Home / Dipantara / Seni Sastra / Cerpen: Dendam Musim Panen

Cerpen: Dendam Musim Panen

Oleh: Yance Paji*

Sudah lama orang-orang Kojabewa menanti panen cengkih yang melimpah. Untuk mereka, cengkih bukan sekadar komoditi yang menopang kehidupan ekonomi. Cengkih adalah roh yang menjiwai kehidupan desa. Ketika aroma cengkih pada musim panen menguar sampai ke setapak-setapak dan pelosok rumah merasuki napas orang-orang dari subuh hingga petang, mereka percaya, sesungguhnya Dua Nggae sedang berkenan menebarkan berkat-Nya kepada mereka. Orang-orang akan tampak lebih ramah dan bahagia.

Maka tahun ini, ketika panen berlimpah itu benar-benar tiba, orang-orang Kojabewa banyak yang terharu dan meneteskan air mata. Dua belas tahun sudah mereka dirundung kecemasan atas panen cengkih yang selalu tidak seberapa, yang bahkan pada waktu tertentu sama sekali tidak menghasilkan bunga. Penantian yang panjang dan melelahkan.

Orang-orang bahkan sempat meramalkan gagal panen yang berturut-turut itu sebagai kutukan dari Dua Nggae atas kejahatan yang telah dilakukan orang Kojabewa sendiri.

Terutama atas darah yang pernah tumpah di sebuah kebun cengkih, yang sampai sekarang berusaha ditutup-tutupi oleh para tetua desa.

Tapi kutukan itu dengan sendirinya dilupakan orang saat panen berlimpah sungguh-sungguh terjadi tahun ini. Orang-orang kampung, tanpa mengenal umur, tenggelam dalam euforia itu. Setiap hari Minggu, setelah enam hari penuh bekerja, akan selalu ada perjamuan siang bersama. Para lelaki akan bercanda ria sambil bermain kartu di bale-bale dan para wanita duduk bekumpul di bawah pohon yang rindang sambil mencari kutu dan makan sirih pinang. Sukacita mereka berlipat-lipat sampai cahaya keemasan di ufuk barat memanggil pulang, pertanda ternak-ternak sudah harus diberi makan. Malam harinya mereka akan lebih cepat beranjak tidur, seakan tidak sabar ingin berjumpa dengan pohon-pohon cengkih mereka saat fajar merekah.

Tapi suasana hangat dan menyenangkan itu hanya bertahan pada minggu-minggu pertama musim panen. Tepatnya sebelum Rilus, seorang anak lelaki asli Kojabewa yang sudah lama bersekolah di tanah Jawa, pulang ke kampung halamannya. Dan dengan sebilah parang, dalam sekejap mata, menebas leher Om Berto di halaman rumah Nenek Wea.

“Saya ingat. Bapak Doni sudah meramalkan pembunuhan ini. Dua belas tahun lalu.” Suara Om Markus tiba-tiba muncul di antara keriuhan orang-orang di halaman rumah Nenek Wea.

Dokter dan beberapa orang yang sedang mengerubungi tubuh kaku di tanah itu mengangkat wajah dan memandang Om Markus. Lelaki tua itu berdiri miring di atas kakinya yang pincang. Ragi hitam yang selalu melekat di tubuhnya, sebagaimana lelaki tua suku Lio pada umumnya, tampak erat menopang perutnya yang kempes serta dada keropos yang tersembunyi di balik baju kaos partai itu.

Seorang polisi muda, kira-kira berumur akhir dua puluhan, berjalan mendekati Om Markus. Langit masih mendung. Kulihat gerimis kecil yang mulai jatuh tampak menusuk-nusuk punggung dokter dan orang-orang yang sedang khusyuk di halaman itu. Om Markus tampak sedang bicara serius dengan si Polisi Muda itu. Diam-diam aku mengintip mereka dari balik pohon mangga tua di sisi kanan rumah Nenek Wea.

Sore ini memang agak berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Jarang sekali ada dokter dan polisi di kampung kami. Aku perhatikan pintu dan jendela rumah-rumah tertutup rapat. Tidak ada anak-anak yang berkejar-kejaran di pekarangan seperti biasanya. Kecuali Om Markus dan beberapa lelaki dewasa lain (dan aku yang sedang mengintip ini, tentu saja), tidak satu pun orang kampung yang berada di luar rumah.

“Jadi, pembunuhan yang hampir sama ini pernah terjadi dua belas tahun lalu?”

Aku mendengar suara terkejut polisi muda itu.

“Iya. Kami tidak pernah menduga, Rilus yang sudah jauh-jauh sekolah di Jawa itu akan kembali dan membalas dendam ayahnya,” jawab Om Markus.

Polisi muda itu mengangguk-angguk. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Pandangannya tampak tertuju pada mayat yang masih terbaring di tanah itu. Ia ikut meringis saat dokter menutup luka yang menganga di belakang kepala. Kapas dan perban berubah merah darah. Tapi sejurus kemudian pandangannya tampak melayang jauh. Mungkin berusaha membayangkan kembali tragedi yang baru saja diceritakan Om Markus tadi.

“Tadi kau katakan Pak Doni pernah meramalkan peristiwa ini.”

“Iya. Dia itu pegawai kantor camat. Sekarang sudah pindah entah ke mana. Tapi, saya ingat baik. Waktu itu dia bilang ke mamanya Rilus. Tolong jaga Rilus baik-baik. Sekarang dia memang belum mengerti. Tapi, suatu saat nanti dia akan buat perhitungan dengan Bapak Berto itu.”

Aku masih berdiri kaku di balik pohon mangga. Mengamati percakapan Om Markus dan polisi muda yang hanya samar-samar kudengar itu. Kemudian memandang satu per satu orang-orang di halaman rumah Nenek Wea. Seperempat karung cengkih yang tadi kupikul dari kebun kusandarkan di sela-sela akar mangga yang menonjol. Aku masih sulit mencerna pemandangan aneh sore ini. Terlalu banyak hal yang bertabrak-tabrakan di kepalaku dan sulit untuk kupahami. Perutku seperti berputar-putar dan serasa ingin muntah. Tubuh kurusku masih bergetar hebat. Aku terkejut ketika merasakan sepasang telapak tangan tiba-tiba meremas pundakku.

“Hei anak kecil, jangan main-main di sekitar sini!”

Seorang polisi berambut ikal dengan kumis dan jenggot yang tercukur rapi membungkuk di belakangku. Pakaiannya rapi seperti polisi muda tadi, tapi tampak lebih tua dan berwibawa.

Saat mendengar suara keras polisi tua yang menegurku, Om Markus dan polisi muda serta beberapa orangtua di halaman rumah itu menyapu pandangan ke arah kami. Mereka sepertinya juga baru menyadari keberadaanku. Beberapa orang menyebut namaku dengan lirih sambil telapak tangan menutup mulut mereka. Mereka tampak terkejut bukan main. Seketika tatapanku bertemu dengan mata Om Markus. Kulihat dia berupaya keras mengatur napasnya sebelum terbata-bata berkata kepada si Polisi Muda.

“Apa tadi anak itu ada di sini ketika pembunuhan terjadi?”

***

Dua belas tahun yang lalu.

Minggu-minggu terakhir ini kampung Kojabewa dibanjiri aroma cengkih. Setiap sore menjelang malam, lorong-lorong kampung dipenuhi pemandangan orang-orang yang pulang dari kebun dengan memikul karung atau keranjang berisi butir-butir cengkih. Anak-anak kecil berjalan lincah di depan orangtua mereka, bergerak riang sambil memikul keranjang atau karung cengkih yang lebih kecil. Wajah orang-orang tampak bahagia, sebab panen cengkih tahun itu jauh di atas perkiraan mereka.

Rilus baru saja memindahkan butir-butir cengkih dari keranjang ke karung kecilnya. Ini kali ketiga ia diajak ayahnya panen cengkih di kebun. Ia tampak bangga, sebab kebanyakan anak seusianya belum diberi izin untuk ikut memetik cengkih di pohon. Biasanya mereka kebagian tugas memisahkan butir cengkih dari tangkai-tangkainya setelah dipetik dari pohon. Dan Rilus menganggap itu sebagai pekerjaan untuk kaum perempuan.

“Jangan terlalu banyak. Kalau sudah selesai panggil Bapa di kandang babi. Bapa kasi makan babi dulu.” Ayahnya berkata sambil mengaduk dedak dan irisan batang pisang di sebuah ember hitam.

Rilus mengangguk sepintas. Setelah cukup lama menimbang-nimbang cengkih di karung kecilnya, ia mengambil sebuah pisang masak dan memakannya sambil berjalan ke kandang babi. Seperti orang-orang Kojabewa umumnya, babi-babi mereka diikat atau dikurung di sebuah kandang di pangkal pohon cengkih. Selain supaya aktivitas memberi makan babi dan mengunjungi pohon cengkih bisa dilakukan sekali jalan, kotoran babi-babi itu juga berguna menjaga kesuburan tanah di sekitar pohon cengkih.

Dari jauh Rilus sudah memanggil ayahnya, tapi sama sekali tidak mendengar jawaban. Ia berjalan lebih dekat. Sekitar enam meter dari kandang babi, melalui celah-celah pohon pisang Rilus melihat ayahnya sedang berbicara dengan seorang lelaki. Itu Om Berto, teman ayahnya. Belum sempat berjalan lebih dekat, ia melihat lelaki itu sudah mengayunkan parang ke leher ayahnya. Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Ayahnya bahkan tak sempat berteriak sebelum jatuh dengan darah segar menyembur dari urat lehernya. Rilus membeku di antara pohon-pohon pisang.

Om Berto dengan tenang berjalan meninggalkan ayahnya yang terkelepar-kelepar di kaki kandang babi. Ia membersihkan darah di parangnya dengan batang pisang muda, lalu menghilang di antara semak-semak. Rilus tampak linglung. Ia terus berdiri di tempatnya tanpa melakukan apa-apa. Aroma cengkih yang melekat di bajunya sekejap lenyap diganti bau amis darah. Ia terus menatap ayahnya sampai tidak ada lagi gerakan sama sekali. Sampai Om Markus yang kebetulan datang dari kebun sebelah berteriak-teriak histeris. Sampai lima lelaki dewasa datang mengerumuni tubuh ayahnya yang malang. Tak satu pun orang memperhatikan Rilus yang berlindung di sela-sela pohon pisang.

Mereka tidak ingat siapa yang pertama kali melihat Rilus di sela-sela pohon pisang itu. Om Markus sontak memeluk Rilus dan buru-buru membawanya pulang ke ibunya di rumah. Tubuh Rilus berkeringat dan bergetar hebat. Anak itu tampak seperti orang gagu, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dan ketika tiba di rumah, sebelum ibunya dengan histeris datang dan memeluk dia, Om Markus terkejut bukan main ketika melihat di dalam mata anak itu, tatapan yang demikian tajam dan kelam. Om Markus merasakan sungguh, sejak hari itu, api dendam berkobar hebat di dada dan kepala anak malang itu.

***

Om Markus tiba-tiba berjalan cepat ke arah pohon mangga tempat aku mengintip dari tadi. Tubuhnya bergetar hebat dan kedua tangannya menutup wajahnya rapat-rapat. Baru saja ia merasakan, di dadanya muncul sensasi yang sama seperti pada pembunuhan dua belas tahun yang lalu. Dia berhenti di kaki pohon mangga. Tangannya bersandar ke dahan mangga yang merendah. Dia tampak begitu lemah. Sungguh berbeda dengan Om Markus yang kulihat beberapa menit yang lalu. Om Markus yang tadi berapi-api berbicara kepada polisi muda itu.

Perlahan-lahan dia mengatur kembali ikatan sarung di pinggangnya. Sekejap dia berbalik dan mata kami bertemu. Bibirnya bergetar dan seperti menggumamkan kata-kata yang sulit kumengerti. Aku bergidik. Tapi ia lalu membalikkan muka dengan kasar dan tertatih-tatih berjalan menghilang ke belakang rumah Nenek Wea.

Di kepala Om Markus berkelebat bayang-bayang hari setelah pembunuhan di kebun cengkih itu, dua belas tahun yang lalu.

Bagaimana keluarga Rilus tidak bisa berbuat apa-apa setelah para tetua desa menetapkan pembicaraan tentang pembunuhan itu sebagai sesuatu yang tabu. Orang-orang kampung dengan sendirinya melaksanakan keputusan itu. Mereka tidak ingin orang yang dihormati di kampung mereka, Om Berto, mosalaki Kojabewa itu, dipermalukan di hadapan warga kampung-kampung tetangga. Menyelamatkan dia berarti juga menyelamatkan wajah dan kehormatan kampung Kojabewa.

Maka pembunuhan ayah Rilus, oleh Om Berto, dengan alasan yang tak pernah jelas itu pelan-pelan dilupakan orang. Lenyaplah Ayah Rilus dari hidup dan ingatan orang-orang.

Tapi sekarang Om Markus sepenuhnya sadar, perkara itu tidak benar-benar lenyap oleh tabu yang ditandaskan para tetua desa waktu itu. Bahkan kini berkelindan dan bertambah pelik. Dia tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi dengan kampung mereka. Dua musim panen berlimpah dengan dua korban nyawa dan dua dendam yang membara. Entahkah darah yang tumpah itu yang kemudian membuat mereka bertahun-tahun puasa panen berlimpah, atau justru panen melimpah itu yang menuntut korban nyawa?

Mataku mengikuti punggung Om Markus yang pelan-pelan lenyap di antara bayang-bayang pohon di belakang rumah Nenek Wea. Pak Polisi yang tadi berbicara dengan Om Markus buru-buru mengajakku menjauh dari halaman itu. Waktu aku hendak mengambil karung cengkih yang kusandarkan di celah akar mangga, kulihat orang-orang mulai membopong tubuh kaku di halaman itu dan memasukkannya ke sebuah tas hitam besar. Aku berkata pelan kepada polisi muda itu.

“Mau kalian bawa ke mana tubuh ayahku?”

.

.

Keterangan:

Dua Nggae: Wujud Tertinggi dalam budaya orang Lio, Flores
Bale-bale: rumah panggung kecil tanpa dinding tempat orang-orang biasa duduk berangin
Ragi: sarung hitam untuk kaum lelaki
Mosalaki: kepala kampung atau tetua adat

*) Cerpenis lahir pada 15 Januari 1998. Sekarang menempuh pendidikan di STFK Ledalero dan aktif dalam komunitas Teater Tanya Ritapiret. Suka makan buah-buahan.

Check Also

Cerpen: Runtuhnya Tembok Yerusalem

(Sumber gambar: bayuajitour.co.id). Oleh: Rian Odel* Pada permulaan, di sebuah tempat yang dipenuhi oleh pepohonan …

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *