Home / Dipantara / Olahraga / Renaisans Cattenacio

Renaisans Cattenacio

(Sumber gambar: indosport.com)

Oleh: Boy Doreng*

Hidup segan mati tak mau mungkin jadi ungkapan yang tepat untuk melukiskan kondisi persepakbolaan Italia tahun lalu. Serentetan catatan minor mewarnai perjalanan Gli Azzuri di beberapa tahun belakangan. Sempat bangkit dengan menjadi kampiun setelah skandal pengaturan skor atau calciopolli di tahun 2006, mati kembali dan rupanya juara piala dunia kali lalu menjadi cerita manis yang terakhir.

[Baca juga: Pragmatisme: Raja Baru Sepakbola]

Pada Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 dan Brazil 2014, Gli Azzuri harus angkat koper lebih awal setelah gagal di babak penyisihan grup. Hal yang sama terjadi pada Piala Eropa. Di tahun 2012, timnas Italia sempat melaju sampai partai puncak sebelum dipermalukan Spanyol dengan skor 4-0. Sederetan catatan minor tersebut mencapai klimaksnya ketika Gli Azzuri gagal menuju Rusia. Ini merupakan sejarah pertama timnas Italia tidak mengikuti piala dunia sejak 1958. Harapan pendukung Gli Azzuri untuk melihat aksi Marco Veratti dan kawan-kawannya di Rusia pun harus dikubur dalam-dalam. Gianlugi Buffon dan koleganya pun harus rela ikut meramaikan event empat tahunan itu sebagai penonton setelah gagal mengalahkan Swedia pada playoff. Kegagalan ini harus dibayar pula dengan lengsernya Giampiero Ventura sebagai juru taktik dan mundurnya Carlo Tavecchio sebagai presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC).

“Ini bukan kejadian untuk ditertawakan, melainkan untuk ditangisi”, komentar Giancarlo Abete, mantan presiden FIGC.

Kejadian itu memang patut ditangisi. Sebab, kemunduran timnas berimbas pada kompetisi domestik negeri Pizza itu.

Hal yang sama terjadi pada kompetisi tertinggi di negeri itu: Serie A. kejayaan Serie A di tahun 1990-an seolah-olah tak meninggalkan bekas. Pada masa ini, Serie A boleh dikatakan sebagai kompetisi populer di dunia. Sebab, Serie A terbukti menjadi panggung bagi bintang kelas dunia seperti Ronaldo, Roberto Baggio, Maradona, Batistuta sampai Zinedine Zidane, atau George Weah dan Trio Belanda (Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard).

Kompetisi di Eropa pun menjadi milik tim-tim Italia seperti Juventus, AC Milan hingga Sampdoria. Tak ayal, mata dunia pada masa itu tertuju kepada sepakbola Italia.

“Serie A adalah liga terbaik dan paling menarik di Eropa pada era 1990-an”, kata Aron Winter, mantan pemain Lazio.

Magnet liga Italia kemudian menarik pemain-pemain luar Italia untuk berbondong-bondong merumput bersama klub-klub di negeri Pizza itu. Sebut saja Paul Gascoigne yang hijrah dari Inggris, Ronaldo, dan David Platt. David Platt pun mengungkapkan kegembiraannya setelah bergabung dengan klub Serie A waktu itu.

“Di Genoa saya menghargai sepakbola Italia. Di Inggris, Anda bisa menonton pertandingan di rumah dan teman-teman dan keluarga saya terus-menerus mengatakan kepada saya betapa populernya serie A”, ungkap Platt.

Berkaca pada kondisi sekarang, tampaknya sepakbola Italia didera kegalauan yang besar dengan berbagai problem yang dihadapi. Pendulum pun berbalik. Tampaknya popularitas sepakbola Liga Italia sudah menjadi milik Liga Inggris atau La Liga. Dari sisi penonton dan peminat, mulai menurun. Iklim kompetitif Serie A pun hilang karena selama beberapa musim terakhir, Juventus menjadi penguasa tunggal tanpa perlawanan sengit dari tim-tim besar lain seperti AC Milan, AS Roma, Inter Milan, dan Napoli. Sebelum kompetisi dimulai pun, semua orang akan tahu kalau Juventus yang akan meraih Scudetto.

Hal yang sama terjadi pada minimnya pemain kelas dunia yang merumput di Italia. Di Liga Champions, tim-tim dari Italia kalah kelas dari tim-tim Inggris dan Spanyol. Untungnya, beberapa tahun terakhir wajah Serie A diselamatkan oleh Juventus yang dua kali sampai pada partai puncak. Jika dibandingkan dengan Spanyol dan Inggris yang cukup giat dan aktif dalam jendela transfer, Serie A tertinggal jauh. Di transfer tahun ini saja misalnya, Philipe Coutinho pindah ke Barcelona dengan harga yang cukup fantastis. Aktivitas Liga Inggris lebih intens lagi mengingat adanya beberapa rekor transfer yang tak terpecahkan dan mencatat nilai yang fantastis. Mulai dari perpindahan Virgil Van Dijk ke Liverpool 75 juta pound atau 1,4 triliun yang menjadikannya sebagai bek termahal di dunia; Manchester City yang merekrut Americ Laporte dari Athlethic Bilbao; atau skenario tukar guling Alexis Sanchez dan Henrikh Mkhitaryan; sampai yang paling disoroti adalah perpindahan salah satu magnet sepakbola Bundesliga Jerman, Pierre-Emerick Aubameyang, ke Arsenal dengan mahar 56 juta pound atau 1,05 triliun menjadikan Liga Inggris sebagai liga termahal di kolong langit ini.

Secara keseluruhan, klub-klub Liga Inggris mencatatkan nilai transaksi pemain sebesar 450 juta pound atau Rp 8,5 triliun. Angka yang sangat fantastis dan berbanding terbalik dengan Serie A yang kurang greget dalam beberapa bursa transfer terakhir.

Di awal musim 2018-2019, publik sepakbola dikejutkan dengan transfer mega bintang Cristiano Ronaldo ke Juventus. Perpindahan Ronaldo seperti angin segar bagi persepakbolaan Italia yang berusaha kembai menemukan diri. Terkadang kita butuh seorang tokoh besar sebagai motivator, daya pikat yang memberi warna baru dalam sebuah komunitas, seperti sebuah klub. Selain itu, transfer Ronaldo berimbas pada daya pikat serie A Italia yang beberapa tahun terakhir sedikit memudar. Juventus, sebagai klub yang merekrut Ronaldo, berambisi besar untuk kembali berjaya di pentas Liga Champions. Para pemain Juventus sangat yakin dengan kehadirannya yang memiliki DNA Liga Champions itu.

“Cristiano telah mencetak banyak gol melawan kami dan dia menghancurkan mimpi saya beberapa kali di Cardiff, di Madrid, dan di Turin. Sebelumnya Liga Champions adalah mimpi. Sekarang itu adalah target karena Cristiano adalah pemain terbaik dunia dan kami membutuhkan dia untuk melakukan langkah selanjutnya”, ujar kapten Bianconeri Giorgio Chiellini.

Chiellini sangat yakin kalau Ronaldo adalah kunci bagi mereka untuk meraih trofi si kuping bundar. Ronaldo pun berhasil membuktikan dirinya dan membuat Diego Simeone gigit jari.

“Saya akan berjualan semangka di jalanan Madrid jika itu terjadi”, kata Simeone sebelum leg kedua Juventus vs Atletico Madrid.

Tiga gol di Turin dan selebrasi ala Simeone membuktikan Ronaldo sebagai pemilik DNA Liga Champions sekaligus mengubur kembali mimpi-mimpi Simeone untuk menjadi juara.

[Baca juga: Maradona dan Tuhan yang Kiri]

Di Timnas, kehadiran Roberto Mancini diharapkan membawa angin segar bagi timnas Italia. Sebagai pengganti Ventura, Mancini mulai membangun kembali timnas Italia. Salah satu langkah yang ia buat adalah peremajaan skuad. Mancini mulai mempercayakan para pemain muda Azzuri seperti Moise Kean, Zainolo, Barella, dan lain-lain untuk membela timnas.

Hasilnya, di dua pertandingan terakhir, Kean dan kolega bermain sangat baik. Kean bahkan menjadi buah bibir setelah debut di timnas dan performa apiknya bersama Juventus.

Bahkan banyak yang berkata kalau timnas Italia telah lahir kembali.

Kini, tak ada yang perlu ditangisi lagi sebab tembok Cattenacio sudah kembali dibangun. Tentunya semua butuh waktu dan proses yang cukup panjang. Semua akan berhasil kalau ada niat dari semua pihak termasuk untuk memutus rantai rasisme terhadap Kean and friends. Timnas Italia perlu memegang prinsip pepatah latin “cresit in eundo: bertumbuh selagi berjalan” kalau mau menguatkan kembali tembok Cattenacio yang pernah berjaya itu.

.

*) Penulis adalah pencinta sepakbola, tinggal di Ritapiret, Maumere, Flores.

Check Also

Drama Lawak (Ketum) PSSI

(Foto: https://goo.gl/images/o9uiUw)     Oleh: Daniel Wolo*   Timnas Senior Indonesia kembali gagal dalam turnamen …

Oba Bha’i dan Antroposentrisme Bola

(Foto: RN)   Oleh: Roymund Nage* Menyaksikan PSN Ngada menjadi kampiun sepakbola NTT bukan lagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *