Home / Opini / Pilpres Beraroma Liga Champions

Pilpres Beraroma Liga Champions

(Sumber gambar: cnbcindonesia.com)
.

Tentang Klaim Kemenangan

.

Oleh: Gerardus Kuma Apeutung*

Euforia kemenangan itu belum reda. Rona keceriaan pun masih terpancar. Kegirangan masih tampak melekat di wajah. Semua masih basah dalam guyuran sukacita. Maklum. Belum seminggu berlalu, ketika Barcelona mampu menghajar Liverpool pada Kamis (02/05/19) dini hari. Tanpa ampun, The Anfield Gank digilas dengan skor 3-0. Gelontoran gol-gol dari Luis Suarez dan Lionel Messi melambungkan asa Blaugrana menjejaki final.

Setelah Leg I digelar, Barcelona sudah merasa di atas angin. Kemenangan dengan skor telak tersebut bagai angin segar kembalinya “Si Kuping Besar” ke Camp Nou. Piala yang baru lima kali singgah di Catalunya dan terakhir kali direbut empat tahun lalu itu sudah ada dalam bayangan. Dan aroma kemenangan masih tercium setidaknya hingga Rabu (08/05/2019) dini hari saat kick off Leg II dimulai.

Namun, semua itu hancur seketika. Rontok dalam hitungan menit. Keunggulan Barca menjadi sirna. Performa mantap di Camp Nou seolah hilang tanpa bekas di Anfield. Bunga-bunga kemenangan itu layu sebelum berkembang (baca: mencapai final). Rasanya tidak ada “kemarau” seganas ini. Kisah manis di Kamis dini hari berakhir pilu di Rabu dini hari.

Datang dengan keunggulan 3 gol, Barca dibuat malu tak terkira. Misi mengangkat trofi berbalas lumatan maut menyedihkan. Betapa tidak, pasukan The Reds mampu membalikkan keadaan. Barcelona dibabat dengan skor 4-0. Gelontoran 4 gol ke gawang Marc-Andre ter Stegen ini membuat Barca tersungkur di Anfield dengan skor telak. Hasil ini memastikan pasukan Blaugrana tersingkir secara menyakitkan. Gol-gol Suarez dan Messi di Leg I tidak mampu meloloskan Barca. Sementara gol-gol dari Divock Origi dan Georginio Wijnaldum memudahkan langkah The Reds ke partai puncak. Sorak sorai di Camp Nou kini berubah menjadi ratapan di Anfield. Menyakitkan? Tentu saja — walau banyak fans yang berusaha tegar.

Di atas derita ini, satu hal yang patut “diangkat” adalah klaim kemenangan. Bagaimana mungkin, sesudah Leg I digelar di Camp Nou yang mana Barca meraih kemenangan dengan skor meyakinkan, para Cules sudah mengklaim bahwa tim mereka akan merebut gelar Liga Champions musim ini. Barcelonista begitu yakin mendeklarasikan diri sebagai penguasa Eropa musim ini. Di media sosial — khususnya facebook — fans Barca begitu percaya diri menahbiskan diri kampiun Liga Champions musim ini. Unggahan status facebook mereka menunjukkan keyakinan yang tinggi bahwa klub idola mereka akan menaklukkan Eropa tahun ini.

Saya mengutip status facebook teman saya, seorang Cules sejati sesaat setelah Leg I dihelat. Di facebooknya dia menulis begini,

“Cukup 3 gol!!! Jangan siksa mereka lagi.”

Ini menunjukkan bahwa Cules sudah merasa berada di zona nyaman dengan keunggulan 3 gol sehingga begitu yakin bahwa Barcelona akan melangkah ke final. Karena itu sesaat sebelum Leg II digelar, teman itu mengunggah status facebook begini,

“Menatap final.”

What? Menatap final? Sadarlah, semifinal Liga Champions itu digelar dua kali. Karena itu, masih ada waktu pertandingan 90 menit.

Ya, begitulah kalau orang mabuk kemenangan. Segala bentuk klaim akan dilontarkan.

Mari kita flashback sedikit. Di musim sebelumnya, klaim kemenangan juga dilontarkan ketika Barcelona menggilas AS Roma dengan skor 4-1 pada Leg I perempatfinal. Barcelonista begitu yakin hasil itu melapangkan jalan mereka ke semifinal. Namun, sial menimpa Barcelona ketika bertandang ke Olimpico pada Leg II. Saat itu hantu comeback menghampiri Barca. Di Olimpico, anak buah Ernesto Valverde dihajar 3-0.

Barcelonista pasti akan men-cap saya sebagai barisan sakit hati. Tak apa. Saya memaklumi bahwa kekalahan menyesakkan seperti ini memang menyakitkan.

Namun, pesan singkat saya adalah janganlah gegabah mengklaim sesuatu yang belum tentu pasti.

Kemenangan meyakinkan di Leg I yang mengokohkan “iman” Barcelonista akan kans Blaugrana merebut trofi bukan jaminan. Dalam dunia sepakbola, tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti. Bola itu bundar. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Klaim Kemenangan Pilpres

Klaim kemenangan seperti ini tidak hanya di dunia sepakbola. Bila kita bergeser sedikit ke ranah politik, di sana akan ditemukan fenomena serupa.

Politik dan sepakbola adalah dua dunia berbeda. Namun keduanya memiliki karakteristik yang sama yaitu sebagai sebuah permainan. Dan dalam arena permainan tentu ada menang-kalah. Di sini terbuka peluang hadirnya klaim.

Klaim kemenangan juga dilontarkan kontenstan dalam pesta demokrasi (khususnya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden) yang baru saja dihelat bangsa Indonesia. Setelah pemilu digelar 17 April lalu, malam harinya ada calon pemimpin yang mendeklarasikan diri sebagai pemimpin bangsa lima tahun ke depan hingga melakukan sujud syukur. Deklarasi adalah bentuk klaim bahwa merekalah pemenang pertarungan Pilpres. Sang calon (bersama pasangan) beserta tim suksesnya merasa diri sudah unggul dan percaya diri memenangi Pilpres. Tidak tanggung-tanggung, angka kemenangan yang dipatok: 62%! Angka ini kemudian membengkak menjadi 80%. Dan kini berubah lagi menjadi 54, 24%. Anehnya, data yang katanya bersumber dari tim internal di Badan Pemenangan Pemilu ini malah berbanding terbalik dengan hasil quick count lembaga survei Pemilu.

Pada Pilpres 2014, klaim kemenangan juga dilontarkan. Saat itu, kubu Prabowo (berpasangan dengan Hatta Rajasa) juga mendeklarasikan diri sebagai pemenang. Tindak-tanduk Prabowo di Pilpres 2014 tidak jauh berbeda dengan Pilpres 2019 mulai dari deklarasi kemenangan hingga sujud syukur. Namun, hasil rekapitulasi KPU memenangkan pasangan Jokowi-Kalla.

Klaim kemenangan dengan sodoran data yang tidak akurat tidak hanya menyesatkan publik, tetapi juga akan menimbulkan pro-kontra yang berujung pada semakin meruncingnya keterbelahan dalam masyarakat. Apalagi klaim serupa ini disertai ajakan melakukan people power.

Rekonsiliasi (Pasca) Pilpres

Pilpres telah usai sementara proses perhitungan hasil sementara berjalan. Terlepas dari dugaan kecurangan yang terjadi, kita harus tetap menjaga persatuan nasional sambil mengawal dan mengawasi proses perhitungan suara yang dilakukan KPU. Namun, apabila ada pihak yang tidak puas dengan proses politik ini, hendaklah menggunakan cara dan jalur konstitusional untuk menyelesaikannya.

Selain menempuh upaya hukum, perlu juga dilakukan rekonsiliasi, mengingat Pilpres telah mengoyakkan kohesi sosial kita. Bukan baru sekarang tentu saja. Sudah sejak Pilpres 2014, bangsa ini diceburkan dalam dua kubu yang berseberangan. Sudah cukup lama bangsa ini terbelah dalam dua kubu yang dalam istilah kekinian disebut “Cebong” dan “Kampret”. Sikap saling curiga dan benci karena perbedaan pilihan politik selalu mewarnai relasi sosial selama ini. Polarisasi ini semakin tajam saat head to head Jokowi dan Prabowo kembali terjadi di Pilpres 2019 ini.

Karena itu, jalan perdamaian yang harus ditempuh adalah rekonsiliasi. Upaya membangun rekonsiliasi itu sesungguhnya harus dimulai dari para elite politik.

Karena, masyarakat akar rumput sesungguhnya cenderung menerima saja. Namun, sebelum harapan agar elite politik berhenti melakukan manuver politik yang menimbulkan kegaduhan, tidak lagi mengeluarkan ucapan bernada provokatif, marilah kita-kita ini sebagai masyarakat level akar rumput membangun rekonsiliasi sendiri. Entahkah Anda “Cebong” atau “Kampret”, mari genggam erat tangan kita. Karena, siapa pun presiden terpilih nanti, life must go on, kita harus tetap kerja kebun dan buang pukat di laut, pun tetap makan ubi, pisang, juga jagung, dan terus minum tuak.

.

*) Penulis adalah penikmat sepakbola dan isu politik.

Check Also

Pancasila dan Kita

(Sumber gambar: steemit.com) Oleh: Bonefasius Zanda* Salah satu alasan paling mendasar bagi tetap berdiri kokohnya …

BOP: Solusi Bagi Pembangunan Pariwisata di Labuan Bajo – Flores?

(Sumber gambar: inilah.com). Oleh: Venansius Haryanto* The time has come – and it is indeed …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *