Home / Horizon / Horizon Literasi / “Gara-gara” Guru

“Gara-gara” Guru


(Sumber gambar: sixhatsdz.forumalgerie.net)

.

Oleh: Viktor Juru*

Sewaktu SD, saya pernah adukan guru saya ke orang tua. Ayah saya lalu cek apa penyebabnya. Saya dipukul dan dimarahi habis-habisan karena salah mengerjakan tugas, atau yang lazim disebut PR itu. Setelah mengetahui secara pasti persoalannya, saya bukannya dibela — sesuai harapan saya — malah dipukul lagi oleh ayah. Baginya, kesalahan saya tidak bisa dibenarkan. Persis, ayah saya seorang guru.


Membaca berita tentang adanya dugaan pemukulan pada siswa, saya jadi tertarik untuk “berkomentar” (sedikit) dengan landasan pengetahuan yang sedikit pula. Namun, saya berani dan harus berkomentar: “‘gara-gara’ guru”. Bukan karena munculnya banyak perdebatan di sosmed atau di warung-warung kopi atau di lobi kantor Dinas Pendidikan. Bukan pula karena opini sempit “para pejuang” ilmu pendidikan yang masih dan sudah bergelar sarjana pendidikan. Bukan. Saya ingin melihat dari sudut pandang saya. Dari pemikiran saya. Dari batas pemahaman saya yang mungkin juga sempit.

Begini. Pertama, yang harus kita sepakati bersama ialah tidak ada akibat tanpa sebab. Oke?!

Berita yang diturunkan media-media online, salah satunya voxntt.com, belum secara jelas dan detail menyebutkan persoalan yang ada. Jangan heran kalau muncul banyak spekulasi. Dalam pemberitaan yang ada, hanya dikisahkan, gara-gara tidak ikut misa hari Minggu, siswa dipukuli guru. Pengakuan orang tua, ada belau di betis anaknya dan jalannya pincang. Saya belum bisa menarik kesimpulan. Jadi, jangan dulu bilang siapa salah, siapa benar. Belum bisa. Pada bagian lain pemberitaan yang ada, dikatakan, bukan hanya satu orang yang dipukul karena tidak ikut misa pada hari Minggu.

Saran saya, cek dulu ke lapangan, atau tunggu saja hasil investigasi resmi tim Dinas PK Manggarai Timur, Flores.

Intinya, akibat selalu ada karena sebab. Begitu.

Kedua, Undang-undang perlindungan anak.


Saya tidak perlu tahu Undang-undang nomor berapa, pasal berapa, yang meski dikutip secara lengkap sekali pun, mubazir juga bila tak paham maknanya. Yang saya tahu, hierarki konstitusi kita itu (eh, terlalu tinggi bahasanya, pokoknya Undang-undang kita… begitu saja sudah) bersumber dan berawal dari Pancasila: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.

Kita bandingkan saja pendidikan sekarang dengan dahulu. Kita — yang seputaran Timur Indonesia, khususnya — akui perlakuan guru sebelum ada Undang-undang perlindungan anak itu, jauh lebih keras dan tegas. Manusia yang dihasilkan, “Adil dan Beradab”. Kalau ini benar, berarti tujuan kita (memanusiakan manusia menuju yang adil dan beradab) tercapai. Namun kalau salah, saya mohon maaf, penafsiran saya salah. Saya tidak bisa tampilkan data yang banyak dan valid. Kita minum kopi dan cerita-cerita saja. Jangan terlalu kuras tenaga pikir pasal tetang perlindungan anak.

[Baca juga: Pendidikan Holistik]

Lalu sekarang, muncul dan gencar pendidikan karater. Karakter apa? Karakter instan? Dipukul, menangis, lapor orang tua, hasut sana hasut sini, lapor polisi? Lalu viral. Untuk apa? Supaya tidak terjadi kasus seperti ini lagi? Atau untuk memajukan pendidikan? Siapa yang mampu menjamin, bahwa dengan kasus serupa ini dan segala persoalannya, wajah pendidikan kita jadi necis? Siapa?

Bagi saya, langkah Pemda mengutus tim investigasi sudah sangat tepat. Mengecek fakta dengan “blusukan” ke TKP akan memberi informasi yang tepat juga solusi yang pas. Demikian.

Ketiga, salahkah orang tua bila melapor kejadian ini pada pihak kepolisian? Tidak juga.

Sebagai warga yang patuh pada hukum, ya boleh-boleh saja ambil langkah hukum. Hanya saja begini. Sekolah itu bentukan masyarakat juga. Persoalan sekolah adalah persoalan masyarakat. Saya tidak menemukan bagian berita yang menyebutkan adanya rembuk bersama masyarakat dengan para guru dan orang tua dalam penyelesaian persoalan dugaan pemukulan siswa. Saya tidak temukan itu, untuk sementara ini. Kalau bisa, selesaikan dulu secara baik antara masyarakat dengan pihak sekolah. Undang tokoh masyarakat untuk musyawarah bersama. Cari solusinya. Kalau langsung ke pihak kepolisian, kita juga yang kena “efeknya” (perasaan berubah, anak kita jadi semakin takut, hubungan guru dengan orang tua jadi kurang akur, macam-macam). Iya kan?

Oke, orang tua kesal dengan kejadian semacam ini, tapi apa bisa jamin, selama di rumah tidak pernah marah pada anak sendiri? Dalam mendidik, kalau mau elus-elus saja juga tidak baik. Ada saatnya marah, ada saatnya larang anak, ada saatnya paksa anak. Ehh, maaf saya belum berkeluarga, saya kurang tahu soal yang terakhir ini.

Saya sampai berpikir, ke depan, kalau mau menghindari perdebatan dan beda opini di sosmed seperti ini, kita butuh dua hal.

Satu, sanksi harus tetap tegas, adil terhadap siswa, dan punya korelasi dengan kesalahan. Tepat sasar! Tidak ikut ibadat misalnya, ya sanksinya suruh ikut ibadat.

Dua, forum yang memungkinkan peran serta orang tua mesti ditingkatkan. Orang tua jangan hanya menjadi pembayar uang sekolah. Sekolah mesti menyiapkan waktu untuk diskusi bersama orang tua, sebulan sekali minimal. Memang kalau hanya karena uang sekolah lalu anaknya dimarahi bahkan dipukul, ya orang tua mana yang tidak jengkel? Pasti marah!

Terakhir, kalau benar guru yang diduga melakukan pemukulan terhadap siswa betul bersalah, saya pikir kita juga butuh guru BP untuk para guru.

“‘Gara-gara’ guru”, saya dipukul lagi oleh ayah. Setelah saya dimarahi dan dipukul lagi oleh ayah, saya semakin giat belajar dan lebih tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Semua “‘gara-gara’ guru”, dan saya wajib berterima kasih sekali kepada guru saya yang susah payah mendidik saya sampai dipukuli lagi oleh ayah saya. Saya ingat persis waktu itu, tidak ada perdebatan di sosmed.

Sepertinya, kita harus lanjut minum kopi dan bercerita lagi.

.

*) Penulis lahir di Detusoko, Ende, 10 Oktober 1992. Menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Makassar. Kini mengabdi sebagai guru di pedalaman Manggarai Timur, tepatnya di Elar, yang setiap pagi ke sekolah harus berjalan kaki kurang-lebih 45 menit. Suka sekali mengabadikan hal-hal unik yg dilakukan oleh anak-anak didik.

Check Also

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

3 comments

  1. Setuju banget!! Sama artikel ini. harusnya para org tua jgn asal krasak krusuk lapor polisi,atau mlakukan pembunuhan karakter trhadp gru dgn cara hasut kiri kanan.
    Jadilah org tua yg bijak, cari dlu kbnaranya,maslahnya sperti apa lalu d usut.

  2. Siyabb. Mari memuliakan jabatan dan profesi guru.

  3. Siyab. Mari memuliakan jabatan dan profesi guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *