Home / Horizon / Horizon Literasi / Jangan Sensi, Sudara!

Jangan Sensi, Sudara!

(Foto: https://goo.gl/images/H7RSZu)

 

Oleh: Wilson Watu*

Jika Sudara berada di kelas ketika mengajar khususnya pada tingkat bawah Sekolah Dasar, sering Sudara jumpai siswi/a yang saling melapor, kadang untuk hal yang buat kita tertawa kecil.

Contohnya, “Pak, tadi Dodi sentuh baju saya waktu main kejar-kejaran”, “Bu, tadi Rina jahilin saya, namaku Anggita tapi dipanggil cuma Anggi”, “Bu tadi Tono nunjuk-nunjuk ke saya”, “Pak, waktu istirahat tadi Nonong bilang ‘yee’ ke aku”.

Jika Sudara seorang guru, tentu Sudara akan menjelaskan baik-baik pada anak-anak yang suka lapor tersebut. “Nak, namanya main kejar-kejaran. Kalau kamu kejar temanmu dan kamu berhasil tentu kamu akan sentuh dia juga, kan?”

Anak-anak yang masih lugu tersebut akan dengan polos bilang, “Iya Pak/Bu…”, sambil manggut-manggut.

Dalam konteks itu kita bisa pahami bahwa anak-anak usia itu masuk dalam tahap pra konvensional menurut Kohlberg, manakala anak-anak patuh untuk berbuat benar atau tidak karena adanya hukuman. Mereka tahu kalau temannya bisa jera berbuat ‘iseng’ kalau dapat hukuman guru. Mereka belum kenal negosiasi. Dalam tahap itu juga mereka memiliki ketergantungan yang masih cukup besar pada orangtua/guru.

Wajar saja. Usia mereka masih kecil.

Saling melapor itu biasa. Bagi mereka, semua hal harus dilaporkan meskipun itu kalah dalam bermain. Dalam usia itu, guru akan menjelaskan pada mereka tentang menang-kalah dalam bermain. Setelah itu pemahaman mereka akan perlahan-lahan berubah dan semakin matang.

Sebagai seorang guru Sekolah Dasar, saya menyaksikan langsung bagaimana seorang anak yang waktu kelas satu kerap menangis dan suka melapor pada guru karena kalah bermain, malah tertawa saat kejadian yang sama terulang saat mereka berada di kelas tiga Sekolah Dasar.

Seiring bertambahnya umur, mereka akan semakin mengerti bahwa tak semua masalah harus diselesaikan dengan cara melapor pada guru. Mereka akan belajar untuk bisa menyelesaikan itu dengan cara yang lebih mandiri.

 

Dalam politik, Sudara mungkin akan menjumpai hal sebaliknya. Mereka masuk dengan idealisme tinggi. Jika menggunakan bahasa Kohlberg, mereka masuk dalam politik dengan taraf perkembangan moral yang sudah berada pada tingkat yang paling tinggi, prinsip universal. Namun, di mana semua itu akan bermuara, Sudara? Elektabilitas!

Mereka hanya memperhitungkan satu hal, yaitu terpilih atau tidak, punya suara atau tidak. Mereka tak malu harus turun kelas. Fanatisme politik membuat perkembangan psikologis mereka mundur ke belakang. Mereka tak malu mempersoalkan “remah-remah” yang seharusnya berada di tempat sampah.

Mereka menghabiskan energi untuk saling melapor tentang hal-hal yang bahkan membuat mereka ditertawakan. Mereka kehilangan selera humor (padahal tingkah laku politik mereka sendiri merupakan humor gratis yang paling murahan).

Politik adalah contoh paling bagus untuk evolusi moral terbalik.

Jika perkembangan moral normal akan bermuara pada kemandirian, dalam politik itu akan terbalik. Puncak politik adalah ketergantungan pada elektabilitas. Tak lebih dari itu. Tak ada kemandirian dalam politik hari-hari ini.

Mereka cuma mengejar elektabilitas meski untuk itu mereka harus menjadi orang-orang “dungu”.

Apa yang harus dibuat? Tertawalah Sudara. Tak ada cara lain menikmati lawakan murah para politisi itu selain dengan menertawakannya. Bulan-bulan itu mereka akan rajin jualan remeh-temeh politik yang bikin Sudara naik pitam. Tak perlu ikutan sensi(tif). Justru itu yang mereka mau. Sudara sensi, mereka dapat suara.

Cukup katakan kalau mereka masih kelas satu Sekolah Dasar (dan tak akan pernah naik kelas)!

 

 

*) Penulis adalah Guru Sekolah Dasar.

 

Check Also

Layakkah Seorang Penjual Ikan Marah?

(Sumber gambar: Floresa.co) Oleh: Rio Nanto* Kunjungan Calon Wakil Presiden 02, Sandiaga Uno, di Flores, …

Dua Dasar Menjadi Guru Tangguh

(Sumber gambar: Muara Pendidikan) Oleh: Bonefasius Zanda* Sekolah tidak hanya merupakan gudang tempat semua ilmu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *