Home / Horizon / Horizon Kampus / UNDE MALUM?

UNDE MALUM?

 

(Foto: HaMe)

 

(Refleksi Pascapementasan Teater Salib)

 

Oleh: Harris Meo Ligo*

 

Ketika manusia bergumul dengan penderitaan, pertanyaan dasariah yang menyergap kesadarannya, seperti halnya pergulatan filosofis Epikur, ialah, dari mana muasalnya penderitaan (unde malum)? Apakah faktor kebersalahan manusia ataukah kutukan Allah? Jika penderitaan sejatinya dituduhkan sebagai murni actus humanus manusia, bagaimana dengan penderitaan akibat bencana alam semisal gempa bumi? Jika penderitaan adalah dari pihak Allah, lantas masih pantaskah Ia disapa Abba?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun para pemikir dari zaman ke zaman untuk merefleksikannya dalam ranah filosofis atau lebih keren dengan nama, Teodice. Demikianpun halnya dalam ranah teologis. Penderitaan adalah locus theologicus (Paul Budi Kleden, 2016). Itu artinya, unde malum adalah pertanyaan serentak gugatan eksistensial yang dari padanya manusia dimampukan untuk melihat secara jernih, menukik lebih dalam, ihwal penderitaan dalam batas-batas imanen maupun transenden, melalui penggunaan akal maupun peyandaran iman.

Hemat saya, dalam terang visi yang sama, kelompok Teater Aletheia Ledalero mencoba untuk menghantar para penonton untuk duc in altum pada persoalan penderitaan melalui pementasan teater berjudul ‘Salib’, pada Selasa (27 Maret 2018) di Aulah Thomas Aquinas, Ledalero, Maumere, Flores. Dari judulnya saja, mungkin sebagian dari kita mereka-reka bahwa teater ini lebih condong pada suatu refleksi teologis, khas biarawan. Bisa ia, bisa tidak. Saya lebih melihat pada kombinasi teologis-filosofis.

Seperti halnya teater ini, umat kristiani mengimani penderitaan sebagai salib. Maka dalam keseharian, kita akan menemukan beragam tanggapan atas penderitaan, atas salib.

Pertama, orang yang menerima salib. Ungkapan iman mewujud dalam kepasrahan semisal, ‘Itu sudah salib kami!’, ketika seseorang berhadapan dengan pengalaman-pengalaman negatif dalam hidupnya. Kedua, orang yang menolak salib. Gerutuan, ‘Mengapa salib hidup ini sungguh berat untuk saya?’, menjelma gugatan kepada Tuhan yang diyakini telah menimpakan salib atas manusia. Adegan sekelompok orang memikul salib menuju panggung utama sekiranya merepresentasikan hal tersebut. Dalam perjalanan, satu persatu meninggalkan formasi pemikul salib hingga menyisakan seorang laki-laki yang kemudian jatuh tak berdaya. Sang lelaki yang memikul salib hingga tak berdaya adalah representasi tipe pertama, sedangkan kelompok yang meninggalkan formasi penggotong salib merepresentasikan tipe kedua. Namun, kita lantas bertanya: apakah manusia bisa melarikan diri dari penderitaannya jika derita adalah suatu keterberian (given condition)?

Karl Jaspers, seorang filsuf eksistensialis asal Jerman, coba menawarkan suatu hiburan dalam penderitaan. Jaspers memandang penderitaan sebagai situasi batas (grenzsituation); situasi yang tak dapat dihindari, situasi di mana eksistensi, yang tidak lain tidak bukan adalah aku yang sebenarnya-yang unik menemui batas yang tak dapat dilewati. Namun Jaspers yakin bahwa hanya dengan mengalami situasi batas manusia dapat menghayati jati diri sebagai aku yang sebenarnya-yang unik (K. Bertens, 2014).

Katakanlah, Selus seorang mahasiswa semester 10, mengendarai motor secara ugal-ugalan di jalan raya. Lalu ia mengalami kecelakan, hampir mati, tetapi tidak jadi mati. Dalam asumsi Jaspers, orang-orang seperti Selus besar kemungkinannya setelah tragedi itu akan menghayati hidupnya dengan sebaik-baiknya, dengan syukur yang paling asali di segala detiknya sebab ia telah mencecap momen-momen kematian. Maka merefleksikan penderitaan dengan iman dan kehendak bebas, atau dalam teater tampak dalam adegan sekelompok orang memandang cermin yang tergantung di salib, adalah suatu perjalanan pulang ke dalam diri demi menemukan makna yang paling hakiki dari hidupnya.

Sejengkal lebih menukik dari refleksi filosofis Jaspers, pergulatan Ayub dalam penderitaannya sekiranya juga menghantar kita pada refleksi yang lebih eksistensial-transendental. Ia yang pada mulanya menggugat Allah yang diyakini dalam tradisi Yahudi sebagai Ia yang membalas secara adil; yang berdosa diganjari dengan kesengsaraan, kemudian menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah Allah yang solider. Allah tidak meninggalkan manusia dalam penderitaannya. Bukti komitmen kasih Allah bagi manusia mencapai kepenuhannya dalam peristiwa Salib. Dalam sengsara dan wafat Putra-Nya yang terkasih, Allah mencintai sehabis-habisnya, sedalam-dalamnya.

Salib: Simbol Perlawanan Atas Ketidakadilan

Pertanyaan unde malum? masih menyisihkan kerisauan ketika kita berhadapan dengan realitas ketidakadilan dalam cengkraman hagemoni kekuasaan. Pada titik ini, refleksi penderitaan mesti ditaji dalam gelanggang politis. Tidak cukup hanya berkutat pada ranah teologis-filosofis saja. Kemiskinan struktural akibat korupsi kelompok elite yang tidak tahu diri, perdagangan manusia oleh sesama manusia yang biadab, stigmatisasi ODHA, dan sederet litani penderitaan rakyat adalah salib-salib artifisial yang diciptakan dari hasrat hewani kaum penguasa, penindas dan penjilat. Lantas, apakah ketika berhadapan dengan realitas ini penderitaan harus diterima dengan lapang dada? Tentu tidak. Mengamini penderitaan yang diakibatkan oleh ketidakadilan sebagai pengalaman eksistensial adalah suatu kebiadaban. Demikian pun, mengimani penderitaan yang sama sebagai keutamaan (virtue) adalah penelanjangan Allah yang solider. Oleh sebab itu, teater ‘Salib’ pada akhirnya mesti menuntun kita untuk berefleksi tentang dimensi politis dari salib.

Jurgen Moltmann sudah merintis jalan kesadaran ini. Menurutnya, salib adalah bukti penolakan Allah atas segala macam kekuasaan baru yang hendak melahirkan dan membenarkan salib-salib manusia (Paul Budi Kleden, 2016). Allah yang menderita bukanlah Allah yang tak berdaya di hadapan kekuasaan, tetapi Allah yang senantiasa menggelorakan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan dan penindasan. Melalui salib, Allah membuka ruang solidaritas dengan manusia yang menderita. Tidak ada perlawanan yang lebih radikal dalam menentang ketidakadilan daripada solidaritas dengan para penderita: penderitaan yang lain adalah penderitaan saya juga. Maka, solidaritas Allah mesti juga menjadi inspirasi bagi solidaritas kita. Solidaritas kita mesti mewujud dalam aksi nyata berupa penolakan dan perlawanan terhadap segala bentuk praktik ketidakadilan dan penghisapan manusia oleh manusia (exlpoitation de lhomme par l homme). Bukan hanya mentok pada retorika penjual obat di atas panggung-panggung kampanye atau sebatas renungan di mimbar-mimbar pewartaan.

Aksi Rakyat NTT Menggugat yang baru-baru ini digelorakan untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan penegak hukum terhadap kasus yang menimpa para TKI asal NTT adalah bukti bahwa solidaritas dengan para penderita adalah suatu revolusi iman juga manifesto politik untuk tidak diam di hadapan hagemoni kekuasaan yang cenderung ingat perut sendiri sehingga abai terhadap segala realitas ketidakadilan.

Akhirulkalam, baik teater salib maupun aksi Rakyat NTT Menggugat mesti menjadi tonggak refleksi bagi kita di pekan suci ini untuk menyatukan simpul-simpul solidaritas bagi kemanusiaan sebagaimana halnya Allah telah solider dengan manusia dalam peristiwa salib.

…. Sekelompok orang merengsek ke panggung utama, di tangan mereka ada golok dan gergaji, dengan amarah dan geram yang eksistensial mereka menggergaji salib hingga potongan-potongan terkecil… Lampu pun padam…….

Selamat merayakan pekan suci, pekan suci yang revolusioner, Bung!

 

*) Penulis adalah fans berat dengan Bonny Zua, menganggap lagu ‘O Me Niku’ sebagai himne revolusi, setidak-tidaknya dimulai dari tenda pesta. Alhamdulilah, saat ini masih berstatus sebagai Mahasiswa STFK Ledalero. Dan masih waras.

Check Also

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Puisi-puisi Theresia Avila*

(Sumber gambar: menujuabba.com). DOA Puisi tak berjudul Suluh mengantar harapPada Yang Kuasa Untuk berserah Ende, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *