Home / Dipantara / Seni Sastra / Puisi-puisi Rahmat Akbar*

Puisi-puisi Rahmat Akbar*

.

.

MEMBACA PERISTIWA

Jalan hidup penyair itu
Adalah membaca peristiwa
Menabung aksara
Dalam vonis terhadap dirinya
Kemudian di malam buta
Dia berkutat dengan kata
Agar menjadi puisi

.

Lalu, di dalam sebuah kamar
Dia rangkai, menghimpun makna agar dibaca
Terlahir dari hati nurani yang suci
Hingga larut malam, berangsur sepi

.

Ingat, di matanya lesap akan makna
Di bibirnya terangkai kata
Di telinganya mendengar peristiwa
Dan di jarinya tempat sebuah karya ada

Kotabaru, Februari 2019

.

(Sumber gambar: soundcloud.com)

.

TANAH BORNEO

Sesungguhnya, tanah di sini subur
Subur akan air mata
Sejak orang Kincir Angin berkuasa.
Pangeran Antasari dengan perkasa
Menentang semua yang ada
Haram baginya tanah Borneo dirampas haknya.
Hingga merdeka mereka pergi semua

.

Sekarang semua hampir sama saja
Ada kaum kapitalis berkuasa
Tanah Meratus ingin diperkosa
Diambil keperawanannya
Hanya untuk mendapatkan emas hitam semata

.

Ini adab terhadap bumi
Haruskah kita biarkan lahan air mata
Menyeruak di lumbung kepunahan
Bahwa segala yang lahir dari rahim hutan
Harus kita bentuk dengan kubangan

Kotabaru, Februari 2019

.

SEPUCUK SURAT UNTUK HUJAN

Daun-daun tertidur pulas
Ia menghela napas
Menanti sepucuk surat
Yang dikirim hujan melalui bulirnya

.

Aroma tanah pun mengajak bercengkerama
Menanti musim basah akan fakir kemarau

.

Ada yang harus kita baca melalui tanda
Mendung berusaha menjemput mata air
Begitu pun hidup
Becerita perihal peristiwa kematian
Dan tumbuh baru

Kotabaru, Februari 2019

.

SUARA

Suara siapa yang teduh itu
Serak basah rindu berkelindan
Dia pun semakin lelah
Semenjak senja menggerogotinya

.

Suara siapa yang di kakinya tumbuh surga
Aku tak perlu menjawabnya
Karena kalian tahu semua
Dia yang mencatat cerita di tubuh kita

.

Tuhan menitipkan cinta
Salah selalu dibetulkan
Hingga riuh itu pecah
Mengukir jelaga kesetiaan

.

Adakalanya kita tak pernah lagi mendengar suaranya
Mendaur ulang kata demi kata
Memunggut waktu semakin renta
Di dalam lelap abadi
Suara itu tak ada lagi.

.

Lalu, kita akan meredam kenangan
Pembatas. Tanah bertabur bunga
Menawarkan aroma, seberapa perih kehilangan
“Ibu”. Rumahmu mengajari segala yang berbau rindu.

Kotabaru, Februari 2019

.

MENUNTASKAN WAKTU

Pada-Nya aku menuntaskan waktu
Dalam kemudi pasti akan berhenti
Berkaca dengan mata hati
Sebuah kereta melesat, terlampau hanyut buaian mimpi

.

Ah, merindukan terasa berat
Bumi tempat singgah
Menuju arah langit akan terasa terjal
Apabila tabungan belum cukup maka terus tambah
Untuk menikmati yang dijanjikan-Nya

Kotabaru, Februai 2019

.

KETABAHAN

Meruntuhkan ketabahan
Walau diperas waktu
Diulur-ulur kekalutan
Dalam penguasaan diri berdebu
Sejatinya manusia adalah ikhlas

Kotabaru, Februari 2018

.

BERGURU PADA RINDU

Berguru pada rindu
Bagaikan akar yang setia menggenggam tanahnya
Seperti terbit fajar, tabah menantikan senjanya
Lalu, angin menyapu di tengah pekatnya malam

.

Kau tahu tentang rindu
Bukan diucapkan secara lisan
Namun, rindu tertancap pada relung hati
Menyimpan rapat pada dambaan hati

.

Berguru pada rindu
Kita papah segenap harapan
Pada insan idaman

.

Lalu rindu terus mengintai
Dengan untain kata dan doa
Antara Sang Pemilik segalanya

Kotabaru, November 2017

.

TANAH RISAUMU

Tanah risaumu
Menceritakan keluh pada kubangan
Menjerit di antara guratan jalan yang berdebu
Ke mana perginya hutan meninggalkan luka mendalam?

.

Risaumu
Tidak hentinya kau degungkan, ketika mereka berkuasa
Tangan besi merampas di malam sepi
Kau ambil napas untuk anak cucuku di sini

.

Setelah Sebuku, Senakin
Tanah subur kini menjadi luka peninggalan
Air mata hujan menjadi kepiluan
Tanah mana lagi, kau buat berantakan?

.

Tanah risaumu, karena kaum kapitalis
Tidak lagi mereka peduli
Setiap waktu mereka gauli tanpa henti
Lalu, membawa pada perjanjian tanah yang berkubang
Dan musim enggan menjadi pemenang

.

Tanah risauku meminta
Kembalikan aku pada rahim hutanku
Yang lama berdarah dan resah
Menyimpan perih yang tak berkesudahan

Kotabaru, 12 Februari 2018

.

HIKAYAT ANAK BAGANG

Di belahan laut angin merembes pada rerumahan kecil
Berdiri tegap di atas banyu uyah
Anak bagang, pergi menerjang gelombang
Tanpa ragu diraupnya segenap pengharapan

.

Di bibir pantai segenap buliran doa terbentang
Di tanah Bamega terdengar cerita Saranjana
Namun, itu tidak jadi penghalang karna Kuasa menentukan

.

Anak bagang tidak peduli pada dingin yang menusuk tulang
Melepas ruang-ruang yang sendu
Di malam bercumbu dengan waktu
Lalu, malaikat pun mencatat semua yang berlalu

Kotabaru, Desember 2017

.

.

*) Penyair lahir di Kotabaru, Kalimantan Selatan, 4 Juli 1993. Cerpennya dimuat di Medan Post dan Kabapesisir, puisi-puisinya mengisi beberapa media massa seperti Republika, Pikiran Rakyat, Hari Puisi, Padang Ekspres, Haluan, Denpasar Post, Redaksi Apajake, Bangka Pos, Solo Pos, Riau Post, Malut Post, Jurnal Asia, Fajar Makassar, Kampoeng Jerami, Takanta.Id, Majalah Cikal, Kabar Madura, Majalah Simalaba, Minggu Pagi, Medan Post, Kabapesisir, Radar Mojekerto, Radar Bojonegoro, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Radar Banyuwangi, Koran Dinamikanews, Malang Post, Analisa Medan, Magelang Ekpres, Flores Sastra, Koran Merapi, Tribun Bali, dan Media Kalimantan. Puisi-puisinya tergabung pula dalam “Hitammu di Tanahku” antologi puisi ASKS ke-13, antologi “Gemuruh 1001 Kuda Padang Sabana”, antologi puisi Taman Sastra “Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku”, antologi “Pesan Jalan” Tadarus Puisi Kalsel 2017, antologi “Maumang Makna di Huma Aksara” ASKS ke-14, antologi “Pesan Wakil” Puputan Melawan Korupsi Bali, antologi “Hutan Hujan Tropis”, antologi “Negeri Seribu Wajah” Indonesia Lucu Jilid VI 2018, “Sepanjang Jalan Tanjung Serdang” Tifa Nusantara 4, “Lari-larian, Lerek-Lerekan” GSSL, “Sebelum Keindahan Ini Karam di Lautan” Rain Day 2 Banjarbaru 2018, dan sejumlah antologi bersama.

Mengabdikan diri di SMA Garuda Kotabaru dan pendiri sekaligus pembina siswi-siswanya di Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Dapat disapa melalui rahmatakbar464@gmail.com, FB: Kai.akbar, dan HP: 082254609721.

Check Also

Cerpen: Dendam Musim Panen

(Sumber gambar: Tandaseru.id) Oleh: Yance Paji* Sudah lama orang-orang Kojabewa menanti panen cengkih yang melimpah. …

Cerpen: Catatan Lepas Selama di Jalan

(Sumber gambar: Isi Buku Sketsaku) Oleh: Marsel Koka, RCJ* Senja semakin tenggelam dalam muram. Mentari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *