Home / Dipantara / Sosial Budaya / Sosialisasi Muatan Lokal

Sosialisasi Muatan Lokal

(Sumber gambar: goodnewsfromindonesia.id)

.

Oleh: Kris Ibu*

Pada tanggal 10-12 September yang lalu, bertempat di Hotel Swiss Bellin Kristal Kupang, diadakan kegiatan “Sosialisasi Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (PTEBT) Berbasis Muatan Lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur.”

Sosialisasi ini diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Para peserta yang hadir di antaranya akademisi, anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), Guru Seni Budaya, Satuan Kerja Perangkat Daerah Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Timur, bersama Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Balitbang Kemendikbud.

Sosialisasi ini bertujuan untuk mengangkat ke permukaan budaya-budaya tradisional masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tengah berada dalam hamparan dan hempasan arus globalisasi.

Sosialisasi ini tidak sebatas sebuah konsep yang hanya tinggal dalam ruang imajinasi manusia NTT. Sosialisai ini memiliki sebuah dasar yang jelas, sebuah konsep masyarakat tradisional yang dirangkum dalam buku “Analisis Konteks Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berbasis Muatan Lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur.” Buku ini ditulis oleh tim penulis dari Universitas Nusa Cendana Kupang di antaranya, Dr. Marselus Robot, S.Pd, M.Si; Dr. Hotlif A. Nope, S.Sos, MA; Drs. Ipi De Rozari, M.Si; Helga M. E. Gero, S.Pd, M.si; Susana Pellu, S.Sos, M.Si; Drs. Herman Y. Utang, M.Ph. Dengan editornya, Dr. Drs. Nico G. Hayon, M.Pd.

Sebuah pengalaman luar biasa, saya bisa hadir dalam kegiatan ini.

Kadisdik Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, S.Pd, dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam UUD No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan diungkapkan bahwa nilai spiritual dari budaya itu sendiri merupakan upaya yang mesti digalakkan pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan berbasis tradisi lokal. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini, mewakili pemprov NTT, beliau menyampaikan terima kasih kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta jajarannya yang telah berupaya membantu menyusun buku yang ditulis tim penulis dari NTT. Harapannya, buku ini menjadi panduan bagi penyusunan pembelajaran peserta didik di sekolah-sekolah di NTT.

“Selain itu, sosialisasi ini juga bertujuan agar peserta yang hadir berdiskusi untuk membangun kesamaan persepsi demi pelestarian budaya lokal”, lanjutnya.

Di lain kesempatan, Direktur Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Dra. Kristiyati, menegaskan bahwa buku tersebut hendaknya menjadi buku induk dalam mengolah muatan lokal di NTT. Sasarannya jelas, siswi/a SD-SMA/sederajat. Hal ini merupakan sebuah kemendesakan karena kendala yang dihadapi selama ini, guru hanya menyiapkan bahan ajar sesuai dengan buku yang dikirim dari pusat (Jakarta). Padahal, guru-guru di NTT bisa membuat bahan ajar dari budaya-budaya lokal. Dengan begitu, pengajaran di kelas menjadi kontekstual.

Lanjut beliau, “Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk bersama-sama menggali potensi budaya di NTT demi pelestarian budaya bagi generasi muda.”

Isi Buku

Dalam buku tersebut, terdapat 15 materi budaya tradisional. Di antaranya: upacara tradisional, cerita rakyat, permainan rakyat, ungkapan tradisional, pengobatan dan obat tradisional, makanan dan minum tradisional, senjata tradisional, peralatan tradisional, arsitektur (bangunan) tradisional, pakaian tradisional, kain tradisional, organisasi sosial, kesenian tradisional, pengetahuan dan kearifan lokal.

Selain itu, terangkum 10 objek pemajuan budaya: traidisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan, dan olahraga tradisional.

Budaya Lokal

Dalam Kata Pengantar buku dimaksud, Marsel Robot mengatakan bahwa manusia zaman ini seperti kehilangan romantisme. Seperti ada yang hilang. Demikian pula yang terjadi dengan kebudayaan.


Sepertinya ada sesuatu yang hilang, yang mana abad ke-20 dianggap sebagai abad yang paling sepi karena melahirkan generasi yang meninggalkan “ibu kandungnya” dan berbalik untuk merangkul android-nya. Dengan itu, manusia zaman now sedang pergi meninggalkan identitasnya.

Oleh karena itu, buku yang telah ditulis dan diterbitkan ini mulai mencoba meretas perjalanan pulang ke kampung halaman. Harapannya, buku ini dijadikan model yang membantu peserta menulis kembali tentang budaya yang masih kurang. Buku ini hanyalah panduan untuk bisa menulis kekayaan-kekayaan kultural lainnya di NTT.

Buku yang dikerjakan secara efektif selama 2 bulan tersebut  merupakan sebuah stimulus yang mendorong guru-guru menjadi kreatif dalam membuat bahan ajar. Artinya, lewat buku tersebut, guru menjadi kreatif dan terbuka pikirannya untuk mengajar tentang kekayaan budaya NTT kepada generasi muda yang masih berada dalam tahap pencarian identitas diri. Di sini, kaum muda mesti digenjot untuk menghargai dan melestarikan khazanah lokal NTT yang sedang berada pada tahap krisis kepunahannya. Hal ini sejalan dengan harapan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, dalam buku tersebut.

“Menambah wawasan dan pengetahuan para pendidik dan peserta didik akan keragaman budaya, dalam rangka memperkokoh karakter generasi muda.” (Hlm. iii).

Oleh karena itu, mesti ada komitmen bersama yakni mengimplementasikan buku tersebut dalam pengajaran di sekolah-sekolah. Dengan itu, pengajaran kontekstual dapat terwujud di NTT.

Beberapa Catatan  

Ada beberapa catatan yang saya pikir penting untuk ditinjau dan menjadi bahan refleksi bersama.

Pertama, Tim Penulis. Tim penulis buku tersebut adalah mereka yang berdomisili di Kota Kupang (para Dosen Undana). Sungguh ironis, bukan? Mengapa? Bagaimana mungkin semua khazanah budaya lokal dapat dirangkum secara utuh sementara para penulis berdomisili di kota? Sepatutnya, tim penulis dilimpahkan kepada pemerintah daerah untuk membentuk tim-tim khusus mulai dari tingkat kabupaten sampai desa. Dengan itu, budaya lokal NTT terangkum secara utuh dalam buku tersebut (atau buku sejenis, selanjutnya).

Kedua, menggunakan sumber sekunder. Dalam kata pengantarnya, Marsel Robot menekankan bahwa prosedur penulisan oleh tim penulis ialah coba mengakses data sekunder seperti teks, manuskrip, dokumen pribadi penulis, skripsi, dan lain-lain. Setelah semuanya terkumpul, tim penulis coba mengecek kebenaran dokumen itu yang menjadi data dalam penelitian ini. Selanjutnya, tim penulis mencoba mengecek kebenaran datanya lewat narasumber-narasumber yang bisa dihubungi secara langsung. Selanjutnya, tim penulis menganalisis secara mendetail sesuai panduan, lalu melakukan diskusi tim untuk mempresentasikan sejauh mana tulisan itu, teknik menarasikan, dan lain-lain. Kemudian masuk dalam tahap penulisan, dan tahap akhirnya, proses penyuntingan.

Padahal, hal yang tak kalah penting dalam penulisan sebuah karya tentang budaya lokal adalah menggunakan data primer. Meskipun dalam buku tersebut dicantumkan catatan perjalanan tim penulis, data primer haruslah menjadi patokan utama. Hal ini beralasan sebab budaya kita adalah budaya lisan. Bisa saja, data sekunder yang dipakai memiliki sedikit perbedaan paradigma tentang budaya di daerah kita.

Ketiga, penggunaan bahasa informal. Salah satu agenda dalam kegiatan ini adalah praktik membuat silabus, RPP, dan bahan ajar yang dibagi dalam kelompok-kelompok. Hasilnya akan dipresentasikan untuk dibahas bersama. Dalam presentasinya, seorang guru Seni Budaya dari Rote sering menggunakan dialek Kupang sebagai bahasa komunikasi formal. Contohnya kotong dan dong. Bobrok, bukan? Seorang guru yang mestinya menunjukkan performance-nya sebagai seorang pendidik yang berbudaya.

Apa manfaat literasi yang digenjotkan pemerintah dalam lingkup pendidikan bisa berjalan mulus bila guru menggunakan bahasa informal dalam kegiatan formal? Bagaimana nasib peserta didik bila gurunya demikian?

Inilah beberapa catatan saya. Kiranya, kita bisa merefleksikan dan mengambil nilainya demi pengembangan kebudayaan daerah di lingkup pendidikan formal kita. Sosialisasi yang telah dilakukan ini mesti berlanjut pada tahap praksisnya, yang mana nilai-nilai dan khazanah lokal diajarkan dan diterapkan di sekolah-sekolah. ***

.

(Foto: dok. pribadi penulis)

*) Penulis adalah Guru Seni Budaya di Seminari Hokeng, Flores Timur, NTT.

Check Also

Pembangunan Bendungan Baing Melanggar Aturan dan Mengabaikan Keselamatan Warga

Ibu Djati Ata Hau mencoba menghadang alat berat yang sedang menggusur tanahnya. (Sumber foto: WALHI …

Mengendus Falsafah Budaya Manggarai dalam Syair Lagu “Lonto Remo” Karya Tonce Warat

(Foto: RLM)   Oleh: Urbanus Wahyuni*   Tonce, demikian ia biasa disapa adalah seorang musikus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *