Home / Dipantara / Seni Sastra / Puisi-puisi Vallentino*

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com)
.

DINGIN

Kita adalah dua hal berbeda tanpa nama
yang sungguh membenci musim dingin.
Sebenarnya itu salah.
Kitalah yang memaksa musim menggigil kedinginan,
merasakan neraka dingin yang kita ciptakan;
musim dingin yang membenci kita, bukan sebaliknya.

Mungkin,
itu karena kita selalu merasa bahwa kita jauh, tak bersatu.
Tapi aneh,
di musim dingin kali ini,
kita temukan diri kita terheran-heran:
“Ternyata aku butuh kau dan kau butuh aku” — semoga saja tidak salah.

Sudahlah, jangan sendiri.
Kita memang harus bersama menciptakan hangat untuk membunuh dinginnya musim ini.

Ledalero, Desember 2018

.

DINGIN (II)
(DIngin yang seLAlu SALah membunUh; teruntuk 13 Desember)

Ini dingin,
mati yang ditusuk angin dan morfin yang manis-manis asin.
Sayang sekali,
dia mengincar mangsa yang juga mengincar pemburu,
seolah-olah mati adalah kenikmatan baru.

Ini dingin,
mati yang hendak membunuh.
Tapi sayang, salah menjadi hakikatnya selalu,
seolah-olah semua yang ada ingin mati
dalam senyumannya yang ayu.

Ledalero, Desember 2018

.

DALAM INGATAN SELALU
: teruntuk 13 Desember

Di kios di tikungan sana,
aku pernah membeli penghapus karet yang memang awet.
Iya,
waktu itu aku mau menguji kekuatanmu
apakah kau masih saja kuat bertahan dalam ingatanku.
Ternyata aku salah.
Bukan kau saja yang bercengkeram kuat di ingatanku,
tapi ingatanku juga kuat mencengkeram cengkeramanmu.

Penghapus karet itu akhirnya mati melihat kita yang tak mau beralih.

Ledalero, Desember 2018

.

PULANG

Dulu, ketika ikut ibu ke arisan ibu-ibu muda,
aku selalu saja bertanya:
“Ibu, kapan sih pulangnya?”

Ibu yang waktu itu masih muda jelita selalu pula menyiramkan jawaban:
“Ah, pulangnya masih bisa kita tunda.”

Setiap kali aku ingin membantahnya dengan genangan jawabanku sendiri
yang ada di kepalaku:
“Kenapa bukan arisannya saja yang ditunda?”

Lalu,
ketika kini aku ikut dalam arisan perasaan kita,
barulah paham menghamili benakku dengan pengakuan;
aku juga akan menyiramkan jawaban ibuku jika saja ada yang memintaku pulang:

“Ah, pulangnya masih bisa kita tunda.”
Atau bahkan mungkin,
“Ah, kata pulang sudah hilang, tak akan datang!”

Ledalero, Januari 2019

.

MENGENAL SAMPAI TAK MENGERTI

Kuas yang kubeli kemarin ternyata membuatku sombong,
hanya tanganku yang mampu menggambar wajahmu;
hanya aku yang betul-betul mengenal dirimu.

Sayang,
ternyata aku bukan mengenal,
aku hanya memaksa mengenali pikiranku sebagai yang mengenalimu.
Bukankah kanvas yang sudah kutuangi gambar ini
telah bilang bahwa aku tidak mengerti sedikit pun?

Maaf,
aku bahkan tidak mengerti kalau aku tidak mengerti.

Ledalero, Februari 2019

.

.

*) Penyair adalah pria yang lahir di pulau Rote, NTT. Mencintai musik dan sastra serta berminat pada pemikiran para filsuf kuno. Sekarang tinggal di Ledalero, Flores, NTT sambil mendalami pemikiran para filsuf kuno yang diminatinya itu. Dapat dikontak melalui: vallenesvede@gmail.com atau WhatsApp (081356458813).

Check Also

Cerpen: Runtuhnya Tembok Yerusalem

(Sumber gambar: bayuajitour.co.id). Oleh: Rian Odel* Pada permulaan, di sebuah tempat yang dipenuhi oleh pepohonan …

Puisi-puisi Theresia Avila*

(Sumber gambar: menujuabba.com). DOA Puisi tak berjudul Suluh mengantar harapPada Yang Kuasa Untuk berserah Ende, …

2 comments

  1. Waoo keren banget… 13 Desember mmg terbaik

  2. Keren…. 13 desember mmg terbaikk .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *