Home / Horizon / Horizon Literasi / Cerita dari Jogja: PBI DIY dan Becak Pustaka Pak Sutopo

Cerita dari Jogja: PBI DIY dan Becak Pustaka Pak Sutopo

 

Oleh: Unu D Bone*

 

Sesuai rencana, Sabtu, 24 Maret 2018 yang baru lalu, diadakan pertemuan pegiat literasi Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) wilayah D. I. Yogyakarta. Pertemuan ini dimaksudkan sebagai medium saling mengenal lebih dekat, berbagi pengalaman, dan saling mendukung, kebetulan Pak Anandito Birowo selaku salah satu penggerak jaringan PBI berkesempatan ke Jogja. Selain membahas beberapa tema penting seputar gerakan literasi yang sedang berjalan, Pak Anandito dan teman-teman yang terhimpun dalam jaringan PBI DIY ingin bertemu Pak Sutopo dengan Becak Pustakanya. Cerita tentang Pak Sutopo sudah pernah saya muat di postingan facebook beberapa waktu lalu.

Ringkasnya, pertemuan dan diskusi berjalan lancar. Tema-tema penting dibahas, termasuk berbagi strategi gerakan yang dipakai di TBM masing-masing, menjadi sharing yang menarik.

Hal yang tak kesampaian adalah kehadiran Pak Sutopo. Bukan karena Pak Sutopo! Persisnya, komunikasi yang tak bersambung dengan baik.
Sebelumnya, Ibu Asmariah Supriyadi selaku humas PBI DIY sudah mengabarkan kalau Bapak Sutopo sudah dihubungi, dan belau bersedia hadir.

Siang itu, dengan bersepeda saya menuju tempat pertemuan. Kebetulan rute saya memang melewati tempat Becak Pustaka Pak Sutopo biasa mangkal, depan SMPN 12 dan SMPN 14 Yogyakarta. Di sana saya melihat Becak Pustaka lagi mangkal, sementara Pak Sutopo dan seorang pemulung sementara asyik membaca di bawah naungan pohon asam yang rindang. Saya sempat mampir dan bertanya, Bapak tidak ikut? Beliau menjawab kalau menurut informasi katanya teman-teman yang akan mampir ke tempat beliau. Oke kalau begitu. Saya lanjut mengayuh sepeda menuju tempat pertemuan.

Memilih jalur melintasi rel kereta Stasiun Tugu, menyusuri jalan Malioboro lalu berbelok ke jalan KH. Ahmad Dahlan membuat saya cepat tiba di tujuan. Dengan bantuan Mbak resepsionis yang menyuguhkan senyum segar bin adem, saya tiba di ruangan pertemuan. Ini dia. Begitu bersalaman dengan Ibu Asmariah, beliau langsung menanyakan, “Pak Sutopo….?” Lhaaaa…. Saya pun menjelaskan kepada Ibu Asmariah sebagaimana yang terjadi. Ternyata informasi yang saya dapatkan dari Pak Sutopo dan yang dijelaskan kemudian oleh Ibu Asmariah berbeda. Bisa dimengerti, karena kontak kepada Pak Sutopo melalui telepon, dan telepon tersebut bukan dipegang oleh Pak Sutopo. Pak Sutopo tidak menggunakan HP. Bisa jadi komunikasi tidak terjembatani dengan baik. Akhirnya saya bersama Mas Bintang Akbar, dengan menggunakan sepeda motor kembali ke tempat Pak Sutopo untuk menjelaskan sekaligus mengundang lagi beliau. Setelah menjelaskan maksud kami, juga menjelaskan lokasi pertemuan, dan cukup meyakinkan ketika Pak Sutopo mengatakan beliau paham lokasi pertemuan itu, saya dan Mas Bintang Akbar kembali ke tempat pertemuan dan menyampaikan hasil perjalanan kami.

Pertemuan berjalan lancar. Hampir sejam, Pak Sutopo belum muncul. Saya dan Mas Bintang Akbar mengecek ke depan. Karena beberapa waktu belum kelihatan, kami mengecek lagi ke tempat mangkal Becak Pustaka. Tak ada. Sempat menyusuri jalan Malioboro juga, berbelok ke barat sampai sekitar parkiran Ngabean. Nihil. Kembali lagi, kami melaporkan pencarian yang tak berhasil. Akhirnya diputuskan, kami ikut saja sharing dan diskusi dulu.

Pada akhir pertemuan, sebelum Pak Anandito lebih dahulu pamit karena mepet jadwal keberangkatan kereta, belau menitipkan satu paket berisi beberapa buku untuk Becak Pustaka Pak Sutopo. Kebetulan saya yang sudah mengenal Pak Sutopo dan tahu rumah Pak Sutopo, paket tersebut dititipkan melalui saya. Hal yang sama juga paket buku yang sudah disiapkan oleh teman-teman PBI DIY yang ada saat itu. Teman-teman juga telah mengumpulkan sejumlah buku yang akan diserahkan kepada Pak Sutopo. Buku-buku tersebut juga dititipkan kepada saya.

Minggu siang, kemarin, saya mampir ke rumah Pak Sutopo. Beliau ada di rumah. Karena pangalaman kemarin membuat saya penasaran, saya bertanya kepada beliau perihal kemarin itu. Titik terangnya muncul. Sebenarnya beliau sudah datang kemarin. Hanya beliau ragu masuk ke dalam, dan tak dilihatnya orang yang menunggu di depan. Selain itu, mendung yang perlahan berubah jadi gerimis kecil membuat Pak Sutopo memilih menyelamatkan buku-bukunya dengan pulang ke rumah. Meskipun becaknya sudah ditutupi sedemikian rupa, beliau sendiri tak menjamin keselamatan buku-buku itu dari rembesan air hujan di atap becak.

“Oalaaaahhhh, Pak….”

 

(Foto: Dok. Pribadi Unu D Bone)

 

Sebagai penutup, dengan ini saya mengabarkan bahwa paket dari Pak Anandito dan kawan-kawan PBI DIY sudah tiba dengan selamat di tangan Pak Sutopo. Salam hangat dan terima kasih dari Pak Sutopo kepada Pak Anandito dan kawan-kawan PBI DIY: Ibu Asmariah Supriyadi, Mas Faiz Ahsoul, Mas Fikri Fadh, dkk.

 

Salam #Bergerak..!

 

*) Penulis adalah pegiat Gerakan Literasi Anak dan Kampanye Baca Buku TAS PUSTAKA. Basecamp: Karangwaru Lor TR II/49, RT.009/RW003 Tegalrejo, Yogyakarta.

Informasi dan dokumentasi kegiatan: Instagram @taspustaka.

Check Also

Bahasa Ibu: Penyokong Kebudayaan dan Pendidikan

(Sumber gambar: kebudayaan.kemdikbud.go.id) Oleh: Filio Duan* Dalam artikelnya, “Penguatan Bahasa Ibu untuk Memajukan Kebudayaan”, Hamidulloh …

Dua Dasar Menjadi Guru Tangguh

(Sumber gambar: Muara Pendidikan) Oleh: Bonefasius Zanda* Sekolah tidak hanya merupakan gudang tempat semua ilmu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *