Home / Horizon / Horizon Kampus / Bagaimana Menjadi Mahasiswa yang Sukses?

Bagaimana Menjadi Mahasiswa yang Sukses?

(Sumber gambar: liputan6.com)

Oleh: Jonatan Lassa*

Saya kuliah di sebuah Universitas Katolik di Kota Kupang. Awalnya tidak terlalu bersemangat karena tidak ada niat kuliah. Sekadar menyenangkan hati Mama. Tidak pernah berharap akan menjadi mahasiswa sukses yang 20 tahun kemudian mampu berkarier secara internasional di beberapa negara termasuk saat ini di Australia.

Saat itu awal September 1993. Toko Buku “Istana Beta” letaknya di depan kampus lama di Kelurahan Merdeka, Kupang. Saya kos di sebuah rumah alang-alang – mungkin satu-satunya rumah beratap alang-alang di Merdeka Kupang saat itu. Jarak rumah kos ke Toko Buku “Suci” hanya 150 meter. Saya mencoba singgah di toko buku tersebut. Dan mata saya langsung tertuju pada sebuah buku berjudul “Management Waktu: Suatu Pedoman Pengelolaan Waktu yang Efektif dan Produktif”. Penulisnya Harold L Taylor. Cover-nya hitam, edisi 1990, yang saya baca itu. Tahun terbitan bahasa Inggrisnya, 1981.

Saya tidak lagi ingat persis isinya. Yang saya ingat adalah buku tersebut saya baca sampai selesai dengan penuh gairah. Ini buku pertama yang saya baca secara tuntas hanya dalam waktu 2 jam seumur hidup saya. Bukunya tipis. Namun itu merupakan langkah awal yang memberikan “sense of purpose” bagi saya. Tentang bagaimana pentingnya membagi waktu. Menentukan waktu tidur 7-8 jam sehari. Membaca 3-4 jam sehari. Sisanya mengikuti kuliah, mengunjungi keluarga satu per satu dari keluarga Papa dan Mama di Kupang sambil makan siang/malam gratis. Tiap weekend mengikuti kegiatan mahasiswa. Sedangkan hari Minggu agendanya mengunjungi rekan-rekan eks SMA 1 SoE yang bertebaran di Kota Kupang.

Nah, tulisan saya ini ditujukan buat adik-adik di Indonesia, calon mahasiswa baru.

Anda termasuk yang beruntung yang tidak lebih dari 700 ribu orang (dari lebih kurang 1.4-1.5 juta lulusan SMA) tahun 2015/2016 (redaksi HD: data dan tahun ajaran selanjutnya tinggal disesuaikan oleh masing-masing pembaca – ini tulisan lama, tapi pesannya tentu selalu aktual).

Di Indonesia, kini lagi musim orientasi mahasiswa baru. Kuliah pertama mungkin akan mulai pada bulan September, kan? Di Australia, kami baru saja memulai semester baru. Seru, bagi semua yang mau belajar serius! Mengapa seru? Ya, seru saja karena waktu akan terasa begitu cepat mengalir dari satu semester ke semester lainnya. Dan Anda kemudian akan tiba di titik yang mana tidak ada kesempatan kembali memperbaiki masa depan Anda selain penyesalan atas masa lalu.

Rencanakan Hidup Anda!

Dalam sebuah makan malam 6 bulan lalu di rumah rekan saya dari India, seorang teman bule Australia bertanya kepada kami: apa yang membuat kamu mau menjadi akademik? Bagi teman saya dari India, ceritanya tentu indah. Dia adalah juara di kelasnya juga di sekolahnya dan yang terbaik di kota negara bagiannya.

Kita tahu kampus-kampus universitas di India kelasnya mungkin di atas kelas universitas kita di Tanah Air. Sangat jarang kita dengar alumni-alumni kita bisa go international bila belum mendapatkan ijazah dari universitas di Barat. Tidak bagi India. Ribuan ilmuan India bisa bekerja di negara mana saja walaupun tamat hanya dari universitas di negara bagian di India.

Sedangkan saya adalah kebalikannya. Hidup tanpa rencana! Ketiadaan prestasi kadang membuat orang tidak memiliki ambisi. Rangking sebagai prestasi naik turun, tergantung kondisi lingkungan. Dan masuk jurusan pun karena tetangga yang menyarankan. Bayangkan! Hidup tanpa visi! Tidak selalu buruk. Karena hidup tidak selalu bisa diprediksi. Saya tidak berencana kuliah setelah tidak lulus PMDK ke Universitas Indonesia. Maklum, nilai rapor saya tidak konsisten walau tamat dengan nilai tertinggi. Pendaftaran ke universitas pun 100% dilakukan Mama karena saya asyik camping setelah selesai SMA. Meski kemudian saya harus kuliah di Timor Barat dengan kondisi kampus yang pas-pasan, yang bagi kami saat itu, tidak ada pilihan yang lebih baik. Dan bagaimana tidak bersyukur? Tidak banyak yang bisa kuliah. Tidak ada waktu untuk disesali. Hidup di mana pun toh harus kita hidupi secara lebih strategis dan taktis sambil berharap ada peruntungan di tiap saatnya.

Tips sebagai Mahasiswa Baru

Seorang adik bertanya pada saya, “Kalau Kaka ditakdirkan lahir kembali ke bangku kuliah sebagai anak semester 1, apa yang akan Kaka lakukan?”

Pertanyaan ini menjadi menarik. Ada empat hal yang saya pikirkan saat itu. Saya coba meneruskan yang sudah saya lakukan sebelumnya.

Pertama, punya sense of purpose: ke mana saya akan pergi setelah kuliah S1? Ini tentu penting sekali.

Arah hidup lebih penting dari sekadar bolak-balik ruang kuliah tiap hari!

Karena hari ini bukan soal hari ini. Tapi, soal ke mana Anda akan pergi. Saya akan membeli buku tentang management waktu dan soal strategi menjadi mahasiswa yang sukses. Punya gaya hidup yang terencana! 

Kedua, biasakan diri membaca 3-4 jam sehari. Selama SD hingga SMA di pedalaman Timor Barat, kami tidak punya buku bacaan. Praktis tidak banyak yang dibaca selain buku pelajaran. Saat kuliah, sejak semester 1, saya ingat tiap minggu saya bisa menghabiskan 2-3 buku bacaan di luar bacaan wajib anak-anak teknik sipil tempo dulu. Tidak peduli di mana Anda kuliah. Toh, kita tak pernah bisa memilih tempat lahir.

Bila Anda tinggal di pedalaman Flores, Sumba, Timor, Papua hingga Sulawesi dan Kalimantan, tidak perlu tangisi soal hal-hal ini. Saya pembaca setia Majalah Konstruksi yang saat itu di Kupang cukup mahal. Di tempat kuliah saya, ada bundelan Majalah Konstruksi yang cukup menolong anak-anak kampung seperti saya membayangkan teknologi-teknologi terkemuka di tanah Jawa saat itu. Tentu Anda punya kelebihan hari ini. Dengan internet, Anda bisa belajar kalkulus langsung dari MIT dan profesor-profesor top. Membayangkan teknologi yang rumit-rumit tidak lagi sepenuhnya harus menunggu lama.

Kuliah di kampung, tidak harus membuat kita tertinggal. 

Ketiga, terus belajar bahasa asing terutama bahasa Inggris. Saya termasuk yang cukup laris sewaktu tamat kuliah. Tidak pernah menganggur walaupun sering kali mengundurkan diri dari tempat kerja karena perbedaan prinsip dan diskriminasi alumni. Belajar bahasa Inggris secara mandiri karena harus berhemat uang saku. Tetapi cerita awalnya tidak mudah. Dinding kos saya seringkali saya tanduki karena marah, lantaran sering lupa vocabulary yang dihafal hari kemarin. Teman-teman saya yang IPK tidak mentereng sering mendapatkan pekerjaan lebih cepat karena mampu berbahasa asing. 

Keempatberorganisasi secara lebih taktis sejak awal. Tanpa pengalaman berorganisasi, kita tidak punya exposure yang cukup dalam kerja tim dan conflict management dan leadership skill yang sehat. Saya harus membuat analisis yang lebih rasional tentang organisasi mana yang saya harus masuki, termasuk melihat kualitas almunus-alumnus yang bisa memberikan role model bagi saya. Tetapi jangan lama-lama dalam memutuskan karena tidak ada organisasi yang sempurna!

Sedangkan yang Akan Saya Lakukan Adalah?

Pertama, membaca buku Soe Hok Gie. Saya sering mencari model mahasiswa ideal saat itu. Yang sering saya dengar adalah cerita-cerita anak-anak di kampus-kampus besar seperti ITB dan Petra. Maklum, dosen-dosen idola kami adalah alumni kedua kampus tersebut. Tetapi masih rajin baca dan berbahasa. Sosok Soe Hok Gie saya baca ketika semester 9, saat masa skripsi, mana kala kuliah sudah hampir selesai. Dalam dirinya, saya temukan sosok demonstran yang intelektual bukan pengekor. Ada gairah bergelora tentang bagaimana membuat dunia kita lebih baik, tentang perubahan sosial. Tentang intelektual yang terlibat dengan persoalan-persoalan sosial kebangsaan. Demonstran yang anti nyontek dan tidak korupsi uang kepanitiaan pembubaran panitia ospek. Betapa menyesal saya menjadi puritanist dalam melihat organisasi sosial. Menghindari para anggota senat yang sering saya pikir tidak layak karena tukang nyontek. Mental pemberontak saya tidak tersalur secara baik dan kemudian tidak terlatih, selain melalui tulisan-tulisan protes. 

Keduasaya akan membaca tetralogi-nya Pramoedya Ananta Toer sejak semester 1. Mengapa?

Karena dalam “Bumi Manusia”, ada spirit tentang menjadi berdaulat secara pengetahuan. Minke memiliki visi kedaulatan berpengetahuan. Dan spirit ini yang justru hilang dari kampus-kampus.

Tentang bagaimana dosen-dosen hanya menjadi rantai konsumerisme pengetahuan Barat tanpa mampu memproduksi sendiri pengetahuan baru dengan harga yang tidak terlalu mahal. 

Ketigasaya akan menggantikan ilmu teknik sipil saya dengan jurusan lain. Salah satu dari keempat ini: matematika, fisika, sosiologi, dan filsafat. Bukan karena saya tidak mencintai teknik sipil, tetapi karena tidak ada yang menjelaskan soal pentingnya ilmu-ilmu dasar tadi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial. Tetapi bila saya harus tetap di teknik sipil, saya akan mencitainya dua kali lebih sungguh. 

Keempat, mencari duit untuk lebih banyak ke luar pulau sejak masih mahasiswa. Visi ini penting! Tanpa melihat dunia yang lain, mungkin kita tidak pernah benar-benar menghargai dunia tempat kita lahir dan bertumbuh.

Sekian dulu ya! Selamat menempuh studi sebagai mahasiswa baru! Sebagaimana Ibu dan Ayah, Indonesia juga menanti karyamu!

.

.

*) Penulis adalah TKI di Darwin, Australia. Informasi lebih dalam tentangnya dapat disimak, salah satunya di sini.

Check Also

SURAT TERBUKA, Kepada Kapolda NTT

(Foto: istimewa)     Kepada Yth. Kapolda Nusa Tenggara Timur di  Tempat   Dengan hormat, …

EK LMND Tuban Gelar Aksi Menangkan Pancasila 

  Puluhan mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Posko ‘Menangkan Pancasila’ Kabupaten Tuban melakukan aksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *