Home / Opini / Hoaks Menjelang Pemilu

Hoaks Menjelang Pemilu

(Sumber gambar: gadis.co.id)

Oleh: Venan Pea Mole*

“Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elite atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu mengubah nasib negerinya sendiri.” (Ir. Soekarno)

Beberapa hari lalu, pukul 11.18 WITA, saya mendapat sebuah pesan singkat (baca: SMS) dari Kementerian KOMINFO (Komunikasi dan Informatika), yang berisi ajakan untuk waspada terhadap hoaks jelang Pemilu 2019. Hal yang sama tentu dikirimkan ke seluruh masyarakat Indonesia yang memilik handphone atau smartphone.

Isi lengkap pesan singkat itu sebagai berikut,

“Hoaks dan ujaran kebencian jelang Pemilu 2019 terus meningkat. Waspadai dan pastikan informasi yang Anda terima benar. Cek kebenarannya di stophoax.id.”

Pesan singkat ini sesungguhnya menunjukan bahwa Negara (dalam hal ini Pemerintah) sedang gelisah dengan perkembangan hoaks di berbagai media (terkhusus media sosial) yang kian pesat menjelang Pemilu yang sudah di depan mata ini. Tentu kita dapat bertanya, perlukah atau pentingkah Negara gelisah/khawatir? Bagi saya, itu harus. Apalagi di tengah rendahnya budaya literasi dan rendahnya budaya membaca, hoaks kian ‘laku’ di Indonesia. Kita tentu ingat, bahkan UNESCO pernah menyebutkan Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 Negara soal minat baca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Walaupun banyak yang keberatan terhadap perangkingan ini, kenyataan bahwa masyarakat kita masih sangat rendah dalam hal literasi dan minat baca tentu tidak mudah terbantah. Perpustakaan di sekolah-sekolah bahkan yang disediakan oleh pemerintah sepi peminat. Banyak tempat penyewaan buku yang pada era 80-90an begitu populer di kalangan remaja dan anak-anak, gulung tikar.

Kita bersyukur, terdapat sejumlah komunitas yang bergerak di bidang literasi yang membuka sejumlah taman baca di berbagai daerah guna menumbuhkan budaya literasi dan minat baca masyarakat (walaupun sasarannya masih kebanyakan untuk anak-anak).

Kembali ke Hoaks

Hoaks tentu bukan kata asing lagi di telinga kita. Memang bukan kata baru, tetapi tidak semua mengetahui tentang apa itu hoaks sebenarnya. Perdebatan antara Rocky Gerung (selanjutnya RG) dan Rhenald Kasali (selanjutnya RK) dalam Indonesian Lawyers Club (ILC) beberapa waktu lalu membuat hoaks layak dipelajari lagi secara teliti. Setidaknya itu pendapat pribadi saya.

Dalam ILC itu, RG memulai bantahannya terhadap RK tentang hoaks. Bagi RG, asal-usul hoaks pertama kali muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan ketika Alan Sokal menulis (dengan nama samaran) di sebuah artikel Social Text lalu dipuji-puji oleh redakturnya tanpa tahu itu bohong. Jadi, fungsi hoaks dari Alan Sokal itu adalah untuk menguji apakah redaktur Social Text itu punya otak atau tidak (menurut saya maksudnya untuk menguji standar intelektual redakturnya).

Hal ini kemudian dibantah oleh RK, yang mengatakan bahwa asal-usul hoaks berasal dari kata hocus (yang dimaksud yaitu dari mantra “hocus pocus”, yang berasal dari bahasa Latin hoc est corpus yang artinya “ini adalah tubuh” – frasa ini kerap disebut pesulap, serupa “sim salabim”[1]) yang artinya mengelabui, yang diambil dari aktivitas tukang sulap yang mengelabui mata orang lain (penonton).

Bagi RG, pendapat RK hanya dilihat dari segi etimologisnya, sedangkan yang harus dijadikan dasar refrensi tentang hoaks adalah kasus Alan Sokal.

Perdebatan RG dan RK tentu sangat membantu para penontonnya yang minim pengetahuan tentang hoaks. RG mulai dengan sebuah kasus terkenal – kasus paper hoax Alan Sokal – dan RK memulainya dengan sejarah (asal-usul kata, etimologi) hoaks.

Terlepas dari perdebatannya keduanya, sekiranya apa yang telah disampaikan keduanya menjadi refrensi penting untuk diteliti lebih lanjut mengenai hoaks menjelang Pemilu yang akan tiba.

Secara etimologis, kata hoaks berasal dari kata hocus yang awalnya digunakan oleh penyihir untuk mengklaim kebenaran, padahal sebenarnya sedang menipu. Kata hoaks juga didefinisikan sebagai tipuan oleh Thomas Ady dalam bukunya Candle in the Dark (1656). Alexander Boese dalam “Museum of Hoaxes” mencatat, hoax pertama yang dipublikasikan adalah alamanac (penanggalan) palsu yang dibuat Isaac Bickerstaaf alias Jonathan Swift pada 1709. Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge dan agar lebih menyakinkan, ia membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang telah diramalkan sebagai hari kematiannya.[2]

Selain beberapa nama di atas, nama kunci yang dapat dirujuk untuk membicarakan hoaks adalah Alan Sokal. Namanya bahkan diabadikan dalam sebuah term yang cukup terkenal: hoax Sokal. Hoaks ala Alan Sokal termuat dalam Jurnal Akademik edisi ke-46/47, Spring-Summer 1996. Social Text, jurnal ternama di Amerika Serikat itu mempublikasikan paper berjudul Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity.[3]

Artikel tersebut sengaja dikirim sebagai eksperimen untuk menguji ketelitian intelektual dan menyelidiki apakah sebuah jurnal kajian budaya ternama di Amerika Utara – yang dewan redaksinya meliputi tokoh-tokoh seperti Fredric Jameson dan Andrew Ross – (mau) menerbitkan artikel yang dipenuhi omong kosong apabila (a) bahasanya meyakinkan, dan (b) cocok dengan kecondongan ideologis para penyuntingnya[4].

Setelah beberapa minggu kemudian, Sokal membeberkan bahwa papernya yang tayang di Social Text hanyalah parodi untuk mengejek para pemikir postmodern. Menurutnya, paper tersebut sengaja dia tulis secara asal-asalan untuk menguji standar intelektual akademisi humaniora Amerika Serikat. Dengan kata lain, artikel yang dikirimkannya hanya hoaks belaka. Sokal dalam eksperimennya berhasil menerangkan bahwa ternyata beberapa sektor akademik Amerika Serikat telah lembam secara intelektual. Menurut Sokal, editor Social Text menyukai artikelnya hanya karena ia memiliki kesimpulan yang sesuai dengan ideologi para editor, yakni konten dan metodologi sains postmodern menyediakan dukungan intelektual yang kuat untuk proyek politik progresif.

Hoax Sokal membuktikan bahwa kebohongan yang memang diniatkan untuk menyesatkan publik juga dapat diproduksi oleh komunitas akademik.

Bagaimana dengan Hoaks Jelang Pemilu?

Setidaknya hingga Januari kemarin, Kementerian Kominfo telah mengidentifikasi 62 hoaks Pemilu 2019. Hasil ini berdasarkan penelusuran dengan mesin AIS oleh Subdirektorat Pengendalian Ditjen Aplikasi Informatika. Kementerian Kominfo merilis informasi mengenai klarifikasi dan konten yang terindikasi hoax melalui portal kominfo.go.id dan stophoax.id.[5]

Jumlah tersebut meningkat di bulan Februari dan Maret. Menurut Laporan Kementerian Kominfo, pada Februari 2019, hoaks yang beredar melalui internet mencapai 300 konten. Sedangkan pada Maret 2019 hingga pertengahan bulan, jumlahnya mencapai 200-an konten.[6]

Beberapa kasus hoaks jelang Pemilu, seperti adanya hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos atau hoaks 3 Emak-emak di Karawang yang bermuatan kampanye hitam terhadap salah satu paslon Pilpres menjadi peringatan bagi masyarakat kita untuk bersikap kritis terhadap apa pun yang ada di media sosial.

Masyarakat kita harus terbiasa memverifikasi atau memfilter semua berita yang beredar di media sosial baik yang belum jelas sumbernya ataupun yang sudah jelas sumbernya, termasuk yang disampaikan oleh tim kampanye para paslon dalam Pemilu ataupun yang disampaikan oleh para paslon itu sendiri.

Waspada dan Berpikir Kritis

Kasus Sokal juga perdebatan antara RG dan RK seharusnya mendongkrak nalar kritis kita.

Saya tertarik dengan tanggapan RK yang mengatakan bahwa hari ini bukan (hanya) orang dungu yang dikelabui, orang-orang pandai dan orang-orang yang ibadahnya baik juga dikelabui.

Hal ini harusnya jadi perhatian. Seperti halnya dalam Kasus Sokal yang mana orang pandai (editor) dapat dikelabui dan akhirnya turut memproduksi hoaks, hari-hari ini di Indonesia pun demikian kasusnya.

Para politisi kita, para akademisi kita, para praktisi dan pengamat (politik, ekonomi, hukum) kita (yang tentunya semuanya adalah intelektual), hari-hari ini menyampaikan klaim-klaim yang membela paslon-paslonnya. Dan saya yakin, baik para akademisi, praktisi, dan pengamat kita yang notabene adalah para intelektual yang mungkin saja (seperti dalam kasus Sokal) ikut memproduksi hoaks yang dapat menyesatkan publik.

Setidaknya terdapat pola-pola tertentu yang terindikasi hoaks dengan tujuan menguntungkan paslon-paslon tertentu. Di berbagai media – elektronik atau cetak, dari televisi sampai youtube – kita dengan mudah menjumpai ‘kesaksian-kesaksian’ para politisi kita dan juga tidak jarang para pengamat dan akademisi kita, yang menyatakan bahwa dalam petualang mereka ke akar rumput (baca: ke tingkat bawah/masyarakat) banyak yang mengeluhkan harga sembako kian mahal dan susah terbeli, harga listrik mahal, susah mencari kerja, biaya kesehatan mahal, dan sebagainya (menurut tim Prabowo-Sandi) atau sebaliknya (menurut tim Jokowi-Ma’aruf). Hal ini tentu dapat dimaklumi. Namun yang menjadi pertanyaannya, masyarakat mana yang disambangi oleh para tim tersebut? Manakah klaim-klaim yang benar? Apakah benar harga sembako kian mahal dan susah terbeli? Apakah benar harga listrik dan kesehatan kian mahal? Atau sebaliknya?

Dalam beberapa kasus, Emak-emak menjadi objek (bukan subjek) dari kedua tim dalam menyampaikan klaim keberhasilan atau kritikan antara satu paslon terhadap paslon yang lainnya. Klaim Emak-emak yang mengatakan harga tempe mahal dan tidak, misalnya, bahkan sampai dibawa ke arena perdebatan para calon presiden kita. Lagi-lagi kita dapat bertanya, Emak-emak yang dimaksud ini apakah Emak-emak yang benar-benar menyampaikan fakta yang sesungguhnya atau Emak-emak yang kebetulan adalah pendukung paslon 1 atau paslon 2? Kok sesama Emak-emak pernyataannya berbeda-beda? Salah satunya kemungkinan berbohong.

Contoh lain, selang debat tentang hoaks antara RG dan RK di ILC misalnya, dalam sebuah video (seperti ‘kuliah’ singkat) yang diunggap di Youtube berjudul MAKIN DEKAT HARI H, ROCKY GERUNG MAKIN GARANG SAJA, RG menyatakan bahwa ada pameran statistik lembaga survei yang menyebutkan bahwa Petahana tak mungkin terkalahkan. Semua lembaga survei di-briefing untuk kesimpulan itu dan seterusnya. Pernyataan ini tentu harus dibuktikan agar tidak berpotensi menghasilkan hoaks.

Apakah benar lembaga survei di-briefing untuk kesimpulan seperti itu? Atau pernyataan yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 5% karena ‘pekerjaan’ Emak-emak (lagi-lagi Emak-emak yang dibawa). Apakah benar demikian? Seperti halnya dalil bahwa lembaga survei di-briefing untuk mengatakan Petahana tak terkalahkan, dalil pertumbuhan ekonomi 5% karena ‘pekerjaan’ Emak-emak pun harus dibuktikan agar tidak berpotensi hoaks.

Video seperti ‘kuliah’ yang disampaikan RG boleh jadi contoh lain dari Kasus Sokal, yang mana komunitas intelektual juga terindikasi memproduksi hoaks. Tentu video RG tersebut dapat ditanggapi secara kritis, tetapi berapa banyak masyarakat kita yang dapat menanggapinya secara cermat dan kritis? Mungkin apa yang disampaikan RG adalah guyonan dan kritik saja, tetapi tentu tidak semua masyarakat menanggapinya demikian.

Atau seperti dalam Kasus Sokal yang ‘iseng-iseng’ mengirimkan papernya, RG mungkin sedang (ngibul) menguji intelektualitas para audiens, yang kebanyakan cocok dengan kecondongan kritikan atau pandangannya ataupun karena suka permainan kata-katanya.

Toh, RG (secara humoris) menyebutkan bahwa ILC adalah tempat ngibul-nya (mungkin seperti Sokal yang menganggap Social Text adalah tempat ngibul-nya). Namun demikian, apa yang dilakukan RG, hal yang sama juga mungkin dipraktikkan atau dilakukan oleh kubu yang berseberangan di sebelahnya.

Nah, pada kondisi-kondisi seperti ini tentu kita harus waspada. Apalagi, meminjam ungkapan Antonio Gramsci, dalam bukunya Prison Notebook,

“Orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual”.

Karena, banyak masyarakat kita yang malas menjalankan fungsi intelektualnya (akibat rendahnya budaya literasi dan malas membaca), maka tidak heran hoaks begitu laku di Indonesia apalagi menjelang Pemilu. Oleh sebab itu, kita harus waspada juga kritis, agar pengaruh hoaks akhirnya tidak mengecewakan kita selama 5 tahun ke depan. ***

.

[1] Menurut Linda Walsh dalam buku Sins Againts Science, hoax merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri dan diperkirakan kali pertama muncul pada tahun 1808. Lihat Sahrul Mauladi, Socrates Cafe, Bijak, Kritis & Inspiratif Seputar Dunia & Masyarakat Digital, PT Elex Media Komputindo, Jakarta: 2018, hlm. 258.

[2] ibid.

[3] Husein Abdulsalam, Belajar Hoax dari Prof. Alan Sokal, dalam https://tirto.id/belajar-hoax-dari-prof-alan-sokal-cvRZ. Baca juga James Franklin, The Sokal Hoax, dalam https://pdfs.semanticscholar.org/eec9/b9101da67f0fc63fd116e277b79573b9c50f.pdf.

[4] Perkara Sokal, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Perkara_Sokal.

[5] Sebagaimana dilansir detik.com, tanggal 2 Januari 2019, dengan judul berita 62 Hoax Pemilu 2019 Teridentifikasi Kominfo, Ini Daftarnya.

[6] Sebagaimana dilansir beritasatu.com, tanggal 20 Maret 2019, dengan judul berita Jelang Pemilu, Konten Hoax di Internet Meningkat.

.

*) Penulis adalah penikmat karya sastra, pegiat media sosial, dan pemerhati isu-isu sosial politik. Tinggal di Bajawa, Ngada.

Check Also

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

(Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id) Oleh: Filio Duan* Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh …

Pendidikan Keperawatan dan Agen Korporat Kapital

(Gambar: Suara Muhamadiyah) Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage* Pembangunan kesehatan di Indonesia tidak pernah lepas dari peran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *