Home / Goresan dari Jauh / Belajar Menulis

Belajar Menulis

(Sumber gambar: About Campus)

.

Salam sejahtera, Saudari/a sekalian

Setiap orang yang belajar menulis pasti menemukan pelbagai soal dan kesulitan. Ada yang kemudian berhenti menulis. Karenanya, saya menghargai orang-orang yang berkanjang menulis, karena prosesnya sering tidak mudah. Tulisan ini juga sebagai sekadar peneguhan sederhana bagi yang belajar menulis, atau media yang menyediakan kesempatan bagi orang untuk mengekspresikan pikiran melalui tulisan.

Saat SMA di Seminari Mataloko, Bajawa, Flores, kami ditugaskan membaca dan meringkas bacaan. Setelah tugas ini dibuat, perlahan-lahan kami temukan semacam model intelektual dalam menulis. Saya ingat bahwa pada masa itu, secara dominan kami mengidolakan tulisan Ignas Kleden (terutama bukunya “Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia”), atau Goenawan Mohamad (“Catatan Pinggir”), atau Franz Magnis-Suseno (dalam buku-buku filsafatnya), atau tulisan sastrawan Pramoedia Ananta Toer (ada teman yang berulang kali membaca “Bumi Manusia”).

Namun, saat disuruh meringkas, dunia seakan berputar. Tugas dua halaman tulisan terasa seperti dua buku tebal. Saat mulai menulis, ide-ide seakan berkejaran dan bertabrakan satu sama lain, dan sering kebingungan memilah hal yang lebih penting dan pantas ditulis.

Akibatnya, ada dua ekstrem: ada yang menulis saja serampangan, yang penting halaman buku terisi, tapi ada juga yang terlalu hati-hati, sehingga rambut rontok dini.

Dengan latihan terus-menerus, kami pun semakin terbiasa untuk bisa meringkas, kemudian mengekspresikan ide secara sistematis. Itu saja tidak cukup. Walau ide dirumuskan secara sistematis, ide juga mesti dirumuskan sesuai konteks. Namun, tetap tidak mudah. Apalagi mesti mengikuti teori dalam bahasa Indonesia, bahwa ide mesti memenuhi syarat “5W+1H”. Kami bisa kuat sejam berdebat tentang soal tertentu, tapi loyo menghasilkan dua halaman tulisan sendiri.

Dengan pengalaman awal menulis, kami mulai mengapresiasi para penulis yang mengekspresikan idenya secara sederhana dan terang. Membuat hal sederhana jadi rumit tidak butuh keahlian khusus. Namun membuat hal rumit jadi sederhana, seperti Ignas Kleden, sampai saat ini tetap jadi hal mengagumkan. Butuh latihan terus-menerus, kerendahan hati, dan kesabaran. Tanpanya, orang boleh menganggap diri cerdas, tapi ia tidak lebih dari demagog belaka; yaitu orang yang bicara hal tidak penting dengan ribut dan merasa paling pintar dan benar (seperti bintang-bintang ILC?).

Karenanya, proses pendidikan yang ideal di sekolah-sekolah sebenarnya bukan hanya mengharuskan orang membaca. Membaca tetap jadi prasyarat penting, tapi prasyarat minimal. Yang paling penting adalah mengharuskan orang menulis, dan bukan sekadar menulis, melainkan juga menulis dengan baik.

Dalam aktus menulis, Saudari/a, terdapat pelbagai proses psikologis yang khas bagi seorang anak, yang mengharuskannya berdisiplin dalam pikiran dan dalam hidup. Anak-anak yang terbiasa menulis atau gemar menulis, biasanya punya cara hidup yang berbeda. Ia pasti akan berpikir dan merenung, terdorong untuk belajar lebih banyak, membaca lebih banyak, mencari tahu lebih banyak, mendengar lebih intens. Isi pikiran atau isi tulisan pada awalnya bukan hal penting. Proses yang baik yang menentukan seseorang akhirnya menghasilkan isi pikiran yang baik, dan dengan sendirinya menjadi pribadi yang berbeda.

Saudari/a, literasi menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan. Orang mulai menggunakan internet, tapi sering terjadi lompatan proses, yang mana penggunaan internet tidak sejalan dengan ethos mencari tahu atau menyelidiki secara bertahap, atau sikap kritis terhadap persoalan tertentu. Akibatnya, percakapan di dunia maya sering didominasi oleh ekspresi kemarahan dan perasaan sentimental lainnya, yang terasa tidak ada faedahnya. Atau lebih dramatis, orang cepat sekali membagikan tautan, yang kemudian diketahui sebagai palsu. Namun kepalsuan telah menyebar, dengan efek buruk yang merusak semuanya. Pilkada Jakarta 2017 jadi saksi sejarah dari minimnya daya kritis dan rendahnya tingkat literasi (ditambah rendahnya sikap etis dan toleransi).

Karena itu, ruang yang disediakan media seperti Horizon Dipantara, misalnya, atau pelatihan jurnalistik seperti digagaskan oleh Media Cakrawala NTT, sebenarnya suatu kesempatan yang baik untuk melatih diri berkembang. Tentu kita tidak akan jadi penulis hanya karena dua atau tiga kali tulisan atau pelatihan. Namun, dengan media yang ada, kita bisa berlatih sebagai pembelajar sejati, yang pada gilirannya menciptakan iklim atau proses membaca dan menulis, sehingga buahnya akan dirasakan generasi mendatang.

Kita konon tertinggal dalam banyak hal. Namun, yang pasti, Saudari/a, tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam kecerdasan alamiah. Yang perlu dibangun adalah sebuah proses pembelajaran menulis (yang dengan sendirinya mengandaikan suatu iklim membaca). Selanjutnya, biarlah waktu yang memberikan buah bagi upaya kecil kita setiap hari.

Salam literasi!

.

.

Sil Ule, SVD

Penulis, pastor, dan misionaris Serikat Sabda Allah, berkarya di Afrika.

Check Also

Pendidikan Holistik

(Sumber gambar: areabaca.com) Salam hangat, Semoga pembaca setia Horizon Dipantara di tanah air dan di …

Literasi: Soal Kualitas

(Sumber gambar: Lampost.co) . Salam damai buat semua, Saya tertinggal banyak soal hangat di tanah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *