Home / Opini / Final Champions dan Pilpres 2019

Final Champions dan Pilpres 2019

(Sumber gambar: bola.okezone.com)
.

Oleh: Gerardus Kuma Apeutug*

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Setelah nyaris merengkuhnya tahun lalu, ambisi Liverpool mengangkat trofi Kuping Besar akhirnya terpenuhi tahun ini. Trofi ini seakan memenuhi dahaga gelar pasukan The Reds selama 14 tahun.

Trofi Liga Champions direngkuh Liverpool setelah mengalahkan rivalnya, Tottenham, di laga final. Laga yang mempertemukan sesama klub asal Negeri Ratu Elisabeth ini adalah laga final ideal yang patut dibaca karena perjalanan yang dilalui kedua tim hingga puncak, tidaklah mudah. Kedua finalis betul-betul “ditempa” dalam perjalanan menuju stadion Wanda Metropolitano itu. Suatu perjalanan yang tidak gampang.

Menjejaki final, bagi kedua tim, bagaikan melewati jalan terjal. Melalui perjuangan yang menguras emosi dan tenaga, dan karena itu, tentu melelahkan.

Baik Liverpool maupun Tottenham, tantangan berat sudah dihadapi sejak fase grup. Kedua tim nyaris tersingkir. Liverpool yang bersaing bersama PSG, Napoli, dan Crvena Zvezda harus berjuang hingga laga terakhir grup untuk lolos sebagai runner-up mendampingi PSG. Lolos dari fase grup, Liverpool harus menghadapi Bayern Munchen di babak 16 besar. Raksasa Jerman itu pun dipulangkan dengan agregat 3-1 dalam dua leg pertandingan. Babak perempat final boleh dibilang lebih mudah. Bertemu Porto, Liverpool mampu menghempaskan wakil Portugal itu dengan agregat 6-1. Melaju ke semifinal, Liverpool menghadapi tantangan yang sesungguhnya. Bertemu Barcelona yang merupakan kandidat juara, “nadi” Liverpool sempat dibuat berhenti berdenyut. Namun, Liverpool mampu menunjukkan mental juara dan menghempas Barca dengan agregat 4-3.

Tottenham juga melewati jalan yang tidak mulus. Bergabung bersama Barcelona, Inter Milan, dan PSV Eindhoven, Tottenham lolos dari fase grup sebagai runner-up. Di babak 16 besar, mereka menghadapi pemuncak group A, Borussia Dortmund. Wakil Jerman itu dipulangkan dengan agregat 4-0. Dalam langkah mulus ke babak 8 besar, The Lilywhite mendapat ujian berat dengan menghadapi pemimpin klasemen liga Inggris, Manchester City. Bertemu sesama tim Liga Inggris, Tottemham mampu menghempas rivalnya tersebut berkat keunggulan gol tandang setelah agregat sama kuat 4-4 dalam dua leg pertandingan. Di semifinal, Tottenham harus menghadapi pembunuh raksasa berdarah dingin, Ajax Amsterdam. Tantangan yang tidak kalah berat karena Tottenham dipermalukan 0-1 di kandang sendiri pada leg I. Namun di leg II, Tottemham menang 2-3 lewat hattrick Lucas Moura. Walau agregat sama kuat, Tottemham berhak lolos karena unggul gol tandang. Perjuangan yang terbilang berat karena gol penentu tercipta di penghujung laga. Tottemham pun lolos ke final secara dramastis.

Keberhasilan Tottenham Hotspurs menjejaki final merupakan sejarah karena ini adalah final perdana dalam sejarah keikutsertaan mereka di Liga Champions. Sementara Liverpool mencicipi final ke-9. Spesialnya adalah, ini final beruntun dalam dua musim terkahir. Final Tottenham vs Liverpool merupakan partai puncak ke-8 yang mempertemukan dua tim dari satu negara. Spanyol merupakan negara yang klubnya paling banyak bertemu di final. Diawali bentrok Madrid vs Valencia tahun 2000, lalu Real Madrid vs Atletico Madrid tahun 2014, dan Real Madrid vs Atletico Madrid tahun 2016. Disusul Inggris, dua kali menempatkan klubnya di final manakala MU vs Chelsea tahun 2008 dan Tottenham vs Liverpool tahun 2019 ini. Sedangkan Italia dan Jerman sama-sama satu kali mengirim klubnya ke final Champions, yaitu AC Milan vs Juventus tahun 2003 dan Bayern Munchen vs Borussia Dortmund tahun 2013.

Bentrok Liverpool vs Tottenham di final menampilkan permainan yang menghibur. Liverpool akhirnya tampil sebagai kampiun setelah menggelontorkan dua gol. Gol (penalti) Mohamed Salah pada detik ke-108 dan Origi pada menit-menit akhir memupus harapan Tottenham merasakan sensasi sebagai juara Champions. Setelah wasit asal Slovenis, Damir Skomina, meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, para pemain Tottenham tampak tertunduk lesu. Sementara pemain Liverpool bersorak gembira. Walau baru bertarung dan menerima hasil berbeda, kedua tim menunjukkan sikap gentleman. Usai final digelar, masih di lapangan pemain kedua tim saling berpelukan. Pemain Liverpool menghibur pemain Tottenham yang sedih, sementara Tottenham memberikan selamat kepada Liverpool.

Inti sari dari “membaca” laga final Champions adalah perjuangan yang tak kenal lelah sampai semangat yang pantang menyerah dari kedua tim hingga menjejaki final. Terbaca bahwa keberhasilan tidak bisa diraih dengan mudah. Sukses harus dilalui lewat kerja keras. Perlu usaha yang tidak kenal lelah tanpa putus asa. Karena sukses tidak datang dengan sendirinya, butuh usaha ekstra untuk menggapainya. Kesuksesan tidak dapat digapai hanya dengan berpangku tangan.

Final Pilpres 2019

Sebelumnya, di tanah air juga dilangsungkan “permainan” di bidang politik. Ada pemilihan Presiden/Wakil Presiden, DPR, DPRD, dan DPD secara serentak. Dari semua pertarungan politik yang dihelat, Pilpres paling menyedot perhatian. Duel pasangan capres-cawapres Joko Widodo – Ma’ruf Amin (01) versus Prabowo Subianto – Sandiaga Uno (02) menjadikan suhu politik di tanah air kian panas.

Pertarungan politik ini telah “final” saat pengumuman hasil pemilu. Dalam hasil “final” yang diumumkan KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu, pasangan capres/cawapres 01 keluar sebagai pemenang dengan perolehan 85.607.362 suara atau 55,5%, unggul 16,95 juta suara atas rivalnya yang mendulang 68.650.239 suara atau 44,5%.

Setelah pengumuman, sikap berbeda ditunjukkan masing-masing paslon. Paslon 01 yang diwakili Jokowi meminta semua pihak untuk menghargai dan dewasa dalam berdemokrasi juga mengajak seluruh masyarakat bersatu membangun Bangsa. Sebaliknya, paslon 02 sebagaimana dibacakan Prabowo, menolak hasil Pilpres karena penuh kecurangan dan akan melakukan upaya hukum sesuai Konstitusi yakni mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Sikap ini, bahwa Pilpres penuh kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif, dan karena itu harus ditolak, mesti diapresiasi karena inilah jalan konstitusional yang benar.

Pilpres kini memasuki masa “perpanjangan waktu.” Pertarungan Pilpres yang selama ini diwarnai parlemen jalanan akhirnya kembali ke jalur kontitusional dan berlabuh di altar Mahkamah Konstitusi (MK). MK adalah panggung terhormat untuk membuktikan tuduhan kecurangan yang dilontarkan selama ini. Sidang perdana Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019, telah digelar Jumat (14/6/2019).

Kubu 02 sebagai pemohon dalam sidang perkara yang teregistrasi Nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019 ini dalam tuntutannya meminta MK membatalkan hasil Pilpres, mendiskualifikasi pasangan capres/cawapres 01, dan menetapkan pasangan capres/cawapres 02 sebagai pemenang.

“Bola panas” Pilpres kini ada di tangan MK. Sebagai lembaga yang berfungsi menjaga dan mengawal agar tidak lagi terdapat ketentuan hukum yang keluar dari koridor Konstitusi, keputusan lembaga tinggi Negara ini bersifat final dan mengikat. Karena itu, apa pun keputusan MK, semua pihak harus menerima.

Bergulirnya “bola panas” Pilpres ke MK tidak serta merta menurunkan tensi politik. Gejolak konstelasi politik tidak dapat diredam. Demontrasi (yang katanya disusupi) mewarnai penetapan hasil Pilpres yang berujung rusuh hingga menelan korban jiwa pada 22 Mei lalu, harus diakui sebagai bentuk kekecewaan terhadap hasil penetapan suara Pilpres. Segelintir elite politik yang tidak puas itu lalu memobilisasi massa untuk melampiaskan hasrat berkuasa mereka.

Eskalasi politik yang tidak surut ini tentu sangat disayangkan, karena dampak destruktif sosial, ekonomi, maupun politik justru ditanggung masyarakat. Elite politik mesti berkaca dan mencontoh sikap pesepakbola yang saling berpelukan setelah pertandingan usai. Di lapangan sepakbola, para pemain saling berangkulan. Kompetisi telah berakhir dan segala hal berbau persaingan harus segera disudahi.

Arena sepakbola memang berbeda dengan arena politik. Ketika pemain bola sangat menjunjung tinggi fairplay, elite politik malah saling memangsa. Ketika sportivitas diagungkan di arena sepakbola, di arena politik malah dipertontonkan rivalitas. Ketika pesepakbola berangkulan di lapangan, para politisi malah saling mengancam di arena politik. Sesungguhnya, publik gerah dengan sikap infantil para politisi. Yang dinanti publik adalah sikap legowo dari masing-masing kubu untuk bertemu guna menurunkan tensi politik dan mendamaikan kehidupan Bangsa.

Sejatinya, setelah pertandingan usai, semua pihak mesti duduk bersanding. Semua anak Bangsa harus saling merangkul bukan mendepak. Perbedaan selama ini harus dirajut bukan dirobek. Apa pun proses dan hasil Pilpres, tidak boleh menghalangi setiap politisi untuk berdamai setelah kompetisi berakhir.

Bukankah konflik dan perpecahan hanya akan menimbulkan kepedihan?

.

*) Penulis adalah penikmat sepakbola dan isu politik.

Check Also

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *