Home / Dipantara / Seni Sastra / Seni Pertunjukan, Kampanye Politis, dan Edukasi Publik

Seni Pertunjukan, Kampanye Politis, dan Edukasi Publik

(Foto: Dede Aton)

 

(Catatan-catatan Kecil Setelah Pementasan Teater Tungku Haram II)

 

Oleh: Eka Putra Nggalu*

 

Teater Evergrande Syuradikara boleh jadi adalah salah satu teater pelajar (yang berelasi langsung dengan SMA/SMK) di Flores yang dalam satu dasawarsa terakhir ini sangat aktif membuat pementasan-pementasan teater kolosal. Dalam catatan tim publikasi Evergrande, tercatat sudah ada sembilan pementasan dari lima judul pertunjukan yang dibuat oleh kelompok teater ini sejak tahun 2011 hingga 2018. Beberapa pertunjukan tidak hanya dipentaskan di kota Ende, tetapi juga di Maumere, dan yang terakhir di Labuan Bajo pada 14 April 2018 yang lalu.

Naskah dari kelima judul pertunjukan yang dipentaskan ini ditulis dan disutradarai oleh P. Yohan Wadu, SVD, yang pertama kali terjun ke dunia teater bersama kelompok Teater Aletheia, Ledalero. Teater Aletheia sendiri adalah sebuah kelompok teater yang dikelola para frater-mahasiswa Seminari Tinggi Ledalero. Aletheia masih aktif mementaskan pertunjukan-pertunjukannya sampai saat ini.

Pertunjukan Tungku Haram II (selanjutnya TH II), yang dipentaskan Teater Evergrande di Labuan Bajo pada 14 April 2018 yang lalu menyita perhatian yang cukup besar dari banyak kalangan. Strategi publikasi yang masif, urgensitas isu yang diangkat, dan nama besar serta relasi antara SMA/SMK Syuradikara dengan institusi-institusi lain yang berhubungan dengannya baik secara internal (Konggregasi SVD, gereja setempat, Ikatan Alumni) maupun sebagai mitra (pemerintah daerah Manggarai Barat, Sun Spirit/Rumah Kreasi Baku Peduli) kemudian menjadikan perhelatan pertunjukan teater ini sebagai sebuah medan persinggungan dan pertemuan yang luar biasa besar. Penonton teater ini berasal dari berbagai kalangan; anak sekolah, kaum muda, para pejabat pemerintahan, aktivis, penegak hukum, pers, kaum biarawan-biarawati, masyarakat umumnya, hingga para seniman dan para pegiat teater. Sesuatu yang sangat sulit dialami dalam pertunjukan-pertunjukan teater komunitas-komunitas seni budaya lain.

Tentu saja medan yang besar ini juga menyertakan di dalamnya berbagai motivasi, kepentingan, kebutuhan, agenda. Batasan-batasan antara yang personal dan yang politis, yang sehari-hari dan yang formal kemudian berbaur, menjadi kabur, berhadapan dengan satu pertunjukan yang secara serius dipersiapkan sebagai sebuah corong (loud speaker) untuk menyuarakan sekaligus pada saat yang sama menjadi bentuk perlawanan terhadap problem yang diangkat sebagai tema pertunjukan: perdagangan manusia.

Agaknya, Evergrande sudah membayangkan pertemuan mereka dengan penonton yang besar ini. Di hadapan penonton dibangun sebuah tungku yang besar, sekitar 4-7 meter tinggi dan lebarnya. Tungku ini dibangun di area bermain seluas hampir setengah lapangan sepakbola, dalam format prosenium, meski tidak sempurna. Area ini kemudian dieksplorasi oleh ratusan aktor, penari, dan pemain marching band. Tidak hanya sebagai latar atau dekorasi, tungku ini menjadi teks yang sangat kuat, simbol bagi isu besar yang diangkat, yaitu perdagangan manusia. Penggarapan cerita dalam teater kelihatan lebih strukturalis dari pada fragmentaris, mengikuti alur dramatik umumnya, ada kejadian, konflik, klimaks, antiklimaks. Penokohan dan karakter tersebar dalam beberapa lakon, dimainkan oleh beberapa aktor laki-laki dan perempuan. Pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam dua puluh menit itu menampilkan pula di dalamnya aneka tarian, nyanyian, dan lakon-lakon yan saling merespons satu sama lain, tentu dimaksudkan untuk merepresentasikan gambaran-gambaran tentang problem perdagangan manusia. Teror-teror audiovisual yang kolosal, besar, dan megah, yang dihadapkan pada penonton yang besar ini cukup proporsional.

Corong sekaligus Simbol Perlawanan Terhadap Perdagangan Manusia

Sejak awal, perspektif penonton TH II sudah langsung diarahkan pada isu perdagangan manusia sebagai inti dari statement politis pertunjukan ini. Pengantar dari sutradara, penjelasan simbol, dan juga sambutan-sambutan yang diletakan pada awal pertunjukan tentu memberi efek bagi pembentukan perspektif penonton. Perspektif tentang isu ini memang kemudian ditegaskan kembali melalui persebaran teks-teks yang ditampilkan sepanjang teater ini berlangsung.

Manusia-manusia, semuanya perempuan, yang sedih dan menderita, dengan riasan lebam dan luka yang tersebar di keliling area bermain, sosok-sosok laki-laki, dengan riasan hitam-merah (serupa setan dalam sinema-sinema mainstream) yang keluar dari tungku dan mengejar para perempuan kemudian memasukan mereka ke dalam tungku haram, tulisan-tulisan seperti Dijual, For Sale, RIP, yang tersebar di beberapa sudut area bermain, juga isi percakapan antar tokoh adalah teks-teks langsung dan tegas yang mengkondisikan terarahkan dan terbangunnya pikiran serta imajinasi penonton tentang problem perdagangan manusia.

Tungku yang besar dan tali yang mengelilingi area bermain yang menghubungkan tungku dengan tulisan-tulisan RIP adalah simbol betapa perdagangan manusia bukan lagi isu melainkan sebuah problem yang hadir dan secara nyata telah menjadi lingkaran setan bagi penduduk NTT umumnya, dan Labuan Bajo khususnya. Problem perdagangan manusia sebagai sebuah extraordinary crime, yang juga melibatkan orang-orang besar (korporasi multinasional, penegak hukum dan pengambil kebijakan), dan hadir dalam jalinan konspirasi yang menggurita, mendapat representasi artistiknya dalam set, properti, dan lakon-lakon yang besar dan megah, dengan tata cahaya yang gemerlap. Tungku dan set yang demikian, sebagai teks, hadir secara proporsional dan cukup efektif mempersuasi visualisasi penonton yang besar. Kemegahan set tungku haram yang besar itu kontras bersisian dengan beberapa tungku kecil lainnya yang dibangun di satu sisi area pertunjukan.

Tungku-tungku kecil itu bisa dibaca sebagai representasi korban, yang umumnya adalah masyarakat kecil.

Dua tungku itu dieksplorasi oleh tokoh-tokoh dengan tampilan lusuh, dengan tubuh seorang pekerja tangan, meniti batu dan memastikan tungku-tungku kecil tetap menyala. Suatu pemandangan yang sangat domestik dan memiliki referensi praktis dalam masyarakat di Flores.

Beberapa teks ujaran yang dimonoglokan oleh tokoh pada bagian akhir teater sangat kuat, tegas dan secara langsung ditujukan kepada pemerintah, aparatur negara (sipil maupun militer), para guru, hingga aktivis-aktivis di LSM. Satu kutipan yang bisa dirujuk misalnya kritik yang ditujukan kepada LSM: ‘..mereka melangkah dengan banyak program yang tidak tahu arah. Program anjing!’

Kata-kata bernada sarkastis seperti anjing, diikuti dengan adegan meludah, dan volume suara yang keras dan tegas sungguh memperlihatkan statement dan disposisi yang tegas dari Evergrande dan institusi yang secara internal berelasi dengannya, berhadapan dengan problem perdagangan manusia; yaitu menolak!

Ini juga hadir pada beberapa adegan awal, melalui teks-teks verbal yang menghadirkan informasi perihal perdagangan manusia dan sangat jelas berupaya membentuk opini dan wacana tentang jahat, kejam, dan dekatnya praktik perdagangan manusia dengan masyarakat. Teks-teks berita ini dan adegan penagkapan gadis-gadis berbaju putih dengan riasan penuh luka lebam, oleh laki-laki dengan riasan tubuh hitam-merah saling merespon satu sama lain.

TH II menghadirkan kritiknya secara lugas dan langsung, minim metafora (meskipun sudah berusaha dimunculkan), dan lebih menunjukkan zamannya (reformasi, kebebasan berkespresi).

Ini tentu berbeda dari teater-teater Indonesia yang muncul pada masa Orde Baru, dan awal 90-an, yang hadir lebih sebagai media alternatif bagi penyampaian aspirasi masyarakat dan cenderung menggunakan humor, simbolisasi yang halus, dan analogi serta metafora yang kuat bagi penyampaian pesannya, berhadapan dengan otoritas represif pemerintah yang menjadi sasaran kritik saat itu.

(Foto: Dede Aton)

 

Pilihan Artistik TH II dan Keterbatasan-keterbatasannya

Secara tematik, TH II sangat kuat mengkampanyekan perdagangan manusia. Kampanye ini kemudian menjadi cukup efektif ketika ditempatkan dalam lanskap dan hubungannya yang lebih luas dengan rangkaian acara dan aktivitas lain yang dimulai dengan persiapan acara, diskusi, berbagai propaganda melalaui sablonan baju dan poster, pawai, panggung kesenian rakyat, dan kemudian pertunjukan TH II sendiri yang menemui, menyentuh, melibatkan, dan berhadapan dengan berbagai medan persinggungan dan perjumpaan seperti yang sudah dijelaskan di atas. TH II menggunakan medium seni pertunjukan untuk mengartikulasikan gagasannya.

Karena itu, batasan-batasan dan karakter-karakter seni pertunjukan juga menjadi satu hal yang setidaknya perlu dipikirkan dalam membaca TH II sebagai karya seni sekaligus sebagai alat propaganda, atau propaganda yang menggunakan medium kesenian.

Satu hal yang menarik adalah TH II dimainkan dan dikerjakan bukan oleh para aktor serta tim artistik yang profesional. Profesional di sini dalam arti yang secara ketat berlatih dan belajar tentang teater sebagai sebuah disiplin serta terlibat dalam produksi teater secara berkala, terus menerus, dan relatif sering. TH II dimainkan oleh para pelajar yang dengan usaha, perjuangan yang sangat keras serta patut dihargai mencoba mendekati karakter-karakter dan tuntutan penokohan dalam naskah. Bentuk TH II yang begitu megah dengan sumberdaya keaktoran serta tim kreatif yang berasal dari anak-anak sekolah sebenarnya memiliki sebuah tegangan yang besar. Idealisasi naskah dan usaha mewujudkan pilihan-pilihan artistik TH II dalam ekstrim tertentu bisa berarti sebuah kreasi yang memberdayakan, tetapi bisa juga jatuh pada pretensi menjadikan para aktor dan tim artistik sebagai robot. Tegangan ini hendaknya terus direfleksikan oleh Evergrande dalam produksi dan proses kreatif karya-karya selanjutnya.

Lebih jauh dari sekadar yang ditampilkan oleh para aktor dalam pertunjukan ini, TH II sebenarnya dibangun dari sebuah konsep cerita dan pertunjukan yang sangat biasa. Penokohan dibangun dalam dua ekstirm baik-buruk/jahat, pelaku-korban, protagonis-antagonis, penjahat-pahlawan yang sangat umum dan hampir tidak manawarkan alternatif dinamika psikologi, suasana batin, tampilan imaji-imaji yang kemudian ditubuhkan dan terekspresikan dalam varian gerak dan koreografi. Pemunculan karakter dan penyampaian dialog melalui vokalisasi terbatas pada dua pilihan yang sangat umum, kalau tidak marah-marah pasti sedih-sedih (melankolis). Eksplorasi gerak ditampilkan dalam adegan-adegan yang anarkis, brutal, dan penuh dengan kekerasan fisik. Kekerasan mungkin referensial jika dihubungkan dengan praktik perdagangan orang. Namun, yang muncul dalam TH II sebenarnya lebih jauh dari itu, yakni mencoba menggambarkan praktik perdagangan manusia dengan segala kerumitan dan persoalannya sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Sesuatu yang sering sekali muncul dalam teater-teater di Flores.

Pertanyaan saya dalam salah satu ulasan berjudul ‘Menyimak Khotbah’, tentang salah satu pentas teater Aletheia, saya ulang di sini, mengapa kemudian anarkisme dan kekerasan yang dipilih dalam banyak garapan-garapan teater di Flores?

Bisa jadi kekerasan memang menjadi potret yang relevan dalam tubuh masyarakat kita atau adegan kekerasan yang dialami Yesus yang menjadi referensi paling tua dan dekat dengan kita di Flores (mayoritas Katolik) masih dirasa cukup ampuh meneror dan kemudian membangun persuasi bagi sikap jera, sadar, takut, yang juga mempengaruhi pertimbangan dan pilihan tindakan-tindakan kita? Patut dicatat, anarkisme dan kekerasan adalah sebuah lapisan psikologi, imajinasi, dan kondisi kejiwaan yang dalam, yang sangat personal sekaligus politis dalam menggambarkan sekaligus menyusupkan wacana-wacana represi, subversi, hegemoni, dan sadomaskisme.
Penubuhan dan pemilihan karakter laki-laki sebagai penjahat, dengan tubuh hitam-merah, perempuan sebagai korban dengan pakaian putih-putih dengan muka lebam dan borok luka adalah imaji-imaji yang sudah sangat umum dipakai dalam merepresentasikan karakter baik-jahat, pelaku-korban, sejak awal dapat ditebak, serta tentu saja semakin menegaskan bipolarisasi yang sudah dijelaskan di atas. Yang juga menarik (untuk dianalisis secara lebih serius pada bagian lain) adalah posisi gender dalam penokohannya. Pada bagian awal, korban ditampilkan dalam tubuh perempuan, sebaliknya pelaku dalam tubuh laki-laki. Relasi pelaku-korban dengan penubuhan laki-laki – perempuan dalam perspekti gender bisa juga menjadi kritik atau sebaliknya menegaskan pola dominan-subversif antara laki-laki dan perempuan dalam budaya dengan corak patriarkal yang kuat.

Sorotan terhadap ekstrim-ekstrim ini, secara khusus dalam hal gender, juga sangat kental dapat dilihat dalam percakapan antara tokoh pemukul batu (laki-laki) dan beberapa perempuan dalam dialog tentang Sarinah. Dialog itu, dengan ejekan-ejekannya menyoroti seorang laki-laki yang dianggap loyo karena mengurus tungku yang sebenarnya seturut konsepsi masyarakat, atau paling tidak yang terkonstruksi dalam pikiran lawan dialognya lebih cocok dilakukan oleh perempuan. Yang menarik, legitimasi ini datang dari mulut perempuan sendiri. Karakter perempuan-perempuan ditampilkan secara sangat provokatif, agresif, menguasai pembicaraan dan laki-laki cenderung sabar dan menahan semua ejekan. Pada akhir percakapan panjang tentang sosok Sarinah yang kabur identitasnya, posisinya dalam bipolarsasi benar-salah, pelaku-korban, laki-lakilah yang kemudian tampil sebagai pembawa resolusi, pembawa kebenaran. Wacana-wacana panjang dari tubuh-tubuh perempuan tadi mentah begitu saja, seakan-akan hanya basa-basi tanpa isi. Wacana-wacana itu terlalu dangkal untuk menjadi alternatif yang bisa menciptakan dialektika, yang membuat percakapan itu bisa merangsang penonton untuk berpikir dan menimbang kemungkinan-kemunkinan.

Dialog pada kisah tentang Sarinah ini dibuat sangat panjang. Repetisi pada kata tungku, Sarinah, batu, dapat dilihat sebagai upaya penegasan sekaligus demi menciptakan metafora. Namun menurut saya, upaya ini gagal karena cenderung membosankan secara auditif (berkaitan dengan cara dialog dibawakan) dan terlalu abstrak. Pada momen percakapan tentang Sarinah ini, saya justru membayangkan sebuah percakapan yang lebih intim dan personal, sehari-hari, tidak kelebihan dramatis dan dibuat-buat. Setting yang domestik, dengan tungku dan perapian, tentu sangat cocok dengan situasi rumah, yang akrab, yang mengkondisikan percakapan yang lebih afeskional tetapi justru memancarkan sekaligus menjadi teropong bagi penonton untuk melihat konstelasi ekonomi-politik yang lebih luas yang mengkondisikan terciptanya problem domestic yang diperbincangan, dan problem perdagangan manusia secara umum.

Posisi-posisi gender yang dipilih dalam TH II bisa jadi merupakan upaya merepresentasikan situasi sosial kultural yang telah terkonstruksi dalam tubuh masyarakat. Namun, representasi juga memiliki problem sendiri seperti yang ditegaskan Judith Butler merujuk pada Foucault. Representasi berpretensi sekadar mewakili atau mendeskripsikan yang sudah ada, tetapi pada kenyataannya apa yang konon direpresentasikan justru sedang diciptakan (ditegaskan) dengan cara itu (Bandel, 2016:28).

Saya melihat naskah TH II sebagai naskah dengan perspektif maskulin sosiologis, yang menampilkan posisi perempuan dengan sangat sedikit alternatif pilihan dan cenderung tunduk pada konstruksi wacana dominan yang bercorak maskulin.

Keterbatasan lain yang muncul adalah soal pemanggungan. Menurut saya, TH II yang kolosal ini lebih cocok dimainkan dalam format arena dari pada prosenium. Ini tentu menimbang interaksi pemain dengan penonton yang ada di sisi kiri dan kanan area bermain. Interaksi pemain umumnya hanya terjadi satu arah, yaitu dengan para penonton yang ada di depan panggung. Selain interaksi yang terbatas itu, posisi penonton perlu juga dipikirkan. Menyesuaikan dengan bentuk pertunjukan yang kolosal, TH II juga mungkin perlu mendesain level-level podium bagi penonton, mempertimbangkan jarak dan jangkauan pandangan penonton ke area bermain.

Menonton TH II, seperti menonton Aletheia dalam bentuk yang lebih kolosal dan megah. Konsep-konsep penokohan, penubuhan, vokalisasi, pembangunan alur cerita, dan interaksi dan eksplorasi ruang sudah bisa ditebak dan dibayangkan sejak awal. Dari pada sebuah preferensi estetis, hal ini lebih diakibatkan oleh keterbatasan referensi pertunjukan yang memang secara umum terjadi di Flores. Juga tentu keterbatasan infrastruktur serta tenaga teknisi. Yang paling penting untuk dipikirkan kemudian adalah bagaiamana menyiasati keterbatasan-keterbatasan itu.

Tungku Haram dan Edukasi Publik

P. Yerem Bero, SVD kepada indonesiasatu.com menilai bahwa TH II memiliki misi khusus yaitu misi kemanusiaan selain sebuah seni pertunjukan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perhelatan TH II yang kolosal, berhadapan dengan medan pertemuan dan persinggungan yang juga kolosal dengan banyak simbol dan representasi diharapkan menjadi teror yang efektif dalam membangun kesadaran terhadap problem perdagangan manusia. Meski tidak melalui satu studi resepsi yang komprehensif, saya menilai keterlibatan siswa-siswi baik dari Syuradikara, SMA Loyola, maupun Rumah Kreasi baku peduli adalah sesuatu yang berharga, yang turut membentuk medan penolakan yang besar bagi persoalan perdagangan manusia yang juga kolosal itu. Pengalaman mereka terlibat, mendengar, mengalami rangkaian aktivitas kampanye melawan perdagangan manusia ini kemudian dapat memberikan mereka pengetahuan soal perdagangan manusia dan membantu mereka memaknai kemanusiaan manusia. Pengalaman dan pemaknaan ini diharapkan dapat beresonansi di antara pribadi-pribadi. Resonansi itulah yang kemudian membentuk medan yang lebih besar, generasi yang secara sadar, kritis, dan tegas menyatakan penolakan terhadap perdagangan manusia.

Edukasi yang lebih intens tentu dirasakan oleh segenap aktor dan tim kreatif TH II yang adalah siswa-siswi SMA/SMK Syuradikara. Dalam produksi TH II, teater kemudian mendapat implementasinya yang boleh dibilang proporsional bagi pendidikan karakter siswa. Perjuangan para siswa-siswi mewujudkan hal-hal, ketahanan mental mereka mempersiapkan detail-detail yang dituntut oleh naskah pertunjukan, kerelaan mereka mengendalikan ego dan bekerja dalam tim, disiplin, kesadaran organisatoris yang terwujud dalam tanggungjawab terhadap bagian-bagian yang dikerjakan, ketaatan kepada pemimpin, kreativitas membangun komunikasi, adalah hal-hal yang kuat dan berharga yang mereka peroleh dan berbagi dalam proses penciptaan dan produksi TH II. Hal-hal ini kemudian dibingkai, dijiwai dengan satu semangat yang sangat politis, yaitu penolakan terhadap perdagangan manusia.

Pengalaman keterlibatan dalam TH II menjadikan spirit perlawanan terhadap perdagangan manusia terinternalisasi dengan baik. Harapan yang lebih jauh dari pementasan TH II adalah agar publik penonton disadarkan, bahwa masalah perdagangan manusia dengan segala kerumitannya ada, dekat, dan sedang berlangsung di tengah masyarakat kita.

Perayaan di akhir pementasan, tepuk-tangan penonton yang meriah, gemerlap kembang api, dan dentuman marching band diharapkan menjadi pendorong pesan-pesan kemanusian yang sudah disebarkan selama kurang lebih satu setengah jam sejak awal pementasan. Efek TH II seumpama aliran listrik yang mengalir sepanjang urat-urat perjumpaan, menemui simpul-simpul pertemuan, dan menjadi daya bagi medan yang sudah terbentuk, yang tahu dan sadar bahwa pertunjukan ini adalah perlawanan terhadap praktik perdagangan manusia.

Kita berharap, arus makna TH II yang mengalir itu bisa melampaui sekat-sekat kepentingan, agenda, dan motivasi yang tak kasat mata dari satu medan pertemuan dan perjumpaan yang besar itu.

 

*) Penulis adalah orang baik-baik. Pegiat di Komunitas KAHE, Maumere.

Check Also

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Puisi-puisi Theresia Avila*

(Sumber gambar: menujuabba.com). DOA Puisi tak berjudul Suluh mengantar harapPada Yang Kuasa Untuk berserah Ende, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *