Home / Opini / Perilaku Intoleransi Generasi Milenial

Perilaku Intoleransi Generasi Milenial

(Sumber gambar: thinglink.com)

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage*

Problem intoleransi terus meningkat di seluruh dunia, dan tampaknya tidak ada negara yang benar-benar kebal dengan isu ini. Bergulirnya isu politik identitas yang dimainkan oleh politisi untuk mengejar elektabilitas melalui pidato yang syarat akan kebencian dan upaya mobilisasi massa politis untuk melakukan perlawanan terhadap kelompok lain yang berbeda pandangan, telah lama dilihat sebagai penyebab maraknya kasus intoleransi (Van Spanje dan De Vreese, 2015; O’Connor, 2017; Nastiti dan Ratri, 2018).

Kondisi yang terjadi di Amerika, Brazil, dan Indonesia baru-baru ini, misalnya, telah menjadi contoh nyata, bagaimana pertarungan politik di antara para politisi telah menghadirkan jalan lapang bagi terbentuknya kelompok intoleran yang muncul di ruang-ruang sosial dengan situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Berkembang Masif dalam Kelompok Generasi Milenial

Ada semacam gejala baru dalam komposisi usia penduduk dunia, yang mana 50% populasi dunia saat ini berusia di bawah 30 tahun. Ini adalah populasi kelompok usia muda tertinggi dalam sejarah (World Economic Forum, 2018). Situasi yang terjadi di seluruh dunia ini, juga terjadi di Indonesia. Sampai pada tahun 2035 nanti, diprediksi, Indonesia memiliki komposisi penduduk yang akan didominasi oleh penduduk berusia muda dalam struktur piramida penduduk.

Pada tahun-tahun mendatang, segmen yang lebih muda dari populasi Indonesia akan terus tumbuh, meskipun pada tingkat yang lebih lambat daripada orang tua. Menurut data Pemerintah, mereka yang berusia antara 15 dan 29 tahun berjumlah lebih dari 62 juta dari perkiraan total populasi negara sebesar 266 juta lebih (Vaticannews, 2018).

Secara umum, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2013), rentang usia muda dalam komposisi penduduk Indonesia lahir dalam rentang tahun 1980-2000, generasi yang oleh banyak peneliti dikatakan sebagai generasi milenial (Howe dan Strauss, 2000; Neil dan William, 2000; Verhaagen, 2005).

Berlimpahnya penduduk berusia muda yang teridentifikasi sebagai kelompok milenial, jelas akan menjadi investasi penting bagi pembangunan Bangsa. Keberadaan kelompok ini dapat menjadi tulang punggung potensial penggerak kemajuan jika dapat dipersiapkan dengan benar.

Namun, di balik potensi besar dari struktur penduduk muda ini, diam-diam, kelompok ini juga menyimpan masalah. Penelitian Newman et al. (2017) menunjukkan bahwa banyak anak muda di sekolah Kanada telah menjadi korban sekaligus pelaku pelecehan berbasis agama, seksual, dan gender. Studi yang dilakukan Bevelander dan Hjerm (2015) di Swedia berhasil menemukan adanya peningkatan perilaku intoleran di kalangan anak muda dalam beberapa tahun terakhir. Hal yang sama juga terjadi di Pakistan (Abro, Fateh, dan Saeed, 2017), dan juga di beberapa negara Eropa (Verkuyten, 2018).

Di Indonesia, dalam soal toleransi dan keragaman, generasi ini tengah menjadi sorotan, karena semakin tidak toleran (Wahidinstitute, 2015) semakin radikal (BBC, 2016), mudah bersikap intoleran (Asia Times, 2018), toleran tapi berpotensi radikal (BBC, 2016), hingga mengaku radikal (Straitstimes, 2017).

Studi baru-baru ini dari Pusat Studi Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2018) yang menghebokan soal sikap intoleran para guru, menunjukkan bahwa sikap intoleran dan potensi radikal justru dilakukan oleh guru berusia muda. Sementara laporan Bamualim (2018 dalam Iswanto, 2018) menjabarkan secara gamblang bahwa generasi muda milenial terpelajar Indonesia cenderung menganut sikap dan perilaku keberagamaan yang konservatif dengan coraknya yang komunal, skriptural, dan puritan sehingga mudah untuk bersikap intoleran terhadap kelompok lain.

Rentetan laporan semacam di atas jelas menjadi sebuah paradoks, di balik harapan yang disandarkan kepada mereka. Generasi milineal kita justru menyimpan bahaya serius. Temuan berbagai laporan tersebut menggambarkan dengan tegas bahwa kaum muda, generasi milenial Indonesia, merupakan kelompok yang amat rentan untuk menjadi intoleran.

Menelusuri Penyebab

Sejauh ini, dalam banyak riset dan diskusi, umumnya menghasilkan beragam tesis soal penyebab intoleransi. Hal ini menjadi penanda bahwa intoleransi adalah problem yang kompleks.

Studi yang dilakukan Davydov (2015), misalnya, menunjukkan bahwa persoalan sosial yang dialami pemuda seperti pengangguran, marginalitas, hingga sentimen kehilangan pegangan — dalam hal ini figur panutan atau idola — membuat mereka menjadi gampang bersikap intoleran. Laporan lain yang dibuat oleh Bayat (2010) menjelaskan bahwa intoleransi di kalangan anak muda, dapat juga dibaca sebagai perisai ideologis yang digunakan untuk menghadapi keterpinggiran dalam masyarakat serta melindungi diri mereka dari arus deras nilai-nilai dan budaya global.

Sementara Sidney Jones dari Institute for Policy Analysis Conflict (IPAC), baru-baru ini menjelaskan bahwa perilaku radikal sebagai cerimanan intoleransi di Indonesia hari-hari ini tidak lagi semata-mata dilatarbelakangi oleh kemiskinan seperti sebelumnya—sebab baik yang kaya maupun yang miskin, masing-masing orang berpotensi menjadi intoleran atau radikal jika mereka berada di lingkungan asing yang dapat memengaruhi prilaku mereka (Magdalene, 2018).

Faktor lain yang juga tengah menjadi perhatian sebagai penyebab intoleransi di kalangan anak muda adalah internet. Menurut survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2018), saat ini, ada 143,26 juta orang Indonesia yang telah menggunakan internet, dari total populasi sebanyak 262 juta orang. Dari data tersebut, diketahui orang Indonesia yang paling banyak menggunakan internet didominasi oleh generasi milenial, yang rentang usianya mulai dari 19 tahun sampai 34 tahun dengan presentase hingga 49,52%.

Konten negatif dalam bentuk pidato kebencian, berita palsu, sentimen etnis, dan agama yang memecah belah dan muncul di platform media sosial (BBC, 2016) telah memiliki dampak besar pada pola pikir dan perilaku orang Indonesia yang lebih muda untuk memupuk sikap intoleran. Survei Maarif Institute (2018, dalam Jakarta Globe, 2018) yang dilakukan kepada 835 siswa SMA di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya menunjukkan 57% responden yang sering terpapar konten negatif media sosial cenderung mengembangkan sikap intoleran terhadap orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

Upaya Dekonstruksi Perilaku Intoleran

Meluasnya aksi-aksi intoleran dengan prevalensi yang tinggi di kalangan anak muda membuat kita harus membentuk suatu upaya untuk mendekonstruksi prilaku intoleran secara tepat. Selama ini, kita terus menggaungkan perlawanan terhadap intoleransi melalui slogan semangat kebhinekaan, namun di situlah letak masalahnya. Seruan itu sama sekali tidak menyasar kelompok milenial yang didominasi oleh anak-anak usia sekolah dan terkesan sebagai wacana kosong. Hal ini terbukti dengan terus meningkatnya perilaku intoleransi pada generasi milenial.

Atas fakta-fakta di atas, mestinya harus ada pendekatan yang dilakukan secara sistematis, programatis, terintegrasi, dan berkesinambungan. Salah satu cara yang paling relevan adalah dengan pendidikan multikultural yang memiliki unsur kebaruan, agar mampu membentuk generasi milenial yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, suku, agama, ekonomi, sosial, dan politik.

Pendidikan multikultural mesti harus sudah dilakukan melalui cara yang baru dan diterapkan di bangku sekolah sebagai tempat generesi milenial berkumpul, dengan pembelajaran yang mengarah pada beberapa kompetensi dasar kewarganegaraan.

Memodifikasi pendekatan yang diajukan Banks (1997) dalam buku Educating Citizens in a Multicultural Society. Multicultural Education Series, setidaknya ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk mewujudkan itu.

Pertama, mengembangkan kompetensi akademik standar dan dasar tentang nilai persatuan dan kesatuan, demokrasi, keadilan, kebebasan, persamaan derajat atau saling menghargai dalam keberagaman.

Kedua, mengembangkan kompetensi sosial agar dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih baik tentang latar belakang budaya dan agama sendiri dan juga budaya dan agama lain dalam masyarakat.

Ketiga, mengembangkan kompetensi akademik untuk menganalisis dan membuat keputusan yang cerdas tentang isu-isu dan masalah keseharian melalui sebuah proses demokratis atau penyelidikan dialogis.

Keempat, membantu mengkonseptualisasi dan mengaspirasikan konstruksi masyarakat yang lebih baik, demokratis, egaliter, tanpa ada diskriminasi, penindasan, dan pelanggaran terhadap nilai hak asasi universal.

Penutup

Intoleransi adalah masalah serius yang sedang dihadapi Bangsa ini. Situasi ini kian memburuk ketika intoleransi justru hadir dan tumbuh subur dalam kelompok generasi muda, yang mana pada gilirannya, generasi ini akan menjadi penerus cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara di masa mendatang.

Sikap-sikap intoleran yang ditunjukan generasi muda akan menjadi virus berbahaya, yang perlahan-lahan akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa yang amat beragam ini. Diperlukan langkah yang tepat agar virus itu bisa ditangkal sedini mungkin sebelum menyebabkan masalah yang kian serius dan meluas.

.

.

Kepustakaan

Abro, A. A., Fateh, A., & Saeed, N. (2017). Intolerance Among Youth And Its Impacts On Pakistani Society: Sociological Analysis Of Urban Sindh. Grassroots, 51(1).

Asia Times (2018). A youthful intolerance takes hold in Indonesia. Diunduh dari: https://cms.ati.ms/2018/06/a-youthful-intolerance-takes-hold-in-indonesia/

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2018). Hasil Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017.

Banks, J. A. (1997). Educating Citizens in a Multicultural Society. Multicultural Education Series. Teachers College Press, 1234 Amsterdam Avenue, New York, NY 10027.

Bayat, A. (2010). Muslim youth and the claim of youthfulness. Being young and Muslim: New cultural politics in the global south and north, 26-47.

BBC. (2016). Anak-anak muda Indonesia makin radikal. Diunduh dari: https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160218_indonesia_radikalisme_anak_muda?fbclid=IwAR2jhHnWLWPd1pGu7WbzWVZIUHucwCGnvnCU6cq6JxBSVLDXmWT5G1Epw7w

BBC. (2016). Penyebaran pesan intoleran cenderung meningkat di medsos. Diunduh dari: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38247580

Bevelander, P., & Hjerm, M. (2015). The religious affiliation and anti-Semitism of secondary school-age Swedish youths: an analysis of survey data from 2003 and 2009. Ethnic and Racial Studies, 38(15), 2705-2721.

BPS. (2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Diunduh dari: https://www.bps.go.id/publication/2013/10/07/053d25bed2e4d62aab3346ec/proyeksi-penduduk-indonesia-2010-2035.html?fbclid=IwAR2W0ba4Q9cJfHTYNobk95OKwNzLJCn-ocldCWZlSr23ayVC5tF4uCZggZ4

Davydov, D. G. (2015). The causes of youth extremism and ways to prevent it in the educational environment. Russian Social Science Review, 56(5), 51-64.

Gibney, B. C. (2017). A generation of sociopaths: How the baby boomers betrayed America. Hachette Books.

Howe, N., & Strauss, W. (2000). Millennials rising: The next great generation. Vintage.

Iswanto, A. (2018). Membaca Kecenderungan Pemikiran Islam Generasi Milenial Indonesia. Harmoni17(1), 172-179.

Jakartaglobe. (2017). Negative Social Media Content Breeds Intolerance Among Indonesian Youth: Survey. Diunduh dari: https://jakartaglobe.id/news/negative-social-media-content-breeds-intolerance-among-indonesian-youth-survey/

Magdalene. (2018). Ahli: Kemiskinan Bukan Sebab Utama Terorisme. Diunduh dari:
https://magdalene.co/story/ahli-kemiskinan-bukan-sebab-utama-terorisme

BBC. (2016). Mayoritas siswa SMA negeri ‘toleran tapi ada potensi radikal. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160524_indonesia_survei_toleran?fbclid=IwAR29U9-fNpzrXCg36BEl-RNwCrPXsFJgLjt4zzgTYJD-TtfWH8v_v12bIOQ

Nastiti, A., & Ratri, S. (2018). Emotive Politics: Islamic Organizations and Religious Mobilization in Indonesia. Contemporary Southeast Asia: A Journal of International and Strategic Affairs, 40(2), 196-221.

Neil, H., & William, S. (2000). Millennials rising: The next great generation.

Newman, P. A., Fantus, S., Woodford, M. R., & Rwigema, M. J. (2017). “Pray That God Will Change You”: The Religious Social Ecology of Bias-Based Bullying Targeting Sexual and Gender Minority Youth—A Qualitative Study of Service Providers and Educators. Journal of Adolescent Research.

O’Connor, T. (2017). Intolerance in the Mainstream. Peace Review, 29(2), 184-191.

Pusat Studi Islam dan Masyarakat (PPIM). (2018). Dapat dilihat di https://youtu.be/jotxb3mjH8E

Straitstimes. (2017). ‘Hidden fire’ of intolerance among Indonesia’s young.
https://www.straitstimes.com/opinion/hidden-fire-of-intolerance-among-indonesias-young?fbclid=IwAR2JZRgc03nwmF3L0tG4iv0OClhGGvdjwj8fDIP3zq8t2B668DTocmC3YYQ

Van Spanje, J., & De Vreese, C. (2015). The good, the bad and the voter: The impact of hate speech prosecution of a politician on electoral support for his party. Party Politics, 21(1), 115-130.

Vaticannews . (2018). Education, jobs, religious intolerance among challenges of Indonesian youth says bishop. Diunduh dari:  https://www.vaticannews.va/en/church/news/2018-10/synod-youth-2018-indonesia-prabdi.html

Verhaagen, D. A. (2005). Parenting the millennial generation: Guiding our children born between 1982 and 2000. Greenwood Publishing Group.

Verkuyten, M. (2018). Religious fundamentalism and radicalization among Muslim minority youth in Europe. European Psychologist.

Wahidinstitute. (2015). Intoleransi Kaum Pelajar. 2015. http://www.wahidinstitute.org/wi-id/indeks-opini/280-intoleransi-kaum-pelajar.html?fbclid=IwAR0jokCdXlk-ndNySgcr5UCVUd0SUYQZo4hcV1HhaH10Me42JzmNX7Ql5dU

World Economic Forum. (2018). Global Shapers Survey. Diunduh Dari: https://www.weforum.org/agenda/2018/01/this-is-what-millennials-want-in-2018/?fbclid=IwAR2Sm0_M2aNqcLYdgiqMgZpHKm-94tZ3-exY9_bOkxEfmwev6M30tpggsIM

.

*) Penulis adalah pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri Kupang, NTT.

Check Also

Terorisme dan Antisipasi Kemanusiaan

(Sumber gambar: nu.or.id). Oleh: Kris Ibu* Lagi-lagi, kita dikagetkan oleh rencana aksi terorisme di Negeri …

Menjadi “Problem Solver” (Refleksi atas HUT ke-72 PMKRI)

(Gambar: istimewa) . Oleh: Bapthista Mario Yosryandi Sara* Wadah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republil Indonesia) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *