Home / Opini / Arak, Akhlak, dan Demokrasi

Arak, Akhlak, dan Demokrasi

(Foto: RLM)

 

Oleh: Helis Methold*

 

Malam itu di sebuah acara pernikahan, tepat di sudut gubuk, duduk sekumpulan pemuda yang tengah asyik menikmati suguhan arak racikan warga setempat. Suasana pesta dengan iringan lagu ja’i, dansa portu, dj kekinian dan sebagainya menambah suasana pesta semakin meriah. Bila semuanya tanpa arak, pesta bak gendang tak berbunyi.

Arak merupakan hasil kerajinan dari sebagian besar warga di sekitar kampung saya (Aimere). Hampir 80% warga di tempat ini bermatapencaharian pengiris moke. Selain untuk dikonsumsi sendiri, untuk hajatan, dan sebagainya, arak di kampung saya telah banyak dinikmati di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga, tempat mereka bisa menikmati hasil keringatnya dari mengiris moke. Bersamaan dengan itu, sebaliknya arak dianggap menjadi penyebab tindakan yang kurang terpuji di masyarakat.

Lantas apa yang salah dari arak?

Di penghujung pesta yang meriah itu, terjadi keributan. Patut disayangkan sebenarnya. Para pemuda yang duduk minum bersama itu membuat keributan. Sontak terdengar suara sumbang dalam bahasa setempat. “Kena go tua de tau nea gha”. Artinya kira-kira seperti ini, “Itu semua pengaruh dari arak.” Lagi, arak yang disalahkan.

Pandangan yang sama terhadap arak pun muncul ketika terjadi peristiwa yang sama dalam pesta. Pola yang sama ditemukan dari masa ke masa. Bahkan muncul inisiatif untuk tidak menyediakan arak oleh tuan pesta saat mengadakan hajatan. Hal ini dibuat untuk mengantisipasi situasi chaos, nantinya.

Manfaat arak dan sumbangannya bagi penghasilan warga direduksi kerena suatu peristiwa. Seperti biasanya, manusia cepat menyembunyikan kesalahannya lalu menyalahkan yang lain. Menyalahkan yang tak bisa membela diri, sesungguhnya telah menunjukkan sikap ketidakmampuan untuk mempertahankan diri. Kekhasan dari perilaku seorang reformer.

Dalam Heavenly Discourse, – kumpulan satire Charles Erskine Scott Wood yang terbit di tahun 1927 di New York – dikatakan bahwa Tuhan tidak menyukai seorang reformer. Sebab, kata Tuhan kepada sang reformer, “Kau terlalu banyak menghakimi sesamamu.” Dan itu bukan kemerdekaan; “padahal kemerdekaan adalah akidah pertama surga.” Sama halnya dengan mempersoalkan arak, menafikan kemerdekaan. Arak benar-benar tidak bebas dengan keberadaannya.
Melihat situasi di atas apakah lantas kita berpendapat bahwa arak memengaruhi akhlak. Tanpa disadari pandangan ini tidak melatih kita untuk berpikir. Kita ingat bahwa Socrates memutuskan mainstream masyarakat Yunani yang memuja-muja demokrasi bodongan. Ia ingin memajukan argumentasi yang lebih mutakhir, yakni rasionalitas. Baginya, keramaian (perkumpulan) hanyalah sebuah proses pembodohan. Ini merujuk pada musyawarah turut ramai waktu itu. Memakai keputusan pihak tertentu untuk pijakan bersama. Masyarakat tidak dilatih untuk mandiri berpikir dan hanya mengikuti kebiasaan atau cara pandang lama.

Lebih tepat masyarakat disebut sebagai kumpulan kaum fatalis. Tidak berjuang untuk mengubah nasib melainkan menyerahkan semuanya pada ketentuan nasib.

Kebiasaan yang salah bila dilakukan terus menerus akan dianggap sebagai sesuatu yang benar. Semuanya berakar pada kebiasaan.

Pasca-Sokrates, wajar bila Aristoteles mengakui bahwa “Awal pemikiran rasional… bukanlah pemikiran rasional, melainkan sesuatu yang lebih kuat.” Dan itu ialah akhlak. Biasakan diri untuk melihat lebih jauh dari sekadar apa yang sudah menjadi hal yang biasa. Itu menentukan akhlak kita.

Hal yang sama tampak dalam keresahan Adonis (Ali Ahmad Said Esber) penyair Timur Tengah. Ia melihat dalam tradisinya yang dipertahankan turun-temurun, bahwasannya tiap perkara didasarkan pada kesatuan; Tuhan satu, politik satu, rakyat satu. Menurutnya, “Dengan mentalitas seperti itu, kami tak bisa mencapai demokrasi, sebab demokrasi dimulai dengan memahami bahwa yang lain berbeda.” Ia saksikan Beirut hancur lantaran menghendaki “satu”, ketika “yang lain” dianggap tak sah. Namun, ia tetap teguh tanpa dirasuki oleh mentalitas pemikiran masyarakat setempat. Baginya, kesamaan itu tampak ketika melihat yang lain sebagai sesuatu yang berbeda (pikiran, tindakan) tetapi memiliki visi yang sama. Bila disadari, arak menguji kita untuk senantiasa konsisten memandang yang lain sebagaimana adanya diri kita (E. Levinas). Pada akhirnya, rasionalitas dan akhlak mulia membentuk demokrasi yang sebenar-benarnya; sebuah hasrat untuk mencari dan menikmati kemerdekaan dan keadilan.

Pramoedya Ananta Toer dalam ”Drama Mangir” memperlihatkan dengan seksama suatu ketimpangan sistem pemerintahan di Kerajaan Mataram beberapa abad silam. Panembahan Senapati, raja Mataram (1575-1607) yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, berusaha menundukkan perlawanan dari penduduk Mangir dengan cara kotor dan keji termasuk menjadikan puterinya sebagai tumbal. Sang Putri yang adalah masa depan kerajaan, dijadikan titik konflik persaingan dua sistem kemasyarakatan dalam mempertahankan gaya kekuasaan raja. Kejanggalan dalam penempatan prioritas nilai-nilai hidup membawa sejarah penguasa Mataram penuh dengan konflik keluarga dari generasi ke generasi. Sistem pemerintahan Kerajaan Mataram memperlihatkan bahwa tak adanya demokrasi, kerajaan berantakan.

Bersamaan dengan berkembangnya dunia milenial, muncul varian hatespeech berjubah demokrasi. Demokrasi diukur dengan takaran spiritulitas personal. Memagari surga untuk kelompok tertentu. Menuntut Tuhan menanggalkan sifat kemerdekaan-Nya. Berkhayal menggantikan posisi Yang Mahakuasa, tapi lupa mengulik realita bersama.

Cukuplah kita menghakimi sesama, bahkan kepada siapa yang tak bisa membela diri. Demokrasi bukan cara seperti itu. Ia mendewasakan bukan sekadar memperkaya akal. Demokrasi butuh kesepahaman akal dan akhlak. Benar anjuran Kiai Saleh dalam “Negara Bukan-Bukan” agar tidak “keduluan pintar, terlambat dewasa”.

 

 

*) Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, Maumere, Flores

Check Also

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *