Home / Horizon / Horizon Literasi / Sebelas Kata (Sepotong Kisah dari Pedalaman)

Sebelas Kata (Sepotong Kisah dari Pedalaman)

Oleh: Viktor Juru*

Langit bukit Rengkeng terlihat cerah. Seperti biasa, usai rehat anak-anak bergegas masuk ruang kelas. Sang waktu persis telah setengah berputar. Panas. Teduh, tanpa angin kencang. Tak tampak sedikit pun rasa lelah di wajah mereka. Ya, mereka begitu antusias dan siap membacakan karya perdana mereka. Sungguh pemandangan yang mujarab, pembakar semangat untuk mengajar.

Sebelum rehat, pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Reweng dimulai dengan memperkenalkan konsep tentang puisi.

Puisi adalah ungkapan hati. Puisi menggambarkan ketulusan perasaan. Puisi dapat lahir dari sebuah pengalaman yang menyentuh perasaan.

Bagi anak SD, puisi merupakan ungkapan kepolosan berpikir.

Sebagai perangsang, kepada mereka saya berikan contoh sebuah puisi. Ini penting untuk membuka daya imajinasi anak. Kemudian, bakat dan daya imajinasi mereka coba saya bakar dengan tantangan untuk menghasilkan puisinya sendiri.

Awalnya saya ragu. Saya tahu betul bahwa perbendaharaan kata mereka sangat minim. Kemampuan membaca mereka masih dalam taraf peralihan dari ‘berlatih’ menjadi ‘lancar’. Mereka tak punya referensi literatur yang cukup untuk mempercantik puisi-puisi mereka.

Saya putuskan untuk memberi mereka stimulus dengan melahirkan kata yang ada pada mereka. Mereka diminta untuk mengadu pada “buku alam”. Saya meminta mereka keluar kelas dan memperhatikan alam sekitar mereka. Di sanalah tersembunyi jutaan ilmu. Dari alam yang dipandang, lahirlah sebelas kata: Matahari, Bintang, Pintu, Jendela, Pemandangan, Cahaya, Gunung, Sungai, Biru, Mawar, dan Melati. Saya sudahi pemilihan kata dan spontan saya gubah menjadi sebuah puisi.

***

Kupandangi langit Rengkeng
Di kala mentari menyinari
Sudut-sudut kelas

Jendela terbuka
Memancarkan kasih
Sampai ke batas-batas gunung

Di pintu hatimu kami beradu
Ilmu mengalir bak sungai
Kasih terpancar bak cahaya bintang
Cahaya kasihmu harum
Seharum mawar dan melati
Yang tumbuh mekar dan berseri-seri
Di ladang ilmumu

Sungguh keagunganmu bagaikan langit biru
Luas tiada batas

Terima kasihku untukmu
SDN Reweng

***

Tepukan tangan dan teriakan “Yeeeehh…” tak terelakkan saat saya sudahi puisi saya itu. Puisi spontan yang saya lupa beri judul ini, rupanya menambah semangat para murid untuk membuat puisi dari sebelas kata yang tertulis di papan.

Alhasil, saya pun kagum dan semakin percaya bahwa anak adalah pribadi yang memiliki seribu potensi dalam dirinya. Galilah dan kembangkan potensi itu.

Tujuh anak tujuh puisi yang berbeda, lucu, dan menarik. Berikut ketujuh puisi tersebut.
.

.

Jendela
(Heldi)

Engkau melihat bayangan orang lain
Seperti melati dan mawar

Matahari menerangi ruang kelas
Gunung pun lihat
Sungai pun lihat
Pemandangan yang indah

Bintang pun lihat di malam hari
Langit biru pun indah melihatnya
Cahaya dapat memancarkan ruang kelas
Pintu pun terbuka
Pemandangan yang indah
.

Bulan
(Narti)

Bulan
Menjelang malam
Engkau muncul di balik awan
Cahaya dipegang

.

Matahari
(Milan)

Matahari

Sinarmu menerangi gunung sungai
Sinarmu menerangi mawar dan melati

Cahayamu biru yang cerah
Menembus jendela, pintu, sudut-sudut kelas

Pemandanganmu mengindahkan ruang kelasku
Terima kasih. Kau matahariku.

.


Matahari
(Fandri)

Oh Matahari
Engkau telah melindungi saya
Cahayamu menerangi gunung dan sungai

Cahayamu menembusi jendela dan pintu
Cahayamu harum seperti melati dan mawar

.


Bulan
(Wati)

Bulan
Dikau tampak malu-malu
Engkau menyelimuti gelap malam
Cahaya putihmu tulus

Matahari
Gunung
Bintang
Sungai
Karya dan warna-Nya

.

Matahari
(Asis)

Oh Matahari
Engkau menerangi ruang kelas
Menerangi mawar dan melati


Cahaya birumu bagaikan pintu dan jendela
Di waktu malam kau bagai bintang
Pemandanganmu mengindahkan ruang kelasku

.


Matahari
(Tefil)

Oh matahari
Engkau telah menerangi gunung dan sungai
Mengetuk pintu hatiku
Menerangi warna biru melati dan mawar

Jendela terbuka melihat pemandangan

Oh matahari engkau telah menerangi ruang kelasku
Terima kasih atas cahayamu

.

.

Sebelas Kata telah dipoles secara polos. Sebelas Kata digubah dengan perasaan dan kata-kata seadanya. Mereka lugu dalam membuat puisi. Kepolosan mereka tergambar jelas dalam setiap baris puisi-puisi mereka.

Uniknya, minimnya perbendaharaan kata rupanya menjadikan beberapa syair penuh makna.

Tentu hal ini sangat bergantung pada yang memberi makna terhadap syair dalam puisi, sebagaimana puisi itu berisi kata-kata kias dan kata-kata kias itu menggambarkan makna puisi itu.

Tengoklah syair lugu dari Narti: “//Bulan//, //Menjelang malam//, //Engkau muncul di balik awan// atau Milan yang mengatakan “//Matahari//, //Sinarmu menerangi mawar dan melati//.

Mungkin saja saat mereka menulis demikian, mereka tidak sadar akan apa yang mereka tulis. Tentu tidak berlebihan jika saya mengartikan bahwa mereka sedang melukiskan rasa bangga terhadap sosok guru. Bagi mereka, guru adalah pemberi harapan seperti bulan menjelang malam. Guru yang siap menembus tebalnya awan di malam kelam. Bulan yang muncul di balik awan memberi pesan, guru mampu menembus tebalnya “kegelapan” dan menghapus segala macam bentuk kebodohan agar “terang”.

Di lain sisi, gambaran yang diberikan Milan, guru hadir seperti matahari yang menyinari mawar dan melati. Saya yakin Milan tidak bermaksud untuk mengumpamakan murid/siswa dengan mawar dan melati, tetapi seorang guru paham bahwa siswa adalah mawar dan melati yang harum. Apalagi di ujung
syairnya Milan mengatakan “Pemandanganmu mengindahkan ruang kelasku” sembari menitipkan salam
ucapan terima kasih “Terima kasih! Kau matahariku”.

Syair polos yang menggambarkan karya Tuhan tergambar dari puisi yang ditulis Wati. Wati tahu bahwa “//matahari//, //gunung//, //bintang//, //sungai//” adalah karya dan ciptaan Tuhan.

Puisi ini ingin melukiskan indahnya Tuhan: “karya dan warna-Nya”. Walaupun agak tidak nyambung antara bait pertama dan kedua, syair terakhir pada puisi ini mampu menegaskan makna puisi bahwa matahari, gunung, sungai, merupakan karya indah Tuhan.

Puisi dapat saja lahir dari buah perasaan terhadap suatu benda.

Tefil melukiskan perasaannya pada matahari. Terhadap matahari dia mengungkapkan terima kasih atas jasanya berupa cahaya, “Terima kasih atas cahayamu”. Ada hal yang menarik dari apa yang ditulis Tefil. Dia benar-benar kagum pada matahari dan cahayanya: “Engkau telah menerangi gunung dan sungai”. Bagi Tefil, matahari sungguh berjasa. Menerangi tanpa meminta bayaran. Memberi kepada siapa saja. Menerangi gunung yang tinggi dan sungai yang mengalir di lereng-lereng gunung. Karena keikhlasan matahari, Tefil merasa terpanggil untuk ikhlas seperti matahari “Mengetuk pintu hatiku”.

Kepolosan dan kekurangan perbendaharaan kata yang ada pada puisi anak-anak hanya akan bermakna ketika kita menjelaskan atau menggali makna yang bisa dipetik dari setiap puisi. Kita mungkin akan marah dan merasa lucu dengan apa yang ditulis anak-anak yang seakan “asal jadi”, tetapi mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tak selamanya salah dan tak punya makna. Mereka akan bangga ketika sadar bahwa apa yang mereka buat bermakna bagi orang lain.

Sebagai pendidik, hal ini menjadi langkah yang baik untuk mengajarkan pada siswa untuk berkarya tanpa plagiat. Mengajarkan siswa menghargai karya sesama.

Saya hanyalah seorang guru di pedalaman. Saya bukan seorang penyair. Saya sangat menyadari bahwa makna atas sebuah tulisan selalu lahir dari pembaca. Terhadap Sebelas Kata dan ketujuh puisi ini, kita perlu merenungkan apa yang dikatakan Albert Einstein:

“Malanglah mereka yang tidak mampu untuk mengagumi, sebab mereka sebenarnya telah mati dan matanya sudah kehilangan cahaya untuk memandang”.

Ketujuh puisi ini telah ditulis oleh penulisnya masing-masing. Pengarang puisi ini telah “mati untuk menciptakan ruang lebar kebebasan tafsir” (Roland Barthes) atas puisi-puisi ini.

Selamat membaca, mengagumi, Sebelas Kata.

.

.

*) Penulis lahir di Detusoko, Ende, 10 Oktober 1992. Menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Makassar. Kini mengabdi sebagai guru di pedalaman Manggarai Timur, tepatnya di Elar, yang setiap pagi ke sekolah harus berjalan kaki kurang-lebih 45 menit. Suka sekali mengabadikan hal-hal unik yg dilakukan oleh anak-anak didik.

Check Also

Jangan Sensi, Sudara!

(Foto: https://goo.gl/images/H7RSZu)   Oleh: Wilson Watu* Jika Sudara berada di kelas ketika mengajar khususnya pada …

[PROMO BUKU BARU] Pada Jalan Pagi yang Sehat, Terdapat Inspirasi yang Kuat

(Foto: istimewa, dok. Penulis)   Judul: Pada Jalan Pagi yang Sehat, Terdapat Inspirasi yang Kuat …

One comment

  1. Kamilus A. Saleman

    Sukses selalu guru muda…
    Biarkan jasamu tertanam di sana
    Pada masanya akan selalu terkenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *