Home / Dipantara / Seni Sastra / Cerpen: Judulnya Aku Tak Tahu

Cerpen: Judulnya Aku Tak Tahu

 

(Foto: https://goo.gl/images/6Qpn49)

 

Oleh: M. Cres*

 

Namanya Dito. Pria kecil yang selalu membangunkanku dengan semangat baru oleh sunggingan senyum di bibirnya. Manis seperti secangkir teh yang selalu kusesap di pagi hari.

Dito adalah hadiah istimewa di bawah guyuran hujan kerinduanku. Kerinduan menjadi seorang ibu secara istimewa.

Kerinduan yang mula-mula dengan malu kusembunyikan, lalu menjadi seperti kemarahan-kemarahan kecil dalam doa. Dito hadir serupa mentari yang tiba-tiba menyeruak dari balik awan gelap. Hangat. Lalu, pelangi pun tak kalah gemilang hadir seperti hendak mengatakan bahwa janji-Nya padaku telah dibayar tuntas. Bahwa air mata dan ratapanku telah berhasil merayu-Nya. Bagaimana hal ini tidak terjadi jika Dia selalu mudah iba pada keluhan oleh karena cinta yang tak terbatas?

Dalam dekapku di malam ini, Dito semakin pulas tertidur. Aku menyadari, setiap memandangnya, seluruh diriku diingatkan pada demikian banyak tangan terkatup dan bibir berucap doa untuk mendukung kami menggapai rindu yang secara manusiawi rasanya takkan mungkin menjadi nyata.

***

Tujuh tahun yang lalu, dalam kegelisahan, aku dipaksa harus memilih mempertahankan ego kewanitaanku, harga diriku, martabatku, atau nyawaku.

Sesuatu yang aneh, karena di hadapan nyawa, tak ada pilihan lain yang akan menjadi demikian lebih pentingnya.

Namun, lamanya waktu yang telah kulewati, lebih dari 10 tahun, sesungguhnya telah menunjukkan bahwa aku masih memilih egoku. Harga diriku. Martabat keberadaanku. Sebuah keputusan yang lalu membuatku memaksa Mama menemaniku melampiaskan amarah dalam kata yang terucap oleh tetes-tetes air mata di Kapela St. Kamilus, berjam-jam lamanya.

Berdua. Sepi. Hanya sakit yang menjalar dari dalam hatiku hingga ke seluruh tubuhku. Berdarah hatiku. Remuk ragaku.

Aku berusaha menyudahi tangisku, menatap Mama yang juga sesenggukan di sampingku. Aku tak mampu mengatakan bahwa aku kuat seperti sebelumnya. Lalu tangisku kembali pecah di pangkuannya.

“Mama, maafkan aku. Maafkan aku harus berurai air mata. Maafkan aku, air matamu adalah karena aku. Mama, aku ingin Mama tahu bahwa keputusan ini bukan karena aku menyerah. Aku hanya harus memilih salah satu. Dan salah satu alasannya adalah aku tak mampu lagi bertahan menciptakan mendung di wajahmu dan di wajah Bapak 10 tahun terakhir. Biarlah, biarlah ini berlalu, Mama. Hingga saatnya nanti, Dia akan penuhi janji-Nya untuk menggantikan apa yang dengan paksa direnggutnya dari padaku dengan sebuah hadiah baru yang istimewa.”

Kudengar Mama juga terisak. Bulir-bulir air matanya menyatu dengan banjir air mata di pipiku. Perlahan suaranya lirih kudengar.

“Maafkan Mama juga. Mama tidak bisa menjadi Mama yang hebat untukmu. Mama tidak bisa menyiapkanmu menjadi sebagaimana Inang menyiapkan Mama.”

Lalu kami berpelukkan. Hatiku hangat. Hangat oleh sentuh kasihnya. Mama, mungkinkah akan ada saatnya nanti ketika aku memeluk putri atau putraku dalam tawa bahagia pun dalam tangis kecewa serupa ini? Kataku dalam hati sambil menatap tabernakel bernyala di hadapan kami.

“Ah, mengapa aku? Mengapa harus aku?”

Kembali isak tangisku pecah. Aku tak tahu kepada siapa sebenarnya kata-kata ini kutujukan. Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Mengapa harus aku? 

Mama memelukku erat dan mengatakan betapa dia sangat mencintaiku.

***

Aku dan Mama berjalan menyusuri selasar putih itu, menuju ruangan tempat aku dirawat. Kami berjalan bergandengan dalam sepi. Berpapasan dengan banyak keluarga pasien. Sesekali kami memasang senyum bagi para perawat yang sudah sangat mengenal kami karena begitu seringnya aku dirawat di situ.

Dua hari lagi, operasi harus dijalankan. Aku meminta izin sepanjang hari Minggu ini, seluruh infus dilepas. Lelah seluruh tubuh. Bertahun-tahun aku tidak hanya akrab dengan rumah sakit. Aku bahkan menyatu dengan semuanya. Dengan dokter, perawat, bidan hingga cleaning service-nya. Dengan skin test yang sangat perih. Dengan selang-selang oksigen. Dengan tusukan demi tusukan jarum. Dengan set transfusi darah. Aku bahkan telah lupa berapa banyak darah yang kuterima dari orang-orang berhati mulia. Setiap 2 bulan. Ya, selama 12 tahun belakangan, aku mengalami perdarahan hebat oleh kelainan yang terbawa sejak kecil. Kemampuanku beradaptasi dengan sakit menjadi sesuatu yang aneh.

“Sel darah merah orang Flores pasti pipih dan kokoh”, begitu seorang dokter muda mengatakannya di hadapanku dan Mama setelah dengan takjub dia memandang angka 3 g/dL pada hasil uji hemoglobinku dengan kondisiku yang sepertinya baik-baik saja dan masih beraktivitas.

Aku dan Mama hanya tersenyum kala itu. Andai Pak Dokter tahu, betapa aku lupa apa itu anemia karena seluruh hidupku, 12 tahun terakhir, adalah anemia berat.

“Dua hari lagi baru dipasang ya, Pak Dokter”, begitu aku meminta izin. Pria itu mengangguk sambil tersenyum.

Dr. Gustaf, Sp. Og namanya. Beliau adalah Dokter kesekian yang merawatku. Empat tahun sudah beliau merawatku. Beberapa hari terakhir kurasakan tatapannya berbeda dari biasanya. Sejak ‘terpaksa’ menerima opsi dariku dan tentunya dengan pertimbangan medis. Ada rasa iba yang dengan rapi disembunyikan di balik kedua matanya. Aku tahu dan aku benci tatapan serupa itu.

Dua hari, segala dukungan hadir dalam wajah-wajah sahabat, keluarga dan kenalan. Akun media sosialku dipenuhi tagar semangat dan motivasi. Aku hampir melupakan sakit dan kecemasan itu.

“Semua akan baik-baik saja Macil. Bukankah ini bukan operasi pertamamu? Ini operasi ketigamu. Semua akan baik-baik saja!” demikian dari seberang kakaku menyampaikan pesan.

Semangat itu muncul begitu saja. Menguatkan. Menenangkan. Aku lalu berpikir, mungkin ini salah satu alasan, mengapa banyak orang mengunggah kondisi tak sehatnya di social media. Mungkin mereka lagi sungguh-sungguh kehilangan semangat hidup. Mereka butuh ruang untuk menyampaikan pesan yang berbalas agar ketika komentar-komentar semangat itu disampaikan, akan sangat baik bagi disposisi batin mereka, walaupun tidak sedikit juga yang dengan sengaja untuk menyampaikan simpati.

Atau bahkan berpikiran bahwa menjadi sosialita belumlah sempurna jika belum ada unggahan tentang sakit atau pun penderitaan.

***

15 Februari, sehari setelah Valentine. Seluruh peralatan sejak pagi jam 4 dipasangkan kembali ke tubuhku oleh Bidan Ratih.

“Tahan sedikit kakak ew. Sabar. Habis ini semoga tidak akan pernah ada sakit ini lagi”, begitu Bidan Ratih menghiburku.

Satu per satu dengan telaten dipasangnya. Set infus, set darah, kateter, dan peralatan lainnya.

“Sebentar di ruang operasi seperti biasa ya, Kak. Akan dibius lokal ew”, demikian bidan Ratih membahasakan anastesi epidural yang akan aku jalani, dengan dialek Lio yang kental.

Aku mengangguk sekilas dan mulai membayangkan detik-detik yang selalu kutakutkan ketika berada di meja operasi.

Seperti biasa, Mama setia mendampingiku. Butir-butir Rosario kuat dalam genggamannya. Aku tahu, mulutnya komat-kamit melafalkan doa Salam Maria.

Pernah suatu waktu aku berkata kepadanya sambil bercanda.

“Mama, nanti Bunda Maria pusing, Mama datang terus meminta dukungan doa.”

Lalu dengan tersenyum, Malaikatku, demikian keyakinan Orang Katolik bahwa setiap kita punya Pelindung, mengatakan padaku, “Mama hanya minta satu saja. Tidak banyak. Tidak apa-apa. Bunda tidak akan pusing.”

“Satu saja dan untuk satu itu Mama harus datang meminta terus-menerus? Apakah itu, Mama?”

“Supaya ko sehat bagaimana pun caranya dan harus seperti apa pun!” Malaikatku memang keren, menyapaku dengan ‘Ko’.

Aku tertegun. Sejak itu, aku tidak pernah bertanya lagi.

Mama dan beberapa keluarga mendampingi saat brankarku didorong menuju ruang operasi. Sebelum aku dibawa masuk, Mama meletakkan butir-butir Rosario di brankarku.

“Biar Bunda yang menemanimu di sana”, katanya. “Mama harus di luar. Mama tidak bisa masuk. Bunda juga seorang Mama. Bunda pasti tahu bagaimana rasa hati Mama.”

Bagiku, itu adalah kata-kata tersejuk yang kudengar saat itu. Ah. Mama, aku berharap dapat menjadi sepertimu, kelak.

Masih teringat jelas dalam benakku, tetes air mataku mengalir begitu saja ketika aku memasuki ruangan operasi sendirian dan hanya ditemani bidan dari ruangan tempatku dirawat. Ketika mereka melakukan overan pasien seperti biasanya, aku semakin merasakan sakit yang luar biasa. Ada kecemasan. Di meja operasi semua keputusanku akan dieksekusi. Aku ingat bahwa aku tak ingin melihat mereka-mereka yang mencintaiku dirundung sedih berkepanjangan. Tubuhku pun telah memberi signal betapa ia tak mampu memikul beban yang berat terlalu lama. 12 tahun waktu yang tak sebentar. Aku ingat bahwa semua telah kuputuskan dalam kesadaran penuh, akan kusentuh ujung jumbai jubah-Nya dari meja operasi. Aku yakin aku pasti akan sembuh.

***

Dito menggeliat dalam pelukkanku. Bibirnya diusap-usapkan di dadaku. Dia haus, naluri keibuanku berkata. Sebotol susu hangat kudekatkan ke bibirnya. Diisapnya perlahan dan dia tertidur lagi.

***

Hari itu hari ke-16 di bulan November. Sehari setelah kami merayakan hari ulang tahun ke-4 pernikahan kami. Kabar hadirnya Dito sampai kepada kami. Seperti menang undian besar, aku hanya mampu berkata berulang-ulang, “Benarkah? Sungguh? Aduh, jangan main gila. Sungguh?”

Berkali-kali juga Dede, begitu aku memanggilnya, adik dari Ibuku, berusaha meyakinkanku.

“Kau selalu mengatakan pada kami untuk menjadi ibu bagi bayi-bayi yang kau kandung dalam kerinduan. Bicarakan dengan suamimu dan kita akan bertemu.”

Sekali lagi air mataku berbicara tentang keharuan yang tak dapat kukatakan lewat aksara. Sementara di luar hujan mulai reda. Secepat kilat kuhubungi suamiku,

“Dia. Anak kita. Dia sudah berada di sebuah tempat yang dekat dengan kita. Ayo Pa. Mari kita menjemputnya.”

Aku tak mendengar jawaban apa pun dari seberang. Hanya helaan nafas panjang suamiku. Aku merasa tak puas dengan reaksi suamiku yang datar dan sepertinya tak bersemangat sama sekali

“Pa… Pa… dia, sudah ada. Sudah dekat. Mari ke rumah Dede. Kita akan mejemputnya.”

Aku sedikit berteriak. Seketika telepon mati.

Lima menit berselang, suamiku muncul di hadapan kami. Diam tak banyak bicara. Sampai kabar itu disampaikan oleh Dedeku kepadanya. Dia hanya tersenyum simpul dan dengan mata berbinar-binar dia berkata, “Aku mau menjadi Bapak untuknya.”

Tuhan sendiri telah memilih dia untuk kami. Yang kami lalukan hanyalah terus merindukannya dalam doa-doa kami. Kadang terbersit keraguan. Aku pun takut. Aku takut angin membawa terbang impianku. Aku takut hujan demikian derasnya turun, hingga banjir dan menghanyutkan harapanku. Bahkan ketika pertama kalinya aku menyentuhnya di balik kulit berlemak, aku masih bingung, mungkinkah ini nyata? Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah memilihku menjadi ibunya. Terima kasih karena mau terus tumbuh kuat dan sehat dalam kerinduan yang sama untuk berjumpa denganku. Hatiku bergejolak. Dia di sana. Dan aku akan selalu di sini, menjaganya. Menantinya hingga waktunya tiba, Tuhan mengizinkanku berjumpa dengannya. Masih 3 bulan lagi. Rahasia ini kusimpan dalam hati.

Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu, begitu ku pinjam kata-kata Maria.

Rahmat ini terlalu besar. Sudikah Tuhan tetap memilih kami untuk menerimanya? Hingga malam itu, ketika aku berdiri di hadapan keajaiban itu. Kaki dan tangannya begitu mungil. Tangannya digerak-gerakan. Lalu dengan badan bergetar, kucondongkan kepalaku ke arahnya. Di telinganya ku berbisik, “Selamat datang Sayang. Ini Mama”.

Saat itu juga tangisnya pecah di tengah malam yang sepi. Air mataku tak mampu kubendung. Aku menyentuhnya dan badanku semakin bergetar. Kutatap wajah suamiku. Kami saling berpandangan. Hatiku membuncah, aku ingin berteriak padanya dan mengatakan, “Dia sudah tiba. Hadiah untuk kita dari Tuhan. Dia yang menjadi nama dari doa-doa kita. Anak kita, yang kukandung dalam kerinduan.”

“Dito. Namanya Dito”, kata suamiku tiba-tiba.

“Benedictus”, kataku. “Dito yang diberkati. Semoga ia menjadi berkat bagi kita semua.”

Kami berangkulan dan pertama kalinya di hadapan banyak orang, suamiku membiarkanku menangis di bahunya.

***

Dalam buaianku Dito menggeliat dan membuka matanya. Dia tersenyum sekilas. Lalu tertidur lagi. Kueratkan pelukanku. Doa-doa syukur kulantunkan pada-Nya, yang telah dengan setia mengasihi kami dan menghadirkan dia yang selalu menjadi berkat bagi kami.

Lelaplah dalam istirahatmu malam ini Sayang. Karena esok adalah hari baru yang harus kau taklukkan. Tersenyumlah Sayang karena kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Bahagialah dan jadilah seseorang yang berguna. Mama yakin, untuk sebuah rencana besar kau hadir dalam hidup kami. Tuhan, kutitipkan nama anakku di tangan-Mu. Agar selalu Kau genggam dan tak Kau lepaskan. Selamanya!

Ende, 20 November 2018

 

*) Cerpenis adalah seorang Perempuan yang bahagia sekali telah menjadi Ibu setelah penantian teramat lama. Tinggal di Ende, Flores, tempat Soekarno pernah diasingkan, tempat Ubi Nuabosi selalu the best.

 

 

Check Also

[Rilis Pers] Kolaborasi Teater Kontemporer Inter-Asia: Peer Gynts di Larantuka

[Dari kiri ke kanan: Norihisa Tsukamoto (Director General The Japan Foundation) – Ugoran Prasad (Dramaturg …

Puisi-puisi Muhammad Lutfi*

* ** SAJAK ANAK PIATU Wajah anak piatu Terasing dari rumah Menyeret asa dan kelabu …

2 comments

  1. Karena menjadi ibu itu sebuah rahmat. Termasuk mnjdi ibu secara istimewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *