Home / Goresan dari Jauh / Pertanyaan “Mengapa?”

Pertanyaan “Mengapa?”

(Sumber gambar: kompasiana.com)

Salam jumpa lagi,

Saudari/a, manusia punya insting dasar untuk bertanya: “Mengapa?” Manusia bukan hanya ingin mengetahui, tapi ingin mencari sebab dan alasan. Ia ingin memahami! Insting dasar ‘mencari’, sebab hal-ihwal ini sekaligus salah satu hal paling penting dalam pendidikan.

Mengapa?

Pertama, mengetahui alasan atau sebab merupakan salah satu tanda bahwa orang bukan hanya tahu, melainkan tahu dengan baik – tanda bahwa orang memahami. Dalam hidup sehari-hari, tahu dengan baik bisa menolong secara praktis. Saya tahu teman sedang demam. Namun, dokter yang paham tentang gejala demam tersebut akan menolongnya dengan obat yang efektif, karena dokter paham bahwa jenis demam tersebut adalah demam tifoid atau demam malaria. Virgil menulis: “Bahagianya manusia yang mampu mengetahui sebab dari hal-ihwal” (felix, qui potuit rerum cognoscere causas).

Mengetahui alasan dari hal-ihwal dapat membantu orang hidup lebih baik, lebih bermakna, dan dengan sendirinya: lebih bahagia.

Kedua, dalam ilmu pengetahuan, mengetahui alasan di balik sesuatu menunjukkan ciri keilmiahan suatu hal. Orang dianggap punya pengetahuan ilmiah, jika ia bukan hanya mengetahui suatu fakta, tapi juga alasan di balik fakta itu. Sebagai contoh, orang tahu apa itu gerhana bulan. Cukup jika gerhana terjadi, dan orang ditunjukkan bahwa fenomena tersebut dinamakan sebagai gerhana, maka orang akan tahu. Namun, walau orang tahu fakta yang ada, seorang disebut punya pengetahuan ilmiah tentang gerhana bulan jika ia tahu alasan di balik gerhana.

Dalam contoh Aristoteles, orang kebanyakan dapat membuat definisi tentang gerhana bulan, misalnya “bulan menjadi gelap tanpa halangan bagi visibilitasnya” (awan, daun lebat, dan sebagainya). Namun, definisi tersebut ilmiah kalau orang mengetahui alasannya. “Bulan menjadi gelap tanpa rintangan bagi visibilitasnya, karena bumi berada di antara bulan dan matahari”.

Sikap ilmiah, dengan demikian adalah sikap yang cenderung mencari sebab atau alasan di balik fenomena, bukan hanya sekadar puas dengan fenomena seadanya.

Ketiga, mengetahui sebab atau alasan juga merupakan awal dari kebijaksanaan atau filsafat. Filsafat selalu bermula dari pertanyaan: “Mengapa?” Mengapa begini, dan bukan begitu? Mengapa sesuatu ada, bukannya tiada? Apa alasan bahwa demokrasi atau masyarakat madani mesti dipertahankan?

Jika orang hanya mendefinisikan arti dari demokrasi atau masyarakat madani, misalnya, ia hanya membuat teori politik. Namun, jika secara argumentatif orang mencari alasan terakhir, sebab dasariah dari adanya demokrasi atau masyarakat madani, orang tersebut melakukan filsafat (politik). Ia menyediakan suatu alasan rasional bagi suatu fenomena (politik).

Keempat, pertanyaan “Mengapa?” dapat menghantar pada Allah. Jika secara ilmiah orang dituntun pada “sebab” di balik realitas, orang pun dapat sampai pada pertanyaan tentang “sebab di balik sebab realitas”.

Sebagai contoh, dalam ilmu pengetahuan orang bertanya tentang asal mula dunia. Apa sebab atau bagaimana awal mula adanya dunia? Jawaban secara ilmiah: “Ledakan Besar” (Big Bang). Namun, orang yang kritis dan mempunyai kebiasaan bertanya “Mengapa?”, tentu bertanya: “Mengapa Big Bang?” Jika Big Bang adalah “sebab dari semesta”, lalu apakah sebab dari Big Bang, atau “sebab dari ‘sebab semesta’” tersebut? Jawaban ilmuwan ateis: “tidak ada sebab dari Big Bang”. Big Bang adalah sebab terakhir, semacam Tuhan-nya kaum ateis.

Namun, Saudari/a, secara rasional orang tahu bahwa Big Bang adalah sebuah peristiwa, sebuah proses, bukan sebab inteligibel. Jika Big Bang ada, harus ada Big Banger, atau sebab dari Big Bang. Sebab tersebut mesti berintelek, karena tidak mungkin makhluk brutal dapat menjadi sebab keteraturan kosmos. Sebab tersebut harus juga menjadi sebab terakhir dari semesta yang mencukupi keberadaan dirinya, karena tidak mungkin dipikirkan adanya deretan tanpa henti tanpa sebab sementara.

Sebab dari “sebab semesta” (Big Bang) tersebut, secara religius dinamakan Allah.

Karena itu, insting untuk bertanya “Mengapa?” adalah insting dasar yang perlu dikembangkan dalam pendidikan. Ada gejala bahwa insting ini bertumbuh subur saat kecil, tapi dalam kurun waktu tertentu dimatikan secara sosial. Kita sering dengar jawaban: “Anak kecil tahu apa?”, “Anak kecil jangan banyak tanya!”, Anak kecil mau tahu juga?”, dan seterusnya, yang justru mematikan insting mencari alasan di balik fenomena.

Seorang anak yang bertanya banyak memang sering menjengkelkan. Namun, Saudari/a, betapa pun menjengkelkannya, tetap bahwa insting ini yang membuat orang berkembang sebagai manusia yang penuh, juga menjadi salah satu sebab perkembangan ilmu, filsafat, dan peradaban.

Ia juga dapat membawa orang pada suatu religiositas yang sehat. Insting ini mesti dipelihara dan dikembangkan secara sosial.

Caranya? Para guru ahlinya!

Salam…

.

Sil Ule, SVD

Penulis, pastor, dan misionaris Serikat Sabda Allah, berkarya di Afrika.

Check Also

Pendidikan Holistik

(Sumber gambar: areabaca.com) Salam hangat, Semoga pembaca setia Horizon Dipantara di tanah air dan di …

Literasi: Soal Kualitas

(Sumber gambar: Lampost.co) . Salam damai buat semua, Saya tertinggal banyak soal hangat di tanah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *