Home / Horizon / Horizon Internasional / Cancosa dan Perayaan Peringatan Santo Filipe

Cancosa dan Perayaan Peringatan Santo Filipe

(Prosesi Patung Santo Filipe dan Santa Maria – foto: istimewa)

 

Oleh: Yanto Lobo* 

 

Setiap tanggal 3 Mei, Gereja sejagat mengenang dan mendoakan Santo Filipe sebagai Rasul Yesus dalam bilangan keduabelasan. Santo Filipe menjadi Patrono (Santo Pelindung) sebuah kampung kecil di Utara Chile. Cancosa, namanya. Semua masyarakat yang tinggal dan menetap di sana, juga masyarakat Cancosa yang berdomisili di luar Cancosa, ikut ambil bagian dalam perayaan religius ini. Cancosa menjadi salah satu stasi dari Paroki San Andres – Pica. Semua urusan pastoral yang berhubungan dengan Cancosa menjadi tanggung jawab perangkat Pastoral Paroki San Andres – Pica.

Kami ikut ambil bagian dalam perayaan tahunan ini. Sebuah pengalaman yang menarik dan luar biasa, yang tersaji dengan begitu khidmat di Cancosa. Masyarakatnya mempunyai sebuah sense of religious yang mantap, sehingga perayaan ini dipersiapkan dan dikemas dengan baik.

 

Cancosa

Cancosa terletak di Utara Chile. Utara Chile adalah sebuah dataran padang gurun abadi, dengan curah hujan yang tidak banyak setiap tahunnya.

(Kampung Cancosa – foto: istimewa)

Cancosa menjadi bagian dari region Tarapaca, sebagaimana sebuah provinsi di Indonesia. Cancosa terletak pada ketinggian 3962 meter dari permukaan laut. Hal ini membuat udara pada malam dan pagi hari menjadi sangat dingin, selain karena Cancosa terletak di kaki jajaran bukit Los Andes dengan salju abadi.

Masyarakat setempat menghidupi budaya dan bahasa mereka sendiri. Bahasa setempat mereka disebut Aymara. Oleh beberapa orang, dijelaskan bahwa Aymara merupakan bahasa (budaya) Bolivia. Hal ini beralasan, karena Cancosa sebelumnya masuk dalam kawasan Bolivia, tapi sekarang menjadi wilayah negara Chile.

Penggunaan bahasa Aymara hanya di antara sesama orang Cancosa. Bahasa yang mereka gunakan di antara mereka sendiri adalah sebuah sarana yang dipakai untuk saling menguatkan tali persaudaraan di antara mereka.

Kami memulai perjalanan kami ke Cancosa dari Pica. Bagi saya, perjalanan menuju Cancosa adalah sebuah perjalanan dengan tidak banyak keindahan alam yang ada. Sedikit membosankan. Kepada para pejalan hanya disajikan padang gurun yang tidak ada batasnya. Dalam dua jam perjalanan kami sejak dari Pica, kami akhirnya tiba di Salar de Huasco. Salar de Huasco adalah sebuah tempat pariwisata yang juga cukup terkenal di kawasan Utara Chile. Salar de Huasco terletak di tengah padang gurun. Dari kejauhan, tempat ini jelas terlihat bagai sebuah laut yang cukup tenang. Namun setelah tiba, Salar de Huasco ternyata hanya sebuah hamparan es yang begitu luas. Salar de Huasco menjadi sebuah tempat yang tenang dan damai. Di tempat itu tidak ada pemukiman, juga tidak ada penjagaan sebagaimana di tempat pariwisata umumnya.

Kami hanya sedikit berhenti untuk mengabadikan moment dan tempat tersebut. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Cancosa. Jarak yang ditempuh 114 Km, dalam tiga jam perjalanan.

 

Perayaan Peringatan Santo Filipe

(Foto: istimewa)

Kami akhirnya tiba di Cancosa, disambut dengan dingin yang tidak biasa. Sewaktu kami tiba di Cancosa, sudah berkumpul banyak orang di depan Kapel. Di depan Kapel, berdiri sepasang suami istri. Mereka berpakaian adat setempat. Mereka adalah Alferez. Alferez adalah mereka yang diberi tanggung jawab untuk menangani Perayaan Peringatan Santo Filipe pada tahun bersangkutan. Setiap tahun, Alferez selalu diganti. Di depan Kapel, mereka berdiri. Itu kapel tua, yang di dalamnya ditahtakan Patung Santo Filipe juga Santa Maria. Santo Filipe diyakini sejak dulu sebagai seorang Santo Pelindung Kampung Cancosa dan Santa Maria diyakini menjadi pelindung Negara Chile.

Perayaan peringatan Santo Filipe didahului dengan Vispera (ibadat senja hari). Ibadat ini dirayakan sehari sebelum pesta Santo Filipe. Ibadat ini dirayakan sebagai sebuah upacara pembuka Pesta Santo Filipe. Imam yang merayakan Vispera kemudian juga akan merayakan misa peringatan Santo Filipe. Selesai Vispera tidak ada aktivitas lagi. Semua mempersiapkan diri untuk perayaan Ekaristi peringatan Santo Filipe pada hari berikutnya.

Hari berikutnya, kami merayakan Perayaan Ekaristi sebagai Perayaan kenangan akan Santo Filipe. Semua umat ikut ambil bagian. Sebagian nyanyian dalam perayaan dinyanyikan dalam bahasa setempat dengan diiringi alat-alat musik tradisional. Pada bagian akhir perayaan, sebelum imam memberikan berkat penutup, diadakan prosesi mengelilingi Kampung Cancosa. Prosesi yang dibuat melibatkan semua umat.

Kedua Patung diarak keliling kampung. Patung ditahtahkan dan pada prosesinya, Patung harus melewati empat stasi. Pada masing-masing stasi akan dilantunkan lagu dalam bahasa Aymara dan sebuah doa permohonan. Doa permohonan pada umumnya dilantunkan masing-masing untuk Kampung Cancosa, kepada masyarakat yang tinggal di Cancosa, para pendatang, juga kepada Alferez. Lalu pada akhir pentahtaan Patung, imam akan memberkati Kedua Patung dan segenap umat yang hadir.

Keempat stasi yang dimaksud memiliki arti tersendiri. Masyarakat Cancosa meyakini bahwa Tuhan yang diimani ada di empat penjuru mata angin. Keempat stasi juga melambangkan keempat musim yang ada di Cancosa, juga di Chile umumnya.

Setelah semua prosesi dilaksanakan dengan baik, semua umat kembali ke Kapel. Perayaan Ekaristi diakhiri dengan berkat meriah oleh imam yang merayakan perayaan tersebut. Setelah perayaan Ekaristi, semua umat diundang untuk makan bersama. Pesta sebagaimana biasanya, dimulai setelah Perayaan Ekaristi. Setelahnya, semua umat masuk dalam suasana pesta. Tepat depan Kapel, berdiri sebuah panggung cukup besar. Itu panggung pesta. Selama perayaan itu berlangsung, semua urusan yang berkaitan dengan pesta dilaksanakan di panggung tersebut.

Masyarakat setempat sungguh memaknai perayaan tersebut dengan baik. Mereka meyakini bahwa dengan melaksanakan ritual tahunan tersebut dengan baik, Santo Filipe akan selalu mendampingi dan melindungi Kampung Cancosa dan segenap umat yang tinggal disana.

Keesokan harinya, dibuat sebuah Laudes (ibadat singkat) pada pagi hari. Laudes ini dibuat sebagai sebuah penghormatan kepada Santo Filipe. Pada tengah hari, dirayakan sebuah Perayaan Ekaristi penutupan. Semua rasa syukur dipersembahkan dalam Perayaan Ekaristi tersebut. Keseluruhan pesta diakhiri dengan makan siang bersama.
Setelah makan siang bersama, kami kembali ke Pica.

(Penulis bersama umat Cancosa – foto: istimewa)

Sepanjang perjalanan pulang, sambil memandang hamparan padang pasir yang ada, saya bersyukur karena bisa mengambil bagian dalam perayaan tahunan tersebut. Tidak ada hal istimewa apalagi sesuatu yang luar biasa pada perayaan tahunan ini selain menjadikan pengalaman ini sebagai bagian dari misi dan memberikan diri. ***

 

 

*) Penulis adalah pemuda asal Were – Indonesia, tinggal di Chile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *