Home / Horizon / Horizon Literasi / Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

Oleh: Filio Duan*

Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh Ibda menulis bahwa Bahasa Ibu sangat penting untuk memajukan kebudayaan Nusantara. Baginya, manusia yang memahami dengan baik Bahasa Ibunya adalah insan yang nasionalis dan cinta terhadap local wisdom (kearifan lokal) (SatelitPost, 19/04/2018). Tantangan kepunahan serta solusi untuk menguatkan Bahasa Ibu sejak usia dini sesuai wilayah penutur dalam artikel ini, telah menginspirasi saya untuk melihat secara berbeda peran Bahasa Ibu dalam memajukan kebudayaan dan pendidikan di Indonesia.

Punahnya Bahasa Ibu berarti pula punahnya sebagian dari kearifan budaya lokal, karena bahasa merupakan salah satu aspek dari kebudayaan.

Kepunahan sebagian Bahasa Ibu menandakan punahnya juga sebagian aspek dari Bahasa Ibu itu sendiri, antara lain: lisan, tulisan, dan gestikulasi. Oleh karena itu, keprihatinan kita tidak hanya pada persoalan punahnya Bahasa Ibu, melainkan juga punahnya segala aspek kearifan budaya yang berafiliasi dengan Bahasa Ibu, misalnya kesenian, seni pertunjukan, tradisi lisan, permainan rakyat, seni musik tradisional, dan tradisi lainnya.     

Data Bidang Perlindungan Pusat Pengembangan dan Perlindungan Badan Bahasa menyebutkan ada 11 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan punah. Ada 4 bahasa daerah dinyatakan kritis dan 2 bahasa daerah mengalami kemunduran. Bahasa yang punah itu berasal dari Maluku, yaitu bahasa Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes. Sementara bahasa yang kritis adalah bahasa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahasa daerah Ibo dan Meher (Kompas, 10/02/2018). Sedangkan data Statistik Kebudayaan pada tahun 2016 yang dirilis Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat total kesenian yang diperkirakan akan punah mencapai 167, antara lain seni pertunjukan (30), seni rupa (1), seni musik (33), seni tari (58), teater (6), kriya (1), tradisi lisan (1), sastra lisan (5), permainan rakyat (4), tutur (20), beladiri tradisional (4), dan tradisi (2) (Era.id, 03/04/2018).

Bahasa Ibu sebagai identitas bangsa Indonesia oleh UNESCO diklaim 15 hari sekali akan punah. Penyebabnya selain faktor praksis seperti, kurangnya minat penutur, perkawinan campur dan media massa, faktor utamanya ialah globalisasi.

Kendati globalisasi memiliki dampak positif bagi perkembangan bangsa Indonesia, dampak negatifnya perlu diantisipasi, khususnya berkaitan dengan perkembangan Bahasa Ibu.

Pentingnya Bahasa Ibu

Banyak upaya untuk mempertahankan Bahasa Ibu. Mulai dari pendidikan hingga keseluruhan aktivitas masyarakat, dituntut untuk memberi ruang bagi perkembangannya. Kenyataan ini menandakan bahwa Bahasa Ibu sangat penting. Seberapa pentingkah? Max Muller menyebutkan bahwa bahasa muncul akibat adanya stimulus (rangsangan) dan merupakan suatu reaksi (Linguistik Umum.Pdf-Foxit Reader, 16/04/2018). Dengan demikian, bahasa dimengerti sebagai reaksi manusia utuh (fisik dan psikis) dalam bentuk verbal. Dalamnya terkandung wawasan pemahaman mengenai realitas hidup dengan kerangka makna yang diberikannya.

Pada titik ini, Bahasa Ibu menjadi penting karena merupakan bentuk wawasan normatif-evaluatif dalam wujud sistem nilai yang diungkapkan dalam lambang atau simbol-simbol.

Nilai-nilai ini merupakan identitas yang perlu dibatinkan dalam kepribadian bangsa karena amat menentukan perkembangan yang berkelanjutan.

Bahasa Ibu Sebagai Penyokong Kebudayaan

Sebagai suatu sistem nilai, Bahasa Ibu berperan menyokong kebudayaan. Bahasa Ibu menjadi nilai universal yang mengendap dalam setiap tradisi lokal. ‘Universalitas’, yang dalam bahasa Jean Baudrillard, adalah universalitas hak-hak asasi manusia, kebebasan, dan kebudayaan (Terorisme Global, 2011). Oleh karena itu, sistem nilai dalam Bahasa Ibu selain berperan memanusiakan manusia, juga menyokong kebudayaan.

Namun, di tengah arus globalisasi, Bahasa Ibu menjadi terdesak. Komunikasi menjadi kabur lantaran penutur dan pendengar tidak sepadan lingkungan pemahamannya. Akibatnya, Bahasa Ibu kehilangan taring jika dipahami sebatas ungkapan verbal belaka ketika berhadapan dengan penutur-penutur masa kini yang bahasanya adalah kompetisi. Jangankan dengan bahasa asing, dengan bahasa Indonesia sendiri, pada posisi tertentu, menjadi ancaman.

Untuk mengembalikan peran Bahasa Ibu sebagai penyokong kearifan lokal, tidak cukup sekadar mengumpulkan kosa kata dan mengupayakan penuturannya dalam keluarga atau lingkungan masyarakat. Afiliasi Bahasa Ibu dengan berbagai kearifan lokal juga mesti diupayakan. Tidak hanya aspek lisan, melainkan aspek tulisan dan gestikulasi pun amat penting. Hal ini menyata dalam berbagai kesenian dan tradisi-tradisi lokal.

Sebagai contoh, dalam tradisi pasar barter di Kabupaten Lembata, NTT, terdapat dua kelompok Bahasa Ibu yang berbeda (Lamaholot dan Kedang). Istilah rekan barter adalah “breu”  (Lamaholot), dan “eben nerung” (Kedang). Afiliasi term “breu” dan “eben nerung” tidak berhenti pada term itu sendiri atau aktivitas barter, melainkan sampai hubungan perkawinan dan rekan seperjuangan hingga anak-cucu, kendati berbeda secara budaya dan agama. Dalam konteks ini, term “breu-eben nerung” menyiratkan wawasan berciri kognitif dan etis yang menyokong tradisi ini tetap eksis sampai sekarang.

Masih banyak bahasa ibu di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, NTT, Maluku, NTB yang penting diperhatikan afiliasinya dengan tradisi lokal.

Bahasa Ibu Sebagai Penyokong Pendidikan

Transformasi budaya melalui peran Bahasa Ibu dalam segala aspeknya adalah suatu keniscayaan. Peran mentransformasikan budaya inilah, Bahasa Ibu pada sisi lain dilihat sebagai penyokong pendidikan. Namun, sebagaimana telah diketahui, globalisasi menjadi kendala dalam mengupayakan pendidikan Bahasa Ibu sejak dini, baik formal, non-formal, maupun informal.

Berikut ini, hemat saya, usaha mengembangkan pendidikan Bahasa Ibu dalam keseluruhan aspeknya.

Pertama, pendidikan Bahasa Ibu dalam lingkungan keluarga tidak hanya memperbiasakan anak harus fasih berbahasa ibu. Lebih dari itu orangtua semestinya memperkenalkan anak akan nilai-nilai tradisi yang tersirat, misalnya, dalam cerita-cerita rakyat, dongeng, mitos-mitos, atau mengajak anak untuk berinteraksi langsung dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan dengan mengunjungi atau beraktivitas di tempat atau sanggar-sanggar budaya.

Kedua, pendidikan Bahasa Ibu dalam lingkungan masyarakat. Fakta-fakta seperti dimasukkannya muatan lokal dalam kurikulum dan pendanaan pemerintah untuk cagar budaya diharapkan lebih getol dalam aksinya. Belum cukup membuat kamus Bahasa Ibu, lantaran terancam punah. Aksi-aksi getol ini, misalnya, diadakan gerakan untuk mempelajari dan mendalami nilai universal dari masing-masing budaya secara konsisten dengan tujuan dimaknai dalam berbagai bentuk kebijakan. Seperti, mendirikan museum budaya, mendirikan monumen untuk tokoh-tokoh atau peristiwa-peristiwa kebudayaan, dan/atau menetapkan hari tertentu untuk memperingati momen penting dalam kebudayaan.

Ketiga, pendidikan Bahasa Ibu melalui media massa. Seperti telah kita ketahui, media massa merupakan alat globalisasi yang paling efektif dan efisien menggerus nilai-nilai tradisi. Namun, bukannya tanpa harapan, media massa dapat digunakan sebagai lahan melestarikan Bahasa Ibu. Misalnya, menggunakan term-term Bahasa Ibu sebisanya dan nilai-nilai budaya dikreasi melalui media massa.

Mempertahankan Bahasa Ibu adalah suatu keharusan. Semua pihak diharapkan berperan aktif untuk menginternalisasi nilai Bahasa Ibu sehingga menjadi acuan untuk berproses memahami arti hidup sebagi bangsa Indonesia.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Bukan sekarang, mau kapan lagi?

.

*) Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, Maumere, Flores. Tinggal di Lewoleba, Lembata, NTT.

Check Also

Aldo, Kedahsyatan Ekskul, dan Lembaga Pendidikan

(Sumber foto: IG ronaldo_longa) Oleh: Bonefasius Zanda* Secara substansial, manusia berada dalam dua sisi tapi …

Haruskah Kita Menonton Debat Pilpres?

(Sumber gambar: inilahkoran.com) Oleh: Doni Koli* Beberapa jam lagi kita sekalian akan menyongsong dan menyaksikan debat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *