Home / Dipantara / Seni Sastra / Puisi-puisi Mario D. E. Kali*

Puisi-puisi Mario D. E. Kali*

 

Bukan Sebuah Cengkerama

sesewaktu temu memburu
kata-kata meletakkan cengkerama dalam diam

siapa melucu?

saling tanya dalam tatap yang kaku
jawaban hampa.
temu memburu dan memakan waktu
sudah sejam belum mulai sepatah kata

siapa memulai?

saling tatap dalam tanya yang beku
jawaban tiada.
sekejap saja hujan jatuh membasahi paras
deras isak bias pendam meluap
ah, sayangku sudah lama waktu membungkam
datang memburu temu memang tiada tahu apa mau dikata
sebab ini bukan waktu sebuah temu ‘tuk bercengkerama
hanya ingin memulai lagi yang sudah usai.

apa mau dikata?
merunduk. keduanya berlalu menuju masing-masing entah dan tanpa kata.

Benjer Kos, kala November bersemi, 2018

 

(Foto: https://goo.gl/images/fNJvZR)

 

Pesta Wayang

Musim pemilu bersemi di tanahku
Bertebaran selebaran kemuka
Sosok srikandi dan arjuna
Saatnya pesta wayang dirayakan di tanahku

Menyambut pesta wayang suara berkoar janji
Manis semanggi tak kuasai tandingi manis janji
Srikandi dan arjuna berkoar
Menyebar undangan pesta wayang bertulis moto memoar

Pesta wayang digelar aduhai meriah saban hari
Srikandi dan arjuna turut hadir jua dalam bayang semu
Hanya melayang raut mereka pada kertas-kertas bisu
Undangan berbondong datang menepati janji

Rakyat jelata menempati kursi undangan
Menghadiri pesta wajib membawa kado amplop berisi suara pilihan
Antara raja dan srikandi yang mapan
Akan mendapatkan lebih kado amplop dari suara pilihan

Selanjutnya pesta wayang bubar
Siapa tuan atas pesta wayang itu?
Raja, srikandi, atau rakyat jelata yang menggelar?

tanya keluh menagih janji bertebar di tanahku.

Benjer kos, pada sebuah malam, 2018

 

Memendam Ingin

ia menjelma ingin ketika hujan bulan Juni usai
semburat pelangi menggantung diri
di beranda rumah Sapardi
cinta dan pendam beradu dalam sepi

ia memendam rindu jadi kemelut selama usia
masih sama-sama mencari letak paling mapan
di gubuk duduk Goenawan
bersajak Asmaradana berpadu dalam waktu

ia berdiri di antara
sekali menyapa, ia bingung memilih
ingin semburat pelangi merias raut jadi mapan
usia masih meringkus rindu ingin terpendam

di beranda rumah Sapardi tak tentu mengubah
semburat pelangi jadi pelita cinta yang terpajang di atas kaki tempayan
sedang Goenawan masih saja bersajak keluh
dan ragu-ragu ia terpaku pada setiang ingin terpendam

Menuju Ende, sehabis pelangi di tengah samudera, 2018

 

Ketika Mata Berkata

aku tak punya kuasa memejam mata
sekejap menampik kau berkata
menancapkan diriku dalam sipu

apa salahku?

diri ini begini saja
pada kepala punya mata
yang tak mungkin mungkir hasrat mengundang mau

apa salahku?

ketika kumau tangkap kau dari mata
dan kumau ikat kau pada kata
silakan kita sendiri mengartikan diri

adakah salahku?

Manikin, dalam sebuah impi menemui dia, 2018

 

 

*) Penyair adalah penghuni Benjer Kos yang kini sedang berkuliah di STFK Ledalero, Maumere. Ia juga adalah anggota komunitas Arung Sastra Ledalero (ASAL).

 

Check Also

Cerpen: Runtuhnya Tembok Yerusalem

(Sumber gambar: bayuajitour.co.id). Oleh: Rian Odel* Pada permulaan, di sebuah tempat yang dipenuhi oleh pepohonan …

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *