Home / Dipantara / Seni Sastra / Puisi-puisi Marselus Natar*

Puisi-puisi Marselus Natar*

.

.

DERU DEBU

Bila perjalanan adalah perjuangan

Izinkan aku sejenak menyingsingkan lengan

Merapikan langkah kaki yang kian lenggang ke persimpangan

Meluruskan tatapan mataku pada keterarahan titik bidik tujuan

Lalu perlahan pasti meninggalkan jalan kemarin

Yang deru debunya masih terngiang di kemah ingatan

Dengan seribu satu kesan juga pesan

MELARUNG KENANGAN

Di sudut ingatan

Jarum detik, menit, dan jam termangu

Menghentikan laju hari yang larinya melampaui pikiran

Tak pelak desiran angin berubah sepi

Lambaian dedaunan pun berhenti

Debu-debu di jalanan enggan berlayar jauh dari tanah

Burung-burung beterbangan tanpa ciutan pun kepakan sayap diaturnya sedemikian sehingga tiada suara terdengar

Semesta yang sejatinya fasih dengan kegaduh-riuhan mesti sunyi bagai rahim hutan belantara

Diam-diam dan pelan-pelan kuayunkan langkah pasti

Aku melarungkan kenanganku tanpa ada yang tahu

Kecuali aku juga Engkau

(Sumber gambar: jawaban.com)
.
.

BEJANA

Di telapak tangan-Mu aku bagai bejana

Aku yang remuk dibentuk baik adanya

Dikebasnya dariku segala degil noda dosa

Melepaskanku dari lekat-rekat dusta nestapa

Tuhanku, tubuh ini adalah gundukan tanah yang fana

Tempat segala debu dan yang lata berada

Masa mata-Mu tidak memandangku hina?

SIAPA YANG MENYURUHKU DATANG?

Kubiarkan waktu berlari berlalu

Tak kutemukan tapal jalan selayang pandang

Ini bukan perjalanan biasa sebab perkara bersenang-senang kukekangi dengan seribu satu pantangan

Segala nazar telah membelah angkasa

Langkahku adalah menjejal jejak keheningan

Tiada suara sapa dari siapa-siapa

Akh, siapa yang menyuruhku datang?

Bila segala nada serta irama kata-kata kupendam

Akh, itu jalan Kau sediakan untuk siapa?

Dalam langkah tergontai enggan kuberpaling

Sebelum meraba janggut dan rambut-Mu nan panjang


(Foto: FB Marsel Natar)

*) Penyair adalah seorang rohaniwan Katolik. Sekarang menetap di Komunitas St. Yoseph, Maumere, Flores. Selain sebagai penulis, baik puisi maupun cerpen, ia juga seorang penikmat karya sastra karangan siapa pun, penikmat kopi, singkong, dan lagu dangdut. Puisi-puisi di atas diciptakannya di rumah Retret Kemah Oesapa, Kupang, saat mengikuti retret tahunan bersama konfrater sepanggilannya.

Check Also

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Puisi-puisi Theresia Avila*

(Sumber gambar: menujuabba.com). DOA Puisi tak berjudul Suluh mengantar harapPada Yang Kuasa Untuk berserah Ende, …

One comment

  1. Puisi sangguh nikmat.
    Terima ksih ka,,

    Bdw, salam kenal dri sayaa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *