Home / Goresan dari Jauh / Penilaian Logis dan Historis

Penilaian Logis dan Historis

Salam jumpa kembali, Saudari/a.

Penilaian kita akan realitas dapat dianalogikan dengan otak manusia. Konon, otak manusia mempunyai dua bagian. Otak kanan merupakan instrument bagi pikiran intuitif, kontekstual, praktis, jangka panjang. Otak kiri merupakan alat berpikir analitis, logis, pikiran hitam-putih.

Otak sebelah kanan berhubungan dengan “dan/maupun”, sementara otak sebelah kiri berhubungan dengan “atau/atau”. Atau meminjam istilah skolastik, otak kanan berhubungan dengan “aktus pertama pikiran”.

Contohnya, memahami konsep dasar “jahat” atau “orang yang melakukan kekerasan”. Di sini, orang berusaha memahami sebuah konsep dasar. Ia bersifat praktis dan yang dipentingkan bukan soal pilihan benar-salah, melainkan soal memahami konsep dasar.

Sementara otak kiri berhubungan dengan “aktus kedua pikiran”, yang berhubungan dengan perbandingan antarkonsep. Contoh, konsep dasar “jahat” dibandingkan dengan konsep dasar “orang yang menganjurkan kekerasan”, menghasilkan perbandingan antarkonsep: “orang yang menganjurkan kekerasan itu jahat”.

Otak kiri juga berkaitan dengan “aktus ketiga pikiran” yaitu berdasarkan kebenaran sebuah proposisi sebagai premis, orang membuat kesimpulan yang lain. Contoh: “Orang yang melakukan kekerasan itu jahat”, “Yang jahat tak pantas diikuti”. Kesimpulan: “Orang yang menganjurkan kekerasan itu tak pantas diikuti”.

Dalam penilaian terhadap realitas, otak kanan berhubungan dengan pengenalan historis atau sejarah. Sejarah terutama berhubungan dengan pengenalan akan realitas dan peristiwa, dan sejarawan yang baik tentu berusaha memahami data seluas mungkin. Tentu ia juga memilah mana data yang benar atau salah, tapi perhatiannya terutama pada evidensi data yang ada. Kata kuncinya: dan/maupun.

Di sisi lain otak kiri berhubungan dengan logika, atau penilaian hitam-putih, serta perbandingan antarkonsep. Hal yang benar yang ditemukan secara historis ditentukan secara logis dalam penilaian hitam-putih sebagai benar atau salah. Pertimbangan logis terdapat dalam doktrin matematis, etis, atau religius. Kata kuncinya: atau/atau.

Namun, soalnya sekarang ialah bahwa sering kedua aktus pikiran tersebut seakan dikacaukan dalam penilaian tentang realitas. Hal yang butuh penilaian historis, sering dikacaukan dengan logika sederhana. Sementara doktrin tertentu yang sebenarnya butuh penilaian logis sederhana, dikacaukan dengan penilaian historis.

Sebagai contoh, orang sering mengalamatkan terorisme dengan agama tertentu. Padahal, terorisme sebenarnya butuh penilaian historis yang njlimet. Menyamakan terorisme dengan Islam atau inkuisisi dengan Katolik, tentu bermasalah, karena pada dasarnya mereka justru bertentangan dengan ajaran agama yang sehat. Namun, sebagai ideologi atau doktrin, mesti terdapat penilaian hitam-putih, bahwa terorisme buruk, dan inkuisisi memalukan.

Jadi, secara logis, soalnya sangat sederhana, bahwa dua proposisi yang bertentangan satu sama lain, mesti salah satunya salah atau benar – jika yang satunya benar, yang lainnya salah. Namun, secara historis, untuk pengetahuan historis, pengetahuan intuitif tentang realitas, yang merupakan serapan dan akumulasi sejarah, maka proposisi hitam-putih tidak bisa diterapkan. Sebagai contoh, doktrin matematis logis: 1+1+1=3. Namun secara historis, doktrin Tritunggal sedemikian kompleks.

Atau contoh lain, orang sering menganggap bahwa kelompok kami yang paling benar. Padahal, soal penilaian tentang sebuah kelompok butuh pertimbangan historis, karena orang lain juga punya sejarahnya sendiri yang unik dan benar. Namun, soal doktrin yang butuh penilaian hitam putih seperti “menipu itu dosa”, “kekerasan itu buruk”, “mau benar dan menang sendiri itu salah”, justru dipakai dalam penilaian historis, bahwa “kelompok kami bisa melakukan kekerasan, karena kami yang paling suci dalam sejarah”. Padahal, penilaian historis tersebut belum tentu benar secara historis. Yang ada hanya pembalikkan nilai-nilai.

Masih banyak contoh pembalikkan penilaian akan realitas, yang merugikan peradaban dan kemanusiaan. Karenanya, penting orang mengerti sejarahnya sendiri dan sejarah dunia, sekaligus sebentuk sikap kritis dalam menilai realitas.

Musuh kita yang paling dekat adalah radikalisme, yang mengacaukan penilaian logis dengan kebanggaan historis. Radikalisme bukan milik agama tertentu, tapi secara historis ada pada semua agama. Radikalisme selalu berangkat dari ketidaktahuan, tapi lebih berbahaya jika ketidaktahuan dibanggakan dengan penilaian historis.

.

Demikian,

Salam saya

.

.

Sil Ule, SVD

Penulis, pastor, dan misionaris Serikat Sabda Allah, berkarya di Afrika.

Check Also

Pendidikan Holistik

(Sumber gambar: areabaca.com) Salam hangat, Semoga pembaca setia Horizon Dipantara di tanah air dan di …

Literasi: Soal Kualitas

(Sumber gambar: Lampost.co) . Salam damai buat semua, Saya tertinggal banyak soal hangat di tanah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *