Home / Dipantara / Seni Sastra / Cerpen: Angin dari Selatan

Cerpen: Angin dari Selatan


(Sumber gambar: news.okezone.com)


Oleh: Marselus Natar*

Sore-sore angin selatan,
Aku duduk di muka rumah.
Tiba-tiba suratlah datang,
Kakak membaca adik tertawa.

Angin berhembus teduh, lembut belaiannya laksana sutra dalam genggaman tangan. Dedaunan dan ranting-ranting menari bak sepasang penari Kizomba, meliuk seirama arah angin. Tatapan mataku kian hampa, pikiran pun kosong. Sekonyong-konyong, lirik lagu Angin Selatan melintas di sudut-sudut ruang ingatan.

Dahulu, lagu ini sering dinyanyikan Kakek untuk kami yang adalah cucu-cucunya, menjelang tidur malam. Masih kuat dalam ingatanku, bagaimana kedua tangannya menepuk punggung atau dada kami dengan lembut. Dia yakin, dengan melakukan itu, dengan segera kelopak mata kami akan mengatup dan nyenyak. Lirik lagu tersebut kembali menyapa atau bangkit dari alam bawah sadarku lantaran sepucuk surat yang telah kuterima kemarin. Ya, sepucuk surat dari putri sulungku yang saat ini tengah melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di pulau Dewata.

Laura, putri keduaku, membacakan surat itu di hadapan Bento dan aku. Aku mendengar dan menyimak baik-baik setiap kalimat yang keluar dari mulut Laura. Sementara Rinto tertawa terkekeh-kekeh sembari memegang perutnya. Aku merasa tidak ada yang lucu dari apa yang dibacakan Laura berdasarkan apa yang tertulis dalam tubuh lembaran itu. Mengapa si bungsu bersikukuh dalam kekeh gelak tawanya tanpa sebab yang jelas? Ah, anakku! Aku tersinggung mendengar riuh tawamu.

Isi surat yang dibacakan Laura jelas tanpa ditunggangi lelucon atau joke yang membuat sarafmu geli. Surat itu jelas-jelas berisikan permohonan dan harapan agar aku sesegera mungkin mengirimkan uang guna membeli kebutuhan pribadi dan kampusnya. Dengan kening kerut aku berusaha memahaminya. Dia masih terlalu belia untuk memahami segala sesuatu. Di matanya barangkali segala sesuatu adalah gurauan yang mengusik sekaligus membuatnya tertawa sesukanya.

Bento, Bento! Kau ini terkadang membuatku menghela napas sekaligus membuatku berpikir dua kali pada setiap langkah lakumu yang lugu itu.

Rembulan telah berlayar ke timur. Burung-burung malam mengepakkan sayap-sayap mereka di bawah hangat cahaya bulan purnama. Sementara gerombolan awan menggunduk seperti sekelompok orang yang sedang melakukan rapat. Dari teras rumah, aku sungguh terjaga sembari mengamati cakrawala yang mulai menyibak kemisteriannya. Dari ruangan belakang tempat Laura dan Bento belajar, aku mendengar suara gelak tawa yang tidak seperti biasanya. Mengapa mereka tidak menghargai waktu belajar seperti malam-malam kemarin?

Aku lalu perlahan bangun dan melangkahkan kaki secara diam-diam menuju ruangan itu. Mereka tidak mengetahui keberadaanku, sehingga gelak tawa pun semakin menjadi-jadi.

“Kak, tadi sore aku menertawakan Bapak lantaran mendengarkan isi surat yang kakak bacakan bahwasanya di sana ada kata ‘sesegera mungkin’ mengirimkan uang untuk kakak di Bali, Bapak lagi tidak ada uang itu. Hahahaaaha……”, cerita Bento pada Laura.

“Bento, kamu tahu dari mana bahwa Bapak tidak mempunyai uang?”, gali Laura.

“Aku mengetahui itu karena kemarin aku minta belikan sesuatu pada Bapak, tetapi Bapak mengatakan bahwa dia tidak punya uang”, jelas Bento.

“Ah, kau ini ada-ada saja. Bapak tahu bagaimana sebuah persoalan diatasi. Lantaran itu engkau tertawa? Pokoknya kakak tidak mau tahu, seusai santap malam nanti Bento harus menyampaikan permintaan maaf kepada Bapak.” Laura serius.

Aku melihat Bento bungkam dari gelak tawanya, kepalanya pun setengah merunduk. Aku tetap memilih diam tanpa menunjukkan mukaku kepada mereka. Sesaat kemudian aku pun berpaling menuju beranda depan. Walau malam belum terlalu larut, rasa-rasanya aku tengah duduk di kejauhan malam. Jangkrik-jangkrik pun mulai bernyanyi dengan lirik yang tak dapat kupahami. Tiada satu pun kendaraan yang melintasi jalan raya. Dari ruang tengah terdengar suara yang menyebut namaku. Ya, suara istriku tercinta, agar segera menuju ruangan untuk santap malam.

Seusai acara santap malam bersama, tiba-tiba Bento memukul piringnya dengan senduk makan.

“Bapa, Mama, dan kakak Laura, saya mau omong sesuatu. Saya mau minta maaf pada Bapak karena tadi sore saya menertawakan sesuatu yang mungkin membuat Bapak sakit hati dan tersinggung. Saya dengar kakak Mellita ada minta uang pada Bapak sementara sepengetahuan saya, Bapak sedang tidak punya uang. Jadi, saya hanya merasa lucu saja. Maafkan Bento ya Pak…”, ujarnya sendu.

“Baiklah, bapak memaafkanmu Nak. Satu hal yang membuat Bapak bangga adalah engkau mempunyai keberanian untuk mengakui kesalahanmu. Itu nilai yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan ini. Sekali lagi, Bapak memaafkanmu.” Aki memberinya motivasi.

Hari ini ada sebuah perbedaan bila dibandingkan dengan hari kemarin. Perbedaan itu mengarah kepada sebuah keanehan yang menggiurkan. Ada sekelompok orang memasuki rumah-rumah warga sembari membagikan kartu yang ukurannya sama persis dengan KTP. Beberapa orang dari mereka pun memasuki rumah. Aku menerima mereka dengan ramah seperti halnya menerima tamu. Dari antara mereka, tak seorang pun yang aku kenal. Mereka menunjukkan kartu-kartu itu sembari memberikan penjelasan berupa ajakan untuk mencoblos orang yang ada dalam kartu tersebut.

Orang tersebut adalah salah satu calon legislatif pada Pemilu mendatang. Satu, dua, .mdan belasan kartu mereka bentang di meja.

“Bapak bantu kami dengan suara sekian dan ini amplop buat jasa baik Bapak. Uangnya tidak banyak Pak, cuman 10 juta rupiah.” Seseorang dari mereka berujar.

Aku hanya diam, bingung dan tidak sanggup mengungkapkan apa-apa. Setelah itu mereka berjabat tangan denganku, lalu pergi. Aku serba dilema. Melihat kondisiku saat ini, aku sangat membutuhkan uang. Ketika aku sedang termenung, tiba-tiba istriku datang dan menyuruhku untuk mengembalikan uang haram tersebut.

“Di rumah sebelah, orang-orang tersebut membagi-bagikan kartu dan sejumlah uang. Sekarang juga, kejar mereka dan kembalikan kartu-kartu serta sejumlah uang yang bapak terima itu. Aku sanggup mengemis dari rumah ke rumah untuk membiayai pendidikan anak kita. Bapak berangkat sekarang juga untuk mengembalikan kartu serta uang tersebut”, tegasnya mendesak.

Aku berdiri seusai mengemas semua kartu itu lalu mengejar mereka. Aku menyatakan ketidaksanggupan dalam hal bertanggungjawab atas kartu-kartu dan uang tersebut. Mereka pun menerima itu dan terus melanjutkan misi kotor mereka tersebut. ***

.

.

*) Cerpenis adalah seorang rohaniwan Katolik. Sekarang menetap di Komunitas St. Yoseph Maumere, Flores. Beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di Pos Kupang, Warta Flobamora, dan Majalah OIKOS.

Check Also

Puisi-puisi Vallentino*

(Sumber gambar: notepam.com). DINGIN Kita adalah dua hal berbeda tanpa namayang sungguh membenci musim dingin.Sebenarnya …

Puisi-puisi Theresia Avila*

(Sumber gambar: menujuabba.com). DOA Puisi tak berjudul Suluh mengantar harapPada Yang Kuasa Untuk berserah Ende, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *