Home / Goresan dari Jauh / Mengetahui dan Memahami

Mengetahui dan Memahami

(Sumber gambar: alumni.sv.ugm.ac.id)

Saudari-saudara terkasih,

Pendidikan dianggap sebagai transfer pengetahuan. Namun, lebih baik kiranya jika pendidikan jadi medan pembentukan pemahaman.

Walau sering disamakan artinya, kita bisa bedakan antara ‘pengetahuan’ dan ‘pemahaman’.

Pengetahuan berhubungan dengan koleksi ide yang dipelajari atau dihafalkan. Sementara pemahaman berhubungan dengan alasan di balik pengetahuan.

Orang yang mampu menghitung 1+1+1=3 adalah orang yang berpengetahuan. Ia punya pengetahuan matematis. Namun, saat orang tahu mengapa 1+1+1=3, maka ia dianggap memahami.

Seorang pelajar ilmu kedokteran bisa saja punya pengetahuan tertentu mengenai gejala penyakit tertentu. Demam diselingi dengan bibir pecah-pecah tandanya panas dalam. Namun, seorang dokter profesional pasti tahu dengan baik alasan di balik penyakit tersebut. Dokter tersebut memahami penyakit yang ada.

Peradaban yang kian maju sering berisi orang yang tahu, tapi kurang pemahaman.

Orang tahu membangun jalan, gedung, dan rumah, tapi sedikit yang memahami relevansi peradaban bagi kemanusiaan.

Pengetahuan sering berkaitan dengan teknik, tapi pemahaman berhubungan erat dengan filsafat. Teknik berkaitan dengan “know how”, sementara filsafat berhubungan dengan “mengapa”, “why”. Tentu saja filsafat di sini dimengerti secara tradisional, sebelum dikacaukan oleh kecenderungan analitis, atau sekadar permainan bahasa.

Dalam agama, pengetahuan berhubungan dengan isi doktrin, sementara pemahaman berhubungan dengan sejarah doktrin. Seorang bisa tahu ajaran agamanya, sebagaimana diberitahu oleh pemimpin agamanya, sementara ia mungkin tidak paham konteks dan latar historis ajaran tersebut. Atau seorang pemimpin agama tahu dengan baik isi sebuah ayat, tapi ia tidak paham konteks dan latar historis dari ayat itu.

Seorang yang bersekolah tinggi belum tentu adalah orang yang memahami sesuatu dengan baik. Ia tentu mengetahui banyak hal, sementara bisa jadi karena hafalan, bukan memahami alasan atau sebab di balik pelbagai hal-ihwal itu.

Orang sering bedakan antara intelektualitas dan rasionalitas. Orang yang tahu banyak adalah kaum intelektual. Namun, orang yang paham banyak adalah kaum rasional. Banyak kaum intelektual yang berpendidikan tinggi, atau agamawan bergelar seabrek, tapi tidak rasional. Buktinya: pendidikan tinggi tidak mencegah radikalisme, padahal radikalisme selalu jadi penanda irasionalitas.

Kita saksikan kaum intelektual yang sering bicara di televisi, katanya ahli filsafat, atau wakil rakyat. Kita pun rasakan betapa mereka jauh dari rasionalitas.

Tantangan pendidikan: membentuk pemahaman, bukan sekadar pengetahuan. Pendidik pun mesti membina kaum rasional, bukan sekadar mencetak kaum intelektual.

Salam hangat!

.

Sil Ule, SVD

Penulis, pastor, dan misionaris Serikat Sabda Allah, berkarya di Afrika.

Check Also

Pendidikan Holistik

(Sumber gambar: areabaca.com) Salam hangat, Semoga pembaca setia Horizon Dipantara di tanah air dan di …

Literasi: Soal Kualitas

(Sumber gambar: Lampost.co) . Salam damai buat semua, Saya tertinggal banyak soal hangat di tanah …

One comment

  1. Tulisannya bagus….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *