Home / Dipantara / Sosial Budaya / Dunia Berlari Kencang, Bali Berani Berdiam

Dunia Berlari Kencang, Bali Berani Berdiam

(Foto: inspiratorfreak.com)


(Catatan Nyepi Tahun Baru Caka 1940)


Oleh: Vence Gawe Gara*

 

Persaingan global menuntut kita berpacu dengan waktu, tangkas menyikapi momentum, jeli menghadapi perubahan sekaligus cepat dan tepat mengambil keputusan. Semua berlomba menjadi yang terbaik, terdepan, terhebat; antarnegara, kelompok, individu, suku, agama, golongan dan etnis. Di era dengan kemudahan melanglang-buana di dunia maya, segala sesuatu dimudahkan untuk kita selalu berlari menggapai mimpi akan hidup yang lebih modern. Sampai kita lupa, bahwa kita harus punya momen, berhenti sejenak untuk sekadar introspeksi.

Bali punya momen spesial, menepi dan berdiam sejenak, berhenti beraktivitas, mengurung sejenak ide dan gagasan, mengandangkan sesaat segala keinginan dan hawa nafsu. Itulah Hari Raya Nyepi, yang adalah Tahun Baru umat Hindu, berdasarkan perhitungan kalender Tahun Caka, yang tahun ini jatuh pada hari Sabtu, 17 Maret 2018 lalu. Gebrakan baru, di tahun ini, pemerintah melalui Direktorat Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 378 Tahun 2018 agar pelaksanaan Hari Raya Nyepi tanpa internet. Kebijakan ini diambil menyusul seruan bersama Majelis Agama dan Keagamaan Provinsi Bali 2018, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Di samping itu juga, ada keputusan penutupan bandara yang tertuang dalam Notice to Airman (Notam) No. A0117/18 NOTAMN tentang Penutupan Bandara Ngurah Rai, Bali. Bandara tersebut ditutup mulai hari Sabtu (17/3/2018) pukul 06.00 Wita hingga Minggu (18/3/2018) pukul 06.00 Wita.

Sambutan beragam, menyikapi pemutusan koneksi peselancar dunia maya dan internet untuk sehari penuh. Ada yang gembira, mendukung dan tidak sedikit pual yang menolak gagasan ini. Apa pun, ritual Nyepi yang menyapih internet merupakan ikhtiar yang pas dan tepat untuk memberi waktu jeda bagi umat Hindu agar khusyuk dengan sakralitas ritual di momen spesial. Tujuannya agar setiap pribadi benar-benar berkesempatan melaksanakan brata, yoga, tapa, dan samadi tanpa diganggu dengan urusan browsingchecking emailchatting dan updating status yang sangat profan itu.

Suasana Nyepi bagi masyarakat era industri menjadi jeda untuk mengembalikan daya spiritualitas yang selama ini direngkuh oleh hasrat materialistik melalui gawai canggih yang terkoneksi internet. Kesibukan-kesibukan konsumtif hampir saja merusak sisi humanitas kita secara keseluruhan, hingga diingatkan untuk selalu memilah secara ketat kebutuhan hidup dan menghidupkan kesadaran baru anti-konsumerisme yang senyawa dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ritual Nyepi umat Hindu. Saat berharga itu dilalui dengan senyum yang bukan meme, sapaan yang bukan berbentuk binari, rangkulan hangat yang bukan emoji. Karena kita terlalu lama tidak lagi menatap muka, tapi layar kaca.

 

Nyepi dan Kewajiban

Apa yang terjadi di momen sakral ini? Apa pantangan dan larangan yang patut dihargai oleh semua yang merayakan Nyepi dan yang mengalaminya? Makna Nyepi terkandung dalam Catur Brata Penyepia.

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).
  2. Amati Karya (tidak bekerja). Hal ini berarti menyepikan indra.
  3. Amati Lelungaan (tidak bepergian). Maknanya mengistirahatkan badan.
  4. Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).

Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indra kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indra itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa, yoga, brata, samadhi pada saat Nyepi itu. Yang terpenting, makna dan pelaksanaan hari raya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

 

(Foto: komangputra.com)

 

Makna dan Pelaksanaan Hari Raya Nyepi

Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, makna dan pelaksanaan Hari Raya Nyepi mengandung arti dan makna yang sangat relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.

Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi keseimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan sebagai makna dan pelaksanaan hari raya nyepi dalam merayakan pergantian Tahun Saka

Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern sekarang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Pada zaman modern ini persamaan dan perbedaan tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah mengkhususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.

Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut. Di ibukota provinsi dilakukan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Sementara itu di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Lalu di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.

Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.

Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.

Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 – 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Makna dan pelaksanaan hari raya nyepi, terkait dengan pembakaran ogoh-ogoh ini merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk.

Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi.

 

Fakta Unik Nyepi

Nyepi  adalah salah satu hari raya Hindu yang dirayakan secara unik. Biasanya hari besar agama dirayakan secara meriah, namun Nyepi malah sebaliknya. Ada 5 fakta unik Nyepi yang mungkin belum diketahui.

  1. Hari Nyepi, kita mereduksi emisi dari Gas Karbon Dioksida (H2O) sebanyak 20.000 ton dalam sehari;
  2. “World Silent Day” yang dirayakan setiap tgl 21 Maret itu diinspirasi oleh Hari Raya Nyepi, dan di-acc oleh PBB;
  3. Dalam sehari, Nyepi di Bali menghemat Listrik sebanyak 60%, jika dirupiahkan sekitar Rp. 4 miliar, setara 290 megawatt (MW);
  4. Menghemat bahan bakar solar sebanyak 500.000 liter atau sebesar Rp. 3 Miliar. Ini akibat pengistirahatan 2 pembangkit listrik di Bali. Kedua pembangkit yang distop operasinya tersebut yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron yang biasa menghasilkan listrik sebesar 80 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk, yang biasa menghasilkan listrik sebesar 130 MW;
  5. Pada saat Nyepi juga memberikan ketenangan yang luar biasa. Terutama bagi mereka yang penat dalam bekerja, dan mereka yang jarang bisa berkumpul dengan keluarga karena urusan kerja.

Bagi yang ingin berwisata dalam sepi, datang dan nikmatilah Nyepi di tahun 2019. Jika dunia berlari kencang, kenapa kita tidak berani berhenti sejenak. Mari kita belajar dari tradisi luhur umat Hindu di Bali.

 


*) Penulis adalah Karyawan Swasta, tinggal di Bali.

 

Check Also

[Rilis Pers] Kolaborasi Teater Kontemporer Inter-Asia: Peer Gynts di Larantuka

[Dari kiri ke kanan: Norihisa Tsukamoto (Director General The Japan Foundation) – Ugoran Prasad (Dramaturg …

Pembangunan Bendungan Baing Melanggar Aturan dan Mengabaikan Keselamatan Warga

Ibu Djati Ata Hau mencoba menghadang alat berat yang sedang menggusur tanahnya. (Sumber foto: WALHI …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *