Home / Berita Terkini / Festival Inerie: Sadar Budaya, Jangan Lupa Kampung

Festival Inerie: Sadar Budaya, Jangan Lupa Kampung

(Atraksi Larik. Foto: Tithaa Jari)
.

Oleh: Tithaa Jari*

Pagi ini (Senin, 8 Juli 2019) dingin sekali. Saya membuka handphone dan mengecek suhu udara hari ini. 15°C, dan saya benar-benar enggan untuk menyentuh air sedingin es di bak kamar mandi, walaupun akhirnya tetap harus mandi juga.

Seorang teman lalu mengajak saya untuk pergi, katanya di Lapangan Kartini, Bajawa, Flores, NTT sedang ramai karena ada Festival Inerie. Saya pun ikut beranjak, demi menjawabi rasa penasaran saya: kira-kira, seperti apa acara yang diadakan di sana? Setibanya kami di Lapangan Kartini, beberapa kali saya berputar-putar dan berpindah posisi untuk mendapatkan pandangan yang nyaman yang tidak terhalang oleh apa pun. Cukup banyak orang yang datang. Langit biru indah dan awan putih gagah melengkapi Festival yang sudah-sedang-akan berlangsung selama hampir satu minggu ini. Banyak orang berpakaian adat Bajawa, karena mereka baru selesai mengikuti karnaval mengelilingi jalur umum Kota Bajawa.


(Foto: Tithaa Jari)

Saya tahu bahwa saya akan mendapatkan sesuatu yang istimewa hari itu. Dan yah, beberapa menit berselang, setelah cerita tentang proses bagaimana orang-orang dari luar Bajawa (Sumba, Cina, dan Jawa) datang untuk “kawin” dengan suku asli Bajawa dan mulai berbaur dengan masyarakat Bajawa, MC lalu mulai menjelaskan bahwa sesudah itu akan ada sebuah atraksi dari Riung Barat.

Atraksi Larik namanya, yang akan dibawakan oleh dua orang dengan perlengkapan seperti rotan dan tameng. Atraksi Larik merupakan bentuk syukur usai masa panen.

(Foto: Tithaa Jari)
.

Yang menjadi perhatian saya, tentu mulai dari benda yang dikenakan. Perpaduan Hitam dan Kuning di Kain (Lipa) dan pelindung wajah, berwarna warni. Sangat menarik, perpaduan warna yang amat sangat indah. Hari ini sempurna.

Ada rasa bangga tersendiri sebagai orang  Riung Barat saat menyaksikan Larik dipentaskan di depan orang banyak dan dikagumi. Dari sini kita tahu bahwa apa yang diwariskan sudah sepantasnya dan seharusnya dijaga dan dilestarikan. Kedua pemeran Larik saling berbalas pantun. Ada beberapa bagian yang saya mengerti dan membuat gelak tawa semua penonton pecah. Sejumlah orang serius mendengarkan pantun-pantun dan berusaha mencari tahu maknanya. Dan akhirnya, saya semakin jatuh cinta pada budaya Riung Barat. Jarang pulang kampung dan hanya sering dengar cerita dari orang lain, akhirnya saya bisa tahu bagaimana Larik itu, yang selalu menarik perhatian banyak orang.

Budaya itu jati diri kita. Saat kita tak berbudaya, kita tak pantas menyebut dari mana kita berasal. Budaya membesarkan kita hingga kita tahu bahwa kita tak hanya butuh restu dari Tuhan atau diri kita sendiri untuk hidup, tetapi juga dari Leluhur dan Tradisi.

Sejauh apa pun kau pergi, kau pasti pulang dan meminta restu, dan itu adalah tradisi.
Cintai budayamu dari sekarang agar tak hilang tergerus zaman.

Salam Satu Budaya!

.

.

*) Penulis adalah penyuka senja dan langit biru. Tinggal di Bajawa.

(Foto: dok. pribadi penulis)

Check Also

Menyantap Makanan di Timor vs di Jawa

(Aktivitas di Pasar Alok, Maumere. Sumber foto: cendananews.com). Oleh: Aisy Karima Dewi* Setelah beberapa waktu …

Pembangunan Bendungan Baing Melanggar Aturan dan Mengabaikan Keselamatan Warga

Ibu Djati Ata Hau mencoba menghadang alat berat yang sedang menggusur tanahnya. (Sumber foto: WALHI …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *