Home / Opini / Haruskah Kita Menonton Debat Pilpres?

Haruskah Kita Menonton Debat Pilpres?

(Sumber gambar: inilahkoran.com)

Oleh: Doni Koli*

Beberapa jam lagi kita sekalian akan menyongsong dan menyaksikan debat ke-4 pilpres 2019 yang mempertemukan kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden dari masing-masing kubu.

Melalui artikel ini, saya ingin mengajak kita untuk sejenak ‘membebaskan diri’ dari antusiasme dan atensi akan perhelatan akbar bertajuk “Debat Pilpres”tersebut. Tentu tanpa perlu membangun keengganan dan apatisme total. Anggap saja tulisan ini adalah semacam intellectual exercise atau gagasan pelumas nalar yang mampu memandu kita untuk melihat aspek lain yang seringkali terlupakan dari debat pilpres.

Sejauh ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyelanggarakan tiga forum debat pilpres 2019. Sebagai penuntun, pertanyaan prolog yang hemat saya perlu kita refleksikan bersama adalah seberapa relevankah debat pilpres itu untuk kita tonton? Atau, apakah debat-debat pilpres mesti harus kita saksikan dengan penuh keseriusan dan ekspektasi membuncah ruah?

Tentu ada banyak yang telinganya panas ketika mendengar pertanyaan pembuka yang kesannya menggugat alias smashing kemapanan ini. Apalagi kalau sampai terdeteksi tim kampanye, badan pemenangan, relawan, buzzer politik hingga orator nyabun masing-masing paslon. Pertanyaan ini pasti dikatakan abal-abal, konyol, dan tak bertanggung jawab. Tak terhitung lagi umpatan-umpatan bagi saya.

Debat pilpres akan bagus untuk menilai visi-misi paslon. Apalagi bangsa kita hidup dalam iklim demokrasi yang menekankan keterbukaan, akuntabilitas, uji publik, dan titel-titel negara demokratis lainnya. Debat adalah salah satu barometer yang nyata dan faktual untuk mendiseminasi kualitas masing-masing paslon.

Namun, sabar dulu. Kurang-lebih atau pas-belumnya, saya coba merangkum beberapa argumen atau alasan bahwa debat pilpres 2019 adalah zero sum game dan tak relevan untuk kita tonton.

Pertama, debat bertemakan pilpres 2019 dapat terjadi dan kita saksikan di mana-mana, dalam dunia nyata dan maya sekaligus. Di rumah, indekos, di pasar, di jalan, di tempat kerja, di kampus, di media sosial—dengan  manusia riil atau avatar sekalipun—dengan daya ledaknya masing-masing yang bervariasi. Intinya ada banyak energi yang banyak kita habiskan untuk berdebat soal pilpres 2019. Orang NTT bilang, omong sampai mulut babusa pun tak akan selesai. Pola debatnya pun variatif, terseralah bagaimana kita menilainya.

Ada debat kusir dengan ide-ide yang ‘malnutrisi’, tak jelas ujung-pangkalnya dan cukup untuk memukul KO kewarasan dan nalar kita. Ada juga debat yang lebih ‘bernutrisi’, dengan kajian teoretis, filosofis, kritis, teologis, progresif, objektif, substantif, dan istilah-istilah lain yang sudah tentu tak bakal laku di telinga Emak-emak di pasar. Pokoknya yang ilmiah-ilmiah begitu.

Intinya, ada banyak debat. Debat utama di TV hanya jadi induk debat, selebihnya kita tak perlu bersusah-payah mencari dan boleh ikut nimbrung dalam anak-anak debat. Debat pilpres seperti pohon keluarga dan punya genealogi sendiri, ada induk debat, ada pula anak debatnya.

Kedua, tak ada pasangan yang benar-benar berdebat atau paling tidak mendekati definisi berdebat yang baik. Kalau kita nonton dengan isi kepala yang lebih terbuka dan kritis, tak ada debat yang mengesankan di sana. Setiap paslon, entah capres atau cawapres, lebih banyak berorasi sambil sesekali tersenyum, tertawa, menampilkan wibawa dan menyerang lawan debat secara personal. Debat tak ubahnya kampanye terbuka yang sedikit diselipi nuansa battle-nya, di-setting dalam suasana yang  formal dan tak lupa, ekshibisionis.

Kesan ini memang acapkali tenggelam karena “otak” atau “isi kepala” sebagian kita sudah lekat dengan pilihan masing-masing, pilih Jokowi-Ma’ruf  atau pilih Prabowo-Sandi. Artinya, kita menonton debat dengan sebuah pilihan yang berwatak conditio sine qua non; mutlak, tidak bersyarat, dan tak tergantikan. Apa pun isi debatnya atau seburuk apa pun retorika calonnya, pilihan kita tak kunjung bergeming alias sudah punya label patennya.  

Yang sudah punya niat untuk golput biasanya “fifty-fifty”; tidak menonton debat karena visi-misi dan koalisi masing-masing paslon tak sesuai ekspektasinya (kalau pun nonton hanya untuk isi waktu luang dan punya sedikit amunisi untuk dibagikan di laman medsos) atau terpaksa ikut nonton debat karena takut dibilang bodoh, goblok, tak nasionalis, stupidity class dan bahkan skizofernia. Mana ada sih manusia normal yang rela dicap punya gangguan mental, kognitif, dan sosial sekaligus?

Ketiga, acara debat menyita terlalu banyak waktu. Kalau kita saksikan secara detail di televisi, ketiga debat pilpres yang telah lewat biasanya berpola rangkai atau beiringan. Ada pra-debat, debat, dan debat susulan. Kalau dianalogikan dengan pola ujian akhir di sekolah, ada try-out, ujian, dan ujian susulan.

Pra-debat atau try-out debat biasanya diisi dengan komentar dan diskusi anggota tim kampanye masing-masing paslon, analis, pakar, dan tak lupa juga iring-iringan panjang peserta debat (biasanya ‘dikawal’ ratusan personel keamanan: ini debat pilpres, bukan debat calon kepala desa, apalagi debat kusir ibu-ibu dalam arisan bulanan) yang berangkat menuju hotel tempat debat berlangsung. Soal debat, seluruh badan tulisan ini adalah koar-koar minor seputar debat.

Yang terakhir adalah ‘gempa susulan’ debat. Debat susulan tak jauh berbeda dengan pra-debat. Para pendukung, TKN dan BPN masing-masing paslon akan dengan kukuh, gigih, dan tegar (persis semangat pejuang 45 dalam versinya yang softy) memperjuangkan isi dan materi debat setiap paslon tanpa sibuk kalau-kalau pleidoi si ‘doi’ itu berisi fallacy atau kesesatan berpikir. Yang penting, paslon yang saya dukung benar dan pasti akan menang. Bedanya, debat susulan minus ­­iring-iringan pulang para peserta debat.

Terkait hal ini, saya terkadang iba dan agak prihatin dengan teman-teman dan sanak saudara kita di Timur. Dengan perbedaan waktu yang ada, mereka tentu harus memangkas waktu istirahat kalau mau menonton full semua paket debat. Mereka harus ‘mete’ untuk menyaksikan debat dengan catatan: esok harus tetap sekolah dan bekerja. Kasihan juga keluarga kita di Timur itu. Selama ini seringkali absen ‘menikmati kue-kue pembangunan’, masih harus berkorban lebih untuk sekadar menonton debat.

Keempat, yang namanya debat pastinya debat verbal (tidak akan terjadi ‘adu fisik’ seperti misalnya Prabowo yang bertubuh tambun menyerang Jokowi atau opa Ma’ruf menghardik Sandiaga). Karena formatnya verbal, kita seharusnya tak lekas percaya atau hakul yakin akan perkataan atau janji masing-masing paslon. Logika ini tentu tak masuk dalam alam pikir orang-orang yang dari isi sum-sum tulangnya sudah terpatri dan 100 persen srek dengan paslon tertentu.

But, let’s go deeper. Mari menyelam ke air yang lebih dalam. Di balik “gegap gempita” debat verbal itu, ada fakta tentang pengutipan data statistik yang keliru dan mengarah pada hoaks serta argumen-argumen yang naif, tendensius, ad hominem, dan sangat personal. Ditambah lagi serangkaian pencitraan dan pentas narsistik masing-masing paslon.

Tak hanya itu, hampir bisa dipastikan kalau setiap paslon tak punya keseriusan dan komitmen yang kokoh untuk menggembosi kantung-kantung besar masalah negara yang jadi beban sejarah turun-temurun dan beranak-pinak. Sebut saja penyelesaian masalah-masalah HAM berat seperti persekusi di Papua, kasus Mei 1998, pembantaian PKI 1965, PEnembakan misTeRiUS, dan blacklist panjang berisi kejahatan kemanusiaan lainnya.

Berikutnya, debat verbal pilpres juga amat berwatak oligarkis (debatnya saja ditayangkan TV milik para oligark itu). Kita tentu masih ingat ketika dalam debat kedua Jokowi menyindir Prabowo soal kepemilikan tanah dalam jumlah yang besar. Padahal, kalau lebih sadar diri, Jokowi sendiri diasuh dan didukung segelintir orang berduit yang juga menguasai banyak lahan dan hajat hidup orang banyak. Intinya, siapa pun presiden yang terpilih nanti, koalisi yang dibangun tentu tak lari jauh dari lingkaran dan kepentingan oligarki itu.

Kelima, hasil survei yang dapat dipercaya. Entahkah debat masih diperlukan kalau hasil-hasil survei yang bertebaran secara jelas-jelas menunjukkan presentasi kemenangan cukup menjanjikan bagi pasangan tertentu. Hasil survei tersebut menyediakan semacam end game effect. Rasa-rasanya ada paslon yang sudah pasti menang dan kalah sebelum bertanding.

Benar bahwa masih ada kemungkinan berubah. Politik itu kan art of the possibility. Namun, kita tentu bisa menilai dan mulai mereka-reka arahnya. Kebenaran sejatinya, memang hanya Tuhan yang tahu. Kita baru tahu setelah waktu pencoblosan selesai dan ada pengunguman resmi dari KPU. Tapi, apa tidak salah dan naif untuk menyebut semua lembaga survei itu sesat atau asal-asalan kan?

Akhirnya, kembali ke pertanyaan pembuka tadi, masih relevankah debat pilpres itu kita tonton? Hari H pilpres memang menyisakan beberapa waktu lagi dan kita akan menyaksikan debat pilpres keempat. Kita boleh saja menilai, memilih, dan memutuskan.

Namun yang penting menurut saya, tidak menonton debat bukan sebuah pilihan yang apatis, bodoh, dan tak beradab. Tidak menonton debat juga bukan salah satu gejala skizofernia, kan?

.

*) Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Nita, Maumere, Flores.

Check Also

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

(Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id) Oleh: Filio Duan* Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh …

Pendidikan Keperawatan dan Agen Korporat Kapital

(Gambar: Suara Muhamadiyah) Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage* Pembangunan kesehatan di Indonesia tidak pernah lepas dari peran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *