, malah saling melukai dan menunjukkan keperkasaan masing-masing untuk menghancurkan yang lain, kedua-duanya akan mati.

Kita melihat bahwa kebanyakan pengikut Muhammad yang kini menjadi umat Islam pun gagal memahami bahwa agama yang dibawa Muhammad ialah agama yang dibawa Ibrahim, Musa maupun Yesus, yaitu tentang satu kemanusiaan. Inilah tauhid.

Mereka meletakkan ritual-ritual seperti salat, puasa, zakat, dan naik haji sebagai lebih tinggi daripada menjunjung satu kemanusiaan. Mereka tidak diajarkan bahwa ritual-ritual tersebut sebenarnya merupakan disiplin yang diajarkan Muhammad dan para pengikut terbaik perdananya untuk mengelola ego dan mengasah empati dalam rangka satu kemanusiaan. Bukan malah sebaliknya! Malah sekarang, bisa saya katakan 90 persen umat Islam lebih mengutamakan ego sektarian dan ritual-ritual daripada satu kemanusiaan.

Umat Islam menganggap umat Kristen telah keliru memuja Yesus sebagai sosok Tuhan, sedangkan mereka sendiri sebenarnya memuja Muhammad berikut entah (1) para sahabat dan tabii tabiin atau (2) para ahlulbait, dalam level yang berbeda. Ketika umat Kristen berbondong-bondong memfokuskan pusat pemujaan dan persembahan mereka kepada Yesus, dan bahkan kemudian kepada Maria dan para santo, umat Islam juga melakukannya kepada Muhammad, sahabat, ahlulbait, dan wali-wali. Baik Wahabi, Salafi, maupun Sunni dan Syiah sama saja. Baik itu Katholik, Orthodoks, maupun Pentakosta, Advent, Protestan, dan Baptis pun sama saja.

Sebenarnya, hal itu adalah sangat manusiawi. Sangat wajar dan sangat alamiah. Syirik itu sebenarnya memuja ilusi sebagai Tuhan, dan bukan bertawasul maupun bertabaruk atau melakukan doa intersesi kepada para nabi, imam, rasul dan para santo atau wali-wali. Bahkan meskipun para nabi, imam, rasul, santo/wali dan orang-orang itu dibuat lukisan, atau patung. Hanya saja, tawasul, tabaruk, atau doa intersesi atau mengharap syafaat menjadi kebablasan dengan mengunggulkan sosok Muhammad, Yesus, Khrisna, Buddha Gautama, dan lain-lain, di atas sosok lainnya, padahal seharusnya kita memilih atau menerima (taklid pada) satu sosok (karma yoga) ialah untuk kemudahan kita meneladaninya. Jika mengimani Muhammad, jadilah seperti Muhammad. Begitu juga jika mengimani Yesus, Khrisna, Sakhyamuni, dan lain-lain.

Sejak dulu, ketidakmampuan manusia ialah dalam fokus pada konsep Tuhan yang mengawang-awang. Itu memang hampir sukar dan nyaris mustahil. Maka, ada Muhammad, Yesus, Ali, Khrisna, Buddha Gautama dan Siva, misalnya, untuk kita teladani bagaimana kita bisa menuju Tuhan dan menjadi manusia sejati. Manusia sejati sudah dapat dipastikan hampir seratus persen ialah sebagaimana Allah. Tetapi, itu (agaknya) sulit, padahal misi manusia ialah mengelola bumi sebagai wakil, atau representasi atau bayang-bayang Allah di Bumi.

Bahkan, saat Anda salat dan mengatakan Allah itu Ahad, Anda sedang melakukan materialisasi kepada-Nya sambil berdoa minta rejeki, mudah jodoh, dapat kerja, sehat, panjang umur, tidak disiksa di kubur, masuk Surga, dan lain-lain, seolah-olah Tuhan adalah kantong ajaib Doraemon.

Karena itulah, alih-alih Musa (yang disebut paling banyak dalam Alquran) memberikan hukum begitu banyak tentang Tuhan, tujuh hukum itu berkaitan erat dengan kemanusiaan. Bahkan, Sabat. Sabat itu sendiri sebenarnya terkait erat dengan kemanusiaan, dan bukan tentang Tuhan ingin disembah pada hari Sabat. Kebiasaan manusia yang punya kecendrungan mengekploitasi dirinya dan makhluk lain dalam bekerja, dikendalikan dengan adanya Sabat. Coba saja kita lihat kehidupan di era milenial kita sekarang. Stasiun dan terminal yang selalu padat oleh manusia yang hendak bekerja. Mereka tergesa-gesa, mereka sering mengabaikan sesama manusia dan makhluk hidup lain demi pekerjaan mereka. Bahkan, saat berlibur pun masih memikirkan pekerjaan yang ia tinggalkan. Dan, seterusnya.

Malahan, menurut saya, hukum ketiga mengenai “Jangan menyebut nama Allah dengan sia-sia” sebenarnya terkait erat dengan kemanusiaan. Bahwa setiap individu mengandung nama-Nya, dan mengandung sifat-Nya. Ada seorang bernama Ali dan yang lain bernama Yoel, juga Agung dan Dewa. Bukankah ini nama-nama Tuhan? Ali memiliki sifat murah hati, Yoel cerdas, Agung lemah-lembut dan Dewa penyabar. Semua ini sifat-sifat Allah juga. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa disebut memuliakan Allah jika kita secara sembarangan menghina Ali, Agung, Yoel dan Dewa? Atau seorang gadis bernama Ayu, dan yang lainnya bernama Suci, mereka cantik seperti pemandangan alam di Raja Ampat. Kita melihat Allah bersemayam begitu indahnya pada Ayu dan Suci.

Itulah sebabnya, spiritualitas Jawa dan Bektashi sebagaimana dinyatakan dan diteladankan oleh Sosrokartono, Suro Sentiko, Mangkunegara IV, Ki Ageng Suryo Mentaram, Haji Bektash Wali, Yunus Emre, Tapduk Emre, dan lain-lain menekankan kepada pelayanan kemanusiaan. Jika mereka memiliki “kesaktian”, ia digunakan untuk pelayanan kemanusiaan. “Kesaktian” hanyalah alat. Bukan tujuan atau tanda keilahian. Tujuan atau tandanya ialah pada pelayanannya bagi kemanusiaan.

Sosrokartono meninggalkan kehidupan duniawi untuk mengobati mereka yang miskin dengan kemampuan magnetik yang ada pada tubuhnya, persis seperti Yesus. Mangkunegara IV menggumuli peran yang diberikan kepadanya sebagai seorang adipati untuk masyarakat yang dipimpinnya. Bektash Wali meninggalkan kehidupan ghazi dan berfokus meneladankan pelayanan kemanusiaan kepada murid-muridnya. Jika santo-santo Jawa mengatakan agar memanusiakan manusia (wongke wong), atau agama tidak lain ialah pakaian dan intisari agama ialah membuat ‘enak” orang lain, maka ajaran Bektashi ialah bukalah tangan, hati dan meja (rumah)-mu untuk orang lain. Indah, bukan?

Kata Khrisna kepada Arjuna, mengenai seorang guru yogi yang benar, ialah dia yang di dalam hatinya terkandung cinta dan pikiran tercurah bagi seluruh kemanusiaan. Imam Ali mengatakan, seseorang ialah saudara dalam iman, atau pun saudara dalam satu kemanusiaan. Inilah tauhid. Tauhid yang diajarkan Ibrahim, Musa, Yesus dan Muhammad.

Oleh sebab itu, yang disebut mesias, boddhisatva, avatar, lamvovnik, wali, santo dan semacamnya, bukanlah karena memiliki kesaktian berjalan di atas air, mengubah air jadi anggur, menurunkan hujan, menghentikan badai, melawan setan, menghidupkan kembali orang mati, menyembuhkan orang sakit, dan seterusnya, tetapi, ia semua itu hanyalah sarana yang seseorang peroleh untuk tugas pelayanan kemanusiaannya. Mesias atau Ratu Adil atau Imam Mahdi tidak hadir untuk segolongan umat manusia dengan panji agama tertentu atau bendera negara tertentu saja.

Kita boleh berdoa atas nama seorang santo/wali, memohon didoakan oleh mereka, meminta syafaat kepada mereka, dan seterusnya, tetapi yang terutama ialah kita menjelma sebagaimana mereka. Sebab, pertolongan Allah tidak ujug-ujug datang dari langit melainkan melalui sesama manusia. Maka, kita haruslah menjadi salah satu dari manusia itu. Menjadi instrumen Allah dalam segala hal yang kita miliki.

Pokok dari semuanya ialah tentang satu kemanusiaan. Dua orang yang sama-sama perkasa, seorang Kristen dan seorang Islam berperang, keduanya akan sama-sama mampus. Inilah ajaran luhur Jawa. Namun, bagaimana jika keduanya saling memandang, sama-sama menjumpai Allah dalam diri satu sama lain? Berkat, rahmat, karunia dan taufik hidayah-lah yang keduanya terima. Rahman diperoleh siapapun di dunia, sedangkan rahim diperoleh mereka yang menemukan Allah dalam diri manusia lain.

Anda tidak perlu menjadi syekh Sufi, pastor, biksu, ustad, ulama, pendeta dan orang yang lulus kuliah teologi atau kuliah IAIN. Dia mungkin seorang tukang becak, seorang bos, atau seorang ibu rumah tangga.

Salah satu orang yang saya temukan sebagai mesias, lamwownik, waliullah, boddhisatva dan santo saya ialah paman saya, Satrio Koentjoro. Ia orang biasa, pegawai biasa, hidup dengan mapan dan bekerja keras. Ia juga punya kelemahan dan kekurangan sebagai manusia. Namun, sepanjang hidupnya, ia telah mendedikasikan dirinya bagi orang-orang di sekelilingnya – bagi satu kemanusiaan tanpa melihat latarbelakang ekonomi, agama, bangsa, dan lain-lain.

Jika ada di sekitar Anda, ibu, ayah, paman, adik atau tetangga Anda seperti dirinya. Apapun agamanya, apapun imannya. Percayalah. Dialah orang yang telah bertauhid dalam kehidupan ini – karena pelayanannya bagi kemanusiaan. Satu kemanusiaan!Kemanusiaan tanpa memandang latar belakang dan identitas seorang anak manusia.

 

Rahayu!!!

 

*) Penulis adalah pendiri ADiSTI (Aliansi Daudiyah, Sibghah dan Tekke Indonesia)

 

 

Check Also

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *